Ketika Personal Branding Dipertaruhkan

Feb 22 2010

Berbicara tentang Mario Teguh memang tidak akan ada habisnya. Selalu ada jawaban unik dan di luar pemikiran rata-rata manusia. Maka tak heran, saat Mario Teguh SuperClub (MTSC) memutuskan membuka akun Twitter pada 1 Februari 2010, dalam 20 hari sudah ada 23.000 tweeps yang berbondong-bondong menjadi followernya. Saya termasuk satu diantaranya.

Nah, apa yang terjadi bila kemudian seorang Mario Teguh membuat update kontroversial pada 20 Februari seperti berikut ini:

“Wanita yang pas untuk teman, pesta, clubbing, bergadang sampai pagi, chitchat yang snob, merokok n kadang mabuk – tidak mungkin direncanakan jadi istri”.

Kontan saja hal ini mengundang pro dan kontra bagi ribuan member MTSC di seluruh dunia. Pihak moderator dan Mario Teguh segera ambil tindakan dengan melakukan klarifikasi pernyataan heboh ini. Ujung-ujungnya, langkah nyata yang dilakukan adalah menutup akun Twitter.

Ada beberapa hal yang patut saya catat dalam hal ini:

1. Seorang public figure bertanggungjawab sepenuhnya terhadap kontroversi yang dibuat.

Mario Teguh tidak memberikan sanksi apapun terhadap para moderator MTSC. Disinilah bukti bahwa secanggih apapun system manajemen seorang public figure, pada akhirnya yang menjadi pelaku utama sekaligus penanggungjawab utama tetaplah yang bersangkutan. Bukan pihak manajemen, moderator club ataupun pihak pengelola ketiga lainnya.

2. Bias pemikiran selalu mungkin terjadi dalam pembentukan personal branding di internet.

Pengguna internet di seluruh dunia memiliki keragaman latar belakang sosial budaya. Tentu saja hal ini berpeluang menimbulkan perbedaan cara pandang terhadap satu masalah.

Dalam kasus Mario Teguh, menurut saya kalimat yang tertulis dalam update tersebut masih dalam batas kewajaran. Masih sopan dengan menggunakan istilah wanita yang gemar berpesta. Bukan WTS, PSK atau istilah sejenisnya.

Pun demikian dengan esensi yang terkandung di dalamnya. Lebih berupa nasehat bagi wanita single untuk lebih berhati-hati. Karena teman pria bisa tidak melihat kesesuaian bagi wanita tersebut untuk menjadi pendamping dan ibunda bagi anak-anak dari pria yang mereka cintai.

Inilah salah satu bukti mahalnya sebuah branding. Di satu sisi banyak orang membangun personal branding dengan susah payah. Di sisi lain ada yang mati-matian menyelamatkan karirnya.

Semoga apa yang di alami Mario Teguh dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

Enjoy Blogging, Let’s Create Personal Branding!

Related posts:

  1. Personal Branding: Kekuatan Sugesti Dari Sebuah Nama
  2. Membangun Personal Branding Melalui Foto Profil
  3. Membangun Personal Branding Melalui Nickname Facebook
  4. Blog Commenting: Antara Spam, Seni Mengkritik dan Personal Branding
  5. Ketika Blogger Kontroversi Mengisi Super Blog Moderat
  6. Menulis: Antara Curhat dan Media Perjuangan
  7. Julia Perez dan Feminisme Dalam Blogging
  8. Menilai Blogger Sebagai Satu Paket Utuh

93 responses so far

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons