Budaya Menulis, Riwayatmu Kini

Mar 02 2010

Oleh: Budhi K. Wardhana

Medio Mei 1998. Tak berapa lama sesudah rekan-rekan Mahasiswa Trisakti ditembaki oleh para sniper hingga jatuh korban jiwa, Jakarta dilanda kerusuhan besar-besaran. Suasana sungguh mencekam. Penjarahan, pembakaran, dan konon pemerkosaan etnis merajalela di penjuru ibukota. Sementara itu sang penguasa orde baru sedang tak berada di singgasana. Sang Jenderal Besar yang penuh senyum itu belumlah tiba dari KTT G-15 di Mesir.

Negeri ini berjalan sempoyongan seolah tanpa pemimpin. Demonstrasi mahasiswa hampir mencapai titik kulminasi. Mereka menggugat para pejabat yang kian kehilangan muka. Di mana-mana suara reformasi dan desakan penggantian pemimpin nasional berkumandang. Eforia kebebasan meruap di sudut pelosok negeri. Iklim represif militeristik tak lagi punya taji.

Di tengah kerumunan demonstran, saya sempat mengabadikan beberapa aksi massa. Terekam dalam kepala dan kamera saya corat-coret spanduk, orasi para aktivis, dan teriakan membahana yang mengerucut menjadi satu tuntutan: TURUNKAN SOEHARTO!

Ketika itu, majalah tempat saya bekerja sudah siap naik cetak. Tentu dengan tulisan dan foto-foto eksklusif unjuk rasa yang saya ambil. Berbeda dengan artikel sebelumnya yang penuh sensor, tulisan kali ini benar-benar bebas. Saya tersenyum. Ini saatnya saya memberitakan kebenaran dan kejujuran.

Namun, nyaris tengah malam mendadak pemimpin redaksi menelepon tempat kos saya. Perintahnya singkat, “Tolong kamu revisi lagi artikel dan foto-foto itu!”

Waduh! “Kenapa, Pak?”

“Coba kamu simak berita hari ini. Soeharto sudah pulang dan mendadak dukungannya menguat kembali. Kita harus hati-hati!”

Saya menghela nafas sedih. Kegembiraan runtuh seketika. Benarkah kita hidup di negeri yang menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasan berpendapat? Lantas, kenapa harus ada ketakutan seperti ini?

Rekan-rekan netter, ini sejumput cerita masa lalu ketika saya masih aktif menjadi wartawan magang di Bandung. Mimpi kami kaum jurnalis saat itu hanya satu, biarkanlah kami menulis sesuai fakta dengan nurani dan kejujuran.

Tentunya kondisi ini berbeda sekali dengan iklim demokrasi sekarang. Reformasi telah memberikan angin segar untuk sebuah kebebasan menulis, berpendapat, dan berpolitik. Munculnya teknologi blog, forum diskusi, dan jejaring sosial juga mendukung munculnya budaya menulis secara bebas dan sehat.

Jangan lupa, globalisasi telah memberikan stimulus positif bagi kebebasan berpendapat demi menciptakan ide-ide kreatif. Sementara perkembangan internet telah menciptakan ruang bagi semua orang untuk mencurahkan gagasannya menjadi tulisan berbobot.

Lihatlah, melalui blog orang tak lagi takut untuk mengemukakan ide, menuliskan segala yang muncul di kepala, atau mengomentari kenyataan yang lewat di depan mata. Di sini orang bebas mengeluh, berdebat, dan mengkritik. Sesuatu yang barangkali dianggap tabu di jaman orde baru.

Tengok saja seorang internet marketer top sekelas Joko Susilo yang harus berjibaku menjawab beragam kritik yang dilontarkan oleh publik dunia maya. Di samping itu debat terbuka di berbagai forum diskusi seperti Kaskus atau Detik Forum telah memberikan pembelajaran tentang demokrasi yang sehat.

Aksi para pendatang baru di kancah persilatan blog juga tak kalah ciamik. Tampak mereka cerdas memilih topik, cergas membangun komunitas, dan lincah mengolah opini publik. Mereka tak harus datang dari golongan pakar. Bisa jadi mereka adalah kaum marginal teknologi alias wong bodo yang berniat sekali mencari ‘sesuatu‘ yang berharga di ranah daring (online).

Meski demikian, tak dipungkiri bahwa budaya lisan memang masih begitu mendarah daging dalam kultur kita. Wajar jika sebagian masyarakat terlihat kikuk menulis blog. Bagi orang-orang seperti ini perlu dukungan penuh dan bimbingan dari komunitas narablog agar spirit menulis mereka tak kunjung surut. Padahal sebenarnya menulis itu tidaklah sulit. Kita bisa memulainya dengan hal sederhana seperti mengomentari status teman di Facebook.

Pembaca budiman, siapapun Anda dan apapun profesi Anda, — baik itu penulis, narablog, pelajar, pejabat, pramuwisma, pebisnis, profesional, politisi, tentara, polisi, buruh, ibu rumah tangga, guru, olahragawan, sopir, pekerja seks komersial, anggota dewan, anak jalanan, preman, pilot, dokter, pengacara, presiden, pengangguran, atau profesi lainnya — jadikan menulis atau ngeblog sebagai suatu kebiasaan.  Sebab dengan begitu kita membangun budaya belajar yang lambat laun bakal mencerdaskan bangsa ini.

Mumpung keran kebebasan telah terbuka lebar. Segeralah manfaatkan seefektif mungkin. Tentu dengan harapan pengalaman getir orde baru tidak terulang lagi.

Tabik!

Related posts:

  1. Menerapkan Nilai Budaya Dalam Menulis Artikel
  2. Menulis Hingga Ke ujung Dunia
  3. Menulis Juga Butuh Evaluasi
  4. Pengumunan Pemenang Kontes Menulis
  5. Menulis: Harus Punya Bakat dan Berpendidikan Tinggi-kah?
  6. Menulis Itu Bisa Karena Biasa
  7. Menulis: Antara Curhat dan Media Perjuangan
  8. Antara Senioritas dan Manfaat Nyata

81 responses so far

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons