Sebelum menulis artikel ini, kemarin saya sempat down ketika membaca artikel kontestan terdahulu, sebut saja mas Budhi K Wardhana, yang ternyata beliau adalah seorang journalis, jebolan universitas ternama, dan berpendidikan tinggi. Pantes tulisan-tulisannya selama ini renyah dan mudah dicerna. Sedangkan saya?
Antara maju dan mundur, antara berani dan takut, antara yakin dan tidak yakin. Ahamdulilah akhirnya saya menemukan jawaban pasti setelah kembali merenung dan berfikir lebih dalam. Semua orang diciptakan sama, tinggal bagaimana kita mengelola diri kita masing-masing. Akhirnya dengan semangat 45 saya putuskan untuk ikut serta dalam kontes co writer Agus Siswoyo [dot] Com ini.
Kalau dikaji lebih dalam sebenarnya ada 2 sisi positif yang bisa saya ambil dari keraguan saya sebelumnya. Yang pertama dengan keraguan itu akhirnya mengharuskan saya berfikir lebih dalam tentang keberadaan diri ini yang sesungguhnya mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa mengembangkan potensi diri dalam aktivitas menulis. Yang kedua justru dari keraguan tersebut telah menumbuhkan ide untuk saya tulis di artikel saat ini, yaitu menjadi penulis tidak harus punya bakat dan berpendidikan tinggi.
Saya yakin setiap individu pasti mempunyai ciri dan karakteristik tersendiri untuk mengahasilkan tulisan yang berkualitas, semuanya seiring dan sejalan dengan pemahaman dan pengetahuan individu tersebut. Adakalanya seseorang merasa dirinya terlalu sulit untuk menulis, membuang tulisan dengan begitu mudahnya dan akhirnya berputus asa serta berujung pada keputusan frontal:
“SAYA TIDAK PUNYA BAKAT MENULIS PENDIDIKAN SAYA RENDAH, MENGAPA HARUS DITERUSKAN?”
“SAYA TIDAK PUNYA BAKAT MENULIS DAN PENDIDIKAN SAYA RENDAH” setujukah anda dengan ungkapan ini? Apakah memang benar menulis itu membutuhkan bakat? Apakah benar menulis itu harus berpendidikan tinggi?Mari kita simak fakta-fakta berikut ini:
Ingat Ajip Rosjidi kan? Penulis pentolan dan seorang sastrawan. Apakah dia berpendidikan tinggi? Apakah dia seorang sarjana? magister? atau doktor? Bukan. Ajib Rosjidi hanya lulusan SMA. Emha Ainun Najib, seorang penulis dan budayawan, ternyata kuliahnya dulu tidak selesai, begitu juga dengan Arswendo Atmowiloto, ternyata bukan seorang sarjana.
Charlie Dick, seorang penulis yang terkenal didunia. Apakah dia mempunyai bakat yang besar dalam bidang penulisan? Tidak, bahkan sebelum tulisan-tulisannya mendunia telah banyak perjuangan yang dia lakukan. Beratus-ratus artikel sebelumnya dibuang oleh editornya ditempat dia bekerja. Apakah dia putus asa dan kemudian berhenti menulis. Jika dia berhenti menulis saat itu mungkin kita tidak akan pernah mengenali seorang Charlie Dick.
Sedikit fakta ini mungkin bisa sedikit memberikan gambaran kepada kita bahwa menulis itu tidak harus mempunyai bakat dan berpendidikan tinggi. Pada dasarnya menulis itu hanya terletak pada kemauan dan latihan. Yach….dengan berbekal kemauan kita bisa memulainya saat ini, jangan bilang bahwa tulisan saya jelek dan tidak bermutu, teruskan menulis dan menulis maka jika semakin banyak kita menulis maka kualitas tulisan kita akan keluar dengan sendirinya.
Kalau tidak percaya coba tutup dulu artikel ini, buka blog anda, baca tulisan yang dipublish paling awal, kemudian tengah-tengah dan terakhir baca tulisan terbaru anda. Apa yang anda rasakan? Berbedakah tulisan anda? Bagaimana penggunaan kosakatanya? Bagaimana alur berpikir anda? Semakin baguskan? Saya yakin semakin banyak kita menulis semakin baik pula tulisan kita. JADI intinya jangan pernah katakan : “SAYA TIDAK BERBAKAT”
Pada dasarnya menulis itu hanya membutuhkan keterampilan dan kesungguhan. Apakah ketrampilan itu?
- Menulis,
- Menulis lagi,
- Menulis lagi dan lebih
- Menulis lagi, lebih dan lebih dari itu
- Menulis ketika tidak ada yang ditulis
- Menulis ketika ada yang ditulis
- Menulis ketika ada yang ingin dikatakan
- Menulis ketika tidak ada yang ingin dikatakan
- Menulis setiap hari
- Dan menikmati setiap melakukan aktivitas “menulis”
Saya yakin kita semua bisa melakukannya, apalagi jika wadah yang sementara kita manfaatkan menulis adalah blog , kita yang punya, kita yang nulis, kita yang baca. JADI mengapa masih enggan menulis? Masih mau bilang saya gak punya bakat? Masih mau bilang pendidikan saya rendah?
Kelaut aja deh!!!
PS: Tulisan ini hanya ditulis oleh wong ndeso yang ingin belajar nulis, tidak banyak berharap untuk jadi pemenang, hanya sekedar sebagai ajang untuk melatih ketrampilan diri, jika ada yang ditambahkan dengan tangan terbuka akan saya terima. Jika banyak salahnya mohon maaf dan harap maklum.
Related posts:
- Menulis Hingga Ke ujung Dunia
- Pengumunan Pemenang Kontes Menulis
- Bloggingtainment: Ngeblog Tidak Harus Serius
- Mengapa Pembaca Harus Percaya Tulisan Anda?
- Semakin Tinggi Pohon, Semakin Kencang Angin Menerpa
- Asyiknya Menulis Dengan Blogging…
- Menulis Itu Bisa Karena Biasa
- Penulis Harus Berani Berkompetisi


pertamax kah…
@yons, selamat mas…

@yons, selamat mas maaf baru bisa balas komen, harap maklum baru bisa ol sore hari.
wuih bagus banget kok Mas tulisannya…. saya suka dengan yang no. 1 sd 10, jadi tidak punya ide juga adalah sebuah ide ya Mas…..
@yons, bener banget mas, justru disaat kita tidak ada ide kita harus banyak menulis, apa saja yang terlintas dikepala ditulis tidak usah difikir baik dan tidaknya. Dengan melakukan hal ini insyaallah otak kita akan terbiasa mengelurkan ide2 briliannya.
ke laut aja? itu gaya tulisan mashengky bangets!
@mh, emang udah dipatenkan mas di HAKI
@mh, sorry gan klo itu gaya pean, tapi pinjem bentar boleh kan?
bisa karena biasa deh ! kalo terbiasa nulis pasti bisa nulis, kalo biasa disuapin pasti g bisa makan sendiri
saya aja belum lulus SMP mas, yang penting harus berani dan harus bertanggung jawab atas setiap kata yang kita gunakan di blog
@Arief Rizky Ramadhan, tambahan juragan ! linknya yang mas budhi itu error.. salah tulis harusna untungnyata malah jadi untunnyata.com
@Arief Rizky Ramadhan, maklum rif semalam mau tak edit, tapi kesulitan masuk dashboard mas agus, jadi terpaksa publish. insyaalah segera tak benahi.
@Arief Rizky Ramadhan, iya rif apa yang kita katakan dicatat malaikat rif, hati2 yo….
menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang lahir dengan sendirinya ketika kita rajin membaca. semakin banyak yang kita baca, semakin besar keinginan kita untuk menulis. membaca dan menulis adalah dua keterampilan berbahasa yang harus dimiliki blogger manapun …
nais impo gan, makasih dah share …
nulis bon bisa khan, sms, chating….mudah koq
@bundapreneur, ya elah, yang diingat malah kasbon…

@Agus Siswoyo, wkwkw.wkwkwk
@bundapreneur, nulis bon?
yang penting bisa baca tulis
@bundapreneur, dan berhitung ya bun?
Pendidikan tinggi tidak selalu identik dengan intelektualitas. Banyak orang yang berhasil di bidangnya, yang bukan dari kalangan akademis. Termasuk dalam hal menulis.
Mereka yang selalu belajar dari pengalaman dan mengolah pencitraan panca indra mempunyai peluang sukses lebih besar daripada yang membanggakan titel tanpa kontribusi yang nyata pada usaha membangun diri.
Tulisan yang inspiratif, mas.
@Agus Siswoyo, thanks mas agus, artikel ini saya ingin menitikberatkan bahwa pendidikan tinggi bukan segala2galnya. semua hanya terletak pada kemauan dan kegigihan kita. makasih mas agus sdh dikash kepercayaan buat nampilin tulisan sederhana ini
kebangeten kalo orang baru mulai ngeblog merasa kesulitan menulis…
seperti kata mas Andrik di atas, lha wong ditulis sendiri dan dibaca sendiri kok…
kalo pendidikan, saya kira memang harus tinggi mas, tapi tidak harus pendidikan formal, ikuti saja dengan tekun sekolah kehidupan
artinya bersedia belajar dan mengambil hikmah dari pengalaman hidup yg dijalaninya
@suarakelana, manteb tambhannya mas, pendiikan alam lebih dominan kyaknya. tidak harus formal.
Saya malah rada geli dengan footnote’nya mas.. Nge-drop banget lho, di atas tulisannya inspiratif dan bersifat memotivasi kok di akhir harus bilang “Hanya orang ndeso…. dan Jika banyak salahnya”..
Kalau dikembalikan bisa jadi begini, Menulis: Harus Orang Kota atau Orang Ndeso-kah? hehe..
Tenang aja mas, tulisannya bagus kok… (menurut saya)
@Andre, enggak gitu mksud saya mas, lebih baik merendahkan diri daripada hrs kita berbangga diri. maaf jika sdh membuat geli. tapi gelinya dinikmati aja, no problem.
semakin hari artikel di kontes semakin menarik.
pembukaan yang manis mas Andrik. tapi kok penutupnya harus pake wong deso yah?
saya tertarik tuh dengan fakta-fakta yang di ungkap. cukup memotivasi..
mantaplah
@fadly muin, iya mas, semalam juga mikir2 sih, mau tak hapus, tapi agak kesulitan masuk db mas agus, jadi terpaksa g bisa edit lagi. mohon maaf atas kekurang nyamanannya.
semakin banyak kita menulis, jadi semakin tahu kualitas tulisan kita…dengan begitu akan semakin banyak perbaikan…
ayoo menulis, dan beritau pada dunia apa yg ada dipikiranmu.
Menulis adalah pekerjaan hati, makanya nda perlu sekolah tinggi untuk itu
Menulis butuh ruh, nyaman saat dikerjakan, penuh liku2 saat pencarian Ide, dan yang lebih bisa memberikan nuansa greget menurut saya ya ikhlas saat menulis. Akan terlihat kok mana tulisan yang hanya ditulis karena tujuan2 terselubung. hehe, dan mana yang dituliskan karena dia hanya ingin MENULIS.
@hanif IM, tulisan saya ini gimana kelihatnnya? ada tujuan terselubungkah? atau hanya ingin menuliskah?
jika pdd jiwanya sudah ada niatan pasti tulsan akan mengalir saat ita menmgingina…….heheh
soal pendidikan tdk terpengaruh karea ilmu ada di seitar da einginan kita untuk belajar
salam hangat dari blue
Wah nama saya disebut-sebut…
Mas, saya ini cuma wartawan kelas kampung yang waktu jaman reformasi lagi magang di salah satu media lokal di bandung. Jadi jangan terlalu dianggap jago lah. Kita kan sama-sama belajar. Saya juga masih nubie di dunia perbloggeran.
Ini dia salah satu kontestan yang saya kenal dengan kerendah-hatiannya. Menganggap sebagai wong ndeso, tapi sudah jalan-jalan sampai Korea. Salut untuk Anda.
Ayo, menulis!
Wah Koq Fotonya lebih keren dari yg ada diblognya mas Andrik?? Hmmm….Tulisannya jg ciamik buangeeet…..Gak sia2 merantau jauh kekorea
tulisane uapik tenan mas ndeso..saya jadi minder neh, jadi ngobok2 blog pean gak ya?
@Ahmad IM-bisnis, jgn bikin aq geer donk ah
Maju Terus Pantang Mundur !!!
Saya yang masih latihan juga pengin lancar menulis.
Sukses buat Mas Andrik…
Sukses juga buat mas Agus Siswoyo….
This is the best article I’ve read in this co writing competition.
Keep the writing, bro.
Very nice article.
@dimasangga, thanks mas
Tulisan peserta kontes makin matang nih. Jadi makin semangat menulis. Semoga kontes yg dibuat mas Agus ini bermanfaat bagi perkembangan karir menulis teman-teman.
ya, anda harus jujur mengakui kelemahan diri sendiri, sehingga anda bisa menumbuhkan mental pejuang yang selama ini mengerut di belakang layar.
saya yakin mas andrik sudah menabuh genderang perang melalui artikel di atas.
jelas saya suka sekali tulisan anda yang menyatakan perbandingan antara daud dan raksasa goliath.
dengan banyak berlatih menulis, anda pasti bisa menjajarkan diri anda dengan mas budhi..
nice post. yang penting adalah kemauan.
Ngga harus sekolah tinggi untuk bisa menulis, yang penting Anda bisa bicara tentu bisa menulis. Seperti yang pernah saya tuliskan di blog :
asal Anda bisa berbicara, sudah pasti bisa menulis
setuju gan, menulis itu sebuah curahan pikiran, setiap orang punya pikiran, walaupun pikiran iu berbeda jalannya, ada yang belok2, ada yang lurus….

ngalir kayak air di got, kadang buntu kadang lancar…