Menulis: Antara Curhat dan Media Perjuangan

Apr 26 2010

Oleh: Diana

Pada jaman sekolah dasar, salah satu kegiatan yang paling dihindari kebanyakan murid adalah pelajaran mengarang. Sebagai bagian pelajaran Bahasa Indonesia, mengarang dianggap sebagai aktivitas membosankan. Harus pandai menciptakan peristiwa, nama pelaku, tempat kejadian, waktu dan sejumlah atribut fiktif lainnya. Dalam bayangan masa kecil saya, tugas menulis karangan adalah hukuman terberat murid yang datang terlambat.

Tidak mengherankan, bila akhirnya banyak yang enggan menekuni dunia kepenulisan. Padahal kalau kita mau sedikit kilas balik sejarah perjuangan bangsa, justru banyak ide-ide perjuangan menentang kolonialisme terlahir melalui tulisan. Sejumlah tulisan yang menjadi media perjuangan salah satunya adalah buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya RA Kartini.

Lalu bagaimana perkembangan menulis di jaman modern ini? Saya melihat masih banyak sosok Kartini modern yang terus memperjuangkan eksistensi perempuan sebagai sosok mandiri dan bisa bekerjasama dengan kaum laki-laki. Sudah tidak mengherankan lagi saat kita membuka majalah wanita dan menemukan satu artikel teriakan ‘ketidaknyamanan’ nasib perempuan. Saya tidak menulis kata ketidakadilan karena nanti berkesan protes.

Beberapa isu gender masih menjadi polemik bagi sejumlah LSM dan menunggu ketegasan Pemerintah mengambil langkah nyata penuntasan hal ini. Contoh di lapangan adalah kasus malpraktik persalinan, penyiksaan TKW di luar negeri, kekerasan dalam rumah tangga dan beberapa kasus yang serupa gunung es. Terlihat kecil di permukaan, tapi sebenarnya menyimpan banyak persoalan di akar masyarakat.

Dalam kenyataan, karya penulis wanita tidak selalu dianggap penting. Masih ada anggapan bahwa wanita akan menulis sebagai luapan emosi yang tak terbendung. Atau meminjam istilah anak muda sekarang, tulisan wanita adalah curhat semata. Tidak lebih dari itu. Meski Jenar Mahesa Ayu menulis Jangan Kau Panggil Aku Monyet, tetap saja ada dikotomi perempuan dan wanita.

Melalui kontes ini saya mengajak rekan-rekan pejuang hak-hak kaum wanita untuk tetap aktif menyuarakan diri. Mungkin kita tidak bisa setiap saat mengadakan aksi di jalan raya. Namun sumbangsih pikiran dan ide harus tetap kita berikan melalui media tulisan. Ini bukan tentang mengumpulkan respons dan komentar dukungan yang melimpah. Ataupun upaya mencuri perhatian public dari masalah yang sedang menjadi hot topic. Yang lebih utama adalah tunjukkan bahwa wanita bisa mandiri dan berjuang dengan kekuatan diri.

Tidak perlu pendidikan sarjana supaya tulisan Anda dimuat. Beberapa majalah wanita yang idealis bersedia menampung segala permasalahan mendasar wanita tanpa melihat latar belakang pendidikan. Atau bila Anda merasa menjadi bagian dari warga dunia maya, blog pribadi bisa menjadi tempat efektif menuliskan artikel Anda tanpa perlu melalui proses editor. Tidak harus dengan domain berbayar. Saya yakin langkah kecil ini akan terakumulasi menjadi kesuksesan besar bila dilakukan secara konsisten.

Bila tidak dilakukan sekarang, kapan lagi akan ada perubahan!

Related posts:

  1. Blogger Wanita di Antara Dominasi Kaum Pria
  2. Antara Senioritas dan Manfaat Nyata
  3. Menang Kuis Twitter, Dapat Ebook Sekolah Menulis Online
  4. Blog Commenting: Antara Spam, Seni Mengkritik dan Personal Branding
  5. Pembelajaran Dari Kontes Menulis
  6. Julia Perez dan Feminisme Dalam Blogging
  7. Menerapkan Nilai Budaya Dalam Menulis Artikel
  8. Menulis Itu Bisa Karena Biasa

86 responses so far

  • Artikelnya bernuansa hari kartini, mumpung masih di bulan april.

    Saya setuju dengan tidak selalu menggelar aksi di jalan.
    Pada moment2 yg dirasa perlu dan mendesak saja..yang penting tidak mengganggu ketertiban umun.

    Aspirasi bisa dilakukan memang dengan berbagai cara.
    Lebih enak dan nyantai emang via blog…

    Semoga Blogger2 kartini selalu muncul membawa perubahan yang positif.

    Salam Perubahan

  • Agus Siswoyo says:

    Sejumlah blog menjadi alat perjuangan dan media komunikasi yang terbukti efektif dalam hal penyebaran berita. Semakin ke sini semakin saya yakini bahwa ke depannya, menulis bisa menjadi profesi yang patut diandalkan.

  • mh says:

    beberapa kali baca artikel ini, udah ketangkep sih ide nya, tapi masih lari-lari.. saya ngerti kalo penulis ingin mengangkat citra wanita penulis, tapi dari atas sampai bawah tidak mengalir dengan lancar..

    seperti kata Simon Cowell: Sorry.. but I don’t understand what on earth that you wrote LOL.

  • Bener banget mas Agus, saya setuju dengan anda. Dengan ngeblog kita bisa curhat dan berbagi pengalaman dengan teman-teman, bahkan dengan ngeblog juga kita bisa mengajak semua orang pembaca blog kita untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih positif lagi….

    salam sukses untuk anda dan rekan-rekan yang ada disini…..

    Aan Iskandar

  • ago says:

    Menulis via blog mungkin adalah langkah awal yang tidak terbentur dengan masalah peraturan penulisan, yah itu bisa curhat, atau apapun itu. seiring berjalannya waktu tulisan kita akan lebih berkualitas.

  • Iya,, Anadai saja Ibu RA Kartini punya blog…
    pasti akan sangat menginspirasi banyak orang ya……
    :cendol :cendol :cendol

  • T. Wahyudi says:

    berubah….. jadi avatar…. he….

  • darahbiroe says:

    menulis apa yang ingin aku tulis dan sahabat ingin membacanya heheh
    smngatttt
    :D

  • antok says:

    hehhe
    aku yang termasuk curhat ajah dechhh
    :D

  • fatchur says:

    Menulis: Antara Curhat dan Media Perjuangan

    bisa jadi keduanya bu tanpa ada “Antara”

  • Joko says:

    Orang boleh saja bilang Menulis itu Curhat atau apalah. Kalau saya bilang menulis seperti mengalirkan kembali apa yang kita terima. Menulis sama saja seperti Memberi. Bayangkan kalau tidak ada penulis, tentu kita tidak bisa seperti sekarang ini.

    Jadilah seperti Danau Galilea, bukan seperti Laut Mati, yang tidak hanya bisa menerima tapi juga mau memberi. Dengan Menulis Anda sudah seperti memberi, meski kadang ada yang sedikit berpamrih.

    Pertanyaan saya: Jika masih banyak orang enggan menulis, apakah itu karena malas menulis seperti cerita Anda waktu SD, ataukah memang karena orang enggan berbagi? Ataukah apakah Menulis belum bisa disejajarkan dengan profesi lain sehingga profesi penulis belum dipilih oleh mayoritas orang sebagai profesi.

    • Diana says:

      @Joko, kalau kebanyakan orang enggan menulis bisa jadi karena budaya menulis sendiri belum sepenuhnya mengakar pada kebiasaan masyarakat. beda dengan budaya beberapa negara barat yang sejak kecil telah berlimpahan kertas dan pena.

  • delia says:

    saat ini masih mengarah kecurhat..
    walaupun dalam hati selalu ada niat semoga blogpribadi menjadi manfaat untuk orang lain… ….

  • mahesapandu says:

    intinya mungkin curhat, entah tertuang alam artikel, puisi, prosa, ataupun dialog ringan. Yang jelas dengan blog banyak hal yang bisa kita sampaikan dan kita serap sebagai informasi.

  • Samsul arif says:

    menulis adalah seni mengungkapkan pikiran dan perasaan ke dalam bentuk visual, dan ini sifatnya relatif antar manusia. menilainya bukan dalam bentuk benar atau salah, tapi diterima atau tidak diterima. itu saja.

    • Diana says:

      @Samsul arif, komentarnya sangar mas. dikit tapi bernas. hihihi…
      sebagai seni, parameter yang digunakan memang terkesan memasuki area pribadi. tak ubahnya tentang agama, dogma dan aliran kepercayaan. Yang penting tidak mengganggu privasi orang lain.

  • iskandaria says:

    Tulisan wanita memang kerap diidentikan dengan curhat. Semoga lebih banyak wanita yang bisa menulis opini yang mencerahkan, sehingga bisa memberikan sumbangsih bagi kemajuan bangsa Indoensia tercinta ini.

  • Mau bersuara lantang tanpa perlu di moderasi? ya ngeblog aja. ngeblog itu mudah, murah dan meriah gitu….

  • sahrul reza says:

    the art of writing bisa menjadi satu hal yang selalu menarik di bahas, kategori pembahasan bisa menyentuh berbagai bidang kehidupan. dan dunia emansipasi wanita adalah satu di antara banyak pembahasan yang akan terus dikupas sampai akhir jaman.

  • Aliceina says:

    Saya senang membaca tulisan mbak Diana. Seolah menyadarkan saya untuk selalu giat memperjuangkan aspirasi wanita. Masih banyak ketidaknyaman yang lain. Misalnya fenomena kawin siri yang melanda beberapa pesohor negeri kita. Ini masih menanti perbaikan dan solusi terbaik dari berbagai pihak terkait.

    • Diana says:

      @Aliceina, mengenai nikah siri, memberantasnya tak semudah membalikkan telapak tangan. Masalahnya, beberapa ulama yang disegani menyatakan nikah siri tidak haram. Bahkan sejumlah hadist Nabi juga menyatakan demikian.

      Dan saya pribadi menyetujui praktek nikah siri DENGAN CATATAN bertujuan memperbaiki nasib perempuan. Bukan atas dasar nafsu dan menunjukkan kekuasaan. Selebihnya, no way!

  • Aisyah says:

    Dalam ajaran agama, kita dituntut tetap mawas diri dan waspada terhadap berbagai bentuk kezaliman terhadap umat manusia. Bukan hanya untuk gender wanita saja, lebih luas lagi kepada usaha menegakkan syariah dan menyiarkan dakwah bagi keselamatan bersama.

  • febriyanto says:

    menulis adalah perjuangan tanpa tetes darah. hha
    kbykn cewe pandai brcrita y, mnrut saya..

    • Diana says:

      @febriyanto, mengenai kemampuan bercerita, laki-laki dan perempuan mempunyai bakat yang sama. Contohnya, banyak juga kan penulis pria yang sukses di jaman dulu. Bedanya, tidak semua mempunyai waktu untuk mengeksplorasi kemampaun terbaiknya.

  • Dimas says:

    waw, tulisan macan nih…
    saya sendiri ngeblog cuma buat dokumentasi tugas kuliah saja. kalau mendapat komentar sih bagus, kalau nggak ya sudah.
    hehehe…

  • Sasha says:

    mau komentar apa ya, nggak bisa ngomong nih…
    hmm gini aja, sebagai ibu rumah tangga, saya cuma berharap hak-hak wanita mendapat keseimbangan dengan hak pria, nggak harus muluk-muluk kok, asal bisa menikmati hidup dengan layak saja sudah syukur. hhehe..

  • hanifilham says:

    mantab, emang begitulah kehidupan. penuh perjuangan, tak pelak strata antara laki2 dan perempuan, di berbagai tempat berbagai juga perlakuannya.

  • fadly muin says:

    sangat relevan dengan artikel terakhirku, menulis adalah berjuang!

    jika kita mau menjadikan “menulis” sebagai media / alat intelektual kita. maka bukan tidak mungkin, pelan tapi pasti eksistensi kita akan mendapat legitimasi publik. dan kalau sudah begitu. kebanyakan statemen kita akan dijadikan bahan opini dan pertimbangan publik..

    artinya, menulis itu sangat prospektif untuk mengambil peran aktif dimasyrakat. jika kita tidak mampu menggerakkan massa secara nyata. kita bisa mengajak masyarakat untuk memiliki kekuatan intelektual.. (walah..panjang amat sih.. he he he)

    semoga sukses yah

  • Abdul Rizky says:

    Peringatan hari Kartini seolah menjadi acara unjuk diri di bidang emansipasi. Banyak orang berlomba-lomba mengaku sebagai pejuang hak kaum wanita. Tapi setelah pada kabur semua. Siapa yang salah ya…

  • ghe says:

    kesamaan yah….asal jangan hanya minta persamaan hak saja, gmn kalau persamaan kewajiban juga dilantangkan…. :hammer

    • Diana says:

      @ghe, pria dan wanita mempunyai kodrat masing-masing dan sifatnya saling melengkapi. Seharusnya tidak ada kecemburuan sosial dalam hal ini. Dalam ajaran agama pun telah dijelaskan hak dan kewajiban masing-masing. kalau masih ragu, silakan dibuka lagi kitab sucinya.

  • Adam says:

    perjuangan yang bagaimanakah bentuknya? saya pikir hal ini harus dipertajam lagi. karena bila saya perhatikan, ada kecenderungan arahnya kebablasan. wanita mempunyai sejumlah kodrat yang tidak dimiliki kaum pria. namun sayang hal ini makin pudar akibat emansipasi yang tidak terkendali.

    misalnya, olahraga tinju kini tidak lagi dimonopoli pria. dan saya pribadi tidak setuju bila wanita mempertontonkan adu jotos yang melibatkan jiwa adrenalin. kesannya buruk di mata anak gadisnya.

    • Diana says:

      @Adam, saya pribadi tidak setuju emansipasi yang kebablasan. Tetap dibutuhkan kontrol diri. Terutama terhadap kewajiban wanita sebagai pasangan hidup pria. Langkah nyata tidak perlu jauh-jauh cari contoh. Di sebuah rumah tangga misalnya, komunikasi efektif untuk bertukar pikiran merupakan langkah awal untuk membangun kemajuan pribadi wanita.

  • Adi says:

    teman-teman perempuan saya kalau ngeblog biasanya untuk acara gossip. hahaha… biasalah, wanita suka pembicaraan ringan yang gayeng bawaannya. selebihnya mungkin untuk acara janjian ketemu reuni kawan-kawan tempo dulu.

  • Fuvenanda says:

    Tapi saya lebih takut pelajaran hitung2an ketimbang mengarang?

  • semakin mendekati hari H kontes semakin seru, dan makin banyak peserta wanitanya..selamat berjuang, semoga sukses!

  • berkenaan emansipasi saya teringat dengan tulisan teman SMP saya yang kini menjadi novelis sekaligus feminis.

    “Adalah benar Hawa yang merayu menikmati khuldi. Namun jikalau Adam sebagai lelaki teguh dalam perintah Tuhan, mereka takkan terusir dari Surga selamanya. Namun rupanya kaumnya (kaum lelaki) sangat bebal. Tak mampu berkaca pada sejarah dan mengambil saripatinya. Bahkan mengulang kesalahan sama.”

    Kebangkitan sastra sekarang adalah kebangkitan kaum perempuan, setelah penulis-penulis sekelas Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Fira Basuki, Nova Rianti Yusuf, Ratih Kumala, Anjar, de-el-el mampu menembus dominasi kaum pria.

    Tulisan yang menyegarkan dan mampu memberikan insight yang berbeda. Salut!

  • jaman dulu dan sekarang sudah berbeda, patut berterima kasih pada mama kartini… salam kenal buat penulis.. :cendol

  • Robby says:

    Saya menulis artikel blog sebagai bentuk keprihatinan terhadap perkembangan budaya yang makin terkikis kemajuan jaman. Alangkah indahnya bila kita bisa maju dengan tetap mempertahankan budaya.

    Buat mas Agus, saya tunggu publikasi artikel saya.

  • 2R says:

    Seneng deh kalo ada Wanita yg aktif nulis diBlog. Salute :recsel

  • Perkembangan zaman menuntut banyak perubahan. Pahlawan kita Ibu RA Kartini telah mendobrak kelaziman seorang perempuan di zamannya dengan membuat tulisan yang bersejarah.
    Sekarang sejarah sedang diukir oleh kita semua, blog ini tidak sekedar untuk menampung unek-unek, iseng, cari duit atau pertemanan semata. Lebih dari itu, banyak hal yang terkait kehidupan sosial kemasyarakatan yang bisa dibangun dari sini…semoga

  • suarakelana says:

    curhat terlanjur dikonotasikan kurang baik. Padahal surat2 Ibu Kartini yang terkenal itu juga curhat semua. Jadi silakan saja ngeblog untuk curhat. Curhat dari orang yang berhati bersih, berhati peduli, berhati singa (buayangkan..), tapi juga berhati-hati agar tidak kontraproduktif,
    Tulisan saya semuanya curhatpik, curahan hati dan pikiran. Tak pernah saya menulis tanpa hati, mending nggak menulis. Maju terus mbak…..

  • saya rasa kalau menulis kebanyakan untuk sharing informasi

  • Erdien says:

    Selamat berjuang Mba!

  • @andry sianipar, saya malah berfikir sebaliknya, bila saat itu katakanlah ada blog, kartini tidak akan bebas menyuarakan aspirasinya. kemungkinan terbesar tulisannya akan di banned oleh masyarakat yang masih di dominasi oleh penguasa laki laki. tulisan kartini bisa di ketahui oleh khalayak karena di kumpulkan dan di terbitkan oleh
    bangsa belanda.

  • bundapreneur says:

    curhatku adalah bagian dari perjuanganku….heheheh

  • firdaus says:

    bener mbak, menulis adalah sasuatu yang sangat penting. sebuah ide selamanya akan tetap menjadi ide jika tidak disampaikan. sekarang banyak lho penulis wanita yang karya2nya sangat luar biasa, jadi pandangan bahwa tulisan wanita hanyalah curhat untuk saat ini sudah bisa dibantah dengan berbagai bukti yg ada. justru tulisan2 di blog saya yang lebih banyak berisi curhat :D

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons