Oleh: Robby
Menurut Wikipedia, bahasa ibu (bahasa asli, bahasa pertama; secara harafiah mother tongue dalam bahasa Inggris) adalah bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Dan orangnya disebut penutur asli dari bahasa tersebut. Biasanya seorang anak belajar dasar-dasar bahasa pertama mereka dari keluarga mereka.
Kepandaian dalam bahasa asli sangat penting untuk proses belajar berikutnya, karena bahasa ibu dianggap sebagai dasar cara berpikir. Kepandaian yang kurang dari bahasa pertama seringkali membuat proses belajar bahasa lain menjadi sulit. Oleh karena itu, bahasa ibu memiliki peran pusat dalam pendidikan.
Disinilah sebuah tulisan mengambil peran dalam menjaga eksistensi bahasa ibu. Jika setiap hari masyarakat digempur dengan berbagai tulisan dengan bahasa plesetan, saya khawatir ke depannya langkah mereka akan terpeleset juga. Ini hanya sebuah ibarat.
Tanpa bermaksud mendiskreditkan person yang memiliki image ratu bahasa gaul, kehadiran bahasa gaul dalam penulisan memberikan andil bagi punahnya bahasa utama. Masyarakat lebih semakin sering membaca tulisan “gue banget” daripada “ciri khas”.
Bahkan anak kecil telah terbiasa mengirim SMS dengan singkatan-singkatan yang sulit dipahami orang-orang tua. Dan efeknya seringkali menimbulkan miskomunikasi antara orangtua dan anak. Maksud baik bisa jadi tak tersampaikan dengan benar gara-gara pemakaian bahasa yang menimbulkan kekaburan makna.
Inilah kemajuan jaman. Kita tidak bisa mencegah arus globalisasi yang kian deras mendera berbagai segi kehidupan. Termasuk dunia penulisan yang telah berkembang sedemikian rupa melalui berbagai wujudnya. Blog pribadi salah satunya.
Update artikel telah menjadi ajang unjuk kemampuan diri menyusun bahasa asing yang sulit dipahami orang awam. Sebagian blogger malah merasa bangga bila berhasil membuat bingung pembacanya. Kalau sudah terjadi demikian maka apalah manfaat yang bisa dipetik dari sebuah posting artikel.
Apa yang bisa kita lakukan? Terlalu naif kalau saya menjawab pertanyaan ini dengan kalimat akademis yang berbusa-busa di mulut. Langkah paling mudah adalah memulainya dari diri sendiri. Mari kita biasakan menulis artikel blog dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau belum bisa seluruhnya ditulis dalam bahasa baku, delapan puluh persen saja sudah cukup.
Bagaimana dengan penggunaan bahasa asing? Apakah sebaiknya dihindari? Untuk beberapa istilah asing memang belum ada padanan kata dalam bahasa Indonesia. Dan saya pribadi tidak mempermasalahkan hal ini bila pemakaiannya justru memperjelas kalimat.
Dalam jangka panjang, tulisan artikel dan komentar yang ditinggalkan seorang blogger yang terbiasa memakai bahasa baku dan bahasa gaul akan memiliki personal branding yang berbeda. Anda tentu sudah familiar dengan blogger yang gemar berseloroh kasar dalam membalas sebuah thread comment. Dan saya pastikan Anda memiliki penilaiaan yang berbeda terhadap blogger yang terbiasa mengontrol kalimat secara disiplin.
Siapa lagi yang akan menyelamatkan bahasa Indoensia dari kepunahan kalau bukan kita. Tentu Anda tidak berharap bahasa Indoensia akan direbut negeri tetangga juga.
Inilah sedikit pemikiran yang dapat saya tulis di kontes menulis ini. Semoga diterima pembaca blog ini. Jika Anda punya pemikiran lain, silakan dibagi disini.
Related posts:


Pertamax dulu,.. Semoga…
@trieand, selamat mbak…
Pertamax… hehe…
Bahasa ibu emang harus digunakan, tapi rasanya kalo buat artikel blog pribadi yang gak resmi2 amat kayak blog aku rasanya jadi kaku, masih lebih enak pake bahasa ibu tapi yang agak gaul dikit asal jangan sampe jadi alay aja… hehe…
Trus… Kalo pake bahasa yang dicampur2 jawa ma indo or linggis ma indo gimana… Kan lebih asyik bacanya…
@trieand, tergantung segment pembacanya. Jika komunitas yang Anda bangun memiliki topik serius (politik, budaya, kesehatan dan lainnya) mungkin penerapannya tepat. Beda lagi dengan blog untuk komunitas anak muda seperti kaskus.
boleh dikatakan bahasa Indonesia itu miskin kata-kata, makanya banyak kata-kata serapan yang akhirnya menjadi bahasa Indonesia
@Ahmad IM-bisnis, Asimilasi budaya asing tidak bisa kita hindari. Sepanjang keberadaannya tidak menghilangkan budaya asli saya pikir nggak masalah.
bener banget….bahkan bahasa gaul udah masuk ke karya ilmiah…terkadang sulit menentukan kata yang baku gara-gara keseringan make bahasa gaul…
@zaki, saatnya pihak-pihak yang terlibat melakukan koreksi diri. Baik dosen, mahasiswa dan lainnya perlu penyaring yang bagus agar keberadaan karya ilmiah bisa mendukung kelestarian bahasa Indonesia.
pantesan yang kagak lulus UN banyak banget.. ternyata nilai jeblok di bahasa Indonesia… coba ada mata ujian bahasa ALAY, pasti nilainya 100 semua
@mh, generasi muda sekarang lebih bangga berbicara memakai bahasa gaul dalam keseharian. Dan ini menjadi kebiasaan yang sulit dihapus. Pada akhirnya seolah lupa bahwa salah satu penentu kelulusan adalah pelajaran bahasa Indonesia. Bukan bahasa Allay seperti Mh katakan.
@mh, wkwkwk, mas MH, saya mau tanya, bahasa ALAY itu juga yang namain siapa ya? soalnya pada jaman saya SMP, bahasa itu sering muncul dan para orang dewasa tidak begitu mempermasalahkannya. Tapi sekarang malah di bilang ALAY. Saya sendiri jujur, kata ALAY itu sebenarnya perlu tidak ada di keseharian. Dulu kita bilang NORAK, wah2… makin hari kita makin disuguhi kata2 aneh.
Bahasa Ibu, malah saya ingin mengerti bahasa sastra Indonesia, yang rada2 sulit dimengerti, puisi, prosa, artikel sastra, itu juga sulit dipahami, namun tidak lepas dari bahasa Ibu.
Salut buat mas Robby, yang mengangkat tema ini. Memang sulit dihindari perkembangan bahasa dimanapun dipengaruhi oleh dinamika masyarakat itu sendiri. Makin dinamis masyarakat itu makin banyak pengaruh bahasa-bahasa lain yang ikut mewarnai bahasa ibu.
Disinilah peran kita sebagai blogger dalam setiap tulisannya agar tetap enak, mudah dimengerti, santun tetapi tetap menjaga tata bahasa dan keindahan bahasa ibu kita.
@aas maesyanurdin, Posisi blogger sangat strategis memainkan perannya dalam menjaga kelestarian suatu budaya. Dari artikel yang dipublikasi secara rutin, akan terbentuk kebiasaan memakai dan menghargai bahasa Indonesia.
emang bhasa akan berubah pada waktunya, scr pelan2 tntunya..
tapi mau gmana lg, emang gombalisasi trlalu cepat menginfluense anak2..
mau tidak mau harus ada filtering dr dini… hhe
@febriyanto, Modernitas akan selalu berkembang dan merubah tingkah laku masyarakat. Namun jangan sampai hal ini membuat kita lupa akan budaya sendiri. Tentu kita tidak berharap bahwa satu saat Bahasa Indonesia akan tinggal nama saja.
Artikel di blog saya bahasa indonesianya sudah baik dan benar apa belum ya ?
Hehe
@Udin Hamd | Blogger 2 Inchi, saya lihat masih berantakan mas. hehe… Kalau blog Anda ditujukan untuk komunitas Jatim mungkin cocok. Pemakaian bahasa Jawa akan memberikan sentuhan khas. Tapi kalau mau lebih nasionalis, ada baiknya memakai bahasa persatuan, supaya saudara di luar pulau bisa paham maksud artikel Anda.
@Robby, saya sangat setuju dengan masukan mas Robby. Jika segmen yang ingin kita tuju tidak sebatas komunitas etnis tertentu, maka sudah selayaknya menggunakan bahasa yang lebih nasional. Tapi saya sendiri kadang masih menggunakan kata/bahasa yang kurang baku sih.
jika bukan kita.. siapa lagi yang memakai dan menyelamatkan bahasa indonesia..
@LendraAndrian, jangan sampai bahasa Indonesia direbut negara tetangga (lagi).
@LendraAndrian, setuju mas…

Semakin kesini, tulisan peserta kontes makin berbobot. Saya salut atas perkembangan blog ini yang kian moncer.
@Adi, semoga tulisan ini yang menang kontes. hahaha…
Masih perlu diperjelas nih. Apakah bahasa daerah termasuk dalam kategori bahasa ibu?
@abdul rizky, bisa juga mas. Karena ada kalanya lingkungan tempat lahir masih memakai bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari.
masing2 ada porsinya mas. Dulu saya terbiasa membaca literatur yg sangat baku dan teknis, jujur aja rasanya kering kerontang. Tak berjiwa. Bahkan saya mendambakan adanya tulisan yang ilmiah, berbobot, namun disampaikan dengan kalimat-kalimat yg akrab dengan pembacanya, sesekali ada bahasa gaulnya tanpa harus mengaburkan makna yg ingin disampaikan.
Dengan demikian kita tidak meletakkan tulisan kita di menara gading yang hanya sedikit orang mampu dan ingin menyentuhnya.
@suarakelana, tergantung situasi dan kondisinya mas. Lagipula setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda untuk menyerap suatu informasi. Misalnya: visualis, audio atau kinestetik. Nah, hal inilah yang membuat relativitas terjadi.
Saya mengenal beberapa penulis blog yang mengedepankan tata bahasa baku. Salah satuya Medhy Aginta (pemilik blogguebo). Efeknya, blognya punya basis pembaca yang luas. Andai saja ia menggunakan bahasa sehari-hari, bisa jadi segmen pembacanya terbatas. Itu satu contoh saja, betapa penggunaan bahasa yang baku bisa menjaring lebih banyak pembaca.
Tapi ada juga penulis blog yang memilih menggunakan bahasa santai sehari-hari, dan ternyata blognya tetap punya basis pembaca yang luas (contohnya tikabanget.com). Anti tesis? Bisa jadi.
Jadi menurut saya, ambil jalan tengah saja kali ya. Terlalu kaku dan formal dalam menulis sebaiknya dihindari. Terlalu santai dan banyak basa-basi (alias cengegesan) juga kurang bagus.
@iskandaria, komentar yang bagus mas, saya cuma mau menambahkan perlu adanya karakter dalam setiap tulisan. Sehingga orang akan dengan mudah memahami kita.
Iya banyak banget yang pakai bahasa gaul saya sendiri sampai enggak paham
@rauff risharasakti, sama dong mas. hehehe…
benar sekali,sekarang sudah banyak yang pakai bahasa gaul dalam berkomunikasi.Namun saya rasa bahasa ibu akan tetap terlestarikan.
@Peluang Usaha, tergantung usaha manusianya mas.
Pemakaian bahasa tergantung keadaan. Kalau ngobrol sama teman-teman sejawat memakai bahasa resmi jadinya lucu juga kan. hehe…
@Sahrul Reza, bahasa yang luwes dan santai pastinya…
Saling melengkapi aja lah. Nggak perlu dibeda-bedakan. manusia harus fleksibel dalam bertindak, kalau terlalu kaku bisa-bisa jadi robot.
@Samsul Arif, atau sebaliknya, robot yang berwujud manusia.
saya suka bahasa santai dan tidak terkesan kaku. yang penting maksud pembicaraan tersampaikan. pakai bahasa resmi juga tidak menjamin akan tepat sasaran.
@Aliceina, tersampaikannya isi pesan adalah lebih penting daripada alatnya, bukan begitu mbak?
Menurut saya bahasa gaul setidaknya masih bisa di mengerti oleh sebagai orang, saya pling tidak suka ketika membaca tulisan dengan bahasa Alay, sperti penggabungan antara HurUf d4n 4n6K4 seperti itu
@satrya, kalau yang terakhir itu sudah masuk kategori allay akut mas. hehehe…
kalau saya tangkap, maksudnya disini penggunaan bahasa yang tidak pada tempatnya. terutama dalam hal menuli di blog.
saya rasa ini karena pemilihan karakter atau tepatnya sih pemenuhan karakter penulisnya. dan masukan dari mas Roby sangat baik untuk membenahi kesimpangsiuran makna karena kurangnya pemahaman terhadap bahasa / kosa kata yang pantas.
saya sendiri berusaha menggunakan bahasa yang cocok dan memiliki makna yang luas. walau ada sebagian temans yg menganggap tulisanku berat. tapi seiring dengan waktu, kita akan bertemu dalam moment yang pas. antara gaya menulis dan basis pembaca yang solid..
@fadly muin, memang, pada akhirnya karakter juga yang berbicara. Setiap blogger berhak memilih gaya bahasa. Inilah nanti yang akan menjadi pembeda satu dengan lainnya.
klo menurut saya, bahasa gaul itu kn dari jakarta yah…jadi jadikan bahasa lokal sana ajah, jgn dijadikan bahsa “nasional”
@nurrahman, Jakarta hanya salah satu lokasi. Sumber utama tentu dari pergaulaan masyarakat luas.
waduh klw saya komen dan nulis di blog pakai bahasa ibu kasihan kasihan yg baca bakal gak ngerti, cz saya jawa tulen
@firdaus, untuk itulah perlu adanya bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Saya lebih setuju untuk tetap menjadi diri sendiri. Saya lihat beberapa blogger terkenal justru karena penggunaan bahasa gaulnya. Dulu waktu saya masih ABG, saya tergila-gila dengan novel Lupus yang bahasanya gaul abis. Tapi setelah dewasa, saya tetap menyenangi karya-karya sastra berbahasa baku seperti karya Pramoedya, Seno Gumira Ajidarma, Ahmad Tohari, Ayu Utami, Remi Sylado, dll.
Bagi saya memahami bahasa seperti mengenali sebuah kehidupan. Karena dengan mengenali bahasa, kita dapat memahami budaya si pengguna. Jadi jangan salahkan komunitas gaul yang lebih suka menggunakan bahasa gaul, karena di sanalah mereka menemukan dunia dan kehidupannya.
Bahasa yang baik adalah bahasa yang senantiasa bisa berkembang dan mengikuti perkembangan jaman. Kenapa kita tidak berpikir positif bahwa bahasa gaul justru memperkaya ragam bahasa Indonesia?
Sorry mas, kalau saya berbeda sudut pandang. Tapi semoga visi kita tetap sama untuk memajukan dunia blog Indonesia.
@UntungNyata!com | Budhi K. Wardhana, oke, saya hargai komentar mas Budhi. Inilah salah satu dinamika kehidupan. Selalu ada yang berkembang.
Saya justru berpikir tidak ada ancaman berarti dalam hal ini. Bahasa adalah salah satu bentuk budaya masyarakat. Kita tidak bisa mencegah akan menjadi bagaimana ke depannya. Kita hanya bisa menjalani sesuai kapasitas diri.
@Agus Siswoyo, maksud mas Agus mungkin menjalani hidup dengan mengalir gitu ya?
Bahasa tidak bisa mengancam mas. Justru perilaku manusianya yang perlu dikontrol.
@Adam, bukankah perilaku hadir dari komunikasi dengan bahasa. Tolong direnungkan kalimat ini.
Komunikasi efektif bisa terbentuk dari bahasa yang mudah dimengerti dan tidak menyinggung norma-norma di masyarakat. Itu saja menurut saya.
@Aisyah, dua hal tersebut sudah seharusnya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk blog.. Untuk menambah feel dan nyawa biasanya digunakan bahasa tidak baku. Karena menurut saya ini untuk memberi interaksi antara tulisan kita dengan pembaca..
Ya apapun itu, gaya bahasa tetap harus tau tempat. Tau dimana kita pakai formal/baku dan kapan harus pakai bahasa gaul…
Yang penting nulisnya jangan alay.. Puyeng bacanya..hehe
@Andre, setuju, saya juga tidak suka tulisan allay yang terkesan over acting.
Tulisan yang mencerahkan Mas Agus…
Kenyataannya memang demikian.
Bahasa Ibu semakin dianggap aneh dan tersisih.
Yang makai tinggal orang dewasa sampai tua.
Faktor yg mempengaruhi sangat kompleks dan susah diurai.
Meski berat, kayaknya ini tantangan buat guru di sekolah.
Kalau dari lingkungan dan masyarakat kayaknya agak susah, karena justru dari lingkungan dan masyarakat itulah merebaknya bahasa gaul yang dianggap modern itu.
@marsudiyanto, langkah sederhana yang dapat kita lakukan adalah dari tulisan ngeblog. dari sini akan terbiasa dengan bahasa Indonesia yang diharapkan akan tetap lestari keberadaannya.
kenapa saya menangkap adanya ambiguitas mengenai bahasa ibu? bila bahasa ibu seperti yang anda maksudkan: bahasa pertama, jelas bahasa ibu merupakan bahasa daerah, bahasa pergaulan di daerah masing masing dan bahasa indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang di kenal justru pada saat bersekolah. Ini berarti bahasa indonesia bukanlah bahasa ibu. Bahasa yang pertama kita gunakan alias bahasa daerah adalah juga bahasa pergaulan, tidak baku.
@herlina mutmainah, lantas mengapa anda memiliki kesimpulan bahasa gaul/pergaulan mengancam bahasa ibu (konsep bahasa ibu anda simpulkan sebagai bahasa indonesia yang baik dan benar?,ini bertentangan dengan definisi awal). mohon di jelaskan darimana keambiguitas ini bisa muncul?
@herlina mutmainah, bahasa Indonesia tidak lahir begitu saja. Ia ada sebagai hasil kulminasi berbagai bahasa, baik bahasa daerah maupun bahasa asing. Di sinilah posisi bahasa daerah berperan penting dalam upaya melestarikan keberadaan bahasa nasional.
[...] This post was mentioned on Twitter by Arief Maulana and Agus Siswoyo, Agus Siswoyo. Agus Siswoyo said: Ancaman Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Ibu: Oleh: Robby Menurut Wikipedia, bahasa ibu (bahasa asli, bahasa pe… http://bit.ly/d7zhtM [...]
Bahasa Ibu merupakan salah satu unsur budaya yang harus dipertahankan. Namun, bahasa ibu bukanlah bahasa Indonesia, melainkan bahasa daerah. Sementara bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, yang juga memang harus dipertahankan keberadaannya.
@Erdien, bahasa Indonesia adalah hasil kumpulan berbagai budaya daerah. upaya melestarikan bahasa Indonesia bisa dimulai dengan melestarikan budaya daerah.
@Erdien, kalau menurut saya, justru bahasa Indonesia merupakan hasil perkumpulan berbagai bahasa daerah. Langkah penyelamatan bisa dilakukan dari budaya lokal.
@Erdien, setuju, dua-duanya adalah kekayaan budaya Indonesia.
yang cukup berbahaya juga adalah bahasa alay, karena dampaknya bagi pembaca cukup memusingkan, membuat mata pegal, dan menimbulkan efek emosi sama yang nulis akhirnya,hehhe…..memang susah sih untuk memakai bahasa Indonesia yang baku, apalagi dalam keseharian aja bahasa yang dipake g baku, y seperti saya ini….tepi mudah-mudahan dengn ngeblog terus menerus maka kemampuan menulis atau kemampuan berbahasa saya/kita juga bisa makin baik…
@adin, intinya kita dituntut lebih fleksibel dalam memakai bahasa sehari-hari. kemampuan adaptasi diri dan lebih reaktif diperlukan agar semua nyaman berkomunikasi.
nggak masalah pakai bahasa gaul, kan lihat-lihat situasi dan kondisi. remaja sekarang lebih adaptif kok. mereka tahu kapan harus serius dan kapan harus santai.
@Ryan, semoga semua remaja bisa begitu. tapi saya kok malah pesimis. semakin banyak remaja yang berani melawan orang tua dan guru.
Have you ever considered adding more videos to your blog posts to keep the readers more entertained? I mean I just read through the entire article of yours and it was quite good but since I’m more of a visual learner,I found that to be more helpful well let me know how it turns out
I think you have a great page here… today was my first time coming here.. I just happened to find it doing a google search. anyway, good post.. I’ll be bookmarking this page for sure.
Kalo shopping di http://www.ipopscolletions.com pakai bahasa apa aja bisa kok Pak..
Siapa tau lagi cari jam tangan branded, or tas branded buat istri hehehe….