Visitasi Akreditasi Sekolah Ternyata Tidak Menakutkan, Justru Jadi Ajang Pembinaan Guru

Khidmat Upacara Bendera Guru Memakai Seragam PGRI dan Korpri di Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang
Khidmat Upacara Bendera Guru Memakai Seragam PGRI dan Korpri di Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang

Semula saya berpikir bahwa visitasi akreditasi sekolah akan berlangsung menakutkan dan menegangkan. Tapi ternyata dugaan saya meleset. Pengalaman hari ini (4/9/2018) mengubah cara berpikir saya terhadap kinerja asessor Badan Akreditasi Nasional Sekolah Madrasah (BAN S/M). Mereka tidak melakukan penyalahan dan hukuman terhadap beberapa instrumen yang tidak terpenuhi oleh sekolah. Sebaliknya, dua orang assesor yang hadir malah memberikan pembinaan dan tambahan wawasan kepada para guru yang disupervisi. Visitasi hari ini menghadirkan kegembiraan dan harapan baru bagi kami para pendidik.

Saya dan para guru lainnya telah mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan dalam instrumen akreditasi sekolah sejak tiga bulan lalu. Kami terbagi menjadi delapan tim yang bekerja melengkapi dokumentasi dan administrasi delapan standar pendidikan nasional. Saya mendapat tugas di standar nomor lima, yaitu bidang sarana dan prasarana (sarpras). Tidak banyak berkas sarpras yang perlu disiapkan karena sebagian besar penilaian dilakulan dengan pengamatan langsung dan wawancara dengan ahli. Kendati demikian, hambatan terbesar bidang sarpras adalah menjaga agar sarana yang sudah ada tidak rusak ketika tiba saat dibutuhkan.

Rangkaian acara akreditasi sekolah hari ini dimulai dengan penyambutan dua orang asessor. Doa bersama dilakukan seluruh siswa dan guru di halaman sekolah dan dilanjutkan dengan membaca Pancasila dan menyanyikan lagu-lagu wajib nasional. Selanjutnya, para siswa menyanyikan lagu Selamat Datang dan dilanjutkan parade musik drumband. Para siswa bermain alat musik drumband dengan semangat. Penampilam mayoret yang lincah dan enerjik berhasil mencuri perhatian salah satu asessor. Kegiatan berikutnya adalah temu awal asessor dengan dewan guru dan perwakilan komite sekolah.

Foto Bersama Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Mojowarno dan Guru-guru Muatan Lokal Keagamaan Islam SD Kec Mojowarno
Foto Bersama Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Mojowarno dan Guru-guru Muatan Lokal Keagamaan Islam SD Kec Mojowarno

Bagian paling menyeramkan bagi guru saat visitasi akreditasi sekolah adalah saat praktek mengajar di dalam kelas. Kegiatan ini rupanya berlangsung dengan lancar dan tanpa hambatan. Dua orang asesor mendampingi guru-guru di dalam kelas secara bergantian. Selain itu, kunjungan tim akreditasi juga mengarah ke sarana dan prasarana yang dianggap penting untuk diketahui. Terlihat asesor mengambil dokumentasi foto ruangan kelas, perpustakaan, tempat ibadah, kantin, tempat parkir dan sejumlah fasilitas pendukung lainnya. Setiap jengkal tanah dan bangunan sekolah tak luput dari pantauan tim asessor. Saya merasa deg-degan karena khawatir para siswa mengganggu penataan ruang yang sudah kami setting dengan baik.

Para siswa dipulangkan sekitar jam sepuluh pagi. Selanjutnya semua dewan guru berkumpul di kantor bersama tim assesor. Pemeriksaan administrasi standar satu sampai standar delapan dilakukan. Kami para guru mendapat banyak masukan terkait pengembangan program pendidikan sekolah dasar. Diantaranya adalah perlunya membentuk tim pengembang kurikulum keagamaan, tim pembina OSN dan tim pembina UASBN. Semua ide tersebut disampaikan oleh Pak Maji Sya’roni, salah satu asessor yang banyak membimbing kami hari ini. Pemeriksaan berkas berlangsung dengan santai. Sesekali beliau melucu dan membuat kami semua tertawa. Pengalaman beliau melakukan visitasi di banyak lembaga pendidikan formal telah menjadikannya lihai dalam mengorek informasi pendidikan sekaligus menginspirasi para pendidik.

Asessor berikutnya adalah Pak Malik yang berkompeten di bidang teknik. Beliau menyoroti tidak adanya sarana dan prasarana penangkal petir, alat pemadam api ringan (APAR), minimnya luas ruangan UKS, terbatasnya luas area ruangan kepala sekolah, dan daya listrik yang masih di bawah 1300 Watt. Perbaikan sarana dan prasarana perlu dilakukan untuk mendukung kenyamanan kegiatan belajar dan mengajar. Hari ini benar-benar menjadi hari yang menyenangkan dan tidak akan terlupakan. Tidak ada ketakutan yang tersisa pada diri kami. Apapun hasil penilaian tim asesor BAN S/M akan kami syukuri. Hal penting yang telah kami dapat hari ini adalah guru harus selalu berinovasi untuk memperkaya ilmu dan pengetahuan peserta didik. Terima kasih untuk semua pengajaran hari ini. Semoga kami para pendidik bisa berlaku amanah dan profesional dalam mendidik anak.

Bagikan artikel ini melalui:

21 Replies to “Visitasi Akreditasi Sekolah Ternyata Tidak Menakutkan, Justru Jadi Ajang Pembinaan Guru”

  1. Selamat pak sudah selesai visitasi. Giliran saya yg skrg masih harap-harap cemas mencari MOU. Boleh tahu bagaimana cara pak agus melakukan kerjasama MOU dgn bbrp instansi terkait bidang pendidikan dan kesehatan?

  2. Selalu berpandangan positif terhadap keadaan. Salut utk guru2 SD. Akreditasi mmg jgn jadi bhn menakuti dewan guru. Semua pihak harus senang krn mendapat pembinaan.

  3. Tuh kan…. apa sdh saya bilang. Nggak usah takut kena marah asesor. Tugas asesor hanya mengecek YA dan TIDAK pada isian instrumen.

  4. Guru harus terus disegarkan semangatnya. Karena kalau sdh menerima gaji ke-13 biasanya malas melakukan kerja antara jam 12.30-14.00. Itu tanggungjawab lho. Jangan sampai gaji gak berkah karena tdk profesional bekerja.

  5. Berani karena benar. Takut karena salah. Selama guru mau menjalankan peraturan sekolah, pasti tdk akan ada ketakutan dan kekhawatiran.

  6. Tidak ada maksud untuk mempersulit lembaga pendidikan. Akreditasi adalah meluruskan langkah guru yang belok dari jalur yang sewajarnya.

  7. Jika berkenan Pak Agus menulis tips menyiapkan akreditasi sekolah tentu sangat akan membantu kami para guru yg bersiap menerima visitasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *