Belajar Falsafah Adi Luhung bersama H. Sudjono dari Nganjuk

Tradisi Jawa Menghitung Hari Baik Berdasarkan Weton Seseorang
Tradisi Jawa Menghitung Hari Baik Berdasarkan Weton Seseorang

Apa kabar kawan-kawan blogger Jombang? The Jombang Taste hadir kembali menyapa Anda melalui artikel nasehat bijak Bahasa Jawa. Resensi buku kata-kata mutiara Bahasa Jawa kali ini berasal dari buku yang berjudul Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung dan ditulis oleh Drs. H. Sudjono, MM. Buku ini sarat makna karena mengandung banyak petuah kehidupan yang menarik untuk direnungkan.

Biografi Penulis Buku

Drs. H. Sudjono, MM., lahir dari kalangan keluarga sederhana di Desa Sanan Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, 31 Desember 1958. Saat kecil penulis dibesarkan oleh paman, karena ayahnya telah wafat saat penulis masih dalam kandungan. Dalam asuhan paman ini penulis tumbuh penuh kedisiplinan. Dan kedisiplinan itu penulis pertahankan hingga dewasa ini dan menjadi salah satu sifat yang menonjol.

Sudjono mengawali pendidikan di SDN Mlandangan, kemudian melanjutkan di SMPN I Nganjuk dan SMA Muhammadiyah Nganjuk, penulis telah menunjukkan bakat dan kelebihan. Kelebihan dimaksud bukan dalam bidang akademik, melainkan pada bagaimana cara mengejar cita-cita dalam keadaan dan posisi sebagai anak yatim.

Sejak di bangku SMA beliau telah secara mandiri mencari uang sendiri dengan cara berjualan roti hingga loper minyak tanah, hingga dari aktivitas ini akhirnya dipertemukan dengan Prof. Dr. H. Aminuddin Kasdi, Guru Besar Sejarah Unesa, dan kemudian diangkat sebagai anak. Petualangan kerja tidak hanya berhenti sampai disitu. Pasca berjualan roti dan minyak tanah, disaat SMA penulis juga menjadi pegawai TU (Tata Usaha) dan Tukang Kloneng (penjaga bel) di SMA Muhammadiyah Nganjuk.

Selanjutnya beliau berprofesi sebagai pegawai pemerintah di Pacitan dan tahun 1980 menjadi PNS di lingkungan Pemprov Jawa Timur. Sehubungan peningkatan karier itu kemudian penulis meningkatkan pendidikan jenjang Srata-I di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) dan lulus tahun 1984. Tahun 1996, karier penulis meroket dengan menjadi Kepala Biro termuda di Jawa Timur. Dan penulis melanjutkan pendidikan di Program Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dan lulus tahun 1998.

Dalam kariernya sebagai abdi negara, penulis banyak memperoleh kepercayaan menduduki jabatan di berbagai dinas Provinsi Jawa Timur. Mulai Sekretaris Bappeprov Jatim (1998), Wakadisperindag Jatim (2001), Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jatim (2004), Kepala Dinas Sosial Provinsi Jatim (2006), Kepala Bappedalprov Jatim (2007), Staf Khusus Gubernur Jatim (2008), Kepala Badan Diklat Provinsi Jatim (2008), Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Propinsi Jatim (2009), Kepala Dinas Sosial Propinsi Jatim tahun 2013 hingga sekarang.

Atas pengabdiannya tersebut penulis memperoleh penghargaan Satya Lancana Karya Satya X Tahun, Satya Lancana Karya Satya XX Tahun, dan Satya Lancana Karya Satya XXX Tahun dari Presiden Republik Indonesia tahun 2010.

Kesenian tradisional Jombang
Kesenian tradisional Jombang

Apresiasi Gubernur Jawa Timur

Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo dalam sambutannya memberikan apresiasi yang tinggi atas penerbitan buku Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung. Menurut Pakde Karwo, demikian sapaan akrab Gubernur Jawa Timur, kehadiran buku ini bukan sekedar melengkapi perbendaharaan karya-karya ilmiah yang telah ada. Tetapi lebih dari itu, penting bagi kita semua untuk merenungi isi yang terkandung didalam buku ini dan kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

Sebagai orang Jawa, Pakde Karwo cukup tersentuh hatinya saat mengingat piwulang-piwulang becik yang begitu luhur warisan dari nenek moyang kita. Jika dihayati secara seksama, ajaran-ajaran tersebut sejatinya masih amat relevan bila diterapkan dalam kehidupan masa kini. Munculnya kejadian-kejadian bernuansa ketimpangan sosial selama ini sebetulnya salah satu faktor diantaranya disebabkan oleh telah terlupakan atau terabaikannya ajaran-ajaran luhur tersebut dalam implementasi kehidupan sehari-hari.

Kita menyaksikan betapa banyak wajah perilaku kehidupan masyarakat sekarang yang terkadang jauh dari nuansa kedamaian dan ketenangan walaupun secara materi berkecukupan, demikian Pakde Karwo menambahkan. Hal demikian itu karena benteng-benteng kebaikan perilaku kita telah terkalahkan oleh jahatnya gejolak hawa nafsu. Tindaklanjut dari kekalahan mengekang hawa nafsu itulah akhirnya tidak sedikit terjadi konflik kepentingan yang berujung pada ketidaknyamanan dalam berinteraksi di kehidupan masyarakat.

Masih menurut Pakde Karwo, model-model kehidupan yang demikian itu sebetulnya bisa dicegah bilamana dalam sanubari kita terdapat benteng-benteng kebaikan yang kokoh, yang mampu mengantisipasi dan menghalau segala bentuk godaan periliku negatif. Ajaran-ajaran luhur berupa piwulang becik yang telah teruji dimasa kemunculannya bisa menjadi pionir dalam diri kita untuk berperilaku akhlaqul karimah seandainya saja kita mau mengadopsi, menghayati dan mengamalkannya.

Begitu pentingnya ajaran-ajaran luhur ini maka Pakde Karwo mengajak kepada seluruh masyarakat Jawa Timur khususnya, untuk tetap menjadikannya sebagai panduan dan pegangan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga implikasinya tidak saja menghasilkan kehidupan masyarakat yang rukun dan kompak, lebih dari itu penghayatan dan pengamalannya justru sekaligus sebagai wujud pelestarian akan eksistensinya. Dan akhirnya keberadaannya bisa terjaga serta tidak musnah terkikis oleh perkembangan zaman.

Pengingat Hati Yang Lalai

Apresiasi terhadap penerbitan buku Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung bukan hanya berasal dari Gubernur Jawa Timur, tetapi juga datang dari penerbit buku. Menurut penerbit, tidak banyak karya tulis yang menyuguhkan materi tentang pelestarian piwulang becik. Di era kehidupan sekarang yang penuh carut-marut ini, kehadiran buku karya pikir Bapak Sudjono menjadi sangat penting dan tepat waktu, ibarat setetes enibun ditengah panasnya padang pasir.

Pesan yang terkandung dalam buku Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung sekiranya bisa menjadi solusi introspeksi dan panduan kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat selain panduan yang telah diberikan oleh Tuhan YME, khususnya di era kehidupan zaman edan dimana perilaku baik dan jujur sepertinya telah menjadi barang asing dan langka. Buku ini menjadi pengingat bagi hati yang lalai pada Tuhan untuk kembali ke jalan-Nya.

Masih menurut kata pengantar penerbit, wajah-wajah perilaku kezaliman yang sebetulnya menganiaya diri pribadi cenderung mendominasi dan bergolak cepat tanpa ada rem. Rambu-rambu kaidah agama telah banyak diabaikan. Banyak action kehidupan yang tidak hanya berwatak serakah dan jahat kepada sesama, tetapi juga telah membuat kerusakan dimuka bumi. Pada akhirnya turun peringatan sayang dari Alloh SWT berupa banyaknya bencana agar kita segera kembali kepadaNya dan tidak rajin memproduksi dosa.

Pada individual manusia terlihat banyak pemberian Tuhan dengan bermacam-macam penyakit diantaranya stroke akibat perilaku yang menyimpang dari garis keutamaan sebagai bentuk peringatan bahwa, jikalau kita tidak bisa berbuat baik lebih baik diam. Sayangnya, saat ini telah banyak manusia berlomba-lomba mengklaim diri berbuat baik sementara perilakunya belum mampu memberikan kemanfaatan pada masyarakat.

Melalui buku yang berjudul Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung ini sebetulnya Bapak Sudjono telah menunjukkan kepekaannya terhadap tanda-tanda kehidupan di masyarakat dan berusaha berbuat sesuatu untuk kebaikan sesuai kapasitas kemampuan maupun posisinya sebagai hamba, agar kerusakan tersebut tidak semakin berlarut. Perenungan, penghayatan dan pengamalan Falsafah Adi Luhung ini bisa membawa ketenteraman lahir batin.

Nasehat Bijak Bahasa Jawa

Penulis buku Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung berharap agar falsafah yang merupakan saripati nilai-nilai luhur budaya Jawa tidak dilupakan oleh masyarakat Jawa sendiri karena hanya tuntunan modernitas dan keduniawian era kekinian. Dengan melihat nilai-nilai luhur tersebut, penulis buku ini berharap kita dapat menggali lebih dalam tentang makna hidup sehingga dapat menjadikan kita pribadi unggul yang tak lepas dari kebudayaannya.

Dirintis oleh sembilan wali yang dikenal sebagai Wali Songo, Islam di negeri ini tumbuh dan berkembang menjadi sebuah hibriditas keberagamaan yang khas menjadi Islam Jawa, yang terbukti dapat berdialog dan kemudian bersenyawa dengan unsur budaya lokal. Persenyawaan ini bukanlah sebuah kekalahan Islam di satu sisi dan kemenangan Jawa di sisi lain atau sebaliknya. Namun, inilah cara Islam untuk menjadi ada di tanah yang jauh dari pusat kelahirannya yang secara karakter dan pola budaya berbeda tanpa harus mereduksi inti keber-agama-annya.

Penulis buku Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung meminjam istilah salah seorang tokoh Sosiologi, Erich Fromm (1964), modus keberagamaan Wali Sanga adalah modus “menjadi” (to be) bukan “memiliki” (to have). Modus keberagamaan semacam ini ditandai pencarian eksistensial yang tak pernah bertepi. Titik kulminasi dalam konteks ini adalah ketika seseorang berhasil merayakan persatuan diantara pesan-pesan eternal Islam ke dalam lokalitas sosial-budaya Jawa yang luhur. Konsekuensinya, seseorang dapat menjadi muslim dengan nyaman tanpa harus membuang identitas kelokalannya sebagai orang Jawa. Dan orang Jawa pun dapat menjadi muslim tanpa harus terbengkalai dari kejawaannya.

Dalam keterhubungannya dengan bahasa, orang Jawa mempunyai cita rasa yang khas dalam kalimat yang singkat tapi penuh makna dan seringkali cenderung penuh dengan metafor-metafor dalam setiap katanya. Sehingga banyak ajaran-ajaran luhur dalam masyarakat Jawa yang disampaikan dalam kalimat-kalimat pendek penuh makna tersebut. Kalimat pendek ini berguna agar mudah diingat dan dapat di angan-angan untuk kemudian disalurkan dalam saluran sikap hidup dan perilaku.

Demikian rangkuman singkat buku Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung yang ditulis oleh Pak Sudjono. Nantikan ulasan nasehat-nasehat bijak Bahasa Jawa dalam buku tersebut di blog The Jombang Taste ini. Semoga tulisan sederhana ini bisa memberi inspirasi bagi kehidupan Anda.

Daftar Pustaka:

Sudjono. 2013. Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung. CV. Karya Mandiri Sentosa: Ngawi

18 Replies to “Belajar Falsafah Adi Luhung bersama H. Sudjono dari Nganjuk”

  1. Budaya Jawa kaya nasehat hidup. Itu juga sudah saya pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Terima kasih sharing Mas Agus. Sangat inspiratif.

  2. Bersyukurlah kita karena masih ada anak muda seperti Mas Agus yang peduli budaya daerah dan mau membahas di artiekl blog. Salut!

  3. Setiap budaya punya ciri khas dan keunikan. Keunikan budaya jawa adalah tutur nasehat santun tanpa melukai siapapun.

  4. Semakin banyak kita membaca dan melaksanakan nasehat orang bijak, seharusnya makin baik perilaku hidup kita. Tapi hal ini tidak berlaku bagi semua orang karena ada yang memanfaatkan kepandaian mereka untuk menipu orang lain.

  5. Bahkan masyarakat modern yang mengaku berilmu pun harus belajar lagi kepada para sesepuh masyarakat. Itu kalau dia mau selamat dunia akhirat.

  6. pengalaman adalah guru yang berharga. makin banyak belajar dari pengalaman orang lain makin kaya wawasan kita. petuah pak sudjono bagus untuk kita renungkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *