Pajak Hadiah Kontes Blogging, Setujukah Anda?

Tips Sukses Menghadapi Wawancara Lowongan Bank Indonesia
Tips Sukses Menghadapi Wawancara Lowongan Bank Indonesia

Pajak merupakan salah satu bentuk kontribusi setiap warga negara untuk kelancaran pembangunan negara, tak terkecuali bagi mereka yang berprofesi sebagai pebisnis online, fulltime blogger dan setiap profesi yang terkait dengan transaksi di internet. Di luar aspek pro dan kontra penyalahgunaan pendapatan pajak, setiap blogger hendaknya memahami tugas dan kewajiban mereka sebagai warga negara yang baik dan patuh kepada aturan hukum yang berlaku.

Singkat cerita, awal bulan ini saya mendapat kiriman email konfirmasi telah memenangkan salah satu kontes ngeblog dengan format Kontes SEO. Kontes yang diadakan oleh broker properti terbesar di Indonesia ini menempatkan saya sebagai salah satu pemenang. Memang bukan pemenang utama, tapi hadiahnya lumayan menarik. Kalau dirupakan uang sekitar lima ratus ribu. Seharusnya sih, ketika tahu akan dapat hadiah kan kita jadi senang. Tapi saya malah sebaliknya.

Saya tidak langsung merespons konfirmasi melalui email tersebut. Apa penyebabnya? Disitu tertulis pajak hadiah dan biaya kirim ditanggung pemenang. Saya sengaja menunda membalas email tersebut, saya pikir tak ada gunanya memikirkan email yang nggak penting. 10 hari kemudian datang email kedua dengan isi yang kurang lebih sama. Mereka ingin menanyakan alamat kirim dan ‘memaksa’ saya untuk membayar pajak hadiah Kontes SEO. Mau tidak mau saya menuruti permintaan tersebut. Ya sudahlah, membayar tarif pajak 25 persen dari nominal tersebut apa salahnya. Hitung-hitung saya membantu keuangan negara.

Perlakuan Berbeda Panitia Terhadap Kontestan Lomba Blogging

Mengapa saya setengah hati membayar pajak untuk mendapatkan hadiah kontes blogging? Hal ini disebabkan karena pemberlakuan pajak terhadap penghasilan online tidak dilaksanakan secara merata. Kalimat sederhananya, semua panitia penyelenggara kontes-kontes yang menjamur di internet tidak memiliki ketentuan yang pasti dalam pemberlakuan pajak hadiah kontes ngeblog. Dan tentu saja hal ini bisa menimbulkan penyalahgunaan wewenang.

Contoh nyata yang sudah saya jalani adalah ketika mendapatkan sejumlah hadiah dari kontes blogging dan kontes Semi SEO yang dilaksanakan oleh Internet Sehat tahun lalu. Saya menerima handphone Samsung, notebookΒ Lenovo IdeaPad, voucher pulsa dan lain-lain tanpa dipotong pajak sepeserpun. Saat menerima hadiah waktu itu pun saya heran, hadiah segitu banyak kok nggak terkena pajak penghasilan bisnis online. Padahal saya tahu bahwa kontes tersebut sifatnya resmi dan dilakukan oleh lembaga sosial yang memiliki reputasi bagus di dunia internet dan kehidupan nyata.

Akhirnya saya memaklumi bahwa setiap panitia penyelenggara kontes ngeblog di internet memiliki referensi yang berbeda-beda dalam membuat TOS (peraturan atau kebijakan) kontes blog. Saya mencoba berdamai dengan pikiran saya sendiri, kebetulan agen properti tersebut terbiasa memakai birokrasi yang rumit dalam pengurusan jual beli sewa rumah, sehingga hal ini dipraktekkan pula dalam penyelenggaraan kegiatan promosi brand broker property yang mereka bangun. Meski media yang digunakan berbeda (offline dan online) tampaknya budaya kerja mereka tidak berubah.

Sekilas info: Pada dasarnya saya bukan orang yang anti pajak. Bahkan saat ini pun saya masih menunggu keluarnya NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) yang saya ajukan di KPP (Kantor Pelayanan Pajak) Pratama setempat. Namun sampai dengan saat ini NPWP belum saya terima dengan berbagai alasan dari pihak Dirjen Pajak. Bagaimana cerita rumit di balik pengajuan NPWP seorang fulltime blogger? Ikuti lanjutan ceritanya dalam artikel mendatang. πŸ™‚

Anyway, bagaimana menurut Anda, apakah profesi blogger dan pebisnis online sudah selayaknya terkena pajak penghasilan dari transaksi bisnis internet? Apakah pungutan pajak terhadap hadiah kontes Anda setujui? Silakan berbagi di kolom komentar.

18 Replies to “Pajak Hadiah Kontes Blogging, Setujukah Anda?”

  1. Untuk masalah pajak menurut saya lebih kepada TOS masing-masing penyelenggara. Akan tetapi kalau lebih dari 5% baiknya tidak usah dikenakan pajak. Seharusnya para penyelenggara sadar kalau blogger juga berjasa untuk kredibilitasnya.

    Anyway. SITTI PPC Indonesia juga memberlakukan pajak. Tapi paling besar ya 5%

  2. Saya juga termasuk di dalamnya mas, sebenernya masih setengah hati mau transfer uang segitu gede, tapi ya sayang juga ada sertifikat dan merchandisenya juga…
    Oh ya saya juga sudah memiliki NPWP, apa itu bisa digunakan untuk klaim pajak hadiahnya seperti yg dilakukan IBN ?

  3. Kalau pajak transaksi online, setahu saya memang sudah dilakukan oleh sejumlah pihak/lembaga/institusi. Misalnya ketika saya membayar biaya perpanjangan domain dan hosting. Saya sendiri tidak masalah, karena persentasenya masih sangat wajar. Kalau pajak hadiah kontes blogging, saya mungkin agak keberatan. Itu kan bukan tergolong sebagai undian berhadiah, melainkan melalui sebuah proses penilaian. Masa’ harus dibebani dengan pajak sih. Kesannya, kurang ikhlas ngasih hadiah.

    Btw, script antiklik kanan di blog ini sedikit merepotkan saya kalau mau mengopi komentar yang telah saya ketikkan. Sebagai antisipasi saja kalau gagal tersubmit atau koneksi putus di tengah jalan.

  4. Kalo pajak penghasilan di Internet sebaiknya diadakan, tetapi untuk yang berpenghasilan lebih dari 1jt (1 jt hanya misal, intinya untuk batas nominal tertentu). Untuk pajak hadiah, saya lebih cenderung perusahaanlah yang mengurus, namanya juga hadiah, ya peserta kan ingin dapat hadiah, bukan bayar hadiah. Jadi lebih baik tidak ada pajak hadiah.

  5. Setiap penyelenggara mempunyai ketentuan yang berbeda-beda. Jadi sebagai seorang blogger ada baiknya jika kita membaca terlebih dahulu syarat dan ketentuan dari pihak penyelenggara. Kalau memang di TOS sudah disebutkan bahwa pajak dikenakan ke pemenang, berarti sebelum kita mengikuti kontes tersebut kita harus sadar bahwa nantinya jika kita menjadi pemenang kita akan dikenakan pajak. Mungkin berbeda jika penyelenggara tidak menuliskan pada TOS bahwa hadiah ditanggung pemenang. Jika hal ini yang terjadi sudah selayaknya kita mengajukan PROTES ke pihak penyelenggara karena mereka tidak menjelaskan dengan jujur mengenai ketentuan pajak pemenang

  6. Pingback: blogger jombang
  7. Penyelenggara kegiatan atau pemberi penghasilan sebenarnya memiliki kewajiban untuk melakukan pemotongan pajak, tidak terkecuali untuk pemberi penghasilan yang berasal dari dunia maya.
    Saya berasumsi bahwa adanya perlakuan berbeda dari beberapa pemberi penghasilan yang menyatakan bahwa pajak ada yang dikenakan terhadap penghasilan blogger dan ada pula yang tidak, hal ini dikarenakan bahwa masing-masing pemberi penghasilan memiliki kebijakan. Mungkin saja semua penghasilan tersebut telah dikenakan pemotongan PPh, namun ada kasus dimana pemberi penghasilan menanggung PPh tersebut (dalam hal ini maka blogger akan menerima penghasilan secara utuh tanpa ada potongan pajak sehingga ia merasa seolah-olah tidak dipotong PPh) dan ada pula pemberi penghasilan yang meminta blogger untuk menanggung PPh (akibatnya maka blogger harus membayar PPh atau PPh akan dipotongkan dari penghasilan yang diterima oleh blogger).
    Pada dasarnya semua pemberi penghasilan di dunia maya juga tidak dikecualikan dari kewajiban untuk memotong PPh atas penghasilan yang dibayarkan kepada para blogger. Artikel tentang ini pernah saya ulas di: http://syafrianto.blogspot.com/2011/05/pemotongan-pajak-atas-penghasilan-yang.html

  8. Saya belum pernah memenangkan kontes blog, jadinya ya agak bingung juga mau komentar gimana. Tapi yang pasti komentar2 di atas sudah memberi gambaran, bahwa untuk mengikuti sebuah kontes blog, kita setidaknya mengetahui tata cara saat pengumungan pemenang, pengiriman hadiah dan hal2 lainnya.

    Iya juga ya, saya belum punya NPWP πŸ™ Kalau begini, apa kata dunia? Hiks..

  9. sy rasa sah-sah saja, krn beda penyelenggara ,beda aturan lagi , apalagi mereka bentuknya perusahaan karena mereka membeli barang yang dijadikan hadiah tsb harus meminta faktur pajak dari penjual laptop jg.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *