Rejeki Nggak Pernah Salah Sasaran

Kali ini saya berbagi cerita pengalaman tiga hari tugas kerja sekaligus wisata kuliner di kota Lamongan. Banyak hal menarik yang bisa dibahas disana. Misalnya panen raya hasil laut, geliat bisnis esek-esek kawasan pantura, keberhasilan Pak Masfuk menarik investor China, tambang minyak bumi dan gas alam dan lain-lain.

Namun belum lengkap kalau Anda kesana tapi nggak mencoba mencicipi nasi boranan. Nama yang unik bagi warga ibukota. Mirip kata ‘buronan’ yang berasosiasi buruk di mata masyarakat. Tapi tunggu dulu, jangan keburu salah tafsir. Disebut nasi boranan karena penjual menaruh nasi bukan di bakul, tapi dalam sebuah boran. Boran adalah hasil anyaman bilah bambu yang dibentuk menyerupai wadah bakul.

Pagi itu saat kawan-kawan masih tertidur, saya sengaja kabur dari rombongan tim monitoring dan jalan kaki menyusuri alun-alun kota Lamongan. Singkat cerita, saya berkenalan dengan salah satu ibu-ibu boranan (demikian masyarakat menyebutnya) dan asyik ngobrol ngalor-ngidul dalam bahasa Jawa dialek kulonanyang agak aneh terdengar di telinga saya.

ibu ibu penjual nasi boranan dari lamongan
ibu ibu penjual nasi boranan dari lamongan

Ternyata, di kawasan Lamongan Kota terdapat kurang lebih 250 orang penjual nasi boranan. Seperti telah diatur dalam sebuah sistem shift, mereka datang dan pergi secara teratur. Dan uniknya, meski banyak kompetitior sesama penjual nasi boran, kebanyakan dagangan mereka laris manis sampai habis.

Ketika saya tanyakan kenapa tiap hari dagangan bisa habis, si ibu menjawab,“Rejeki kan ada yang ngatur tho mas, kalau sudah waktunya tidak akan lari. Lagi pula beda penjual kan beda tangan. Tentu beda rasa”. Saya cuma manggut-manggut menanggapinya. Mau saya bantah dengan Teori Relativitas dan Probabilitas pasti nggak akan ngefek apa-apa. Hahaha.

Lalu beliaunya menambahkan dengan gaya medhok-nya, “Saya ini termasuk orang yang nggak takut penyakit lho. Pengen makan sate ayo, gule kambing boleh. Bahkan duren sebiji bisa saya habiskan sendiri”.

Dalam hati saya bergumam, Gila nih emak-emak! Usia udah di atas 60 tapi masih seger aja. Nggak malu ngakak bareng perjaka macam saya pula. Ckckck…!!! Padahal waktu itu muka saya sudah merah padam diledekin beliaunya. Tahu nggak, pagi itu saya keluyuran sendirian sementara di sekeliling saya ada ibu-ibu PKK lagi senam poco-poco.

Buru-buru saya ngacir dari ‘mini cafe’ tersebut. Maunya tanya macam-macam tentang sejarah makanan nasi boranan, eh malah dijadikan bahan ledekan sesama ibu-ibu. Lagipula suasana makin terik dan saya buru-buru harus merapatkan barisan dengan kawan-kawan dalam tim kerja.

Adios, mbokdhe! Lain kali aku apeli lagi. Nanti pakai baju pink ya.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

One thought on “Rejeki Nggak Pernah Salah Sasaran”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *