Artikel Simalakama

Beberapa hari ini saya berpikir keras tentang konsep yang mau saya pakai di blog ini ke depannya. Pilihannya mau tetap menyajikan artikel dengan pembahasan serius yang tak jarang membuat pembaca kebingungan memaknai kalimat. Atau nulis gaya ngobrol santai seperti waktu jalan-jalan ketemu ibu boranan tempo hari.

Nggak mudah memutuskan yang mana. Dua-duanya punya segmen yang beda dan terus terang saya kesulitan menyatukan dua model penyampaian dalam satu artikel. Mas Fadly Muin bahkan pernah melontarkan komentar bahwa tantangan saya ke depan adalah menyeimbangkan luapan ide-ide kritis yang memotivasi sekaligus menjaga agar pembaca tetap nyaman nongkrong disini.

Sempat terlontar istilah sersan alias serius tapi santai. Tapi apa ya bisa serius kalau nulisnya saya masih sering tertawa ngakak disana-sini. Apa bisa santai kalau ternyata saya konsis memilih topik motivasi diri.

Beberapa kritik dan saran yang bagus masuk kolom komentar saat peringatan setahun blog ini online. Saya mengucapkan terima kasih banyak. Tapi sejujurnya saran tersebut hanya menambah puyeng kepala saya. Banyak pilihan ternyata bukan solusi terbaik dalam hal ini.

jonas sulzbach male model for andrea kim photo session
jonas sulzbach male model for andrea kim photo session

Frekuensi Penerbitan Artikel

Lalu yang kedua adalah tentang durasi tayang artikel. Sampai saat ini saya masih berkeyakinan pada kalimat “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Publish artikel tiap hari dengan pembahasan fokus pada satu gagasan itu lebih baik daripada nulis panjang lebar tapi terbitnya seminggu sekali.

Sehingga saya sempat melakukan uji coba publish artikel tiap hari. Hasilnya? Belum menggembirakan. Masa uji coba seminggu belum cukup mewakili kemauan pembaca yang sebenarnya. Lalu saya terus dan terus menjajaki berbagai kemungkinan hingga detik ini.

Mungkin inilah asyiknya dunia blogging yang dinamis dan menuntut kita untuk selalu aware. Justru dibalik kebingungan tersebut saya menemukan dunia yang menyenangkan karena saya bisa meng-explore segala potensi diri dan menjadi diri saya seutuhnya. Laksana buah simalakama, pilihannya nggak mudah tapi tetap menarik dijalani.

Bagaimana menurut Anda? Apa masih butuh gaya bahasa model poskamling? Atau lebih suka kalau saya jadi blogger loper koran? Silakan comment disini.

One Reply to “Artikel Simalakama”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *