Blogger Dewasa Awal Yang Kebingungan Memilih

Dalam pengamatan saya, usia manusia pada rentang 20-30 tahun benar-benar masa-masa dewasa awal menuju tahap kedewasaan lanjut. Dari cara berpikir anak-anak menuju dewasa. Khususnya bagi seorang blogger, tahap ini tidak kalah penting dibanding usia emas pertumbuhan otak manusia.

Dalam percakapan sehari-hari, saya dan teman-teman menyebut keadaan ini sebagai ‘medak’. Artinya berada di tengah-tengah. Disebut ABG kok ya ketuaan. Tapi dipanggil Bapak kok tingkah lakunya masih angin-anginan. Kadang waras kadang kumat. Hahaha.

Beraneka ragam perilaku muncul disini. Dari semangat menyala-nyala menatap masa depan, hingga perasaan depresi akibat ketidakpastian jaman. Hingga tidak sedikit yang mengalami kegoncangan jiwa.

Salah satunya adalah dilema menghadapi pilihan-pilihan hidup.

Pilihan Profesi Offline Vs bisnis online.

Tidak bisa dipungkiri, perkenalan dengan bisnis online telah membuka mata sebagian besar blogger akan keberadaan cahaya gemilang kesuksesan yang berada di balik bukit blogosphere. Sinarnya cukup menyilaukan wajah.

Sementara bagi para sarjana atau yang tengah menempuh pendidikan sarjana, hampir bisa dipastikan mereka tengah menimbang-nimbang berbagai peluang untuk merengkuh sukses karier di dunia offline sekaligus menekuni bidang online.

Pilihan bidang yang ditekuni.

Usia medak memang tidak jauh dari kata plin-plan. Contohnya nih, saya sempat terobsesi menjadi guru SD saat lulus SMU. Jiwa pendidik saya menyatakan saya harus kesana. Namun kenyataannya, saya malah ‘tercebur’ menekuni karir di bisnis waralaba.

Setelah saya mencapai posisi yang sudah mentok di perusahaan tempat saya kerja saat ini, saya melirik profesi penulis sebagai pekerjaan yang bisa memenuhi kebutuhan saya secara materi dan eksistensi diri.

Pilihan Pandangan dan Orientasi Pemikiran

Menjelang berakhirnya usia ABG, pada umumnya manusia mulai menentukan arah jatidirinya. Wujudnya adalah mengelompok berdasarkan kesamaan minat, bakat dan orientasi pemikiran.

Disinilah kita harus pintar-pintar membawa diri. Dunia informasi semakin ganas mencuci otak manusia untuk tujuan eksklusive sekelompok manusia lain. Maka, tidak ada yang lebih baik daripada membentengi diri dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai keagamaan.

Pilihan Pasangan Hidup

Setiap manusia normal pasti terpikir untuk menikah sebagai sarana ibadah, melestarikan keturunan dan menyalurkan hasrat biologis. Kata orang-orang tua sih, umur ideal untuk menikah adalah 20 sampai 30 tahun.

Saya pribadi merasakan betul bahwa memilih pasangan hidup tidak semudah ucapan orang. Karena harapannya tentu saja pernikahan itu dilaksanakan sekali seumur hidup. Pendek kata, saya nggak mau asal pilih. Mungkin itulah salah satu alasan saya masih tetap perjaka, eh single hingga saat ini. Promosi dikit nih. Hahaha

Kalau Anda baca penjelasan di atas mungkin kesan utama yang Anda tangkap adalah nggak konsisten. Alias moody banget. Memang benar, nggak salah. Kalau saya pribadi berpikiran, tidak ada salahnya mencoba hal-hal baru di usia muda sepanjang itu masih dalam koridor positive thinking. Kalau mencoba yang ekstrim dan nyerempet ke hal-hal asusila ya silakan, tapi resiko tolong ditanggung dhewe. Hahaha

Tak jarang, muncul julukan blogger multitalenta kepada para young guns yang mampu menunjukkan kemampuan di berbagai bidang yang berbeda segmentasi. Misalnya: jualan ebook, web developer, agen asuransi, penulis sekaligus musisi yang produktif.

Pada akhirnya saya berkesimpulan, blogger medak bukanlah hal yang jelek. Ini hal yang wajar sebagai salah satu bentuk transformasi perilaku dan pemikiran menuju jenjang berikutnya. Apapun pilihan yang diambil, sepatutnya menjadi satu profesi yang ditekuni dengan tanggungjawab dan komitmen pada bidangnya.

One Reply to “Blogger Dewasa Awal Yang Kebingungan Memilih”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *