Blogger Murni

Saya tidak tahu pasti, siapa yang pertama kali memperkenalkan istilah blogger murni. Kalau menurut pencarian Google, blog Mas Roy dan Andrean Saputro sudah lebih dulu menggunakan keyword ini dalam artikel mereka.

Sebutan blogger murni bisa diartikan bermacam-macam, tergantung topik blog yang bersangkutan. Kebanyakan orang mengartikan blogger murni adalah mereka yang rajin ngeblog tanpa melakukan banyak monetisasi blog.

Salah satu cara gampang mendeteksi keberadaannya adalah lihat saja lay out blog yang bersangkutan. Kita tidak akan menemukan banner affiliasi, slot iklan baris, iklan banner dan sejenisnya.

Tapi jangan buru-buru mengatakan blog yang bersih iklan termasuk blogger murni. Ada 2 alasan yang menyebabkan terjadi hal ini. Yang pertama adalah blogger idealis yang  sedang membangun personal branding.

Yang mau ditunjukkan yang baik-baik saja. Yang tidak mendukung penciptaan imej bagus, harus dibuang jauh-jauh. Blogger jenis ini tidak mau meribetkan pandangan mata pengunjung dengan gambar-gambar yang tidak ada hubungannya dengan artikel.

Lalu yang kedua adalah type blogger pebisnis yang gagal melakukan monetisasi blog. Daripada menyediakan space banner iklan tapi tidak ada yang tertarik pasang iklan, lebih baik dihapus. Begitu pikirnya.

Saya tidak menyatakan blogger murni lebih intelek daripada blogger pebisnis. Atau sebaliknya, blogger pebisnis lebih cerdik melihat peluang daripada blogger murni.

Kalau masalah setuju tidak setuju, itu tergantung tujuan awal Anda ngeblog: fokus cari uang dari internet atau menjadikan blog sebagai media sharing satu topik tertentu.

Nah pertanyaan yang cukup menggelitik benak saya adalah sampai kapan blogger murni akan bertahan di arena blogosphere?

Guyonan yang beredar adalah ‘kalau nanti bosan ngeblog pasti akan berhenti dengan sendirinya. Hehehe…’ Atau ada juga yang berkomentar ‘lihat dulu saldo paypal-nya, kalau dollarnya cukup tebal mungkin umur blognya bisa sampai 2 tahun’.

Saya sendiri meyakini, bila ngeblog atas dasar berbagi ide dan pemikiran maka segala biaya yang dikeluarkan akan menjadi kebutuhan primer layaknya sandang, pangan lan papan. Orietasinya bukan lagi berapa besar konversi iklan, click through rate dan nett profit per bulan. Tapi lebih kepada manfaat yang mampu ditawarkan kepada pengunjung blog.

Maka tak heran, aneka atribut seperti Google Pagerank, Alexa Ranking dan sejenisnya bukan bidikan utama blogger murni. Yang penting menulis, menulis, menulis dan menyerap input dari komentar-komentar yang masuk.

Apapun keadaan diri Anda, saya harap tidak terjadi pengkotak-kotakan kelompok blogger. Karena keberadaan mereka saling melengkapi satu sama lain. Hidup blogger Indonesia!