Hikmah di Balik Keluh Kesah Copy Editor

Oleh: Vidzas Erdien

Ah, hari ini datang lagi! Hari di mana aku harus bermesraan dengan pulpen, pensil, penghapus, buku-buku lusuh, dan naskah-naskah kumal; membosankan!!!

Tapi bukan itu yang lebih menyakitkan. Aku berkorban sepenuh jiwa, segenap daya, separuh hidup. Kuupayakan sesuatu; yang acak-acakan  jadi layak dihidangkan, yang ancur bak lumpur kena guntur jadi “sampulur alus laur”

Tapi apa hasilnya? Mereka hanya tertawa berbahagia di balik keluh kesahku. Tak sepatah kata pun ucapan terima kasih, apalagi lebih dari itu; kerjaku sia-sia, tak dihargai sepatutnya. 

Keluh Sang Copy Editor

Depok Pagi, 13 November 2006

Itulah gejolak amarah yang membakar jiwa hingga terkapar dalam ketakberdayaan pada masa-masa awal saya menjadi seorang Copy Editor. Baru satu bulan saat itu bekerja di sebuah penerbitan buku-buku pelajaran. Diberi beban 6 naskah buku paket dengan target satu bulan harus terselesaikan. Tanpa ampun! Karena harus segera didaftarkan untuk penilaian di Departemen Agama RI.

Untung jika naskahnya bagus, sedangkan ini, hancurrrrr. Jangankan layak untuk diterbitkan, bahkan dengan kurikulum pun bertolak belakang. Hal tersebut disampaikan kepada manajer Divisi Penerbitan, bahkan langsung kepada Owner. Namun, mereka tidak mau peduli. Mereka hanya tau buku-buku itu harus jadi.

Lalu apa yang saya lakukan? Menulis! Ya, menulis! Lebih 75% dari naskah tersebut saya tulis ulang mengikuti kurikulum yang diberikan oleh Depag RI. Ini sudah keluar jalur, bukan seperti ini tanggung jawab seorang copy editor. Lalu apa tugas seorang copy editor? *Ah, yang ini lain kali aza ceritanya 😀

Karena target tersebut, saat itu saya bekerja tambah lembur dari jam 08.00 s.d. jam 23.00. Bahkan di hari terakhir, saya kerja 24 jam penuh tanpa tidur barang satu menit pun. Istirahat hanya shalat dan makan tiga kali seperempat jam. Saking kerasnya berpikir, saat itu sampe mimisan. Namun tetap tak mengundang rasa kasihan “sang penjajah”. Hanya disuruh minum obat, dan lanjutkan bekerja. Rodi buanget kan!

Singkat cerita target pun selesai, bisa ikut daftar penilaian di Depag RI, dan sebulan kemudian keluar hasilnya. Alhamdulillah keenam buku yang saya garap lulus langsung dengan nilai sangat memuaskan. Saya senang dengan hasil ini.

Namun ada yang menyakitkan, saat buku-buku telah lulus. Para penulis mendapat DP Royalti setiap bukunya sebesar 5juta rupiah. Mereka tertawa terbahak-bahak memenuhi seluruh pelosok kantor Divisi Penerbitan. Mereka bangga bukunya lulus dan menghasilkan uang, padahal jika mereka baca buku-buku itu, mereka tak akan pernah mengenali tulisan itu karena bukan tuilisan mereka lagi. Tetapi, tak ada sepatah kata pun ucapan terima kasih. Apalagi lebih dari itu.

Akan tetapi, Tuhan tak pernah menciptakan dunia ini sia-sia. Selalu ada hikmah tersembunyi di balik semua rahasia yang kelihatannya kejam ini. Semuanya memang guratan takdir-Nya. Dia membuktikan rencana baik-Nya.

Sekitar dua bulan sejak peristiwa itu, Manajer Penerbitan menawarkan proyek untuk menulis buku PAI SD. Berbekal pengalaman RODI yang saya lewati sebelumnya, tawaran itu pun saya terima, dua buku saya ambil. Kelas III dan IV. Sementara empat buku lain, digarap oleh atasan saya saat itu bersama temannya. Proyek ini selesai dikerjakan dalam waktu dua bulan, kemudian dinilaikan pula di Depag dan Lulus dengan nilai sangat memuaskan. Sejak saat itu, tawaran lain pun bermunculan hingga saat menulis artikel ini.

Sobat-Sobatku yang baik, kini saya sadar bahwa tempaan sepahit apa pun yang dirasakan saat itu, pada saat yang tepat pasti akan terasa manisnya. Peningkatan kualitas itu harus melalui berbagai ujian. So, kenapa tidak kita menempa diri kita sendiri dengan berbagai ujian. Jika selama ini kita sebagai blogger hanya menulis seenaknya dan semaunya atau sesempatnya, kenapa tidak ditingkatkan. Saya yakin, jika ada kesungguhan pasti ada hasil baik dari kesungguhan itu. Apa yang kita curahkan sepenuh hati, pasti kita pedih perih saat ini lumat dengan manisnya yang kita petik nanti. Insya Allah!

Semoga seuprit kisah yang tak asyik ini menjadi bahan perenungan kecil buat Sobat dan membuahkan manfaat nantinya. Syukran ‘ala kulli ihtimamikum, wa lakumun najah! Amin! __________________________________________________________

Sekilas Penulis

Vidzas Erdien dilahirkan di Kota Intan, Garut, pada pertengahan tahun 1978. Menempuh pendidikan tinggi Program Pendidikan Bahasa Arab-Universitas Pendidikan Indonesia. Setelah lulus kuliah, Vidzas mengajar di beberapa sekolah, baik swasta maupun negeri; kemudian terjun ke dunia penerbitan sebagai tenaga editor buku-buku pelajaran. Saat ini aktif menulis buku-buku pelajaran Pendidikan Agama Islam, Bahasa Arab, dan Bahasa Sunda, sambil belajar menekuni bisnis online.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *