Kegunaan Waktu dan Banyaknya Pilihan

Berinteraksi secara sosial, baik melalui blog pribadi maupun jejaring sosial, itu memakan waktu. Memakan waktu dalam hal apa? Yang pertama, perlu waktu untuk membentuk hubungan yang dekat. Untuk membentuk sebuah persahabatan dengan seseorang, atau bahkan membentuk hubungan asmara (cinlok di timeline Twitter misalnya πŸ™‚ ), kita harus mengenal seseorang secara mendalam. Hanya di industri perfileman saja hubungan yang semacam itu dapat dibentuk secara instant, tanpa perlu bersusah payah. Dan yang sangat diinginkan orang adalah hubungan yang dekat, bukan sekedar mendapat kenalan.

Kedua, ketika kita membentuk hubungan yang mendalam, kita harus mencurahkan waktu untuk mempertahankannya. Ketika teman dan komunitas membutuhkan kita, kita harus ada disana. Ketika perselisihan atau konflik muncul, kita harus ikut terlibat dalam menyelesaikannya. Kebutuhan teman-teman dalam satu komunitas muncul nggak bisa diduga. Hal itu dapat muncul kapanpun, dan kita harus siap meresponsnya.

Kegunaan Waktu dan Banyaknya Pilihan

Lalu, siapa yang mempunyai waktu untuk itu? Siapa yang memiliki fleksibilitas dan ruang bernapas dalam aktifitas kehidupan yang sudah terjadwal untuk dapat hadir kapanpun dibutuhkan tanpa merasa stress dan terganggu? Bukan saya tentunya πŸ™‚ . Waktu adalah sumber daya yang amat langka, dan bahkan dengan munculnya teknologi yang diklaim berperan dalam menghemat waktu, beban kita atas waktu justru semakin berat.

Tak salah kalau Barry Schwartz berpendapat bahwa penyumbang terbesar atas beban waktu yang kita rasakan saat ini adalah besarnya jumlah pilihan yang harus kita siapkan, kita buat, kita evaluasi, dan mungkin kita sesali dan menimbulkan trauma πŸ™‚ menyikapi kegunaan waktu (time utility). Haruskah Anda memilih take care sama teman blogger yang lagi kesulitan menjaga konsistensi ngeblog atau just hang out menikmati udara malam. Apakah Anda memilih memakai internet provider sekarang yang mengklaim online ngebut sambil pakai helm atau pindah ke internet rumahan yang katanya memiliki koneksi bandel?

Sadar atau tidak, banyak waktu yang telah kita buang untuk memilih keputusan. Waktu yang dihabiskan untuk mengurusi pilihan adalah waktu yang dicuri dari waktu untuk menjadi teman yang baik, memilih koneksi internet dan aneka pilihan lainnya. Seringkali kita baru sadar telah kehilangan banyak waktu di saat jatah waktu telah habis kita pakai. Mari bijak memilih.

 

23 Replies to “Kegunaan Waktu dan Banyaknya Pilihan”

  1. Kebimbangan menentukan pilihan telah menyita banyak waktu produktif kita.

    Menurut saya, ini terjadi, paling tidak, karena dua hal. Satu, memang orang tersebut peragu, semakin banyak pilihan semakin bingung lah dia. Dua, kurang pengalaman. Keputusan cepat bisa dilakukan oleh seorang master dan sulit dilakukan oleh seorang newbie.

    (PERTAMAX nih kayaknya) πŸ˜€

    1. Memang, hal yang sering dialami oleh pemula adalah keraguan melangkah. Itu terjadi bila tidak punya mentor atau panduan yang cukup menguatkan. Kalau mau dapat panduan yang lengkap, join cafebisnis.com aja mas. Hehehe.

  2. Wah, agak berat nih tulisannya mas. Namun kalau saya tangkap sedikit (mudah-mudahan tidak salah), semuanya hanya pada masalah prioritas saja. Ada yang sangat urgen/mendesak, ada yang masih bisa ditunda, walaupun penting. Jadi, pintar-pintarlah menentukan skala prioritas.

    1. Yup, kesalahan menentukan prioritas bisa berakibat fatal. Bukan hanya kerjaan berantakan, tapi juga bisa menghabiskan banyak duit. Itu sudah terjadi sama saya. (Malah curcol) Hehehe…

  3. Mungkin perlu intuisi juga ya mas dalam menentukan pilihan ini, agar ngejudge nya special gak pake lama… Berinterkasi sesuai porsinya dan sesuai dengan kata mas Is menggunakan skala prioritas, pada siapa waktu lebih yang harus kita berikan… Namun yang pasti antara dunya dengan dumya harus seimbang… Terlalu banyak di dumya bisa apatis tar, πŸ˜†

    1. Memang, masalah klasik yang selama ini terjadi dalam kehidupan pebisnis online adalah ngeblog untuk cari duit (termasuk bikin dummy blog, riset keyword dan bangun website) dan ngeblog untuk manusia. Nggak mudah menyeimbangkan keduanya. Saya akui agak keteteran juga akhir-akhir ini. Hehehe. Ini lagi cari formula terbaik buat ngakalin.

  4. Yang jelas prioritas saya lebih ke dunia nyata, ada wujudnya soalnya.
    Yang kadang menjadi masalah ketika kita sudah terjerumus dalam sebuah pertemanan (komunitas), kemudian ada sebuah hal yang harus kita lebih prioritaskan, disitulah muncul dilema. Kita mau eksis atao get out.

  5. Tidak ada yang bisa dipaksakan untuk mengelola jejaring sosial di dunia maya, karena waktu manusia dalam sehari cukup terbatas, hanya 24 jam saja (bahkan sepertiganya umum digunakan untuk berada di dunia mimpi πŸ˜† ). Buat jadwal, atur semuanya sesuai dengan keperluan, saya rasa itu bisa jadi pilihan yang oertama.

  6. idem dengan iskandaria, kita harus bisa menentukan skala prioritas kita sebenarnya apa.
    saya lebih memprioritaskan menulis daripada blogwalking, sehingga saya tidak bisa akrab dengan semua pengunjung blog saya. Tapi jika di antara pengunjung sudah lebih dari blog, misalnya masuk dalam lingkaran FB dan YM saya, berarti hubungan sudah semakin akrab.

    salam
    EM

  7. Artinya kita dituntut untuk cepat dan bijak dalam memtuskan suatu perkara atau suatu pilihan?! Ya, memang kebanyak berpikir dalam mempertimbangan beberapa pilihan itu menyita waktu, bahkan bisa jadi akhirnya tidak memperoleh keputusan yang tepat atau mungkin tak ada keputusan yang daimbil sama sekali πŸ™‚

  8. Good post. I study something more difficult on totally different blogs everyday. It would always be stimulating to learn content material from other writers and practice just a little something from their store. I’d favor to use some with the content on my blog whether you don’t mind. Natually I’ll offer you a hyperlink on your web blog. Thanks for sharing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *