Kenali Kesalahan Blogger Saat Menulis Artikel

Menulis adalah aktivitas transfer pemikiran kepada orang lain melalui media tulisan. Sebenarnya tidak ada pakem khusus yang mengatur hal ini. Saya suka pepatah bahasa Inggris yang mengatakan: You know, I know. Asal kamu ngerti maksud apa yang aku tulis, ya sudah habis perkara. Contohnya waktu Anda berkirim SMS dengan kawan Anda. Sebuah kata OK sudah cukup mewakili puluhan kata lainnya.

Dalam hal blogging, menulis artikel yang mampu menarik perhatian pembaca dan dikunjungi secara secara teratur adalah idaman setiap blogger. Hal ini merupakan salah satu strategi dasar dalam membangun blog dengan limpahan pengunjung tetap. Selain diskusi melalui kolom komentar, seringkali saya perhatikan bahwa interaksi terbesar antara pembaca dan penulis berada di dalam artikel.

Namun tak jarang saya mendapatkan kebingungan sesaat setelah membaca sebuah artikel kawan blogger. Saya tidak mendapatkan poin utama pembahasan. Pikiran saya malah puyeng manakala mencoba menghubungkan makna antar paragraf. Ini lagi bahas apa ya?

Jika Anda ingin artikel Anda mudah dibaca dan mudah dipahami secara massal oleh orang lain, nggak ada salahnya memeriksa kesalahan umum yang sering terjadi seperti hal-hal berikut:

#1. Terpaku pada aturan tata bahasa, pengejaan dan tanda baca.

Harus dibedakan antara menulis artikel blogging dengan menulis surat lamaran kerja. Waktu ngeblog, sebisa mungkin Anda harus mendekatkan diri kepada pembaca. Pemakaian bahasa baku yang sesuai EYD sekilas terkesan baik dan menunjukkan sisi akademis. Namun, bila pemakaian hal tersebut malah menimbulkan kerancuan makna, ada baiknya dihindari.

Saya sendiri lebih suka bahasa santai ala ibu-ibu PKK yang lagi ngobrol panjang lebar di acara arisan RT. Hahaha. Kenapa mesti malu? Toh cara ini terbukti mampu menyampaikan pemikiran saya tanpa membebani pikiran Anda untuk memahami kosakata yang njlimet dan ruwet diterjemahkan.

#2. Kesalahan menganalisa segmentasi pengunjung blog.

Tips kedua adalah pahamilah segmentasi pengunjung blog Anda. Untuk segmentasi yang berbeda, memerlukan metode pendekatan psikologis yang berbeda pula. Hal ini bisa dibedakan menurut kategori usia, jenis kelamin, agama, pendidikan, tempat tinggal, motivasi pembaca dan beberapa bidang pengelompokan lainnya.

Tentu Anda nggak bisa menyamakan gaya penyampaian saat menulis artikel untuk dibaca anak-anak, pemuda paro baya dan kelompok lansia. Akan sangat mengejutkan kalau Anda menyapa para pengunjung blog seputar ostheoporosis dengan kata-kata: “Whaddup, bro…? Masih kuat ngejam bareng DJ Aguuussss…!”

#3. Terlalu banyak bualan dan promosi.

Too much talk will kill you. Itu yang saya yakini sampai sekarang. Saat menulis, terkadang tanpa Anda sadari telah melakukan beberapa blunder yang membuat pembaca agak risih berkomentar. Misalnya terlalu mengagung-agungkan karya sendiri tanpa memberi pandangan obyektif terhadap karya sejenis dari kawan-kawan lainnya. Yang lebih celaka lagi kalau ketemu blogger yang banyak omong tapi minim aksi. Huuuu.

Atau… kesalahan lain bisa juga karena terlalu banyak outbound link yang bertebaran di sekujur tubuh artikel. Biasanya berupa link affiliasi produk-produk online maupun offline. Sebenarnya nggak masalah kalau mau promosi lewat artikel blog. Tapi tentu harus pakai strategi dong supaya soft selling Anda berlangsung mulus tanpa terdeteksi radar pengunjung.

#4. Judul artikel tidak menarik perhatian pembaca.

Beberapa waktu lalu pernah saya singgung sedikit tentang pemilihan judul artikel yang menarik. Di era portal berita yang kian menjamur, hukum yang berlaku kadang agak sadis sih. Jika judul tulisan Anda tidak bisa memancing rasa ingin tahu pengunjung dalam 5 detik pertama, maka hilanglah kesempatan untuk dibaca secara penuh.

Mengenai teknik pemilihan judul yang menarik, Anda bisa belajar kepada beberapa kawan blogger yang punya ciri khas artikel jurnalis seperti yang sering nampang di Lintas Berita, Viva News, Kompas, Jawa Pos dan beberapa portal berita lainnya.

#5. Konten berdasarkan apa yang Anda butuhkan untuk belajar, bukan apa yang dibutuhkan pembaca.

Saat menulis artikel, tanpa sadar kita sering terjebak dalam ego diri. Anda pun lantas menulis hanya hal-hal yang Anda butuhkan. Sementara di luar sana masih banyak pengunjung yang seolah berkata: “Request artikel tentang info A, B dan C dong…!” Kalau hal ini terus Anda lakukan, saya yakin blog Anda akan berhenti publish artikel saat Anda merasa sudah cukup tahu semua hal. Lha kebutuhan Anda sudah terpenuhi, mau nulis apa lagi?

Lalu bagaimana baiknya? Posisikan diri Anda sebagai pembaca yang berasal dari berbagai latar belakang dunia dan masih merasa hijau untuk bidang yang Anda kuasai. Berbagi info dengan mengambil sudut pandang newbie memudahkan Anda memilih poin-poin penting yang krusial untuk dibagi.

#6. Menjiplak artikel orang lain.

Nama lainnya adalah membajak, copy paste, menyontek dan lainnya. Untuk tujuan jangka panjang, hal ini sangat merugikan Anda. Jika sekali saja ketahuan gagal lolos copyscape, Anda akan kesulitan menumbuhkan kepercayaan pembaca pada artikel-artikel berikutnya.

Saya lebih suka menulis ulang karya orang lain. Ini beda lho ya. Menulis ulang tidak sama dengan menjiplak. Saat menulis ulang artikel, Anda dituntut mampu memberikan deskripsi yang jelas dan berbeda menurut sudut pandang yang Anda ambil. Jika artikel asli mengambil angle seorang pebisnis, nggak ada salahnya Anda berada di posisi konsumen. Saya yakin, artikel yang muncul akan saling melengkapi, bukan mematikan satu sama lain.

Ayo, mari koreksi diri. Apakah artikel blog Anda masih perlu diperbaiki? Atau justru nggak pernah salah alias  Mr. Perfecto ya? Mari sharing disini.

2 Replies to “Kenali Kesalahan Blogger Saat Menulis Artikel”

  1. Thank you, I have just been looking for info about this topic for a while and yours is the best I’ve discovered till now. But, what in regards to the conclusion? Are you sure in regards to the source?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *