Menerapkan Nilai Budaya Dalam Menulis Artikel

Rasanya, semakin hari modernitas kian merasuki jiwa masyarakat Indonesia. Tidak terkecuali blogger Indonesia. Kalau saya lihat, justru makin banyak blogger yang membanggakan fitur blackberry mereka daripada agungnya budaya bangsa.

Kalau kita renungkan, banyak hal yang patut kita teladani dari nilai-nilai budaya dan dapat kita terapkan dalam blogging. Bagi yang berasal dari suku Jawa, pasti Anda mengenal beberapa istilah berikut ini.

Ngangsu kawruh (menimba ilmu). Pada jaman dulu, kita kenal istilah nyantri. Seseorang sengaja merantau dari rumah dan belajar secara khusus di sebuah padepokan. Atau bisa pula belajar dari alam. Saya ambil contoh kisah Sunan Kalijaga yang rela menjaga sebuah tongkat untuk mendapatkan ilmu yang diharapakan.

Saat ini, orang begitu mudahnya mendapat ilmu dari internet. Tidak perlu berkelana berbulan-bulan untuk mewarisi ilmu Internet Marketing. Hanya dengan berbekal sebuah notebook yang terkoneksi internet, semua sangat mungkin dilakukan dari rumah. Dari surfing berbagai website bisa dijadikan bahan penulisan dengan aneka ragam topik.

Nrimo ing pandum (berani menerima kenyataan). Kakek saya pernah memberi wejangan: Salah satu kunci kebahagiaan orang dulu adalah nrimo ing pandum. Mereka berani menghadapi kenyataan sebagai manusia dengan kekurangan dan kelebihannya.

Blogger pun harus berani menatap fakta bahwa tulisan yang bagus harus bisa memberi kemudahan dan manfaat untuk pengunjungnya. Dan saat menerima kritik pun harus disikapi dengan legawa (gentle) dan tidak mencari-cari kambing hitam atas keadaannya.

Ing ngarsa sun tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri andayani. Kalimat ini popular saat  Ki Hajar Dewantara memakainya sebagai tagline Taman Siswa. Dalam penerapannya, kalimat tersebut bisa diartikan sebagai berikut. Seorang pemimpin (senior) harus bisa memberi teladan yang baik bagi pendatang baru (newbie). Sebaliknya, seorang newbie pun harus bisa mendorong kemajuan dirinya sendiri dan pemimpinnya.

Alangkah eman-nya kalau seorang blogger senior hanya bisa mencaci tulisan seorang pendatang baru tanpa mampu memberi solusi. Kalau keadaannya begitu, apalah arti ilmu yang dimiliki bila tidak diterapkan.

Sebaliknya, seorang newbie pun dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan dan berupaya untuk terus mendorong kemampuannnya. Jangan sampai sudah dibimbing dengan capek-capek tapi tidak ada hasil.

Mungkin anda semua berpikir, kok artikel ini pakai istilah bahasa jawa. Kan blogger Indonesia bukan hanya jawa. Saya bisa jelaskan bahwa saya orang jawa dan untuk urusan budaya, saya juga hanya paham budaya jawa.

Pastinya, ada banyak nilai-nilai budaya yang patut diterapkan dan masih relevant dengan kehidupan saat ini. Mungkin penerapannya bukan murni seratus persen. Perlu penyesuaian dan sedikit pembauran sehingga nilai budaya bisa tetap lestari tanpa perlu mengacuhkan kemajuan jaman.

Mungkin kawan-kawan ada yang bersedia menambahkan istilah budaya lainnya? Silakan share disini.

4 Replies to “Menerapkan Nilai Budaya Dalam Menulis Artikel”

  1. Probably the many satisfying kind of japon you can create is a which you want to offer like a reward. japon projects help to make carefully selected presents for nearly each and every celebration, for the reason that right now there hand crafted details display which most people attention with regards to this student. Any time people obtains the japon while any present, this individual or perhaps the girl may well always be driven for you to produce a new japon design also, as well as in in this way it is possible to distribute the japon irritate to be able to family and friends.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *