Menikah Dengan Blog

Saya sedang membayangkan apa jadinya jika seorang blogger memiliki great passion sehingga menganggap blog pribadi tak ubahnya seorang isteri. Siang malam ingin selalu memandangi.Β Artikel blog adalah anak-anak yang lucu dan menggemaskan untuk dirawat. Setiap gerak langkah mereka menarik di abadikan ke handycam. Memanggil “papa” untuk pertama kali, tradisi turun bumi, masuk sekolah di hari pertama, menemani mengerjakan PR hingga kelak lulus menjadi kebanggaan keluarga.

Menjalankan tugas rumah tangga blogging bukan hal yang mudah, namun tetap menyenangkan untuk diselami. Mendapatkan resource terpercaya, mengolah menjadi sebuah suguhan menarik, mempertahankan arah laju pemikiran dan sedikit tebal telinga terhadap bisik-bisik tetangga. Meski kadang tergoda untuk selingkuh dengan topik yang lebih fresh, pada akhirnya kesetiaan dan kasih sayang yang mampu menyelamatkan gonjang-ganjing konflik.

Menikah Dengan Blog

Blog juga menjadi tempat yang tepat untuk bertukar pikiran. Berbagi resah gelisah hati, mengambil keputusan krusial dalam hidup, atau sekedar berbagi canda tawa dengan orang-orang tercinta. Dalam hal menjaga kestabilan mental, blog adalah motivator terkuat dalam hidup. Dia mampu membangunkan diri kita dari keterpurukan, tidak lelah men-support dan rela ditinggal berhari-hari tanpa pernah komplain.

Namun yang terjadi adalah kita sering menduakan blog. Pernikahan dengan blog tak ubahnya sebuah perselingkuhan pejabat teras. Baru ketahuan publik saat dokumen pribadi tersebar luas sebagai aib yang harus ditutupi. Gonta ganti tempat ngeblog dari yang gratisan sampai berbayar. Ternyata belum cukup memuaskan keinginan berpetualang di jagad blogging.

Andai setiap blogger memiliki semangat untuk setia dan komitmen pada satu blog, tentu proses monetasi tidak akan memakan waktu yang panjang dan berbelit-belit. Terlalu banyak mencoba aneka rasa blog gado-gado sehingga indera pengecap tidak lagi mampu membedakan mana buah segar, sayur, daging atau kerupuk. Memang membosankan, tapi itu lebih baik daripada terkena vonis penyakit menular. Hehehe.

Sampai disini dulu posting kali ini. Ada ide lain tentang nikah sama blog? Yuk sharing disini.

64 Replies to “Menikah Dengan Blog”

  1. blog juga harus dinafkahi, gan. dengan material dan rohaniah. mungkin rohaniahnya itu ide dan update. materialnya yang perpanjangan sewa hosting dan domain

    hmmm ini terinspirasi #NikahAlaBlogger ya mas?

      1. tapi saya menangkap maksud dari mas agus adalah lebih banyak pindah blog daripada tetap pada satu blog dan setia untuk mengurusnya dengan serius πŸ™‚

        dan ternyata saya kena nih. soalnya memang benar saya termasuk engga setia dengan satu blog πŸ˜€

          1. Berarti harus berusaha lebih giat bro… Atau kalau sudah buntu ikut aja Take him out πŸ™‚

  2. Second place… hehehe.. (tumben)
    wah, nggak ngebayangin tuh nikah sama blog…
    wong yang di dunia nyata aja, sering selingkuh, bukankah lelaki sering bosan dan suka mencoba hal baru?hehhee…

    pemikiran radikal nih, nikah sama blog… hihihihi….^^V

  3. hahaha kalau pelajar seperti aku, gmana kalau blog diduakan dengan pelajaran bang?hhe aku kadang bingung mau ngurus yang mana. tapi aku udah punya jadwal kalau jam 9 malam sampa 11 mau blogging hhe

    salam kenal ya bang, cahya nugraha:)

    1. salam kenal juga. kalau buat pelajar, tugas utama adalah belajar. ngeblog bisa dilakukan disela-sela belajar.

  4. Wah..judulnya udah kontroversial Mas…tapi isinya mantabbb banget.
    passion terhadap blog yang kita kelola itu memang sangatlah baik. apalagi jika macam Mas Agus yang freelancer ini. sayangnya, saya juga harus menghabiskan waktu dikantor..seringnya kalau sudah malam suka males update artikel. tapi memang rasa malas itu harus dilawan.

    1. kalau masih ada rasa males, berarti motivasinya lagi menurun. ayo dibangkitkan lagi. kultwit #bloggermalam siap beraksi. hahaha.

  5. Kuncinya memang harus fokus. Plus sabar. Saya lihat ada beberapa rekan yang di awal ngeblog begitu bersemangat. Namun akhirnya mundur teratur atau menghilang perlahan. Mungkin mereka merasa ngeblog sudah nggak bikin enjoy atau jangan-jangan keburu putus asa karena blognya nggak kunjung menghasilkan uang.

    Saya setuju blog harus diperlakukan layaknya pasangan atau pacar. Bahkan istri/suami. Setiap jengkalnya kalo bisa jangan sampai ada cacat atau kekurangan πŸ˜›

    1. yang mengundurkan diri secara perlahan-lahan biasanya merasa tertipu janji manis sales letter produk informasi. πŸ™‚

  6. Sepertinya saya dah mulai menjurus ke sana nih heu3 πŸ˜€
    Apalagi mungkin karena baru di WP, jadi merasa nyaman tenan, pengennya terus2an optimasi. Mudah2an istri eh blog yg satu ini bisa langgeng! πŸ™‚

    Hahaha, betuul. Mending menu yang ada saja lah, ketimbang nyicipin di luaran belum tentu rimbanya. Yang ada malah bisa kesetrum virus mengerikan, hiiiii

  7. 1 yang aku agak bingung maksud dari “selingkuh” itu sendiri. apakah gonta-ganti tema blog, ataukah menduakan blog seperti yg sekarang tak lakukan (AM.com & AM.net)

  8. Yang saya sering menduakan blog bukan pada jumlah blog 2 tetapi sebaiknya blogger fokus pada topik tertentu sehingga menurut saya setiap blog punya warna sendiri. Misalnya klo mau belajar blogspot kita datang ke Kang Rohman dan kalau mau belajar WP boleh bertanya ke Fatih Syuhud. Sering terjadi bahwa kita tergoda dengan tema blog tetangga yang keliatannya banyak pengunjung. Trims and salam kenal mas

  9. wah saya merasa tersentil nih, “Menikah dengan blog…”, isteri saya sering berkata demikian, bangun tidur, mata masih ramun, sudah hidupin kompi, sekedar melihat blog…hmm

  10. walah mas iki to sak tenane, judule meni hot pisan
    Kapan nih mas Agus juga memikirkan yang nyata, hehe
    Saya juga sedang mencoba nih bergumul dengan blog saya, cuma sayang kadang yang dirumah, lom mau di duakan, hehe

  11. wah… lelaki aja dibolehkan punya istri 4 lho… apalagi kalau menikah dengan blok… bisa lebih banyak lagi.. asal bisa ngurusnya dan harus adil… he..he..he..

  12. Pick a community that will permit you to definitely best reside your daily routine. Many people select residential areas depending on schools. Do you want access to buying and the bus? Will be use of nearby services like libraries and also galleries crucial that you you? Or perhaps can you prefer the tranquility of the non-urban local community?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *