Menulis: Antara Curhat dan Media Perjuangan

Oleh: Diana

Pada jaman sekolah dasar, salah satu kegiatan yang paling dihindari kebanyakan murid adalah pelajaran mengarang. Sebagai bagian pelajaran Bahasa Indonesia, mengarang dianggap sebagai aktivitas membosankan. Harus pandai menciptakan peristiwa, nama pelaku, tempat kejadian, waktu dan sejumlah atribut fiktif lainnya. Dalam bayangan masa kecil saya, tugas menulis karangan adalah hukuman terberat murid yang datang terlambat.

Tidak mengherankan, bila akhirnya banyak yang enggan menekuni dunia kepenulisan. Padahal kalau kita mau sedikit kilas balik sejarah perjuangan bangsa, justru banyak ide-ide perjuangan menentang kolonialisme terlahir melalui tulisan. Sejumlah tulisan yang menjadi media perjuangan salah satunya adalah buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya RA Kartini.

Lalu bagaimana perkembangan menulis di jaman modern ini? Saya melihat masih banyak sosok Kartini modern yang terus memperjuangkan eksistensi perempuan sebagai sosok mandiri dan bisa bekerjasama dengan kaum laki-laki. Sudah tidak mengherankan lagi saat kita membuka majalah wanita dan menemukan satu artikel teriakan ‘ketidaknyamanan’ nasib perempuan. Saya tidak menulis kata ketidakadilan karena nanti berkesan protes.

Bippasha basuu photo boom sex bollywood
Bippasha basuu photo boom sex bollywood

Beberapa isu gender masih menjadi polemik bagi sejumlah LSM dan menunggu ketegasan Pemerintah mengambil langkah nyata penuntasan hal ini. Contoh di lapangan adalah kasus malpraktik persalinan, penyiksaan TKW di luar negeri, kekerasan dalam rumah tangga dan beberapa kasus yang serupa gunung es. Terlihat kecil di permukaan, tapi sebenarnya menyimpan banyak persoalan di akar masyarakat.

Dalam kenyataan, karya penulis wanita tidak selalu dianggap penting. Masih ada anggapan bahwa wanita akan menulis sebagai luapan emosi yang tak terbendung. Atau meminjam istilah anak muda sekarang, tulisan wanita adalah curhat semata. Tidak lebih dari itu. Meski Jenar Mahesa Ayu menulis Jangan Kau Panggil Aku Monyet, tetap saja ada dikotomi perempuan dan wanita.

Melalui kontes ini saya mengajak rekan-rekan pejuang hak-hak kaum wanita untuk tetap aktif menyuarakan diri. Mungkin kita tidak bisa setiap saat mengadakan aksi di jalan raya. Namun sumbangsih pikiran dan ide harus tetap kita berikan melalui media tulisan. Ini bukan tentang mengumpulkan respons dan komentar dukungan yang melimpah. Ataupun upaya mencuri perhatian public dari masalah yang sedang menjadi hot topic. Yang lebih utama adalah tunjukkan bahwa wanita bisa mandiri dan berjuang dengan kekuatan diri.

Tidak perlu pendidikan sarjana supaya tulisan Anda dimuat. Beberapa majalah wanita yang idealis bersedia menampung segala permasalahan mendasar wanita tanpa melihat latar belakang pendidikan. Atau bila Anda merasa menjadi bagian dari warga dunia maya, blog pribadi bisa menjadi tempat efektif menuliskan artikel Anda tanpa perlu melalui proses editor. Tidak harus dengan domain berbayar. Saya yakin langkah kecil ini akan terakumulasi menjadi kesuksesan besar bila dilakukan secara konsisten.

Bila tidak dilakukan sekarang, kapan lagi akan ada perubahan!

konten lokal yang dibutuhkan Indonesia
konten lokal yang dibutuhkan Indonesia

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

2 thoughts on “Menulis: Antara Curhat dan Media Perjuangan”

  1. There are actually loads of particulars like that to take into consideration. That may be a nice level to carry up. I provide the ideas above as common inspiration but clearly there are questions like the one you deliver up where an important factor will be working in trustworthy good faith. I don?t know if greatest practices have emerged around issues like that, but I’m positive that your job is clearly identified as a fair game. Both boys and girls really feel the affect of only a moment’s pleasure, for the rest of their lives.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *