Menulis: Harus Punya Bakat dan Berpendidikan Tinggi-kah?

Oleh: Andrik Sugianto

Sebelum menulis artikel ini, kemarin saya sempat down ketika membaca artikel kontestan terdahulu, sebut saja mas Budhi K Wardhana, yang ternyata beliau adalah seorang journalis, jebolan universitas ternama, dan berpendidikan tinggi. Pantes tulisan-tulisannya selama ini renyah dan mudah dicerna. Sedangkan saya?

Antara maju dan mundur, antara berani dan takut, antara yakin dan tidak yakin. Ahamdulilah akhirnya saya menemukan jawaban pasti setelah kembali  merenung dan berfikir lebih dalam. Semua orang diciptakan sama, tinggal bagaimana kita mengelola diri kita masing-masing. Akhirnya dengan semangat 45 saya putuskan untuk ikut serta dalam kontes co writer Agus Siswoyo [dot]  Com ini.

Kalau dikaji lebih dalam sebenarnya ada 2 sisi positif yang bisa saya ambil dari keraguan saya sebelumnya. Yang pertama dengan keraguan itu akhirnya mengharuskan saya berfikir lebih dalam tentang keberadaan diri ini yang sesungguhnya mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa mengembangkan potensi diri dalam aktivitas menulis. Yang kedua justru dari keraguan  tersebut telah menumbuhkan ide untuk saya tulis di artikel saat ini, yaitu menjadi penulis tidak harus punya bakat dan berpendidikan tinggi.

Saya yakin setiap individu pasti mempunyai ciri dan karakteristik tersendiri untuk mengahasilkan tulisan yang berkualitas, semuanya seiring dan sejalan dengan pemahaman dan pengetahuan individu tersebut. Adakalanya seseorang merasa dirinya terlalu sulit untuk menulis, membuang tulisan dengan begitu mudahnya  dan akhirnya berputus asa serta  berujung pada keputusan frontal:

“SAYA TIDAK PUNYA BAKAT MENULIS  PENDIDIKAN SAYA RENDAH,  MENGAPA HARUS DITERUSKAN?”

“SAYA TIDAK PUNYA BAKAT MENULIS DAN PENDIDIKAN SAYA RENDAH” setujukah anda dengan ungkapan ini? Apakah memang benar menulis itu membutuhkan bakat? Apakah benar menulis itu harus berpendidikan tinggi?Mari kita simak fakta-fakta berikut ini:

Ingat Ajip Rosjidi kan? Penulis pentolan dan seorang sastrawan. Apakah dia berpendidikan tinggi? Apakah dia seorang sarjana? magister? atau doktor? Bukan. Ajib Rosjidi hanya lulusan SMA. Emha Ainun Najib, seorang penulis dan budayawan, ternyata kuliahnya dulu tidak selesai, begitu juga dengan Arswendo Atmowiloto, ternyata bukan seorang sarjana.

Charlie Dick, seorang penulis yang terkenal didunia. Apakah dia mempunyai bakat yang besar dalam bidang penulisan? Tidak, bahkan sebelum tulisan-tulisannya mendunia telah banyak perjuangan yang dia lakukan.  Beratus-ratus artikel sebelumnya dibuang oleh editornya ditempat dia bekerja. Apakah dia putus asa dan kemudian berhenti menulis. Jika dia berhenti menulis saat itu mungkin kita tidak akan pernah mengenali seorang Charlie Dick.

Sedikit fakta ini mungkin bisa sedikit memberikan gambaran kepada kita bahwa menulis itu tidak harus mempunyai bakat dan berpendidikan tinggi. Pada dasarnya menulis itu hanya terletak pada kemauan dan latihan. Yach….dengan berbekal kemauan kita bisa memulainya saat ini, jangan bilang bahwa tulisan saya jelek dan tidak bermutu, teruskan menulis dan menulis maka jika semakin banyak kita menulis maka kualitas tulisan kita akan keluar dengan sendirinya.

Kalau tidak percaya coba tutup dulu artikel ini, buka blog anda, baca tulisan yang dipublish paling awal, kemudian tengah-tengah dan terakhir baca tulisan terbaru anda. Apa yang anda  rasakan? Berbedakah tulisan anda? Bagaimana penggunaan kosakatanya? Bagaimana alur berpikir anda? Semakin baguskan? Saya yakin semakin banyak kita menulis semakin baik pula tulisan kita. JADI intinya jangan pernah katakan : “SAYA TIDAK BERBAKAT”

Pada dasarnya menulis itu hanya membutuhkan keterampilan dan kesungguhan. Apakah ketrampilan itu?

  1. Menulis,
  2. Menulis lagi,
  3. Menulis lagi dan lebih
  4. Menulis lagi, lebih dan lebih dari itu
  5. Menulis ketika tidak ada yang ditulis
  6. Menulis ketika ada yang ditulis
  7. Menulis ketika ada yang ingin dikatakan
  8. Menulis ketika tidak ada yang ingin dikatakan
  9. Menulis setiap hari
  10. Dan menikmati setiap melakukan aktivitas “menulis”

Saya yakin kita semua bisa melakukannya, apalagi jika wadah yang sementara kita manfaatkan menulis adalah blog , kita yang punya, kita yang nulis, kita yang baca. JADI mengapa masih enggan menulis? Masih mau bilang saya gak punya bakat? Masih mau bilang pendidikan saya rendah?

Kelaut aja deh!!!

PS: Tulisan ini hanya ditulis oleh wong ndeso yang ingin belajar nulis, tidak banyak berharap untuk jadi pemenang, hanya sekedar sebagai ajang untuk melatih ketrampilan diri, jika ada yang ditambahkan dengan tangan terbuka akan saya terima. Jika banyak salahnya mohon maaf dan harap maklum.

10 thoughts on “Menulis: Harus Punya Bakat dan Berpendidikan Tinggi-kah?”

  1. semakin hari artikel di kontes semakin menarik.

    pembukaan yang manis mas Andrik. tapi kok penutupnya harus pake wong deso yah?

    saya tertarik tuh dengan fakta-fakta yang di ungkap. cukup memotivasi..

    mantaplah

  2. semakin banyak kita menulis, jadi semakin tahu kualitas tulisan kita…dengan begitu akan semakin banyak perbaikan…

  3. ayoo menulis, dan beritau pada dunia apa yg ada dipikiranmu.

    Menulis adalah pekerjaan hati, makanya nda perlu sekolah tinggi untuk itu :)

  4. Menulis butuh ruh, nyaman saat dikerjakan, penuh liku2 saat pencarian Ide, dan yang lebih bisa memberikan nuansa greget menurut saya ya ikhlas saat menulis. Akan terlihat kok mana tulisan yang hanya ditulis karena tujuan2 terselubung. hehe, dan mana yang dituliskan karena dia hanya ingin MENULIS.

  5. This is the best article I've read in this co writing competition.

    Keep the writing, bro.

    Very nice article. :cendol

  6. yup setuju semakin abanyak menulisa semakin bagus pula tulisan kita,dan tetap semangat untuk tetap menulis,menulis dan menulis.

  7. Kontes lagi, toh ini? Saya ingin jawab pertanyaan “Menulis: Harus Punya Bakat dan Berpendidikan Tinggi-kah?”
    Saya jawab dengan tegas “Tidak” karena menulis itu butuh skill, bukan butuh bakat dan juga tidak butuh pendidikan kelewat tinggi. Setinggi apa pun pendidikannya tidak ada relevansinya dengan kemahiran untuk menulis itu sendiri tanpa adanya banyak latihan.

    Contoh, saya punya beberapa kawan sarjana (S1) dan seorang manager di perusahaan tempat saya bekerja tetapi tetap kesulitan untuk nulis. Mengapa? Karena tak pernah coba menulis sendiri. Semua-semua, baik membalas surat, kirim email dan buat materi presentasi, semua yang ngerjakan sekretarisnya semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>