Menyikapi Peristiwa Yang Berada di Luar Skenario

Saya terjebak macet parah di jalur Gempol-Porong. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan umum. Justru aneh kalau hari sabtu disini tidak macet. Tapi kali ini parah sekali, selama 1 jam kendaraan tidak bergerak sama sekali.

Perjalanan audit dari Pasuruan kali ini saya memilih naik bus umum. Saya mencoba memulai kebiasaan lama untuk berinteraksi dengan para pedagang asongan yang kebanyakan warga Madura. Sekalian mengasah daya kritis bekal menjadi penulis. Itu kata mas Fadly Muin.

Nah, saat terjebak kemacetan ini aneka macam reaksi penumpang muncul. Seorang bapak marah-marah nggak jelas. Hal ini diwujudkan dengan tindakan mengumpat pak sopir yang menolak saran melalui jalan tikus. Di belakang saya, duduk seorang ibu yang memilih bermain bersama anaknya yang lagi rewel.

Eh, satu lagi nih. Penumpang yang duduk di sebelah saya adalah seorang gadis berkerudung. Menurut saya wajahnya lumayan manis untuk ukuran bintang bus AKDP. Roman wajahnya terlihat sumringah. Berkali-kali dia buka-tutup hape dan mengetikkan sesuatu. Kirim-kiriman SMS sama pacarnya mungkin ya. Ini kan malam minggu.

Sementara saya berusaha menikmati keadaan. Saya ingat baterai laptop kan masih penuh, kenapa nggak dimanfaatkan untuk membuat draft artikel saja. Saya pikir lumayan untuk mengisi kejenuhan. Akhirnya setiap pikiran yang berkelebat di otak saya ungkapkan ke sebuah tulisan. Windows Live Writer kembali ambil bagian.

Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil memekakkan gendang telinga. Kontan konsentrasi saya buyar seketika. Saya toleh ke asal suara. Bukan suara mobil ambulans, bukan pula mobil polisi yang seringkali mengejar pelaku curanmor. Ternyata armada TNI AD baru pulang dari latihan.

Rombongan mobil yang berjumlah 10 kompi ini dengan seenaknya menerobos kemacetan tanpa menghiraukan ratusan mobil yang sudah antre berjam-jam sejak lepas ashar.

Seorang ibu yang terlihat kesal berkomentar:

“Enak ya jadi tentara, punya kuasa di jalan raya. Nggak ngreken sama kita yang kepanasan sejak tadi”

Saya enggan membalas ucapan yang bernada protes tersebut. Saya lebih tertarik melanjutkan menulis artikel.

Apa hikmah yang bisa kita ambil dari peritiwa kecil ini?

Manusia boleh saja menyusun rencana dengan rapi, tapi pada akhirnya selalu ada kuasa di luar kemampuan manusia yang sangat mungkin merubah rencana awal. Dan kalaupun faktanya terlihat berantakan, tidak selayaknya kita buru-buru pasang muka garang.

Saya pernah mengalami terjebak deadline penulisan beberapa artikel yang memusingkan kepala. Sedangkan tugas offline juga mendekati batas akhir penyampaian laporan laba/rugi. Kalau saya ingat-ingat lagi, mengapa dulu saya terlalu emosi. Padahal kalau mau sedikit kendali diri, tentu hasilnya akan lebih maksimal.

Begitulah, selalu ada pilihan untuk menyikapi keadaan. Bahkan pada keadaan paling buruk pun kita dituntut tetap berpikiran dingin. Hidup sudah merupakan sebuah resiko. Jangan sampai kita memperburuk keadaan dan menciptakan masalah baru.

Tidak ada gunanya protes terhadap keadaan yang sudah terjadi. Hanya menambah tingkat stress di pikiran. Yang dapat kita lakukan hanyalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat.

Ngomong-ngomong, apakah Anda juga pernah mengalami hal seperti ini?

3 Replies to “Menyikapi Peristiwa Yang Berada di Luar Skenario”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *