Pembelajaran Dari Kontes Menulis

Dari email yang masuk ke akun Kontak saya, saya mendapatkan curhat beberapa peserta kontes menulis. Isinya macam-macam. Dari yang bersifat pribadi hingga teknis blogging. Dari rasa puas karena sudah nampang di blog ini sampai kekecewaan akibat publikasi artikel yang kurang maksimal.

Namun secara umum, saya mendapatkan beberapa pembelajaran dari kontes yang pemenangnya akan diumumkan besok siang, 2 Mei 2010. Apa saja itu?

1. Belajar menerima kenyataan.

Sungguh hal yang menyenangkan saat menyaksikan mereka mendapat hujan kritik dan saran. Bukan karena saya membudayakan perilaku saling memusuhi antar blogger. Tetapi saya salut atas keberanian mereka menerima input atas fakta yang ada pada diri mereka.

Sebagaimana kita maklumi, tidak ada satu pun tulisan yang benar-benar sempurna. Selalu ada titik cela yang bisa kita kritisi lebih detail. Saya perhatikan sebagian besar peserta menanggapi kritikan dengan lapang dada. Bahwa kesalahan adalah guru terbaik dalam proses pembelajaran.

Tidak semua blogger bersedia dikritik dan memberikan reaksi positif atas input yang di dapat. Tapi, kalau posisi Anda sebagai penulis tamu, mau  tidak mau Anda harus menerima kritikan tersebut. Alias nggak bisa mengedit komentar. Kan saya yang jadi admin blog. Hehehe…

Artinya, Anda dipaksa mengakui: ya, inilah kekurangan saya, dan saya mau memperbaikinya di kemudian hari.

2. Belajar kontrol emosi.

Kontrol emosi diperlukan saat menanggapi sejumlah gempuran bata big dari sang juragan. Tentu Anda masih ingat artikel Sams Arif dan Arief Rizky yang dikatakan maksa banget. Atau artikel kontroversi dari Adam Jawa yang sempat menimbulkan miskomunikasi dengan tim juri di ujung kontes ini.

Jika penulis tidak cukup pintar mengendalikan emosi, bisa jadi kontes ini akan menjadi ajang saling hujat antar pihak yang bersinggungan. Termasuk pembelajaran bagi admin blog saat mendapat kritik atas link yang memakai anchor text yang mengarah ke usaha diskreditasi seseorang.

3. Belajar lebih fokus ngeblog.

Karena saya memberitahukan jadwal tayang artikel tepat satu hari sebelumnya, saat mengikuti kontes ini, secara tidak langsung Anda dipaksa mengikuti perkembangan dunia blogging dari hari ke hari. Kalau tidak, Anda akan melewatkan sesi membalas komentar yang menjadi salah satu kriteria penulisan.

Kesannya memaksa ya? Memang demikian. Sebelumnya saya mohon maaf, tanpa bermaksud merendahkan blog lain, mungkin pada awalnya blog Anda tidak memiliki jumlah komentar sebanyak dan seribet blog ini. Nah disini Anda dituntut mampu lebih interaktif membalas komentar pengunjung blog. Kebiasaan inilah yang saya harapkan mampu diteruskan setelah kontes ini usai.

Apakah tulisan ini Anda rasa berlebihan? Atau justru Anda mau menambahkan manfaat lain dari kontes ini? Silakan berbagi pikiran disini.

3 Replies to “Pembelajaran Dari Kontes Menulis”

  1. Kalau orang yang suka menulis puisi di blognya membaca sampai ke kedalaman kritik sastra Indonesia, pastinya akan merasakan hal serupa :D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *