Saya, Tertawa Dan Aktivitas Menulis

Oleh: Dimas

Setelah sekian lama, akhirnya saya tiba juga di depan komputer, dan mencoba kembali untuk menulis… Aaahhh, tenang saja, bukan suatu tulisan yang berat seperti artikel blog saya kok.

Saya rasa, saya tidak cukup baik untuk menulis satu hal yang terlalu memotivasi. Toh semuanya punya bidang masing-masing bukan? Kesempatan saya menulis kali ini, sedikit saya paksakan di tengah waktu bekerja saya.

Bukan sesuatu hal yang sangat penting, tapi hanya karena saya tidak sabar  untuk  berbagi dengan yang lain, kepada siapapun anda yang menyisakan waktu sesaat saja untuk membaca tulisan dalam kontes ini.

Kesibukan saya beberapa hari belakangan ini, membuat saya menjadi orang yang sangat tidak peka. Sampai akhirnya tersadar, saya lupa waktu untuk diri sendiri. Menyedihkan memang.

Saya bekerja, mencintai pekerjaan saya, tapi lupa untuk menyenangkan diri saya sendiri. Barangkali anda yang membaca artikel konten lokal ini, yang tinggal di kota-kota besar merasakan hal yang sama. Betapa tinggal di kota besar sangat mengikat waktu. Saya rasa 24 jam terlalu singkat.

Satu hal yang paling disadari hilang adalah kesempatan saya untuk menyenangkan diri dengan tertawa. Yaaa, tertawa. Sederhana, bukan?

Entah mengapa saya merasa lingkungan tempat saya datangi, orang-orang yang saya temui, sulit sekali untuk tertawa. Oh, mungkin karena terlalu banyaknya musibah yang datang akhir-akhir ini. Gempa bumi, tanah longsor, korupsi, pembunuhan dan lainnya .

Tidak heran memang kalau orang-orang, termasuk saya, sulit untuk mendapatkan kesempatan untuk tertawa ‘dahsyat’. Saya pernah menulis singkat di salah satu situs pertemanan mengenai Tertawa ini.

Kalau boleh sedikit saya mengambil lagi kutipannya, kurang lebih seperti ini:

Duluuuu sekali,untuk waktu yang lama…

rasanya tertawa menjadi barang yang sangat murah..

tampaknya kita tidak pernah memikirkan berapa lama kita butuh waktu untuk tertawa..

kalau perlu, menangis pun dengan tertawa..

tapi..

semakin waktu beranjak, semakin kita mengenal dunia, yaa…

sebutlah begitu..
rasanya tertawa menjadi sangat mahal..
tampaknya tertawa menjadi hal yang sangat langka…

begitu langkanya,

terkadang kita mentertawakan diri sendiri, atau mungkin mentertawakan masalah yang sedang bertamu di kehidupan kita..

yaaa…

mungkin itu cara terbaik, karena sulit rasanya menemukan celah untuk benar-benar tertawa diatas waktu yang mengikat,

dan dibalik masalah-masalah yang telah menjadi teman hidup kita…

Waktu dan masalah.  Saya pikir 2 hal itu menjadi musuh utama sahabat penulis, yang saya sebut, Tertawa. Tapi, setelah saya renungkan, saya dan blogger lainnya bukan tidak punya kesempatan untuk Tertawa. Tapi, saya menutup kesempatan untuk Tertawa.

Di balik waktu yang sangat ” pendek” , masalah yang datang,  saya malah membiarkan masalah menjadi akrab dengan kita. Ya. Bodoh dan rugi. Saya jadi selalu mentertawakan diri sendiri.

Padahal kalau kita sedikit membuka hati, tertawa ada dimana-mana. Bagi seorang blogger sekaligus fesbuker, kita bisa chatting dan komentari status teman-teman yang biasanya terkesan lucu.

Lupakan sejenak proses pembentukan personal branding. Orang tidak akan mempunyai branding jelek hanya karena tertawa lepas. Orang tidak akan dianggap edan hanya karena online di fesbuk sambil tertawa ngakak.

Semoga anda yang membaca tulisan ini, tidak mengalami hal serupa. Semoga masih banyak orang-orang di sana, entah dimana, yang menyisakan sedikit saja waktu, menghela nafas, dan Tertawa. Besar harapan saya untuk itu.

Sejak itu, mulai hari ini, dan seterusnya, rasanya saya harus berteman lagi dengan sang sahabat. Saya rindu bersama nya, saya tidak sabar untuk selalu menghabiskan waktu dengannya, hanya untuk Tertawa.

Kali ini, saya akan membiarkan untuk dia datang di kehidupan saya, dan biarkan di waktu kedepan,  Tertawa yang akan merindukan untuk bersama saya. Bukan saya.

6 Replies to “Saya, Tertawa Dan Aktivitas Menulis”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *