Tesis, Antitesis, Sintesis dan Reimaging Dalam Blogging

Berawal dari kerangka dialektris Karl Popper dalam jurnal Mind no. 49 tahun 1940 tentang tesis-antitesis-sintesis-tesis dan seterusnya, kali ini saya tertarik menghadirkan konsep tersebut dalam blogging. Maksudnya gimana? Jangan keburu bingung. Mari kita bahas pelan-pelan.

Setelah puas makan ketupat Lebaran selama lima hari terakhir, kali ini saya mengajak Anda berpikir agak njlimet dan mendalam tentang dinamika kehidupan blogging. Yap, blogging juga punya nyawa. Ada arus pasang-surut beserta dilema dan problematika yang mengiringinya.

Anda sering mengalami stress karena ide-ide penulisan Anda dibantai habis-habisan oleh pengunjung? Atau justru Anda bersikap pasrah manakala pemikiran Anda dijegal di tengah jalan? Tenang, Anda tidak sendirian. Di luar sana ada banyak blogger yang bernasib seperti Anda. Baik yang berstatus newbie maupun yang sudah banyak makan asam garam dunia maya.

Coba anda baca paragraf di bawah ini dengan seksama:

Pemahaman yang lebih dalam tentang sebuah persoalan dunia blogging akan diperoleh bila kita bersedia membuka sebagian keyakinan (tesis) untuk dipertanyakan oleh orang lain (antitesis). Dengan demikian lambat laun akan terjadi tawar-menawar antara tesis dan antitesis sehingga terbentuk sintesis.

Setelah membaca quotes di atas, seharusnya tidak ada lagi penyakit stress yang menghinggapi blogger. Karena setiap perbedaan pemikiran adalah sebuah proses alami mencapai keadaan yang lebih stabil. Sengaja saya tidak menuliskan keadaan ideal karena yang namanya kondisi ideal itu sifatnya relatif. Setiap blogger memiliki parameter yang berbeda-beda sesuai segmentasi dan motivasi ngeblog mereka.

Menggambarkan Ulang Peta Pemikiran Setiap Blogger

Proses ini akan melibatkan reimaging, yaitu aktivitas penggambaran ulang atas apa yang telah Anda yakini selama ini. Contoh nyata nih tentang kontroversi posisi Facebook bagi blogger dan IM. Sampai detik ini saya belum kepikiran mengaktifkan akun Facebook saya lagi. Hal ini tidak berarti saya mengacuhkan semua manfaat yang ditawarkan facebook. Karena saya mengakui masih banyak kegunaan Facebook yang belum dieksplor secara maksimal oleh kebanyakan blogger.

Selain itu, dalam aktifitas sehari-hari, beberapa blog saya perhatikan telah rajin menjalankan proses re-imaging sehingga telah nampak nyata perkembangan yang cukup signifikan. Dari blog yang awalnya berkesan kekanak-kanakan lalu perlahan berubah menjadi blog dengan pemikiran-pemikiran yang terus berkembang.

Semua itu bisa terjadi karena saya yakin dalam diri mereka telah membukakan sedikit ruang untuk pemikiran lain dan tidak terkungkung dalam pikiran sempit hasil pandangan subyektif. Ibaratnya nih, seekor katak yang sudah melek melihat dunia luar setelah terjebak dalam tempurung selama berabad-abad lamanya.

Bahasa sederhananya, image (bisa disebut pencitraan diri atau personal branding) kita terhadap diri sendiri dan orang lain wajib disusun ulang sesuai dengan perubahan lingkungan. Karena pencitraan diri merupakan titik tolak berangkatnya pemikiran dan tindakan. Kalau Anda salah mendeteksi hal ini, bisa-bisa bukan kepercayaan diri yang didapat. Tetapi makin terpuruknya motivasi diri karena persepsi yang salah di otak Anda.

Maka saya usulkan bukan hanya trio tesis-antitesis-sintesis saja yang dibahas dalam topik ini selanjutnya. Perlu ditambahkan proses reimaging agar menjadi kwartet yang mampu meng-create pemikiran secara solid dan terarah.

Bagaimana tanggapan Anda setelah membaca tulisan ini? Makin puyeng dalam ngeblog atau justru siap-siap membuka otak untuk menerima pencerahan Super Duper Blogger?

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

4 thoughts on “Tesis, Antitesis, Sintesis dan Reimaging Dalam Blogging”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *