Day 2 Diklat Standarisasi Guru Al-Quran Yatim Mandiri Metode Tilawati

Artikel Ushul Fiqh - Penggalian Hukum Islam dari Dalil-dalil
Cinta Al-Quran

Saya mengawali hari Ahad ini dengan olahraga pagi bersama 65 orang peserta pelatihan program Duta Guru Yatim Mandiri. Olahraga dilaksanakan di halaman utara LPMP Jawa Timur. Senam pagi ini bertujuan untuk menjaga kebugaran tubuh para peserta karena diklat dilaksanakan dengan posisi duduk selama dua hari. Para peserta mengikuti senam pagi dengan gembira. Salah satu acara lanjutan dalam standarisasi guru Al-Qur’an metode Tilawati yang dilaksanakan di gedung LPMP Jawa Timur hari ini (14/10/2018) adalah munaqasyah dan micro teaching. Dalam munaqasyah dan micro teaching itu peserta diajarkan target pembelajaran. Target kualitas pembelajaran Tilawati jilid 1 sampai 5 beragam.

Sebelum belajar, anak-anak diajak berdoa bersama. Pemateri hari ini mengajarkan bacaan doa yang digunakan dalam metode belajar Tilawati. Secara umum tidak ada perbedaan yang cukup berarti antara doa sebelum belajar versi Tilawati dengan lembaga lainnya. Tujuan kegiatan ini adalah membuka konsentrasi siswa agar siap belajar dengan guru mengajinya.

Target pembelajaran dimulai dari Tilawati jilid 1 santri mampu membaca huruf hijaiyah berharokat fathah, baik sambung maupun tidak dengan bacaan yang lancar. Selanjutnya pada Tilawati jilid 2 santri lancar membaca kalimat berharokat kasroh, dhomah, fathatain, dhommatain, dan kasrotain dengan lancar. Berikutnya pada Tilawati jilid 3 target kualitas pembelajaran adalah santri mampu membaca huruf-huruf sukun dengan sempurna tanpa ada kesalahan seperti tawallud dan saktah.

Target pembelajaran pada Tilawati jilid 4 adalah santri mampu membaca huruf bertasydid, mad wajib, Mad Jaiz, ghunnah, ikhfa Haqiqi, bacaan waqaf, dan harful muqotho’ah. Berikutnya pada Tilawati jilid 5 santri mampu membaca hukum idgham bigunnah dan bilagunnah, Qalqalah, iqlab, Ikhfa Syafawi, dan izhar halqi. Selanjutnya pada Tilawati jilid 6 santri mampu membaca kalimat ghorib dan musykilat dalam Al Quran.

Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam metode Tilawati adalah diajarkan secara praktis menggunakan lagu Rost, diajarkan secara klasikal menggunakan alat peraga, dan diajarkan secara individual dengan teknik baca simak menggunakan buku. Selanjutnya media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode Tilawati adalah buku pegangan Santri dan perlengkapan mengajar.

Buku pegangan santri terdiri dari buku Tilawati, alat peraga, buku kitabati, buku materi hafalan, dan buku pendidikan akhlakul karimah dan Aqidah Islam. Sedangkan perlengkapan mengajar yang digunakan adalah peraga Tilawati, sandaran peraga, alat penunjuk untuk peraga, meja belajar, buku prestasi santri, lembar program dan realisasi pembelajaran, buku panduan kurikulum, buku absensi santri dan buku raport.

Keberhasilan program pendidikan baca tulis Alquran kepada santri sangat dipengaruhi oleh cara penataan kelas. Cara penataan kelas yang menarik dan nyaman bisa mempertahankan santri untuk terus berkonsentrasi belajar. Salah satu materi yang diajarkan dalam standarisasi guru Alquran dengan metode Tilawati hari ini adalah penataan kelas untuk mendukung terciptanya suasana belajar yang kondusif. Pemateri menyarankan agar penataan kelas diatur dengan posisi duduk santri melingkar membentuk huruf U sedangkan guru di depan tengah. Tidak ada santri yang duduk di baris kedua sehingga interaksi guru dengan santri lebih mudah.

Tujuan lain dari penataan posisi duduk melingkar adalah agar santri memiliki konsentrasi yang lebih lama dalam belajar. Saran pemateri hari ini adalah supaya santri memiliki meja yang digunakan untuk belajar membaca dan menulis al-qur’an. Tujuan adanya meja adalah agar santri mampu berkonsentrasi lebih lama dan tidak berlarian kesana kemari ketika belajar dengan guru mengaji.

Proses pembelajaran adalah interaksi antara guru dan santri merupakan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan belajar. Proses ini mengarah ke target kualitas maupun kuantitas belajar yang bisa tercapai dengan baik. Pemateri hari ini menyarankan agar alokasi waktu yang digunakan dalam mengajar santri harus tepat.

Alokasi waktu yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran metode Tilawati mulai dari jilid 1 sampai dengan jilid 6 adalah 18 bulan dengan ketentuan 5 kali pertemuan dalam seminggu dan 75 menit setiap pertemuan dengan tahapan belajar. Tahap belajar yang dimaksud adalah doa pembuka selama 5 menit, pengajaran dengan alat peraga Tilawati selama 15 menit, pengajaran membaca dengan buku Tilawati selama 30 menit, materi penunjang selama 20 menit, dan doa penutup selama 5 menit. Materi penunjang yang disarankan adalah perihal ibadah sehari-hari misalkan cara berwudhu, tata cara sholat, cara mandi besar, dan adab sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan selama dua hari ini di LPMP Jawa Timur sangat menguras tenaga, pikiran dan waktu. Alhamdulillah ilmu yang saya dapat lumayan banyak dalam bidang pelatihan baca tulis Al-Quran kepada anak-anak yatim. Saya tak sabar ingin segera mempraktekkan ilmu itu kepada para peserta didik. Semoga segala ilmu yang saya dapat disana bisa memberikan tambahan pengetahuan untuk murid-murid sanggar genius.

Bagikan artikel ini melalui:

12 Replies to “Day 2 Diklat Standarisasi Guru Al-Quran Yatim Mandiri Metode Tilawati”

  1. Sukses terus untuk para guru kurang dari sanggar Genius yatim Mandiri. semoga pendidikan yang dilaksanakan untuk anak-anak yatim bisa bermanfaat untuk masa depan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *