Fitri Nur Alifah Meniti Langkah (Bagian 2)

Information overload. Conceptual image of male and female figures with an array of television images that are breaking over them in a wave. This image may represent the concept of information overload, where too much information is provided and it becomes difficult to select what is needed.
Information overload. Conceptual image of male and female figures with an array of television images that are breaking over them in a wave. This image may represent the concept of information overload, where too much information is provided and it becomes difficult to select what is needed.

Baca cerita sebelumnya.

Perjalanan kuteruskan dengan tidur. Sampai Sidoarjo aku terjaga dari tidurku. Aku terbangun dan menyadari bahwa wanita yang duduk disebelahku telah berganti menjadi bapak-bapak paruh baya yang sepertinya ia juga akan menuju ke Terminal Purabaya sama sepertiku. Aku ajak dia berdiskusi. Aku tanya mau kemana, rumahnya mana, kerja dimana, dan lain sebagainya.

Kala itu aku seperti wartawan yang kehausan informasi dari narasumbernya. Aku senang bisa berbaur dengan masyarakat. Elektabilitas untuk menjadi politikus sedang ku rangkai sejak sekarang.

Alhamdulillah kami rombongan dari keluarga MAL tiba di Surabaya dengan keadaan sehat wal afiat. Aku yang terbiasa mabuk ya tumben sehat. Lalu kami menuju ITS dengan menggunakan Grab mobil, satu mobil diisi 6-7 orang. Dalam hitungan 10-15 menit kami turun di Manarul Ilmi, Masjid Institut Teknologi Sepeluh Nopember.

Aku sedikit syok dengan yang kulihat didepan mataku sekarang, tak sesuai ekspektasi. ITS ternyata luas dan aku jamin aku tak akan sanggup berjalan mengelilingi ITS dengan jalan kaki.

Kami sholat Dzuhur di Manarul Ilmu lalu makan siang, setelah selesai kami menuju ke Fakultas Teknik Sipil ITS untuk mendapatkan Materi.

Materi Pertama

Terik menyengat matahari Surabaya berbeda. Ku menghampiri dirimu, mencoba merayu. Maukah kau jadi yang teduh untukku?

-Gazebo Teknik Sipil ITS, 281218-

Muqoddimah dari serangakaian materi yang akan kami dapatkan dibuka dengan materi bertema: Menjadi Generasi Muslim Millennial yang Berintelektual.

Pemateri kali ini keren, yaitu mas Ahmad Daruli Hasan dari Jurusan teknik Sistem perkapalan ITS. Pembawaannya yang lembut merasuk mendinginkan hati.

Materi dibuka dengan pertanyaan retorik: ‘’Apasih definisi dari generasi?’’ Mas Ahmad menyambung bahwa definisi generasi yaitu suatu kumpulan rentang usia dan waktu yang sama.

Lalu kami ngomong-ngomong tentang karakter millennial. Karakter Millenial itu erat hubungannya dengan teknologi dan komunikasi. Bablas…

Berikutnya aku dan teman-teman dikenalkan dengan periodisasi revolusi industri yang menyebabkan berkembangnya pola pikir manusia.

Berikut ini sedikit yang kucatat :

1. Akhir abad ke-18

Revolusi industri yang pertama terjadi pada akhir abad ke-18. Ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama. Kala itu, industri diperkenalkan dengan fasilitas produksi mekanis menggunakan tenaga air dan uap.

Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan dengan mesin tersebut. Banyak orang menganggur tapi produksi diyakini lebih efisien.

2. Awal abad ke-20

Revolusi industri 2.0 terjadi pada awal abad ke 20. Kala itu ada pengenalan produksi masal berdasarkan pembagian kerja.

3. Awal tahun 1970

Pada awal tahun 1970 ditengarai sebagai perdana munculnya revolusi industry 3.0. Periode ini dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Sistem otomatisasi berbasis komputer membuat mesin industri tidak lagi di kendalikan oleh manusia dan membuat biaya produksi menjadi lebih murah.

4. Saat ini

Periode sekarang berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data. Nah, sekaranglah zaman revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Saat ini industri mulai menyentuh dunia virtual dikenal dengan nama internet of things.

Wah bermanfaat bukan ilmu yang ditularkan?

Sekarang aku tahu sejarah perkembangan teknologi manusia. Lalu kita sebagai muslim harus lakukan apa dalam menyikapi perkembangan zaman yang semakin pesat ini?

Apakah kita sanggup unggul atau malah tersungkur?

Berikut poin yang harus kita terapkan agar kita sebagai muslim dalam menyikapi perkembangan zaman yang semakin pesat.

Jangan menjauhi Millenial, pelajari millennial dan gunakan ilmunya dengan baik.

Jadilah muslim yang baik, maka kita dapat menghadapi arus millenial.

Tabayun dulu sebelum menyebarkan suatu informasi yang menyangkut publik.

Buat pernyataan dengan dasar dan fakta.

Mega merah mengangkasa. Waktu maghrib telah tiba. Diskusi dengan mas Ahmad kami tutup dengan berswafoto. Selanjutnya kami menuju Masjid Manarul Ilmi untuk melaksanakan sholat Maghrib.

Baca cerita selanjutnya.

Bagikan artikel ini melalui:

9 Replies to “Fitri Nur Alifah Meniti Langkah (Bagian 2)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *