Fitri Nur Alifah Meniti Langkah (Bagian 3)

Pergilah kau dari hadapanku
Pergilah kau dari hadapanku

Baca cerita sebelumnya.

Sore itu hampir menggelap. Lampu-lampu jalan mulai satu persatu menyala. Ku akui Surabaya memang kota yang asyik. Bangunan pencakar langit, taman di pinggir jalan setapak yang berhias gemerlap dian, jalan-jalan yang ramai. Tak sunyi seperti rumahku yang berada di kaki Gunung Wilis.

Kota itu kuakui romantis, meninggalkan kenangan indah untuk mereka yang pernah singgah. Namun, aku tak mau menjatuhkan hatiku di kota ini. Hanya takut hidupku tak sejalan dengan life plan yang telah kubuat dan kusepakati dalam hati dan dalam narasi beberapa waktu lalu.

-Manarul Ilmi 281218-

Menuju markas TMI/ Teknokrat Muda Indonesia.

Setelah Sholat Maghrib kami melanjutkan perjalanan menuju materi berikutnya. Aku berjalan di belakang. Aku hanya ingin menikmati setiap langkah diatas tanah yang kupijak. Baru kali ini aku di ITS Surabaya jadi aku terkesan.

Aku melihat dari kejauhan, agak remang tersambar gelap. Nampak di depan Mataku Gedung Teknik FMIPA ITS. Didalamnya ada prodi Teknik Kimia, Fisika, Matematika, Statistika dan lain-lain.

Aku memotret bangunan gedungnya dan ku kirim kepada temanku yang beberapa jam lalu memintaku mencarikan gedung Teknik FMIPA ITS.

Lalu ku lanjutkan jalanku tak lama, brokk. Aku tersandung. Jempolku menabrak batu yang nongkrong tanpa izin. Sakitnya tak mengapa, tapi saat itu handpone yang kugengam jadi melayang ke udara. Braakkk pecah… di jalan.

Dalam hati aku merintih eman, karena ini adalah kenangan dari mendiang ayah yang sangat ku sayang. Temanku yang berjalan di sampingku menguatkan.

Ku tarik kesimpulan berhusnudzon. Iki carane Gusti Alloh, amprihe HPmu gak ilang, dadi di gawe gak enek sing minat. Aku tertawa sendiri.

Memasuki materi kedua.

Alhamdulillah, materi kedua ini diisi oleh mas Abdullah Al-Jabir. Pertama kali aku tahu namanya kurasa dia adalah orang yang menggebu-gebu mengingat dia adalah aktor di balik aksi arek-arek Surabaya.

Ternyata mas Jabir adalah orang yang kalem dan santai. Ternyata orang pinter tidak perlu menunjukkan kemampuannya. Aku bergumam dalam hati.

Materi kali ini bertema: Kehidupan Mahasiswa Kampus dan Fungsi Mahasiswa.

Mula-mula acara di buka dengan perkenalan Mas Jabir. Kemudian perkenalan dari kami satu-persatu, sebutkan nama dan cita-cita.

Setelah tiba saatnya aku memperkenalkan diri aku bicara dengan lantang.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Nama saya Fitri. Cita-cita terdekat saya masuk Bea Cukai PKN STAN. Alasan saya karena ridho dan doa orang tua saya berada disana’’.

Lalu semua mengucap, ‘’Aamiin’’.

Aku selalu senang meceritakan cita-citaku di hadapan keluarga MAL sebab mereka selalu mendukung. Kami telah terikat dengan satu diksi yaitu keluarga.

Mas Jabir memberikan sekilas gambaran dunia kampus. Kampus itu tempat mental di uji, tempat menempa diri, sebab kampus adalah gambaran kecil dari kehidupan yang sesungguhnya.

Jadi persiapan untuk menuju dunia kampus yaitu persiapan mental. Tapi tak cukup hanya itu. Poin yang paling utama yaitu ridho kedua orang tua.

Kampus juga merupakan area yang majemuk disana akan kita jumpai banyak karakter mahasiswa yang beda-beda,

Tipe-tipe mahasiswa

Kupu-kupu kepanjangan dari Kuliah-Pulang

Kura-kura kepanjangan dari Kuliah-Rapat

Kunang-kunang kepanjangan dari Kuliah-Nangkring

Kuda kepanjangan dari Kuliah-dagang

Quote ala mas Jabir yang mengkoyak semangat tuk jadi manusia keren pol:
Ketika kita menentukan nasib/Pilihan, ambil dan tanggung jawab!

Tujuan kuliah mencari Ilmu, tapi kuliah bukan jalan satu-satunya. Ada banyak cara untuk menuju Roma.

Kehidupan mahasiswa di dunia kampus di tuntut aktif dan inovatif. Di kampus kehidupannya majemuk. Jangan konservatif!

Peran mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat. Jatuh singkat, bangkit terus menerus. Meskipun jadi kaum minoritas, tapi harus punya intelegensi tinggi. Kita adalah ujung tombak perubahan.

Langit kian pekat, tanda malam makin Nampak. Pukul 22.00 materi kali ini ditutup. Setelah itu kami di briefing sama mas dan mbak panitia. Kami satu persatu diberi kertas buffalo berwarna. Meskipun aku suka warna merah merona, Kali itu aku memilih warna kuning sedikit kehijauan. Ada hal yang istimewa kali ini. Aku berdebar.

Baca cerita selanjutnya.

Bagikan artikel ini melalui:

9 Replies to “Fitri Nur Alifah Meniti Langkah (Bagian 3)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *