Fitri Nur Alifah Meniti Langkah (Bagian 4)

bagaimana menentukan pilihan terbaik dalam hidup
bagaimana menentukan pilihan terbaik dalam hidup

Baca cerita sebelumnya.

Langit kian pekat, tanda malam makin Nampak. Pukul 22.00 materi ditutup. Setelah itu kami mendapat briefing dari panitia. Kami satu persatu diberi kertas buffalo berwarna. Meskipun aku suka warna merah merona tapi kali ini aku memilih warna kuning sedikit kehijauan.

Kemudian kami diinstruksikan untuk menulis life plan kami, seperti yang sudah kutebak sebelumnya. Kami diminta menuliskan life plan kami ketika kuliah, 5, 10, 15, dan 20 tahun pasca kuliah. Ini bukan pekerjaan mudah. Aku harus berpikir keras untuk merencanakan hidupku.

Moving Place.

Setelah mendapat materi di markas TMI, kami menuju ke masjid Al-Madani karena besuknya kami akan mengikuti Qiyamul Lail. Sesampainya disana aku dan teman-teman pendaki 5 tak langsung merebahkan diri. Kami masih harus bergulat mengerjakan tugas yang diberikan.

Tik…tok…tik…tok. Fikiranku kali itu benar-benar kehilangan imajinasi. Aku bingung harus menuliskan apa di selembar kertas berwarna tosca ini. Aku telah kehilangan daya kreasiku. Tak sebait kalimat pun terlintas dalam benakku.

Kulirik teman kanan kiriku. Mereka sudah mulai melukisakan life plan mereka. Sepertinya mereka telah memiliki inspirasi hidup yang baik. Aku diam 5 menit, merefreskan fikiranku.

Sttsss… Dapat! Aku tau apa yang harus ku lakukan.

Waktu menunjukkan pukul 00.00 WIB. Setelah menyelesaikan tugas, kami di oyak-oyak untuk segera tidur karena pukul 02.00 nanti kami harus bangun. Tapi aku belum ngantuk.

Bodohnya aku malah main HP sampai pukul 01.30. Ahh aku telah khilaf membuang 5,400 detik dengan hal yang tak produktif.

Syarat Qiyamul Lail harus tidur dulu. Aku masih punya waktu 30 menit. Jadi aku memaksakan diri untuk tidur meskipun tidak pulas.

Ayaiyaaa… Aku mendengar suara alarm HP seseorang berbunyi. Telingaku sangat peka dengan suara. Malam itu hening dan banyak peserta yang masih tidur. Meskipun ada yang mengerjakan sholat malam juga. Aku masih tergeletak menatap langi-langit masjid.

Lalu ada beberapa akhwat mungkin panitia dari acara Mabit di Masjid Al Madani. Mereka membangunkan orang-orang yang masih terlelap. Ku bangkit lalu mengambil air wudhu.

Rakaat panjang Qiyamul lail

Sholat malam kali ini sungguh berkesan ditiap rakaatnya. Imam sholat Sultan Zein memilih surat Ar-Rahman. Bacaan yang begitu merdu membuat siapapun yang mendengarnya terharu, bahkan ada yang meneteskan air mata.

Pegal kaki karena lama berdiri terbayar lunas! Setelah Qiyamul Lail kemudian di lanjut sholat Shubuh, setelah sholat Shubuh kami mendapatkan ilmu dari Ustad Salim Al-Fillah yang bertema “Menjadi Generasi Ghuroba.”

Banyak hal yang beliau sampaikan tapi aku sedikit simpulkan bahwa Islam datang dengan keadaan yang asing, dan akan kembali asing. Jangan takut menjadi kaum-kaum yang dikucilkan karena perubahan besar pasti akan di inisiasi oleh yang kecil.

Setelah Mabit di Masjid Al Madani, Pakuwon City, kami menuju ITS lagi untuk melanjutkan kegiatan. Disana kami membaca life plan yang kami buat, maju satu persatu. Banyak yang ingin ku capai dalam hidup ini. Cita-citaku tidak cukup besar tapi juga bisa dikatakan mustahil.

Aku terinspirasi dari pemimpin-pemimpin besar peradaban dunia. Ada Sultan Muhammad Al Fatih, Thoriq Az-Ziyad, Napoleon Bonaparte, dan lain sebagainya. Aku tahu diriku seorang wanita namun entah mengapa jiwaku menggebu, bahkan aku pernah berkhayal menjadi panglima perang.

Ketika sesi akhir aku mempresentasikan life planku. Aku berkata bahwa aku akan mengelilingi 2/3 Dunia, sontak mereka tertawa. Namun ku abaikan suara mereka. Biar ini jadi jejak-jejak proses dalam melangkah untuk meraihnya.

Baca cerita selanjutnya.

Bagikan artikel ini melalui:

8 Replies to “Fitri Nur Alifah Meniti Langkah (Bagian 4)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *