Fitri Nur Alifah Meniti Langkah (Bagian 5)

Program Kesehatan Mahasiswa KKNT UNHASY untuk Warga Desa Asemgede Bekerjasama Dengan Yatim Mandiri
Program Kesehatan Mahasiswa KKNT UNHASY untuk Warga Desa Asemgede Bekerjasama Dengan Yatim Mandiri

Baca cerita sebelumnya.

Setelah deklarasi life plan, aku dan teman-teman menuju gazebo Statistika ITS. Disana kami mendapat materi dari mbak Regia, Mawapres ITS. Keren habislah. Mbak Regia juga baru kembali dari Jerman untuk mempelajari Revolusi Industri 4.0. Beliau juga mendapat paket haji gratis.

Materi kali ini tentang ‘’Menjadi Mahasiswa Aktif dan Berprestasi. Sesuai banget dengan background mbak Regia kan?

Langsung masuk inti materi. Mbak Regia menyampaikan bahwa kita harus membuat value diri yang baik. Lalu ada 3 poin yang harus kita capai selama kuliah, yaitu meliputi Kurikuler atau akademik, Intrakurikuler, dan ekstrakurikuler.

Kegiatan ekskul dibutuhkan supaya kita tidak jadi mahasiswa yang biasa-biasa saja tapi luar biasa. Ekskul sebaiknya berlanjut samai pasca kuliah.

Modal penting yang dibutuhkan dalam dunia kerja itu ada tiga yaitu Public speaking, Team work, dan Leadership.

‘’Belum dikatakan pintar seseorang jika ia belum dapat menyampaikan apa yang ada di fikirannya hingga orang yang ia ajak bicara menjadi paham,” itulah kekuatan Public Speaking.

Lanjut materi berikutnya. Masih tetap di Gazebo Statistika ITS namun berbeda pemateri dan beda materi. Kali ini mbak Evy yang sharing ilmunya kepada kami. Beliau dari Jurusan Hubungan Internasional Universitas Narotama. Mbak Evy adalah Founder Ojesy.

Mbak Evy menceritakan pengalaman jatuh bangunnya dalam mendirikan bussines start-up. Dari banyak hal yang beliau sampaikan aku meringkas dengan quote ‘’hal besar itu dimulai dari yang kecil yang dilakukan secara terus-menerus’’.

Ba’da Ashar, 29 Desember 2018

Setelah Ashar kami menuju ruang kesekretaritan BEM ITS. Disana kami mendapat materi dari kak Dwi Arif Fiandita atau bolehlah panggil mas Dwi. Beliau dari Garda Pangan. Materi yang disampaikan beliau menyangkut ‘’Bagaimana Menjadi Pemuda yang Berintelektual dan Mempunyai Jiwa social?’’

Sesuai background beliau menjadi relawan pendistribusian sisa makanan untuk orang yang membutuhkan.

Inti materinya sebagai berikut. Kalian pasti bertanya-tanya Garda Pangan itu apa?

Garda Pangan adalah jasa penyalur sisa makanan kepada orang-orang prasejahtera yang masih dalam lingkup Surabaya. Founder Garda pangan adalah Eva Backtiar, mas Dedi, dan Mbak Indah. Alasan utamanya adalah karena rasa prihatin mereka akan banyaknya makanan yang terbuang setelah acara hajatan padahal di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan.

Mas Dwi berkata, “Sebenarnya Indonesia tidak akan kekurangan makanan, jika dapat didistribusikan dengan tepat sasaran. Buktinya saja Indonesia mendapat peringkat kedua sebagai negara pembuang makanan tertinggi di dunia. Hal ini sangat memprihatinkan bukan? Nah oleh sebab itu kita harus mulai bertindak. Jangan hanya nunggu peran pemerintah tapi kita juga harus turut andil dalam menciptakan kebaikan.”

Mengingat kendala untuk mengambil makanan tersebut kadang jaraknya jauh. Jungkir balik yang dirasakan Garda Pangan sampai saat ini adalah mereka harus dikejar waktu dan deadline makanan membusuk karena makanan harus di salurkan dengan kondisi steril, sehat, bersih dan bergizi.

Garda Pangan mengambil supply makanan dari orang-orang yang mengadakan pesta hajatan. Kadang bisa PP dari Surabaya-Sidoarjo-Mojokerto dan kota-kota lain di sekitar Surabaya.

Dari materi yang disampaikan mas Dwi aku menjadi tahu bahwa menjadi bermanfaat bagi orang lain itu tidaklah mudah. Namun ingatlah bahwa Alloh selalu bersama orang-orang yang mempermudah urusan orang lain.

Baca cerita selanjutnya.

Bagikan artikel ini melalui:

8 Replies to “Fitri Nur Alifah Meniti Langkah (Bagian 5)”

Tinggalkan Balasan ke Jujuk Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *