5 Tips Sukses Berbicara, Berpidato dan Presentasi di Depan Umum

Inspirasi Dongeng Anak Islami dan Buka Puasa Ramadhan di Wonosalam

Wonosalam selalu memikat hati saya. Setiap lereng, lembah dan bukit Gunung Anjasmoro seolah bersuara dan menyambut kehadiran saya siang itu. Pukul dua siang saya bergegas menghadiri acara buka puasa Ramadhan yang dilaksanakan di PAUD Al-Azhar Wonosalam pada Sabtu, 25 Juni 2016. Meski saya dijadwalkan tampil di sesi akhir bukber, saya bersikeras datang lebih awal untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dengan menaiki skuter Mio, saya berpapasan dengan Pak Andre di pertigaan Mojoduwur. Kami berdua bergerak di atas motor masing-masing secara perlahan di tengah guyuran sinar matahari yang menyengat pada bulan puasa tahun ini.

Kehadiran saya di PAUD Al-Azhar disambut dengan senyum hangat dari Ustadz Widodo dan Ustadz Imam. Selesai menyimpan barang-barang bawaan, saya pun pamit untuk bersiap mengumpulkan puluhan daun sengon dari kebun sebelah PAUD Al-Azhar. Saya menggunakan dedaunan sebagai salah satu aksesoris pendukung mendongeng. Pada jam empat sore telah berkumpul sebanyak 100 anak yatim peserta acara bukber. Mereka berasal dari sanggar genius Wonosalam binaan Yatim Mandiri maupun dari anak-anak yatim piatu yang tinggal di sekitar Desa Wonosalam. Pandangan saya selalu tersihir keberadaan anak-anak gunung itu. Mereka yang berwajah lugu dan penuh harap merupakan masa depan bangsa ini.

Acara buka puasa Ramadhan di Wonosalam ini dapat terselenggara berkat kerjasama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng dengan Yayasan Yatim Mandiri Kantor Cabang Jombang. Kawan-kawan mahasiswa dari BEM FE UNHASY tampak antusias menggawangi acara ini. Saya lirik jam lima kurang lima belas menit. MC mengumumkan saatnya dongeng anak Islami ditampilkan. Jantung saya berdegup keras. Inilah kali pertama saya tampil mendongeng di hadapan mahasiswa UNHASY. Saya berusaha menormalkan emosi. Tidak perlu terlalu grogi maupun over confident menghadapinya.

Kelucuan Dongeng Anak di Buka Puasa Bersama Anak Yatim Wonosalam Jombang
Kelucuan Dongeng Anak di Buka Puasa Bersama Anak Yatim Wonosalam Jombang

Berdakwah di Lereng Gunung

Baru beberapa langkah kaki saya menjejak panggung, terdengar suara gemuruh. Bresssss!!! Hujan turun dengan deras tanpa perlu dikomando. Cuaca pegunungan memang sukar ditebak. Berliter-liter air hujan jatuh dari langit dan membasahi atas bangunan PAUD Al-Azhar Wonosalam yang belum rampung dibangun. Beberapa anak yang sedang asyik duduk di pinggir karpet tampak diungsikan agar tidak ikut terkena tumpahan air hujan yang bercampur dengan angin kencang. Saya menahan diri untuk memegang mikrofon selama beberapa menit. Secepat hujan badai datang, secepat itu pula alam berangsur-angsur kembali normal. Alhamdulillah, Allah menampilkan tayangan iklan alami yang membantu saya menjaga emosi.

Jreng! Jreeeeng! Saya tampil dengan kostum Raja Hutan dan membawa boneka lebah yang setia menemani saya mendongeng. Membawakan dongeng anak dalam acara buka puasa bersama anak yatim Wonosalam ini bukanlah kali pertama bagi saya. Meski begitu, saya selalu deg-degan tiap kali membuka acara mendongeng di event Ramadhan Selaksa Cinta tahun ini. Apalagi di barisan peserta buka puasa terdapat beberapa orang dewasa yang saya hormati. Wah, rasanya saya sedang ikut audisi pencarian bakat. Saya bersyukur sudah mengenal seluk-beluk sanggar genius Yatim Mandiri sejak tiga tahun lalu. Pengalaman mengajar itulah yang membuat saya bisa membawakan dongeng dengan tenang dan tidak khawatir kehabisan kata-kata.

Selepas mendongeng, buka puasa bersama dan sholat maghrib berjamaah, masih ada acara menginap di pondok pesantren kecil di lokasi bukber. Acara menginap ini merupakan yang kedua bagi saya di Wonosalam setelah acara pelatihan mendongeng di Wonosalam Islamic Center tahun lalu. Malam itu saya, kawan-kawan mahasiswa FE UNHASY, Staf Program Yatim Mandiri, dan pengurus Pondok Pesantren Ath-Tholib Wonosalam berkesempatan berbicara panjang lebar seusai sholat tarawih sampai selesai sholat subuh. Pembicaraan kami membahas seputar perkembangan dakwah agama Islam di wilayah Wonosalam dan sekitar. Syiar Islam disana sungguh sangat menantang dan menguji keikhlasan diri.

Dari percakapan ringan antara Ustadz Widodo dengan kawan-kawan lainnya saya semakin yakin jika Wonosalam saat ini menjadi daerah rebutan penyebaran agama-agama besar di Indonesia. Ada banyak kepentingan yang terlibat di dalamnya sehingga agama yang mayoritas dipeluk oleh warga Wonosalam mampu menguasai sebagian besar sumber daya alam Wonosalam yang melimpah. Hal itu berlaku pula sebaliknya. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan ekonomi mampu memaksa seseorang untuk melakukan beragam cara agar seluruh keluarga bisa makan, minum dan tetap hidup. Celakanya, banyak diantara mereka yang berpindah agama demi uang.

Saya salut kepada beberapa santri Pondok Pesantren Ath-Tholib yang dengan telaten dan ikhlas bersedia mengajar ke beberapa desa yang letaknya berjauhan. Tak terhitung lagi berapa banyak tenaga, waktu dan biaya yang mereka korbankan agar bisa berkontribusi dalam mendidik masyarakat muslim Wonosalam agar bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar, menjalankan sholat lima fardhu tepat waktu, dan melaksanakan kesalehan hidup lainnya atas dasar agama Islam. Hmm, pengalaman yang luar biasa berharga dari Wonosalam. Semoga sekelumit cerita dari Wonosalam ini bisa memberi inspirasi bagi hidup Anda.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *