Sini, Bapak Peluk!

Menyingkap tirai silam dirintik hujan. Rindu dan dendam bertalu. Terdengar bisikan merdu merayu di telingaku. Namun apa guna yang terlewatkan di masa-masa yang telah usang menjadi pedoman.

Mengusik masa lalu tidak selalu berarti terjebak pada lingkaran waktu yang telah usang. Ada kalanya kita perlu menghirup cangkir kenangan walau panas, pahit dan rawan namun berguna sebagai pembangkit semangat di masa sekarang.

Ini tentang kisah dua anak istimewa di sekitar tahun 2013 silam. Sebut saja Halim dan Ilham. Dua anak tanpa ayah asal Jombang ini menjadi peserta kegiatan perkemahan anak yatim. Seperti kebanyakan anak kecil, ia gembira karena mendapat kaos baru.

Aku adalah salah satu panitia pelaksana kegiatan. Mereka bilang aku cocok kerja disini. Antara ya dan tidak, ku kerjakan saja tugas mulia ini semampuku. Selagi aku mampu, kenapa tak ku ambil seribu langkah kakiku. Lagi pula acara ini hanya dua hari. Pasti tidak terlalu melelahkan.

Aku turut mendampingi tumbuh kembang mereka. Ini merupakan sebuah aksi dendam terhadap masa lalu yang tidak terlalu baik. Kepada merekalah aku memberikan berbagai bentuk perhatian yang mungkin dulu luput kudapatkan.

Waktu beranjak malam. Semua peserta bergegas menggelar tikar di aula kantor desa. Kegiatan seharian tadi sangat menguras tenaga. Halim dan Ilham tampak kelelahan usai mengikuti fun games di kolam renang. Ku pikir sebentar lagi mereka pasti sudah terlelap.

Malam ini terang-benderang. Dewi malam menyapa permukaan bumi dalam kelembutan. Tak sehelai pun mendung menutupi langit desa tempat kami berkemah. Suasana sangat mendukung untuk segera mendengkur.

“Aku sudah ngantuk, Pak. Aku mau tidur,” ujar Halim. Ilham ikut menyusul merebahkan diri di sampingnya. Mereka berdua malam itu berada di bawah pengawasanku.

“Iya, tidur sini saja. Di sebelah saya,” ujarku pelan.

Aku berharap, usai berkata demikian dua anak ini bisa segera terlelap dalam mimpi manis. Mimpi terindah yang datang menggoda, mengusik angan yang bercanda. Aku terjaga dari khayal asa, kecewa karena kau tiada. Deretan lirik lagu itu terpampang di alam imajinasiku.

Tapi tidak untuk kali ini. Kedua anak itu tidak nyenyak tidurnya. Halim mengepalkan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar. Ya Tuhan, dia menggigil.

“Dingin sekali, Pak” ia mendesis hampir tak terdengar.

Secara refleks, aku pun segera merangkul tubuh mungil anak ini.

“Merapat sini. Biar hangat,” bisikku di telinganya. Jaket tipis yang kupakai ikut menutup lengan tangannya. Ku rengkuh dua tubuh mungil dalam satu dekapan.

Dalam sepi bisa kurasakan detak jantung Halim. Dekat. Sangat dekat di depanku. Jika malam itu aku bisa menjadi bapak untuk dirinya, entah esok pagi apakah masih ada pria yang mau menggantikanku.

Hembusan nafas Halim terdengar jelas di telingaku. Seolah ia ingin bercerita kisah hidupnya. Ia tak mampu merangkai kata untuk sekedar bercerita. Hanya redup tatap matanya mengisyaratkan dirinya butuh perlindungan.

Masih teringat dengan jelas pertemuan tadi siang. Halim dan Ilham memilih diam di pojok taman saat teman-teman sebayanya bermain estafet tepung. Aku yakin kediaman mereka bukannya mereka tidak mau bermain.

“Main, yuk! ” tawarku sambil kuciptakan binar mata di raut wajahku. Aku adalah pemain sandiwara yang lihai menaklukkan hati anak-anak.

Dua bersaudara yang kuajak bicara justru diam. Mereka memandangku dengan hampa. Oh Tuhan, seberapa sengsara hidup mereka hingga lupa cara bermain seperti kebanyakan anak lainnya.

“Tidak, pak!” jawab Halim singkat.

Aku tahu ini bukan pekerjaan mudah untuk membujuk anak berusia lima tahun. Lebih tepatnya, anak berumur lima tahun yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.

Oke. Aku mengalah. Aku tidak akan memaksa mereka bergabung dalam kelompok permainan. Aku cukup duduk disini, bersama mereka.

Kehidupan tanpa ayah membuat mereka mudah curiga pada pria asing. Pria dewasa mana yang mau mengawini ibunya, janda miskin beranak tiga. Untuk sekedar makan sehari-hari pun masih sulit, apalagi berpikir menikah.

Malam itu di hadapanku telah terbaring dua bersaudara mungil. Mereka tidur begitu dengan tenang selama beberapa menit. Ku biarkan lengan tangan kiriku tertindih beban tubuh Halim. Aku tak ingin membangunkannya.

Tes!

Hanya berjarak beberapa menit kemudian, setitik air mataku terjatuh di pipiku. Aku teringat pada beberapa keluarga anak yatim di sekitar rumahku. Rehan, Egy, Sila, Falen, dan Riki. Aku merasa berdosa karena mengabaikan orang-orang teraniaya yang berada dekat dalam jangkauanku.

Masih banyak halim halim lain yang mungkin mendapat perlakuan tidak nyama. Takdir tidak kejam. Tapi akan terasa sangat menyiksa untuk anak kecil seperti mereka.

Aku merasa jahat karena pernah membentak mereka di sanggar belajar. Andai dulu ku sadar, aku tidak akan sampai mencubit lengan mereka karena merusak tulisanku di papan tulis. Halim dan Ilham menyadarkanku.

Anak-anak yatim yang berjumlah sekitar seratus orang di aula ini semuanya tidak memiliki ayah. Mereka tidak lagi memiliki figur bapak yang bisa memberikan perlindungan disaat mereka mengalami berbagai permasalahan.

Alangkah senangnya masa kecil anak-anak yang masih memiliki orang tua lengkap. Mungkin keluarga mereka cukup sederhana. Namun setidaknya kebutuhan kasih sayang tetap terpenuhi.

Hah. Aku mendesah berat. Tiba-tiba pikiranku beralih pada masa puluhan tahun silam. Aku harus membuat pengakuan dosa. Saat umur tujuh tahun aku telah membakar satu rombong barang dagangan bapak. Ini terjadi karena aku marah tidak dibelikan bakso.

Bakso apakah yang lebih mahal dari tumpukan barang dagangan yang bisa menghidupi keluargaku. Namun dulu aku tak mau tahu. Jiwa pemarah seorang introvert lebih menakutkan daripada makian seorang tukang ghibah.

Mungkin inilah makna dari Allah mengirimkan aku di ruangan ini malam itu. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri. Agar aku sadar bahwa di balik segala keluh-kesah, aku seharusnya bersyukur telah dikelilingi orang-orang yang memiliki limpahan kasih sayang dan perhatian.

Bagikan tulisan ini:

2 Replies to “Sini, Bapak Peluk!”

  1. Cerita yg mengharukan. Emang beda ya cerita based on true story sama cerita alemong2. Cerita gini lbh menyentuh.

Tinggalkan Balasan ke Graham Faithfull Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *