Hitam Putih Sang Mahapatih (Bagian 2)

Babad Tanah Surabaya dari Kisah Legenda Pertarungan Jaka Jumput Melawan Jaka Truna
Prajurit petarung berlaga mengamankan wilayah kerajaan.

Baca cerita sebelumnya di: Hitam Putih Sang Mahapatih (Bagian 1)

Aku adalah seorang Mahapatih. Pantang bagiku meninggalkan permasalahan tanpa pernah memberikan penyelesaian. Terlebih lagi isu huru-hara itu terjadi di perkampungan Sewu Klopo. Sewu Klopo telah menjadi daerah utama penghasil tanaman kelapa. Kelapa hasil perkebunan rakyat disana selalu melimpah dan menjadi andalan Kerajaan Jambangan Sari saat berdagang dengan wilayah lain. Konflik ini harus tuntas sebelum purnama terlihat di langit pekan depan.

Kupacu kuda hitam yang ku tunggangi. Aku mengejar waktu. Ku abaikan debu jalanan menerpa wajahku. Jangan sampai aku tiba di sisi barat Sewu Klopo saat hari telah gelap. Aku akan kesulitan mencari penginapan ketika malam telah tiba. Terlebih lagi identitasku saat ini menyamar sebagai Respati. Akan sangat riskan bagi orang asing memasuki wilayah pemerintahan desa tanpa memiliki jabatan tertentu.

Kuhentikan kuda di depan sebuah rumah besar. Kupikir inilah tempat penginapan terbaik yang bisa kujumpai saat ini. Kueratkan tali pengekang kuda pada sebuah pohon. Kehadiranku disambut oleh seorang wanita paruh bayu. Ia membuka pintu seraya memberikan senyum terbaiknya.

“Selamat datang di penginapan kami, tuan! Silakan masuk!” ujarnya dengan sopan.

Aku seperti tersihir mendengar kata-katanya. Ku ikuti langkah kaki di belakangnya. Aroma tubuh wanita ini tercium harum. Seperti bau bunga mawar yang biasa kutemui di taman Kerajaan Jambangan Sari.

Wanita itu menghentikan langkah. Ia berbalik menatapku.

“Siapa nama Anda, tuan?” ia bertanya.

“Saya Respati. Apakah ada kamar kosong hari ini?” jawabku sambil melempar tanya.

“Anda datang tepat pada waktunya. Hari ini tersisa satu kamar kosong di sudut kanan paling belakang. Harga sewanya tiga ratus picis sehari. Anda pasti akan nyaman tinggal disini,” ia berkata sambil tak hentinya menebar senyum manisnya.

“Terima kasih. Oh ya, nama nyai siapa? Barangkali nanti aku butuh sesuatu aku akan akan memanggilmu,” tanyaku sekenanya.

“Apalah arti sebuah nama bagi wanita desa seperti hamba ini,” ujarnya berkelit.

“Saya tidak pernah melihat tuan sebelumnya. Pasti tuan berasal dari daerah yang sangat jauh. Melihat penampilan tuan, tentu Tuan Respati bukan berasal dari kalangan rakyat biasa,” imbuhnya dengan nada bicara tenang dan meyakinkan.

Aku baru sadar bahwa wanita yang berada di depanku ini bukanlah perempuan desa pada umumnya. Pandangan mata dan cara bicaranya menyiratkan dia berasal dari masyarakat terdidik. Gerak tubuhnya tangkas dan tidak berlebihan. Sorot matanya lembut namun tidak lemah.

Plok! Plok!

Wanita pemilik penginapan ini menepuk tangan dua kali. Seketika datang seorang pria paruh baya di hadapannya. Pria itu membungkuk tanda hormat.

“Dia Waskita. Dia yang akan melayani keperluan Tuan Respati selama menginap disini. Jika Anda perlu apa-apa bisa memanggilnya,” ujar wanita ini santun.

“Waskita! Antar Tuan Respati ke kamarnya,” katanya memungkasi pertemuan malam ini.

“Silakan, Tuan!” ujar Waskita sambil menunjukkan arah ke kamar yang dituju.

Aku mengikuti langkah Waskita. Pria ini memiliki tinggi yang sama denganku. Mungkin dia juga seumuran denganku. Bedanya, aku memakai pakaian yang lebih baik darinya. Andai Waskita bertukar baju denganku, pasti aku juga akan terlihat sama seperti kebanyakan pelayan lainnya.

Aku tiba di kamar yang disediakan untukku. Waskita membersihkan meja, kursi dan alas tidurku. Gerakannya cekatan. Ia seolah mengejar waktu dan tidak ingin berlama-lama di dalam kamar denganku.

“Selamat istirahat, Tuan Respati! Semoga tidur Anda malam ini nyenyak,” ujarnya sambil memamerkan senyum dan gigi putihnya.

“Terima kasih, Waskita,” jawabku pelan.

Waskita hanya menganggukkan kepala. Pandangan matanya menyapu tubuhku dari rambut hingga ujung kaki. Aku merasa risih diperhatikan oleh pria yang baru kukenal ini. Sekali lagi ia tersenyum simpul dan pamit dari hadapanku.

Kuletakkan kain berisi bekalku di atas meja. Aku beringsut merebahkan tubuh di atas pembaringan. Aku merasa ini adalah awal dimulainya hari-hari yang menantang. Aku tidak mengira penyelidikanku terhadap para pemberontak Sewu Klopo akan begitu panjang. Aku telah melewatkan masa lima petang menjelajahi setiap sudut Sewu Klopo. Namun sampai saat ini aku belum mendapatkan berita yang menggembirakan.

Pikiranku makin kalut saat tersesat menginap di tempat ini. Wanita yang tidak mau diketahui namanya itu membuatku penasaran. Apakah ada hal penting yang harus disembunyikannya hingga ia tidak mau menyebut nama. Ataukah memang semua wanita desa bersikap seolah jinak-jinak burung merpati?

Tingkah laku Waskita pun tampak mencurigakan. Tatapan matanya aneh. Ia seorang ingin menelanjangi diriku saat akan berpamitan pergi. Wanita misterius dan Waskita. Apakah keduanya bisa memberiku informasi seputar pemberontak Sewu Klopo? Tubuh lelahku mencegahku untuk berpikir lebih keras.

Tak terasa waktu beranjak malam. Perutku merasa lapar. Aku baru ingat belum makan apapun sejak tengah hari tadi. Sebelum makan, aku terbiasa mandi. Kuperiksa setiap sudut kamar untuk mendapatkan kamar mandi. Ah, untungnya ada kamar mandi kecil di sudut kamar. Aku tenang karena tidak perlu antri mandi di luar.

Kubuka setiap helai pakaianku. Kugantungkan pakaianku pada beberapa batang bambu yang tersusun rapi di belakangku. Ku ambil gayung dan kuguyurkan air yang tertampung pada sebuah gentong besar.

Mata air Sewu Klopo terkenal jernih dan terjaga kemurniannya. Tak heran bila para pemberontak memiliki keberanian untuk melepaskan diri dari pemerintahan Kerajaan Jambangan Sari. Dengan bermodal kekayaan alam yang melimpah tentu tidak sulit bagi para pemberontak membangun sebuah kerajaan baru.

Ku sudahi kegiatan mandiku. Aku sekarang merasa lebih segar dan bertenaga. Kuganti pakaianku. Aku memilih pakaian biasa, layaknya baju yang dipakai penduduk setempat. Aku tidak mau penyamaranku terbongkar begitu mudah.

Usai berpakaian, aku melangkah kaki ke luar kamar. Kucari-cari dimana keberadaan Waskita di teras penginapan. Tak lama kemudian tampaklah pria yang sedang kucari. Sadar aku sedang membutuhkannya, Waskita mendekatiku sambil membungkuk pelan.

“Tuan Respati sedang membutuhkan apa?” ujarnya sopan dengan pandangan mata masih tetap ke bawah.

“Tolong siapkan makan malam untukku. Ambilkan juga satu batok wedang jahe. Bawa ke dalam kamarku segera,” ucapku tegas.

Aku berharap Waskita mau memandangku. Tapi harapanku pupus. Ia menjawab dengan sambil membungkuk sopan, “Siap, Tuan Respati!”

Mungkin inilahciri khusus pelayanan yang diberikan oleh tempat penginapan ini. Meski sedikit terganggu dengan sisi misterius para penghuninya, aku merasa nyaman dengan perlakuan sopan mereka.

Aku bergegas kembali masuk ke dalam kamar. Sambil menunggu pelayan itu membawa makanan untukku, kubuka jendela kamar.

Cekrek! Brak!

Seketika udara segar memasuki kamarku. Tercium aroma bunga mawar dari halaman penginapan. Pantas saja aroma tubuh wanita pemilik penginapan ini begitu wangi. Rupanya ia gemar menanam bunga untuk bersolek diri.

Ku tengadahkan kepala menatap langit. Bulan separuh menggantung di langit Sewu Klopo. Aku teringat peraduanku di Kerajaan Jambangan Sari.

“Setiap orang di separuh permukaan bumi tentu malam ini memandang bulan yang sama denganku. Tapi mengapa mereka tidak memiliki cara berpikir yang sama denganku,” Aku bergumam pada diriku sendiri.

Anda setiap orang memiliki cara berpikir yang sama denganku, tentu aku tidak perlu bersusah payah melakukan penyelidikan dan perundingan damai dengan para pemberontak.

Tok! Tok!

Pintu kamarku di ketuk. Itu pasti Waskita, pikirku.

“Masuklah!” ujarku memberi perintah.

Benar saja. Waskita datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman pesananku. Nasi putih, mujahir bakar, sambal korek, dan satu batok wedang jahe telah ia hidangkan di hadapanku.

“Silakan makan, Tuan Respati! Kalau tuan masih butuh bantuan saya, silakan cari saya di teras depan penginapan,” ujar Waskita sambil mempersilakan.

“Terima kasih, Waskita!” jawabku singkat.

Selanjutnya aku sibuk menikmati makanan yang tersaji di depanku. Masakan ini terasa enak untuk petualang sepertiku yang baru saja melakukan perjalanan jauh. Daging ikan mujahir diolah dengan takaran bumbu yang pas. Tidak berlebihan jika tempat penginapan ini selalu dipenuhi pengunjung.

Cegluk!

Kuminum wedang jahe seteguk. Hangatnya air wedang membasuh kerongkonganku. Aroma wangi jahe mengikis pusing yang tersisa akibat terpanggang sinar matahari seharian. Buru-buru kusudahi acara makan malam ini saat perutku kenyang.

Aku tersadar kembali akan tujuanku datang ke perkampungan Sewu Klopo. Aku merasa harus segera menyelesaikan tugas ini. Aku hadir disini seperti orang asing di negeri yang baru kujejaki. Lantas, siapa yang bisa membantuku mengorek informasi perihal para pemberontak.

Aku terdiam beberapa saat. Aha! Aku mendapat ide. Buru-buru ku tepukkan tangannku dua kali. Plok! Plok!

Aku meniru cara wanita pemilik penginapan ini memanggil pekerjanya. Berhasil!

Tepuk tangan ini berhasil memanggil Waskita. Dia datang ke kamarku tergopoh-gopoh.

“Ada yang perlu saya bantu lagi, Tuan Respati?” tanya Waskita.

“Tolong bereskan sisa makananku ini,” jawabku singkat.

“Siap, Tuan!” ujar Waskita. Pelayan muda ini membereskan tempat makan dan sisa-sisa makanan di atas meja. Ia segera undur diri dengan sopan.

Ku pandangi tubuh Waskita. Malam ini aku tidak mengganggumu. Tapi tunggulah sampai besok pagi. Aku tersenyum sendiri membayangkan rencana esok pagi.

Aku merasa lelah hari ini. Aku harus beristirahat cukup malam ini, gumamku. Aku pun merebahkan tubuh di atas pembaringan. Tak lama kemudian aku tertidur. Suasana perkampungan Sewu Klopo sangat tenang. Mustahil di desa sedamai ini berdiam para pemberontak yang berniat melepaskan diri dari kerajaan induk.

Namun bila ku ingat lagi peristiwa pembunuhan seorang petugas pajak oleh warga desa ini, aku tersadar bahwa di dalam ketenangan hidup tersembunyi jebakan yang sangat berbahaya. Jangan terlena oleh kedamaian karena seringkali huru-hara bermula dari hati yang terlalu damai dan butuh tantangan.

            ***

Hari beranjak terang. Burung parkit bercicit di pekarangan taman. Semalam aku lupa menutup jendela kamar sehingga sinar matahari dapat dengan mudah menerobos masuk. Ritual pagi hari kulalui dengan biasa. Mandi, membersihkan gigi dan buang hajat.

Aku masih merasa kenyang karena makan malam tadi malam terlalu larut. Kupikir akan lebih menarik bila kugunakan waktu pagi hariku dengan berjalan-jalan berkeliling penginapan. Aku datang kesini tadi malam dan belum sempat memperhatikan lingkungan sekitar. Mungkin aku bisa mengorek berita baru di luar sana.

Langkah kakiku tiba di teras depan penginapan. Terdapat dua orang pria dewasa sedang berbicara pelan sambil menikmati dua batok kopi hangat. Uap kopi terlihat mengepul dari jauh. Sementara aroma kopi tak henti-hentinya menggoda indera pembauku.

Dua pria dewasa itu menghentikan percakapan mereka saat aku berjalan mendekat. Mungkin mereka khawatir aku mencuri dengar pembicaraan pribadi mereka.

Ku abaikan tatapan curiga dua pria dewasa itu. Aku melangkah ke arah taman bunga. Tampak seorang perempuan tua menuang air dari gayung bekas tempurung kelapa ke batang tanaman bunga seroja. Perempuan ini terlalu asyik bekerja sehingga tidak sadar aku telah berada di belakangnya.

“Ehem… Permisi, Mbok!” kataku saat berdehem pelan tapi cukup mengagetkannya.

“Ya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?” ucapnya dengan suara lemah. Ia berbalik arah menatapku.

“Apakah Simbok bisa berhenti bekerja sebentar dan berbicara dengan saya?” tanyaku dengan nada memohon.

Perempuan ini tidak langsung menjawab. Ia diam sebentar. Tapi kemudian senyumnya terukir di wajahnya yang sudah keriput. Ia menatapku dengan teduh.

“Silakan tuan menunggu saya di gubuk belakang penginapan. Sebentar lagi saya akan menyelesaikan pekerjaan ini dan menyusul kesana,” jawabnya masih dengan suara pelan.

“Baiklah, Mbok.” Kataku singkat dan berlalu menuju gubuk yang dimaksud oleh Simbok.

Simbok adalah panggilan untuk wanita dewasa yang berusia lebih tua dari kita. Aku merasakan keteduhan pada pandangan mata Simbok yang serupa dengan sosok ibuku ini. Aku sedikit merasa bersalah karena sudah mengganggu pekerjaan wanita tua yang entah namanya saja aku belum tahu.

Ku tunggu wanita tua di gubuk. Tak lama, dia telah tampak di hadapanku. Ia ikut duduk di sampingku. Sepertinya dia paham aku ingin berbicara panjang lebar dengannya.

“Hal apa yang akan tuan tanyakan pada saya?” ucapnya langsung pada pokok pembicaraan. Ia tampak tak ingin berbasa-basi lagi.

Aku terkejut. Mengapa para penghuni penginapan ini selalu menampakkan sikap curiga pada tamunya. Namun itu tidak apa. Justru lebih cepat lebih baik. Aku tidak mau mengulur waktu.

“Sejak kedatangan saya kesini kemarin sore, saya menjumpai pemandangan yang tidak biasa. Mengapa penginapan ini tampak sepi meskipun penyewaan kamar dikatakan penuh?” ujarku membuka percakapan.

“Tuan bukanlah orang pertama yang berkata demikian,” wanita tua ini berkata dengan pelan. Tatap mata tegas menandakan ia tidak sedang bercanda.

“Maksud simbok apa?” tanyaku untuk mempertegas ucapannya.

“Sewu Klopo telah menjadi wilayah perebutan banyak kerajaan. Dan rumah ini telah menjadi tempat menginap puluhan mata-mata dari berbagai kerajaan yang berniat menguasai Sewu Klopo. Mereka datang dan pergi secara bergantian. Maka tidak mengherankan jika penghuni penginapan saling menaruh curiga satu sama lain,” Simbok ini berkata sambil menatapku tajam.

“Mungkin tuan juga termasuk salah satu dari mereka,” tambahnya sambil melirikku. Ucapan wanita ini cukup pelan tapi mengena.

“Saya hanya petualang yang lewat daerah sini, mbok.” Aku masih berpura-pura dalam penyamaranku.

Tidak kusangka, wanita tua ini justru mendekatkan wajahku ke arahku. Aku terkejut. Nyalinya cukup besar untuk menebar ancaman kepada tamu penginapan yang baru dikenalnya.

“Pedang yang tuan bawa sudah menunjukkan siapa jati diri Anda yang sebenarnya,” sekali lagi dia membuatku terkejut. Memang benar, aku tidak bisa melepas pedang dari genggamanku. Inilah senjata perlindungan diri yang membantuku melawan perampok yang mungkin saja muncul setiap saat.

“Penduduk asli desa ini tidak terbiasa membawa senjata saat bekerja. Mereka adalah orang-orang yang tidak menyukai kekerasan. Kehadiran tuan di penginapan ini sedikit banyak telah mengurangi ketenteraman hidup kami. Katakanlah, tuan mata-mata dari kerajaan mana?” ucap simbok.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kupikir penyamaranku sudah gagal. Identitasku sudah diketahui oleh penghuni penginapan. Tapi aku tidak boleh semudah itu membuka penyamaran ini.

“Aku tidak seperti yang simbok pikirkan. Oh ya, kalau boleh tahu siapa nama wanita pemilik rumah penginapan ini?” tanyaku untuk menutupi kegugupanku.

“Dia bernama Nyai Seroja,” ucapnya singkat.

Seroja? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi dimana? Aku berusaha mengingat lagi kejadian beberapa hari ini di perkampungan Sewu Klopo.

Sebelum aku tersadar dari proses mengingat, wanita penjaga taman bunga ini melanjutkan berbicara.

“Nyai Seroja adalah wanita yang tangguh dan mandiri. Dia mampu menghadapi kerasnya hidup sendirian. Dia juga rela mengorbankan harta bendanya untuk membantu perjuangan orang yang dicintainya,” tanpa diminta pun wanita tua ini menceritakan sedikit jati diri juragannya.

“Nyai Seroja merupakan lambang keperkasaan wanita di tengah kekuasaan kaum pria. Sisi kewanitaannya tidak menghalanginya mencapai tujuan hidup. Ia lembut, tapi juga garang,” tambahnya.

Tidak diduga sebelumnya, tiba-tiba telah hadir dihadapanku wanita pemilik rumah penginapan. Aku baru ingat dia bernama Nyai Seroja sebagaimana diceritakan oleh wanita tua di sebelahku ini.

Nyai Seroja menatap wanita tua ini dengan pandangan tajam. Tatapan matanya mengisyaratkan sikap tidak suka. Segera simbok ini berjalan pelan menjauhkan diri dari hadapanku. Tanpa berkata sepatah kata pun dua wanita misterius ini bergerak ke arah samping penginapan dan menghilang dibalik dinding kayu.

Ku tatap bangunan tinggi besar di hadapanku. Penginapan ini menyimpan banyak tanda tanya. Aku semakin yakin bisa menggali banyak informasi keberadaan para pemberontak di tempat ini. Keberadaan Nyai Seroja di tempat ini berhubungan dengan pertemuanku dengan Widura di hutan Sewu Klopo. Apakah dia wanita yang menyebabkan pertengkaran di kehidupan rumah tangga Widura?

Tanpa terasa waktu bergulir demikian cepat. Perutku lapar dan menuntut untuk segera diisi. Aku bergegas kembali ke kamar penginapan. Kubasuh mukaku dengan air. Kurasakan kesegaran mengalir di setiap jengkal kulit wajahku. Ku rapikan pakaian dan memanggil Waskita. Pelayan ini tanggap. Ia segera membawa makanan pesananku.

Waskita mengetuk pintu. Beberapa piring makanan terhidang lengkap dengan minuman. Aku berpikir untuk mencegah Waskita keluar dari kamar. Dia bisa menjadi sumber terpercaya untuk penyelidikanku.

“Jangan keluar dulu,” cegahku kepada Waskita.

Waskita menatapku tajam. Ia tampak berpikir.

“Duduklah sebentar disini,” ujarku.

Waskita menurut ucapanku. Mimik wajahnya masih mengisyaratkan keraguan. Dalam diam, bisa kulihat sejuta tanya dalam hatinya.

“Aku ingin tahu siapakah Nyai Seroja sebenarnya,” kataku. Pria berbadan tegap di depanku ini tidak lantas menjawab. Ia menghela nafas. Tidak mungkin sepagi ini dia merasa gerah. Pasti dia sedang mengumpulkan semua keberaniannya untuk bercerita padaku.

“Tuan bukanlah tamu pria pertama yang tertarik pada Nyai Seroja,” ucapnya memulai bercerita.

Aku buru-buru menyela ucapannya.

“Tunggu. Aku tidak bermaksud menyukainya sebagai pria dewasa terhadap wanita cantik. Maksudku, aku hanya ingin tahu perihal juraganmu. Aku merasa sudah mengenalnya sebelumnya. Barangkali dia adalah salah satu kerabatku yang terpisah,” sergahku cepat.

“Nyai Seroja sejatinya gadis yang berasal dari wilayah utara kampung Sewu Klopo. Ia memilih tidak menikah untuk mempertahankan rasa cintanya pada Widura, kekasihnya yang memilih menikahi wanita lain. Kesetiaannya pada Widura tidak bisa diragukan lagu. Nyai Seroja sering mengirim bahan-bahan makanan dalam jumlah banyak untuk Widura dan para pekerjanya,” kata Waskita.

“Kalau boleh tahu, apakah pekerjaan pria bernama Widura itu sehingga juraganmu perlu membantu menyediakan banyak makanan untuknya?” kataku.

“Hamba tidak terlalu paham, Tuan. Hanya saja, Widura rutin berkunjung kesini untuk mengambil bahan pangan sebelum datangnya bulan purnama. Kebetulan nanti siang dia akan datang kesini karena tadi hamba diperintahkan Nyai Seroja menyiapkan tiga karung beras dan dua karung ketela,” Waskita berkata panjang lebar.

“Apakah kamu tahu dimana rumah Widura?” tanyaku.

“Rumahnya tak jauh dari rumah Pak Kamituwo,” jawabnya.

Tepat sekali dugaanku. Widura yang diceritakan oleh Waskita adalah orang yang sama dengan Widura yang kutemui tempo hari di hutan.

“Terima kasih Waskita karena kamu sudah mau bercerita padaku,” ucapku.

Waskita hanya mengangguk saja. Tanpa berkata lagi, dia melangkahkan kaki keluar dari kamar penginapanku. Dia pasti masih punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di dapur.

Aku semakin dibuat penasaran oleh sosok Widura dan Seroja. Jika ucapan Waskita benar, nanti siang Widura akan tiba di penginapan ini. Inilah kesempatanku untuk mengetahui lebih banyak perihal kelompok pemberontak Sewu Klopo. Aku juga ingin tahu siapa gerangan sosok Nyai Seroja yang bertingkah laku misterius. Lalu, apakah Widura benar memiliki hubungan istimewa dengan Nyai Seroja?

(Bersambung)

Baca cerita selanjutnya: Hitam Putih Sang Mahapatih (Bagian 3)

Bagikan tulisan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *