Nasi Kotak dan Mikrofon Jahanam

Memotivasi Peserta Pesantren Ramadhan Kreatif Angkatan 1 Yatim Mandiri Jombang Tahun 2016
Pembicara Memotivasi Peserta Pesantren Ramadhan Kreatif Angkatan 1 Yatim Mandiri Jombang Tahun 2016

“Bagaimana, Cak? Tiga hari lagi sudah mau puasa. Apakah sudah ada jadwal bukber untukku?” tanya Farel tanpa malu-malu. Ia bergeser mendekati tempat duduk lawan bicaranya.

“Belum, Rel. Sebaiknya kamu tidak perlu berharap lebih. Kondisi kita sedang terkena wabah penyakit gini kok masih berharap diundang di acara bukber,” jawab Bagas setengah emosi.

“Ya, gimana lagi Cak. Bukber tahun lalu bikin ketagihan. Kan enak kita tinggal duduk-duduk sambil becanda. Waktu pulang dikasih makanan, uang dan kue-kue yang enak,” ujar Farel polos.

“Memangnya kamu saja yang senang diundang acara bukber. Aku juga senang kok kalau ada bukber. Minimal aku dapat job ngemsi,” kata Bagas tidak kalah sengit.

“Uang saku ngemsi banyak ya, Cak? Kok sampeyan sepertinya kecewa sekali tidak ada bukber,” tanya Farel.

“Ya iyalah, Rel. Kan tugas ngemsi itu memastikan acara berjalan lancar dan tidak ada hambatan. Tukang ngemsi itu kerjanya mengatur banyak orang. Maka bayarannya juga gede. Lha, kamu ini apa? Datang, duduk, makan, eh dibayar,” kata Bagas sambil melengoskan muka.

“Lho, aku kan anak yatim, Cak.” kata Farel dengan bangga sambil menepuk dada.

“Kamu tuh malpraktek. Menyalahgunakan posisi untuk dapat keuntungan pribadi,” ucap Bagas sambil menjitak kepala Farel. Farel hanya tertawa mendapat perlakukan itu dari Bagas.

Ternyata dari jauh, tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan percakapan mereka sejak tadi. Gus Hakam mendekati dua orang laki-laki beda usia itu.

“Wah, senangnya lihat kalian bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kalian ini sungguh calon penghuni surga,” ujar Gus Hakam membuka percakapan. Senyum merekah berhias kumis tipis di wajah Arabian itu.

“Bahagia apanya, Gus? Alamat bakal sepi job ngemsi sebulan gara-gara wabah penyakit yang tidak hilang-hilang ini,” kata Bagas.

“Benar, Gus. Saya juga tidak bisa lagi makan gratis, dapat uang saku, dan dikasih parsel lebaran. Virus Corona ini memang bikin susah saja,” ucap Farel menepuk jidat.

“Hmm, tadi saya mengira kalian tertawa karena senang. Ternyata begitu toh keadaan kalian,” ujar Gus Hakam berusaha memahami.

“Pemuda jomblo seperti saya ini akhirnya hanya bisa membusuk di pojok kamar sambil meratapi kesepian di bulan Ramadhan,” ujar Bagas dengan gaya bicara seperti pemain sinetron.

Gus Hakam hanya tersenyum mendengar jawaban dua makhluk cerewet penghuni Kampung Mekarsari ini. Sesuai perkiraan banyak orang, pandemi yang telah berlangsung selama dua bulan ini telah berdampak pada banyak bidang kehidupan, termasuk cara umat Islam beribadah di bulan Ramadhan.

Gus Hakam berpikir sejenak untuk memahami konflik batin Bagas dan Farel. Ia tampak diam sambil mengernyitkan dahi. Bagas dan Farel yang memandangnya ikut terdiam.

“Gus Hakam apakah juga bersedih karena tidak ada job menjadi imam sholat tarawih?” tiba-tiba Farel berujar dengan polos.

“Dasar otak pemburu nasi kotak! Tidak sopan berkata demikian kepada Gus Hakam,” kata Bagas sambil melingkarkan tangan ke leher Farel.

Farel menjerit saat menyadari tubuhnya tertarik ke samping akibat kuatnya rangkulan tangan Bagas. Akibat tak mampu menguasai keseimbangan diri, Bagas ambruk ke tanah dengan kondisi tangan masih merangkul Farel. Keduanya mengomel dan saling menyalahkan satu sama lain.

“Kalian berdua berhentilah bercanda,” ucap Gus Hakam tenang.

“Perlu kalian pahami dengan benar. Bulan Ramadhan itu bulan untuk memperbanyak ibadah. Bukan waktu untuk mendapatkan lebih banyak uang. Perbanyak amal baik kalian di bulan Ramadhan. Jangan memikirkan bukber melulu. Kalau acara buka puasa bersama jadi ajang lomba pamer makanan enak, sudah dari dulu rumah makan Padang jadi juara,” Gus Hakam memberi nasehat.

“Eh, iya Gus. Maaf,” kata Bagas merasa malu. Ia berdiri sambil mengibaskan debu yang melekat di bajunya. Farel ikut bangkit dan berbenah.

“Saya punya tugas khusus untuk kalian berdua selama bulan puasa nanti,” ujar Gus Hakam sambil tersenyum. Pria berperawakan tinggi itu tampak berwibawa dalam balutan baju koko dan kopyah hitam. Tokoh agama dari Kampung Mekarsari ini memang terkenal dermawan dan suka membantu masyarakat kurang mampu.

“Apa tugas itu, Gus?” tanya Bagas dan Farel hampir bersamaan.

“Untukmu Bagas, tugasmu dimulai besok lusa. Kamu saya tugaskan membangunkan orang makan sahur setiap hari lewat corong masjid. Ingat ya, setiap hari selama bulan Ramadhan. Diawali tadarus dulu pakai mikrofon supaya syiar Islam lebih semarak. Waktunya mulai jam tiga pagi sampai menjelang imsak. Gunakan kemampuan ngemsi yang kamu miliki untuk berbahasa yang santun,” ucap Gus Hakam.

“Siap, Gus!” kata Bagas bersemangat.

Kali ini Bagas merasa tersanjung karena ada orang yang mau mengakui kemampuannya dalam berhalo-halo di depan mikrofon. Bagas tidak bisa membayangkan bila setelah Ramadhan nanti orang-orang akan memberinya lebih banyak job ngemsi karena sebulan bisa mengumandangkan suara merdu lewat pengeras suara masjid.

“Kalau kamu bisa mengerjakan tugas itu dengan benar, saya bisa kasih amplop lima kali lipat dari sangu yang kamu terima waktu ngemsi di pengajian balai desa kemarin,” lanjut Gus Hakam.

“Wah, betulkah? Hamba semakin siap, Gus!” pekik Bagas bersemangat. Kegembiraan Bagas semakin membuncah di dada.

“Dan untukmu Farel. Datanglah ke rumah untuk bantu Umi mengantar pesanan nasi kotak pelanggan setiap sore. Nanti saya sampaikan ke Umi mengenai uang lelah untukmu,” ucap Gus Hakam sambil mendekatkan diri ke telinga Farel.

“Siap, Gus!” ujar Farel menirukan ucapan Bagas.

“Nanti sore saya akan keluar kota selama tiga hari. Kuharap kalian bisa mengerjakan tugas itu secara bertanggungjawab meski tidak saya awasi secara langsung,” ucap Gus Hakam seraya pamit kepada Bagas dan Farel. Bagas dan Farel berpandangan dan saling melempar senyum bahagia.

Skip. Skip. Skip. 

Tiga hari kemudian Gus Hakam bertemu lagi dengan Farel dan Bagas di tempat yang sama. Pria itu masih berada di dalam mobil dari perjalanan kembali dari luar kota. Dia menepikan mobil, keluar dari mobil dan mendekati Farel.

“Wah, hari pertama puasa sudah berkumpul disini sepagi ini. Bagaimana kabar kalian?” tanya Gus Hakam.

“Insha allah nanti siang saya siap mengantar pesanan nasi kotak, Gus,” jawab Farel dengan semangat.

Bagas tampak murung dan enggan menjawab. Farel menepuk pundak Bagas. Bagas tidak merespons.

“Ssst… Ditanyain Gus Hakam, tuh!” bisik Farel ke Bagas.

Gus Hakam tampaknya sadar ada masalah yang harus diselesaikan pada diri bagas.

“Bagaimana tugasmu, Bagas? Apakah tadi subuh kamu sudah membangunkan sahur warga kampung?” tanya Gus Hakam sambil menatap Bagas.

Farel cekikikan di samping Bagas. Farel berusaha menahan tawa.

“Sudah saya laksanakan, Gus.” Jawab Bagas.

“Lalu kenapa mukamu ditekuk begitu?” tanya Gus Hakam.

“Saya nyerah deh, Gus. Saya tidak mau pegang mikrofon masjid lagi,” kata Bagas sambil menundukkan kepala.

“Lho, kenapa? Bukannya kamu sudah terbiasa ngemsi di acara-acara keagamaan?” Gus Hakam bertanya lagi.

“Ngemsi sih ngemsi. Tapi nggak dipukuli juga kali,” kata Bagas pelan sambil menyentuh plester luka di kepalanya.

“Memangnya kamu bicara apa waktu di depan mikrofon tadi pagi?” kata Gus Hakam.

“Puasa kan pertarungan antara diri kita sendiri melawan hawa nafsu. Jadi ya saya ucapkan kata-kata penyemangat lewat mikrofon dengan keras,” kata Bagas.

“Terus… ” Gus Hakam tak sabar ingin mendengar kelanjutan cerita Bagas.

“Ya sayakan… Ladies and gentleman. Di sudut kanan ada malaikat yang selalu mengingatkan kita beramal baik. Sementara di sudut kiri ada setan yang siap menggoda manusia berbuat maksiat. Eh, tak tahunya muncul Pak Modin dari arah kiri saya. Saya digampar deh sama beliau sampai benjol seperti ini,” Bagas bercerita sambil memegangi kepalanya.

Ucapan Bagas disambut tawa Farel dengan keras. Gus Hakam juga ikut tertawa kecil saat mendengar penuturan Bagas.

“Bagas, Bagas… Kamu seharusnya sadar dimana tempat kamu ngemsi. Memang betul kita bertarung melawan hawa nafsu saat berpuasa. Tapi kamu kan ngemsi di mikrofon masjid, bukan di ring tinju,” kali ini Gus Hakam tidak bisa menahan tawa.

“Saya kan orang yang baik hati. Jadi saya bangunkan tetangga di kiri dan kanan rumah saya. Tante Erna, Mbak Eli, Mbak Rahayu, Mbak Rita, Bu Sofia, Yu Jum, semuanya saya serukan bangun lewat pengeras suara,” kata Bagas.

“Lalu, apa masalahnya?” tanya Gus Hakam.

“Saya dilempar sandal oleh tetangga sebelah masjid,” jawab Bagas.

“Tunggu! Nama-nama perempuan yang kamu sebutkan itu kan semuanya janda,” ucap Gus Hakam.

“Memang benar,” kata Bagas polos.

“Bagaaaaaas…!” teriak Gus Hakam sambil melepas sandal dan memukulkan ke lengan Bagas.

Selesai.

Bagikan tulisan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *