Tiga Mengetuk Pintu: Part 1. Saat Aku Tak Mampu Lagi Mengajar Kalian

Kebersamaan Ustadz dan para santri di TPQ Al-Mujahiddin Guwo Latsari Mojowarno Jombang

15.45

Sore ini ku kumpulkan semua santri di serambi barat. Ini bukan kebiasaanku mengajar klasikal. Tapi aku berpikir perlu untuk melakukannya selagi aku bisa.

“Terima kasih kalian masih bersemangat mengaji. Saya bangga pada kalian semua,” ujarku membuka pertemuan hari ini. Senyum ku lemparkan ke segala arah.

Siswa marhalah akhir mendengarkan dengan khidmat. Kedua tangan tersilang di atas pangkuan tanda mereka berkonsentrasi penuh.

Sementara santri dasar jilid satu masih asyik memainkan kembang gula di tangan. Ahh. Aku mendesah pelan. Entah sampai kapan aku bisa tetap berada disini.

Ku rasa inilah waktuku untuk mengawali sebuah perjalanan akhir. Cepat atau lambat anak-anak akan tumbuh dewasa. Ku pikir hari ini aku akan mendewasakan mereka lebih cepat.

“Saya selalu senang bisa hadir disini dan mengajar kalian. Kalian juga senang kan belajar mengaji dengan saya?” Kataku spontan untuk memecah kebekuan.

Beberapa santri menjawab senang seperti paduan suara. Selebihnya diam sambil menanti lanjutan kata-kataku. Mereka diam mematung sambil diliputi rasa cemas.

“Meski demikian, akan tiba saatnya nanti saya tidak mampu lagi mengajar kalian. Cepat atau lambat, saya pasti akan menikah. Saat saya tinggal di kampung lain, mungkin saya tidak akan sering hadir disini. Hingga nanti saya akan terhenti sama sekali dari mengajar kalian. Saat saya tak mampu lagi mengajar mengaji disini, ingatlah untuk terus mencintai Alquran. Alquran adalah sebaik-baik petunjuk hidup kalian,” Aku berkata panjang lebar.

“Lho, kok gitu sih?” Sasha berkata sambil mencibirkan bibirnya.

“Kenapa harus pindah ke kampung lain, Cak?” Imbuhnya.

Santri putri ini terkenal pandai dan periang. Dia bisa meramaikan suasana kelas. Namun tak jarang pertanyaan kritisnya menghunjami otakku secara sadis.

“Kalau Cak Romi tidak mengajar, terus siapa yang mengajar kami?” Ardi menimpali. Santri putra ini tak ku duga berkata demikian mengingat ia paling sering bolos mengaji.

Terbayang beberapa kejadian yang telah kami lalui akhir-akhir ini. Liburan santri ke Kediri. Jambore Santri di Mojoduwur. Memenangkan lomba cerdas cermat santri. Semua rekaman peristiwa terputar dalam benakku.

Sekali lagi kuberikan senyum terbaikku pada empat puluh orang santri di hadapanku. Aku tahu emosi mereka masih tergantung pada orang dewasa di sekitarnya. Aku tidak ingin memberi kesan buruk di pidato praperpisahanku ini.

“Allah Maha Penyayang untuk para pecinta Alquran. Setelah saya pindah nanti pasti Allah akan mengirim guru mengaji yang lebih ganteng, lebih pintar, lebih bagus suaranya, dan lebih sering mengajak kalian liburan bersama,” Aku masih terus menghibur mereka.

Para santri marhalah akhir tak bergeming. Muka mereka datar, sedatar tembok serambi masjid di belakangku. Sebagian diantara santri putri mulai memerah wajahnya. Aku tidak sedang membully mereka dengan guyonan serius. Ku yakin itu bukan merah karena menahan malu.

“Tapi tenang saja, mungkin itu terjadi tidak dalam waktu dekat. Paling cepat tahun depan,” Imbuhku meyakinkan.

16.15

Majelis hari ini kulanjutkan dengan permainan edukatif. Para pengajar lainnya sedang berhalangan hadir di masjid. Seperti biasa, aku berperan sebagai pemain tunggal dalam banyak kesempatan kegiatan belajar mengaji.

16.55

Waktu beranjak menuju pukul lima sore. Majelis bubar dengan rapi. Aku pun bergegas pulang untuk memeriksa pesan singkat pada smartphone yang sedang ku charge di ruang tengah. Untungnya tidak ada pesan masuk.

Baru saja akan ku buka channel Youtube langgananku. Terdengar suara pintu diketuk diiringi salam.

Terlihat Sasha berdiri di ambang pintu.
“Cak Romi tadi tidak sedang bercanda, kan?” ujarnya pelan.

“Tidak. Saya serius,” Ku jawab pelan tapi tegas.

“Baik. Tunggu sebentar ya, Cak!” Usai berkata demikian, Sasha berlari ke arah rumahnya yang berjarak sekitar sepuluh langkah dari rumahku.

Aku termangu. Mau apa sih, bocah cilik ini?

Dua menit lamanya aku mematung di teras rumah. Aku menanti janji Sasha yang akan segera kembali kesini.

Kini kulihat Sasha berjalan tergesa ke arahku. Tapi dia tidak sendiri. Tangannya menggandeng erat tangan Marisa, kakak perempuannya satu-satunya.

Marisa adalah gadis berparas cantik. Dia jarang keluar rumah sehingga aku sebagai tetangganya hampir tidak pernah bertegur sapa. Kesibukan Marisa di kampus dan di rumah tidak memberikan banyak waktu luang baginya untuk bergaul dengan lawan jenis.

Kulihat Sasha mempercepat langkah ke arahku. Sebaliknya, Marisa berjalan tergopoh-gopoh mengikuti kecepatan jalan Sasha.

Baru kali ini kulihat murid sekolah dasar memaksa lulusan sarjana ekonomi berjalan lebih cepat. Bukan memaksa. Mungkin lebih tepat disebut menyeret.

“Ada apa ini, Sasha?” tanyaku saat gadis kecil ini tiba di hadapanku.

“Mulai besok Cak Romi harus menikah dengan Mbak Marisa. Aku tidak mau Cak Romi keluar dari kampung ini. Aku mau Cak Romi tetap tinggal disini dan mengajar mengaji di masjid,” Sasha berkata dengan tegas tanpa sedikitpun merasa gentar.

Seketika aku menatap wajah Marisa. Dan tak kusangka dia juga menatap ke arahku. Pandangan kami bertemu. Kami terdiam selama beberapa detik.

Aku tersenyum. Marisa pun tersenyum sambil menunduk malu. Aku merasa terberkahi. Sepertinya Allah sudah menjawab doa yang kuucap di setiap sepertiga malam yang terakhir.

Bersambung ke: Tiga Mengetuk Pintu: Menikung di Sepertiga Malam yang Terakhir

Bagikan tulisan ini:

2 Replies to “Tiga Mengetuk Pintu: Part 1. Saat Aku Tak Mampu Lagi Mengajar Kalian”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *