Hitam Putih Sang Mahapatih

Dongeng Aji Bonar yang jago bermain gasing
Dongeng Aji Bonar yang jago bermain gasing

Aku terdiam di bawah teriknya matahari. Paparan sinar surya seolah tidak mempan menghapus kebekuan hati. Samar terdengar teriakan barisan praja muda di ujung taman. Seperti bersorak, seperti menghentak.

Barisan semut menghitam di bangku kayu. Mereka terlihat sangat asyik bercengkerama sesama kawannya. Aku iri melihatnya.

“Mahapatih, hari sudah semakin siang. Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini,” ucapan Patih Arya Ekasapta membuyarkan anganku.

“Tunggulah sejenak. Aku ingin menikmati udara segar ini.”

Aku menjawab sekenanya. Benarkah ini udara segar. Yang benar saja. Patih Arya Ekasapta pasti tahu siang ini sangat terik.

Aku disini, jauh dari tempatku biasa berdiri. Berharap bisa menenangkan diri. Terlepas dari segala bayangan itu. Namun apalah arti pertapaan ini jika pikiran masih tertinggal di sana. Pada seseorang yang selalu mengganggu siang dan malamku.

“Patih Arya, tinggalkan aku sendiri. Pergilah periksa kuda-kuda yang telah kau tinggalkan sejak tadi.”

“Baik, Mahapatih.”

Kulihat Patih Arya Ekasapta bergegas meninggalkanku. Aku lega. Setidaknya dia tidak tahu bahwa perlahan tapi pasti aku semakin tertunduk melihat pemandangan di depan mata. Gundukan batu bata merah tertata rapi di depan mata. Sama seperti merahnya hati ini.

Hati yang merah ini bukanlah merah biasa. Ini setengah merah. Setengah merah karena tercipta dari beragam warna. Hingga yang tersisa hanyalah separuh merah bata.

Aku seorang Mahapatih. Mana mungkin aku memperlihatkan kelemahanku di depan para hulubalang kerajaan. Aku seorang Mahapatih. Tidak mungkin aku mengakui bahwa setengah merah hati ini tertinggal di tempat yang salah.

Aku tertinggal diantara waktu dan usia yang terus melaju dengan cepat. Setiap kepingan kisah di masa lalu memang telah usai membelakangiku. Namun sebuah cerita di masa depan menjadi persoalan baru yang menuntut diselesaikan.

Gubrak!

Suara keras itu mengejutkanku. Kiranya kuda-kuda itu memberontak dari talinya. Ternyata sebuah anak panah melesat dan mengenai kotak persediaan makanan. Kontan saja Patih Arya Ekasapta berteriak. Kawan tangguh yang satu itu selalu tidak bisa menahan diri ketika terkejut.

“Mahapatih! Ada pesan dari musuh!”

Aku bergegas menata langkah menuju sumber suara. Patih Arya memberikan selembar kain bertuliskan huruf-huruf Pallawa. Aku tidak suka mendapat ancaman. Pesan yang tertera di kain itu jelas-jelas mengancamku.

Akhir-akhir ini memang sering terjadi pemberontakan di daerah perbatasan. Pesan itupun tak jauh dari keinginan sebagian pemberontak untuk melepaskan diri dari pemerintahan pusat.

“Mahapatih, apakah tantangan Patih Bajul Mati ini perlu kita ladeni?”

“Jangan terburu mengambil langkah. Ini urusan negara. Kita harus kembali ke kerajaan sekarang juga.”

Aku membuang kain itu ke tanah. Ku sempatkan menatap sekali lagi tumpukan bata merah di depan. Tinggi menjulang. Sama halnya dengan tingginya harapan hati ini untuk mendatangi seseorang disana.

Negara akan cepat runtuh saat hati dan perasaan terlalu dominan memegang kendali. Maka aku tidak boleh terlarut di dalam permasalahan yang tidak perlu ini.

*****

Aku bergegas kembali. Sesampai di kerajaan, istana telah ramai dipenuhi para hulubalang. Mereka telah mendengar berita tantangan perang dari para pemberontak Dukuh Klopo. Sebagian dari mereka lebih suka kasak-kusuk dibalik baju kebesaran yang dipakai. Selebihnya hanya terdiam menunggu titah Paduka Raja.

“Mahapatih, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Patih Arya Sengkala membuka percakapan begitu aku menjejakkan kaki di karpet merah istana Jambangan Sari. Patih Arya Sengkala adalah salah satu patih terbaik yang dimiliki Jambangan Sari. Aku kagum pada kecerdasannya dalam membuat taktik perang.

Kebanyakan prajurit mematung saja. Itulah kebiasaan mereka. Mereka lebih suka menunggu perintah atasan daripada bertindak dengan keinginan hati sendiri. Aku memaklumi mereka. Antara menghormati dan mematikan hati nurani bedanya sangat tipis. Mereka adalah para prajurit yang setia. Namun kesetiaan mereka mengubur kemampuan diri mereka sendiri.

Belum sempat ku jawab tanda tanya itu, datanglah seorang prajurit. Bergegas dia memasuki balairung. Di tangannya tergenggam sebuah kain. Aku berpikir itu pasti surat tantangan lagi.

“Mahapatih, ada pesan lanjutan dari para pemberontak.”

Ku terima kain itu dan ku buka. Ku pandangi sesaat apa yang ada di hadapanku. Mereka ingin memisahkan diri dari Jambangan Sari. Mereka ingin menjadi wilayah merdeka tanpa mau terikat oleh pemerintahan Jambangan Sari. Deg! Ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus segera ke Dukuh Klopo. Mereka harus ku temui. Segera ku bubarkan pertemuan siang itu. Aku harus menyusun rencana selanjutnya untuk mengatasi kemelut Dukuh Klopo.

Esok paginya aku telah melesat pergi ke Dukuh Klopo. Aku sengaja tidak mengajak prajurit untuk menemani perjalanan kali ini. Semakin sedikit orang yang menemui para pemberontak, itu akan lebih baik. Mereka tidak akan merasa diserang.

Perjalanan menuju Dukuh Klopo memakan waktu setengah hari. Si putih Seta yang ku tunggangi cukup kepayahan untuk melewati bukit-bukit berundak dan jalan berlumpur menuju Dukuh Klopo. Untungnya, hanya beberapa langkah sebelum menuju tapal batas Dukuh Klopo terdapat sebuah sungai kecil dengan airnya yang jernih.

Aku memutuskan beristirahat sebentar di tepi sungai. Kuda kesayanganku ini merasa girang bisa meneguk air sungai Dukuh Klopo. Aku sedikit merasa bersalah mengapa aku memaksa Seta untuk terus melaju sementara aku sendiri sudah kepayahan untuk memacu tali.

Ku celupkan ujung kaki ke air sungai. Memang benar terasa segar. Pantaslah jika masyarakat Jambangan Sari sering menceritakan indahnya suasana sungai Dukuh Klopo. Cerita itu sudah beredar dari mulut ke mulut.

Namun bukan hanya tentang keindahannya saja. Konon sungai Dukuh Klopo memiliki kegaiban tersendiri. Siapa saja pendatang yang mandi di sungai tersebut akan menghabiskan seluruh hidupnya bersama penduduk asli Dukuh Klopo. Demi teringat mitos itu, aku menyesal mengapa tadi aku membasuh kaki di sungai ini.

Tapi apalah arti cerita orang. Mereka adalah para pemimpi di siang bolong. Aku bisa membedakan mana kenyataan dan mana impian.

“Byur….!”

Terdengar suara benda keras terjatuh ke dalam sungai. Secara spontan aku menengok ke arah sungai. Kewaspadaanku meningkat. Apakah kehadiranku sudah diketahui para pemberontak Dukuh Klopo. Apakah aku sudah terlalu lama berdiam di sungai ini sehingga kehadiranku memancing perhatian penduduk setempat.

Aku menoleh ke asal suara. Aku terkejut demi apa yang terlihat di depan mata. Seorang anak kecil menceburkan diri pada aliran air yang tidak terlalu deras. Ia tampak asyik berenang sendirian. Apakah dia tidak memiliki teman. Mustahil bocah laki-laki ini tidak memiliki teman, gumamku. Pasti dia sedang bermain bersama temannya.

Atau, pikirku menerka, dia adalah salah satu makhluk gaib yang sering diceritakan warga. Aku menerka penuh tanda tanya. Mungkinkah siang hari ini seekor dedemit telah muncul lebih awal.

*****

“Hai nak, namamu siapa?” aku mencoba mencegahnya pergi ketika dia bangkit dari usaha menaiki batu-batu kali yang besar.

Bocah itu diam lantas melihatku dengan penuh tanda tanya. Dia melihat semua yang ku pakai dari ujung kaki sampai ujung kepalaku.

“Dimanakah rumah Ki Kamituwo Dukuh Klopo?”

Aku masih bersabar menunggu dia bicara. Apakah dia tidak tahu siapa sosok yang sedang bertanya kepadanya. Aku seorang Mahapatih. Di Kerajaan Jambangan Sari aku dihormati oleh banyak prajurit dan masyarakat. Tapi mengapa di Dukuh Klopo ini semua melihatku dengan asing.

“Aku Sapta. Rumah Ki Kamituwo ada disana.” Anak kecil itu menjawab dengan menunjukkan jari tangan ke satu arah lurus. Belum sempat aku bertanya lagi, bocah yang bernama Sapta ini sudah mengambil langkah pergi. Rupanya kehadiranku tidak diharapkannya. Dia merasa terusik olehku.

Tanpa membuang waktu lagi. Aku bergegas bangkit dari tempat dudukku. Seta pun sudah terlihat lebih segar setelah minum air sungai Dukuh Klopo. Kuda putih itu sudah menjadi kawan setiaku kemanapun aku bepergian. Tujuanku adalah rumah Ki Kamituwo seperti yang sudah ditunjukkan oleh si Sapta tadi.

Tidak terlalu sulit untuk mencari rumah sesepuh Dukuh Klopo itu. Ada banyak penduduk setempat yang bersedia menunjukkan letak rumahnya. Aku mengucap salam dan disambut oleh pemilik rumah dengan ramah. Mulanya aku memperkenalkan diri sebagai Mahatir. Dengan penampilanku yang apa adanya ini mustahil dia bisa mengenaliku sebagai Mahapatih.

“Ki Kamituwo, saya mendengar kabar bahwa tokoh masyarakat Dukuh Klopo menginginkan wilayah ini lepas dari Jambangan Sari. Benarkah kabar angin itu?” Aku mulai bertanya secara terus terang.

“Tidak diragukan lagi. Kami memang ingin memisahkan diri dari Jambangan Sari.”

“Kenapa memisahkan diri? Apakah selama ini Jambangan Sari bertindak kejam kepada rakyat Dukuh Klopo?”

“Kami menghargai segala perhatian Paduka Raja dan Mahapatih, tapi kami lebih suka hidup bebas tanpa diatur oleh penguasa. Rakyat kami adalah para petualang yang menyukai kehidupan liar. Kami tidak suka dikendalikan penguasa.”

“Bukankah dengan adanya pemerintahan yang sah maka rakyat dapat hidup makmur, Ki.”

“Itu dapat terjadi di wilayah lain. Tapi tidak bagi kami. Kami dapat hidup dengan memegang kepercayaan antar kepala rumah tangga. Para pria Dukuh Klopo adalah petualang sejati. Mereka jarang pulang ke rumah. Isteri-isteri mereka pun memaklumi bahwa naluri pria memang ingin hidup bebas ke negeri manapun.”

Ki Kamituwo diam sesaat. Nafasnya yang sudah tua terdengar tidak teratur untuk melanjutkan cerita.

“Kami dapat hidup bahagia dengan kebebasan hidup. Arti suami dan isteri saling mencintai adalah apabila mereka bisa mencintai kebahagiaan pasangannya yang suka berkelana. Oleh karena itu, kami bersepakat untuk melepaskan diri dari Jambangan Sari dan tidak berpihak ke kerajaan manapun.”

Aku terdiam. Aku sulit memahami ucapan pria tua ini. Jika benar para isteri mencintai suami mereka masing-masing, lantas mengapa mereka lebih suka bersendirian. Bukankah bukti kasih sayang diantara manusia adalah hidup bersama.

Aku berusaha mencerna ucapan Ki Kamituwo sekali lagi. Sampai akhirnya aku dikejutkan oleh suara ribut di luar pondokan sederhana ini.

“Gubrak!”

Tanpa sadar aku beranjak dari tempat dudukku. Aku mencoba mencari tahu apakah yang sudah terjadi di luar sana. Tampak sepasang suami isteri sedang bertengkar.

“Ini adalah pilihan hidupku. Aku tidak betah tinggal disini!” teriak si suami.

Sementara si isteri menjawab tak kalah lantang, “Kamu boleh tinggalkan rumah. Tapi beri aku seorang anak!”

“Tidak! Aku tidak mau!”

“Mengapa? Kamu takut tidak bisa lari dari rumah ini karena jatuh cinta lagi padaku?”

Tunggu dulu. Mereka adalah sepasang suami-isteri. Percakapan mereka terdengar sangat aneh di telingaku. Bukankah wajar saya seorang isteri mengharapkan seorang anak dari suaminya. Pasti ada yang tidak beres di antara hubungan mereka. Pasti.

Aku berbalik ke dalam pondok Ki Kamituwo. Aku berniat pamit dari hadapannya. Setelah basa-basi sejenak, akhirnya aku mampu lepas dari pandangan orang tua itu.

*****

Pria itu tampak menghela nafas berat. Seraya memandang rumahnya sejenak, ia kemudian meninggalkan tanpa menoleh lagi. Aku mengikutinya. Tentu saja secara diam-diam. Pria itu terlihat sangat sedih. Tak sekalipun wajahnya mendongak. Ia tertunduk lesu sepanjang mengendarai kuda hitam.

Tak lama kemudian ia memasuki hutan. Aku tetap mengikutinya secara diam-diam. Sepertinya ia sadar keberadaan diriku. Ia berhenti, lalu menoleh ke belakang.

“Mengapa kamu mengikutiku?” ia pertanya dengan nada penasaran.

“Aku tadi sempat mendengar pertengkaranmu dengan isterimu. Tanpa sengaja. Kebetulan aku bertamu ke rumah Ki Kamituwo,” aku menjawab dengan gugup.

Sebenarnya bukan hakku untuk tahu lebih lanjut urusan orang lain. Aku pun siap-siap andai saja pria itu akan memarahi.

“Seperti itulah rumah tanggaku,” jawabnya singkat. Aku tak menyangka jawabannya singkat dan tanpa nada marah sedikitpun.

Ia beringsut menambatkan tali kekang kuda pada pohon besar. Aku hanya bisa melihatnya. Kemudian ia duduk di salah satu batu besar yang terhampar di sisi jalan. Mau tidak mau aku mengikutinya. Sepertinya ia ingin bercerita banyak mengenai kehidupan rumah tangganya.

Aku duduk disampingnya. “Namaku Arya Wiratama. Mungkin kamu butuh teman bicara,” aku berinisiatif memperkenalkan diri. Sengapa aku tidak membuka jati diriku sebagai Mahapatih. Aku tidak ingin penyelidikanku gagal.

“Aku Widura. Kamu sudah tahu pertengkaranku dengan isteriku. Memang berat… “ ia berkata dengan wajah menerawang. Seperti ada beban berat yang sedang ditanggungnya. Mungkin ia ingin bercerita tapi tidak percaya padaku. Mana mungkin pertemuan pertama menghasilkan kepercayaan.

“Ceritakanlah. Barangkali itu bisa membuatmu merasa lebih baik,” aku mulai menghiburnya.

Ia menarik nafas berat. Pandangannya masih tertuju pada langit biru di atas sana.

“Tiga tahun yang lalu aku berkenalan dengan seorang prajurit kerajaan bernama Wisang Geni. Dia telah menolongku dalam sebuah peristiwa perampokan. Dari kejadian itulah kami menjadi semakin akrab. Keakraban kami ternyata kebablasan. Kami tidak bisa terpisahkan satu sama lain meski sama-sama sudah beristri. Kami tergantung secara emosional. Hingga akhirnya masing-masing isteri kami mengetahui hubungan terlarang ini,” ucapnya pelan.

Deg! Hal itu terjadi pada prajuritku? Aku terhenyak mendengarnya. Sebisa mungkin aku menahan diri untuk menyela ucapannya.

“Sepandai-pandai kami menahan diri untuk tidak bersama, tetap saja waktu mempertemukan kami dalam usaha saling kabur itu. Kami tahu tidak ada kebaikan dalam hubungan ini. Kami pun tahu masyarakat tidak akan menerima kami. Meski demikian kami berusaha mengurai sumber perasaan itu sampai akhirnya pertengkaran dengan isteri-isteri kami menjadi pemandangan yang biasa.”

Aku tidak menyangka bahwa ketertarikan Widura kepada Wisang Geni bukan hanya kekaguman pada sosok penolong. Lebih dari itu, kedekatan dua orang prajurit itu menghasilkan masalah baru dalam rumah tangga masing-masing.

“Lalu, apa rencanamu selanjutnya?” aku bertanya dengan nada pelan, takut menyinggung hatinya.

“Aku ingin memberi isteriku seorang anak sesuai permintaannya. Setelah itu aku akan menceraikan isteriku dan berkumpul kembali dengan Wisang Geni.” Katanya.

“Bagaimana mungkin kamu bisa memberi anak pada wanita yang sudah tidak kamu cintai?” tanyaku pelan.

“Entahlah. Aku juga tidak tahu bagaimana caranya.” Jawabnya singkat.

Selesai menjawab, ia bergegas bangkit dari tempat duduknya. Rupanya ia sudah merasa agak baikan secara. Ia tidak lagi tampak murung. Ia pun berpamitan padaku. Tak terasa, percakapan kami sudah berlangsung dari pagi hingga matahari tepat di atas kepala. Aku pun berkemas dan mencari tempat makan.

Pertemuanku dengan Widura melegakan hatiku. Setidaknya aku tidak sendiri. Di luar sana masih ada orang-orang yang bernasib sama, atau hampir sama denganku. Mereka yang memiliki perasaan terlarang dan menyimpan rasa itu dalam-dalam. Mereka yang tidak mampu menyembunyikan kasih saying pada orang yang hadir secara tiba-tiba di dalam hidupnya. Dan mereka yang terjebak dalam dilemma antara menumbuhkan perasaan cinta ataukah membunuh saying yang terlanjur berakar di dalam hati.

Kiranya penyelidikanku terhadap gerakan pemberontakan di daerah perbatasan akan memakan waktu yang lama. Mungkin aku bukan hanya akan bertemu dengan prajurit seperti Wisang Geni dan Widura, tetapi juga para pemberontak yang sigap membawa pedang untuk membunuhku. Aku akan terus melanjutkan penyelidikan ini sampai akhirnya aku bertemu dengan para pemimpin pemberontak.

(bersambung)

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *