Asal Mula Nama Kota Salatiga dan Boyolali dari Kisah Legenda Sunan Tembayat

Hikayat Raja Arief Imam - Creative Doodle Art by Hidayat Said
Hikayat Raja Arief Imam – Creative Doodle Art by Hidayat Said

Artikel cerita rakyat Nusantara bersama blog The Jombang Taste kali ini Anda kami ajak menyimak asal-asul nama Kota Salatiga dan asal-mula nama Kota Boyolali. Terciptanya nama Salatiga dan Boyolali memiliki hubungn erat dengan kisah legenda Sunan Kalijaga dan Sunan Tembayat dari Jawa Tengah. Berikut ini kisah selengkapnya.

Di Pulau Jawa bagian tengah terdapat sebuah desa Pandan Aran. Di desa itu hidup seorang saudagar yang kaya raya. Karena kayanya dia diberi nama Ki Pandan Aran. Dia senang sekali membuat kacaunya pedagang kecil di daerah itu. Dia pandai memainkan harga dalam perdagangan, sehingga dia dapat mengeruk keuntungan yang luar biasa.

Pada suatu hari ada orang datang menawarkan sepikul rumput yang segar dan hijau. Ki Pandan Aran menawar rumput itu seharga 10 sen. Dengan tak berpikir panjang rumput itu diberikan atas tawarannya. Ki Pandan Aran sangat senang sebab harga rumput itu terlalu murah. Biasanya dia membeli dengan harga 25 sen sepikul. Maka dia pesan lagi untuk besok pagi. Penjual rumput itu bersedia.

Pada hari kedua penjual rumput itu datang lebih pagi dan rumputnya dijual dengan harga yang sama. Ki Pandan Aran bertanya, “Hai penjual rumput, cari di manakah rumput sebagus ini?”

“Rumput ini mencari di Jabalkat, Pak,” jawab orang itu lalu pergi.

Ki Pandan Aran tercengang dan berkata dalam hati, “Hmm, menurut cerita orang Jabalkat adalah tempat yang sangat jauh dan tempat itu tidak di bumi ini. Apakah orang itu tadi meremehkan aku? Ah besok aku ingin menyelidiki dia. Akan kucoba besok.”

Pada pagi ketiga penjual rumput itu datang lagi untuk menjual rumputnya. Kali ini harga rumputnya ditawar hanya 5 sen sepikul. Dengan tenang ia memberikan rumputnya yang ditawar hanya 5 sen itu, lalu dengan tenang ia pun pergi. Tiba-tiba saudagar serakah itu memanggilnya.

“Hai penjual rumput berhentilah!” Setelah dekat, saudagar itu berkata, “Aku kehilangan uang sebanyak 25 sen dan hilangnya baru saja.” Belum sempat penjual rumput itu menjawab, dia sudah dironda bajunya.

Kemudian, “Nah, inilah uangku yang hilang, kau pencuri dan mau menipu aku.”

“Oh saudagar kaya, uang itu adalah hasil dari aku menjual rumput kepadamu selama tiga hari. Jangan keterlaluan mendakwa orang miskin seperti aku ini jawab orang itu.” Kata penjual rumput.

“Sudah jangan banyak kata, memang kau yang ambil,” bentak Ki Pandan Aran.

“Kaulah yang menipu aku. Kaulah penipu rakyat. Kau tak bisa makan kalau tidak menipu orang,” jawab penjual rumput.

“Kurang ajar, berani kau mengumpat aku bedebah! Aku kaukatakan penipu, asal bukan menipu hartamu setan!”

“Terang menipu milikku.”

“Kamu hanya pura-pura saja kehilangan uang sebesar 25 sen, lalu uangku kau rampas. Saya di dunia ingin mencari makan dari barang yang halal. Kalau aku mau kaya tidak lama. Mudah saja, emas tinggal menggali saja di tanah,” sahut penjual rumput.

“Ha ha sudah melarat, sombongnya alang-kepalang. Coba buktikanlah kata-katamu itu. Kalau tidak terbukti ada emas di hadapanku sekarang akan kuhajar engkau,” kata saudagar itu dengan marah.

Penjual rumput itu segera menancapkan pikulannya ke tanah lalu mengungkit tanah itu, maka terdapatlah bongkah-bongkah emas murni. Saudagar itu terpaku dan tercengang bagaikan patung hidup. Tidak tahu bahwa penjual rumput itu pergi meninggalkan dia.

Setelah Ki Pandan Aran sadar kembali, ia terus lari mengejar orang yang baru saja diajak bertengkar. Setelah nampak ia pun berteriak keras, “Hai Pak penjual rumput!”

Orang yang dipanggilnya menoleh dan berhenti menanti. Setelah Ki Pandan Aran dekat lalu ditanya oleh orang penjual rumput. Dia bermaksud ingin berguru untuk menambah ilmunya. Keinginan Ki Pandan Aran diterima dengan syarat, semua hartanya harus diberikan kepada yang menginginkan atau kepada fakir miskin. Hanya istrinya sajalah yang boleh dibawa.

Ki Pandan Aran segera pulang untuk membagikan harta kekayaannya dan mengajak istrinya pergi ke desa Kadilangu tempat penjual rumput berdiam. Sebetulnya orang yang menyamar sebagai penjual rumput itu adalah Sunan Kalijaga.

Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi
Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Di jalan menuju Kadilangu, Ki Pandan Aran bersama istrinya dihadang oleh tiga orang perampok. Syandan di tengah jalan Ki Pandan Aran bersama istrinya dihadang oleh tiga orang perampok. Tongkat istrinya yang bertatahkan intan, dirampas oleh perampok.

Setelah perampok itu lari Ki Pandan Aran berkata kepada istrinya, “Memang betul kata kyai bahwa harta haram itu mendatangkan bahaya atau mala petaka. Coba ada tiga orang perampok, berarti kita masih salah yaitu kita masih membawa harta. Ingat-ingatlah kelak daerah ini kita beri nama SALAH TIGA (Salatiga).”

Kemudian Ki Pandan Aran berjalan lagi bersama istrinya. Dalam perjalanan Ki Pandan Aran selalu berpikir kejadian apa lagi yang harus dialami nanti, sehingga istrinya tertinggal dalam perjalanan. Istri Ki Pandan Aran berkata dalam bahasa Jawa, “Kakang mbok ya aja lali karo aku,” yang artinya “Kakanda janganlah lupa kepadaku.”

Setelah Ki Pandan Aran datang menjemput istrinya, ia berkata, “Kelak kalau jaman sudah ramai tempat ini kuberi nama Boyolali.” Kemudian mereka meneruskan perjalanannya menuju Kadilangu. Bertahun-tahun mereka berguru. Akhirnya berhasil baik, lalu menjadi temannya Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama. Ki Pandan Aran kini bergelar Sunan Tembayat.

Pesan moral yang terkandung dalam cerita legenda asal-usul Kota Salatiga dan Boyolali ini adalah agar kita tidak mudah terpancing memiliki sifat serakah terhadap harta-benda. Kemuliaan seseorang bukan dilihat dari kekayaannya, tetapi dari ketakwaannya menjalankan perintah Tuhan. Semoga artikel kisah cerita rakyat Jawa Tengah ini bisa menambah wawasan Anda. Sampai juga dalam artikel The Jombang Taste berikutnya!

Daftar Pustaka:

Maryanto, Soemadji. 2008. Pelengkap IPS: Cerita Rakyat Untuk SD. Jakarta: Balai Pustaka.

4 Replies to “Asal Mula Nama Kota Salatiga dan Boyolali dari Kisah Legenda Sunan Tembayat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *