Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 10-Tamat)

Pembangunan istana Kerajaan Pulau Majeti oleh para anak buah Prabu Selang Kuning
Pembangunan istana Kerajaan Pulau Majeti oleh para anak buah Prabu Selang Kuning

Cerita rakyat mengenai Kerajaan Pulau Majeti ini merupakan edisi bahasa Indonesia dari buku Karajaan Pulo Majeti yang ditulis dalam bahasa Sunda. Meskipun buku ini merupakan hasil terjemahan Bahasa Sunda, isi cerita buku ini tidak terlalu banyak berubah. Akan tetapi, dalam penyajiannya sedikit agak dibedakan. Hal itu supaya tidak terlalu menjemukan pembaca. The Jombang Taste menyajikan untuk Anda dengan harapan dapat menambah wawasan terhadap sejarah Nusantara. Selamat membaca.

Baca cerita sebelumnya: Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 9)

Lenyapnya Kerajaan Pulau Majeti

Matahari sudah hampir condong ke barat, ketika rombongan Kerajaan Galuh yang dipimpin langsung oleh Prabu Raksabuana tiba di tapal batas Kerajaan Pulau Majeti. Batas itu mudah dibedakan karena pinggiran kerajaan itu merupakan perairan rawa. Sejenak rombongan Kerajaan Galuh berhenti di sana. Tampak Pulau Majeti dari kejauhan yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Pulau Majeti.

Dilihat sepintas pun, kerajaan itu tampak subur. Pulau-pulau kecil yang mengelilingi Kerajaan Pulau Majeti kelihatan berwarna hijau. Perairan rawa sebagian ditumbuhi padi yang sedang menguning. Ketika Prabu Raksabuana menatap jauh ke depan, tiba-tiba dua buah perahu yang beranak buah masing-masing empat orang, segera menghampiri.

Dilihat dari pakaiannya, mereka bukan masyarakat pulau. Mereka memang prajurit-prajurit Kerajaan Pulau Majeti yang sedang meronda. Ketika melihat rombongan tamu, para prajurit Kerajaan Pulau Majeti segera memeriksanya. Tutur katanya sopan. Tindak tanduknya menarik perhatian Prabu Raksabuana. Alangkah baiknya Ki Selang Kuning memberi pendidikan kepada prajuritnya, diam-diam hati Prabu Raksabuana memuji kepada Ki Selang Kuning.

“Selamat datang di Kerajaan Pulau Majeti, Baginda,” kata salah seorang prajurit Kerajaan Pulau Majeti. Ia sebagai ketua regu peronda.

“Bolehkah kami mengetahui, siapakah Baginda dan apa gerangan maksud kedatangan ke sini?” tanya peronda dari Kerajaan Pulau Majeti.

“Terima kasih atas penghormatan kalian terhadap kami,” sahut Prabu Raksabuana, “Kami adalah rombongan dari Kerajaan Galuh. Aku ingin berjumpa dengan rajamu. Oh, ya siapakah rajamu itu?”

“Beliau adalah Prabu Selang Kuning,” jawab ketua rombongan prajurit Kerajaan Pulau Majeti tadi menjelaskan.

“Nah, sampaikanlah kepada Prabu Selang Kuning. Raja Galuh, Prabu Raksabuana, sangat ingin bertemu dengan Prabu Selang Kuning,” ucap Raja Raksabuana.

“Baiklah,” jawab prajurit Kerajaan Pulau Majeti, “Akan kami sampaikan. Lebih baik Tuanku menunggu di sini.”

Setelah berkata demikian, maka para prajurit itu mengalihkan haluan lagi, menuju ke pusat pemerintahan mereka.

Patih Kalindu Unara Jagat telah menerima laporan dari para prajuritnya bahwa di luar batas kerajaan ada rombongan Kerajaan Galuh. Hal itu segera disampaikan lagi ke istana. Prabu Selang Kuning saat itu sedang berbincang-bincang dengan anggota keluarga istana, antara lain Ratu Gandawati, penasihat negara, dan penasihat keagamaan yang merangkap pemangku adat. Mereka agak terheran-heran melihat sikap Patih Kalindu Unara Jagat yang datang seperti tergesa-gesa.

“Ada apa, Paman Patih?” tanya Prabu Selang Kuning. “Apakah ada yang kurang beres?”

“Tidak, Tuanku,” jawab Patih Kalindu Unara Jagat. “Bukan pengacau. Tetapi, di luar batas kerajaan ada rombongan tamu agung.”

“Tamu agung?” tanya Prabu Selang Kuning. “Siapakah gerangan dia?”

“Beliau adalah Raja Galuh, Prabu Raksabuana. Lengkap dengan prajuritnya, beliau kini sedang menanti Tuanku di sana,” jawab Patih Kalindu Unara Jagat.

Ketika mendengar nama Prabu Raksabuana, hati Prabu Selang Kuning tiba-tiba berdebar. Denyut jantungnya tiba-tiba berdegup semakin keras. Hati dan pikirannya menjadi kacau.

Kesaktian Raja Selang Kuning

“Oh, Gusti Prabu Raksabuana yang agung? Apa gerangan maksudnya datang kemari? Apakah ia akan menghukum aku? Aku telah memusuhinya. Seharusnya aku tetap patuh dan tunduk kepadanya,” demikian suara hatinya berkecamuk.

Sorot matanya ditujukan kepada setiap orang yang berada di sana. Jiwanya seperti minta tolong. Jiwanya seakan bertanya dan minta bantuan para pembantunya. Tiba-tiba dari mulutnya meluncur suara yang gagap.

“Bagaimana, Paman Patih Kalindu. Juga, Paman Jagat Ampar?” tanya Raja Selang Kuning.

“Kami akan menyerahkan segalanya kepada kebijaksanaan Paduka Raja,” sahut Patih Kalindu Unara Jagat.

“Aku yakin, mereka akan menggempur kita. Setidak-tidaknya menghukum aku sendiri,” seru Prabu Selang Kuning.

“Apalagi Prabu Raksabuana yang langsung memimpin pasukan. Itu sebagai tanda mereka sudah tidak sabar terhadap diriku. Juga terhadap rakyat Pulau Majeti, yang sebenarnya rakyat mereka pula. Tentu kita akan digempur dan dihancurluluhkan.”

Semua yang ada di dalam Istana Pulau Majeti termakan oleh ucapan Raja Selang. Semua tertegun. Bahkan semuanya membenarkan apa yang dikatakan oleh rajanya. Meskipun tenang-tenang, sebenarnya Jagat Ampar pun merasa ketakutan.

“Bagaimanapun hal ini harus dipertanggungjawabkan oleh Tuan Paduka,” seru Jagat Ampar.

“Kami hanya menunggu dan melaksanakan perintah. Nah, bertindaklah sebelum terlambat!” Seakan kehabisan akal dan pikiran lagi, Raja Selang Kuning segera menghunus keris pusakanya.

“Semua tunggu di istana!” perintah Raja Selang Kuning.

Pada waktu itu juga ia segera beranjak dari tempat duduknya. Semua mengira akan keluar istana untuk menghadapi langsung Raja Raksabuana. Tetapi ternyata, Raja Selang Kuning pergi ke sebuah kamar yang khusus untuk mengadakan pemujaan dan persemedian.

Raja Selang Kuning mengambil sebuah bokor emas. Lalu diisi dengan air jernih dan bunga rampai. Beberapa saat kemudian mulutnya komat-kamit seperti menyampaikan sesuatu. Selanjutnya ia membasuhkan keris pusakanya. Lalu sisa air dalam bokor itu disimbah-simbah ke semua penjuru angin. Terakhir, ia turun ke luar istana.

Dengan keris pusakanya ia menggariskan tanda silang. Hati dan pikirannya seraya mengiring doa. Tiada lama antaranya, tiba-tiba langit di sekitar Kerajaan Pulau Majeti mendadak mendung. Kilat dan halilintar bersahutan. Disusul dengan bumi yang bergoyang bagaikan terjadi gempa. Gerakan gempa itu terasa pula sampai ke tempat Prabu Raksabuana yang sedang menunggu.

Ia terheran-heran. Ada pengaruh sesuatu, sehingga Prabu Raksabuana beserta para pengikutnya tiba-tiba merasa pusing, kantuk tiada tara, dan akhirnya tertidur semua. Pada waktu Prabu Raksabuana dan pengikutnya sedang tertidur lena itulah, Kerajaan Pulau Majeti kembali menuju ke asal.

Ternyata Pulau Majeti kembali ke semula sebelum terjamah oleh Ki Selang Kuning beserta pengikutnya. Semua penghuni Kerajaan Pulau Majeti, tidak terkecuali seorang pun, tiba-tiba menghilang dari pandangan mata biasa.

Menurut cerita orang, sikap Raja Selang Kuning bertindak demikian yaitu supaya tidak kelihatan oleh Prabu Raksabuana. Menurut anggapan orang, mereka tetap mendirikan kerajaan. Namanya masih tetap Kerajaan Pulau Majeti. Sewaktu-waktu mereka suka muncul atau menampakkan diri. Artinya, mereka masih dapat dilihat oleh mata manusia biasa.

Tetapi, sejak itu pula rakyat Kerajaan Galuh menganggap kerajaan itu sebagai Kerajaan Onom Pulau Majeti. Onom artinya makhluk halus. Kini Pulau Majeti telah kembali menjadi hutan belantara. Tanaman alang-alang pun tumbuh seperti sediakala. Tetapi, menurut sebagian masyarakat yang masih percaya, di sana masih ada bukti-bukti tempat keramat.

Demikian akhir dari cerita berseri mengenai asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dibagikan The Jombang Taste untuk Anda. Semoga artikel sejarah Nusantara ini bisa memberi manfaat dalam menambah wawasan Anda. Mari cintai kekayaan budaya Indonesia!

TAMAT

3 Replies to “Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 10-Tamat)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *