Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 5)

Prabu Selang Kuning melepaskan diri sebagai Patih Kerajaan Galuh dan mengangkat dirinya sendiri menjadi raja Kerajaan Pulau Majeti
Prabu Selang Kuning melepaskan diri sebagai Patih Kerajaan Galuh dan mengangkat dirinya sendiri menjadi raja Kerajaan Pulau Majeti

Cerita rakyat mengenai Kerajaan Pulau Majeti ini merupakan edisi bahasa Indonesia dari buku Karajaan Pulo Majeti yang ditulis dalam bahasa Sunda. Meskipun buku ini merupakan hasil terjemahan Bahasa Sunda, isi cerita buku ini tidak terlalu banyak berubah. Akan tetapi, dalam penyajiannya sedikit agak dibedakan. Hal itu supaya tidak terlalu menjemukan pembaca. The Jombang Taste menyajikan untuk Anda dengan harapan dapat menambah wawasan terhadap sejarah Nusantara. Selamat membaca.

Baca cerita sebelumnya: Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 4)

Diangkat Menjadi Patih

Beberapa hari ini mendung bergayut seakan tiada mau berhenti di buana Galuh. Hujan sering turun rintik-rintik, gerimis. Burung-burung mencicit bagaikan menjerit-jerit. Hewan lainnya seperti serangga tanah memperdengarkan suaranya bagaikan sedang merintih nyeri. Angin yang biasanya semilir, kini rasanya tambah semilir. Pepohonan pun tampaknya seperti layu dan merunduk.

Hal ini terasa pula di tempat pertemuan Keraton Galuh. Saat itu Prabu Raksabuana sedang bermusyawarah dengan orang-orang kepercayaannya. Di antaranya ialah Ki Selang sebagai pucuk pimpinan Prajurit Kerajaan Galuh.

“Kita sebenarnya masih dalam suasana berkabung,” ucap Prabu Raksabuana memulai bicara. “Beberapa hari yang lalu kita ditinggalkan Paman Patih. Beliau adalah Patih Galuh yang sangat bijaksana. Tapi, ternyata beliau telah mendahului kita. Mudah-mudahan saja arwah beliau tenang di alam langgeng.”

Semua hadirin terdiam. Ikut hanyut oleh perasaan Prabu Raksabuana. Permaisurinya yang mendampingi pun terdiam haru atas perasaan suaminya.

“Memang, kita masih berkabung, Ki Selang. Tapi, untuk mencarikan ganti Paman Patih kita harus secepatnya menemukan,” kata raja yang sejenak matanya ditujukan kepada Ki Selang, yang kemudian melirik kepada istrinya.

Permaisuri Prabu Raksabuana menganggukkan kepalanya sebagai tanda membenarkan ucapan suaminya.

“Tidak susah sebenarnya mencari pengganti Paman Patih,” jawah permaisuri ikut memberi komentar.

Dan Prabu Raksabuana pun sependapat dengan istrinya. Namun, tiba-tiba Ki Selang ikut pula berbicara. Sebelumnya ia bergeser dulu dari tempat duduknya.

“Maaf beribu maaf Paduka Yang Mulia,” katanya penuh hormat. “Rasanya hamba tak sependapat dengan Tuanku Permaisuri. Justru hamba rasa sangatlah susah mencari pengganti Paman Patih.”

“Wah, mengapa demikian, Ki Selang? Cobalah kemukakan alasannya. Kami ingin mendengar pendapat Ki Selang,” ucap Prabu Raksabuana serius.

“Betul, Ki Selang katakanlah,” sahut Permaisuri. “Padahal saat ini kami harus memutuskan hal tersebut.”

“Maaf, Paduka. Bukan hamba lancang. Bukan pula hamba tak sependapat dengan Paduka. Tapi, bagi kami rasanya benar-benar sulit mencari pengganti Paman Patih,” Ki Selang berhenti sejenak, lalu meneruskan kata-katanya setelah mengusap keringat di keningnya.

“Paduka bisa bayangkan. Beliau adalah patih kepercayaan kerajaan. Tindak tanduknya selalu mencerminkan keteladanan. Segala sesuatu selalu diselesaikan lewat musyawarah. Dan yang paling utama, rakyat benar-benar mencintai beliau. Jadi, bagi kami menurut hamba sangatlah sukar mencari pengganti seperti Paman Patih almarhum. Selain itu, walau ada penggantinya, belum tentu sebijak beliau. Hal itu hamba rasakan sejak hamba berada di lingkungan kerajaan ini. Tanpa bimbingan beliau, hamba pun belum tentu seperti sekarang ini,” ujar Ki Selang.

Prabu Raksabuana dan Permaisuri tertarik dengan penuturan Ki Selang. Sebentar keduanya saling pandang penuh pengertian. Sejenak ruangan yang besar itu sunyi. Sementara Ki Selang dan hadirin lainnya terpaku sambil menanti langkah-langkah selanjutnya dari Prabu Raksabuana.

“Sudah dijelaskan tadi,” Prabu Raksabuana mulai bicara lagi. “Bagi kami tidaklah sulit mencari pengganti. Paman Patih. Bahkan pada saat ini kami akan memutuskan hal itu. Orang yang akan mengganti kedudukan di kepatihan, justru saat ini sedang ada di hadapan kami.”

Semua hadirin tersentak. Wajah mereka menggambarkan kegembiraan atas pernyataan Prabu Raksabuana. Sementara permaisuri tampak puas yang diiringi senyum manisnya. Ki Selang yang duduk di hadapan raja tergetar hatinya. Perasaannya berkecamuk. Pastilah dirinya yang dimaksudkan oleh Prabu Raksabuana tadi.

“Hamba… hamba… masih belum mengerti, Paduka. Begitu cepatkah keputusan yang diambil Paduka! Tidak perlu lagikah ada musyawarah yang lebih baik?” tanya Ki Selang sambil membungkukkan kepalariya sebagai tanda hormat kepada raja.

“Itulah keputusanku, Ki Selang. Saat ini kau jadi Patih Galuh. Kami mempercayakan kepadamu. Hanya kepadamu,” kata Prabu Raksabuana menegaskan.

“Terimalah penghormatan kami kepadamu, Ki Selang,” kata permaisuri membesarkan hati Ki Selang. “Ini suatu anugerah untuk dirimu. Dengan harapan, tentunya rakyat Galuh sernakin makmur dan tenteram dalam hidupnya.”

“Dan pemerintahan tetap jalan seperti sediakala. Tidak ada kekosongan di kepatihan kerajaan,” sambung Prabu Raksabuana.

Ki Selang mengangguk hormat. Dia akhirnya menerima jabatan penting ini di Kerajaan Galuh.

“Atas kepercayaan yang Paduka berikan, hamba ucapkan terima kasih. Hamba akan laksanakan tugas mulia ini. Semoga saja hamba bisa melaksanakannya dengan baik dan benar. Hanya doa restu yang hamba minta dari Paduka.” Demikian kata-kata terakhir dari Ki Selang.

Dan tentu saja Prabu Raksabuana dan permaisuri merestui Ki Selang. Bahkan semua hadirin pun memberi restu bagi Patih Kerajaan Galuh yang baru diangkat tersebut. Musyawarah saat Itu berakhir dengan kegembiraan yang tiada tara.

Kini Kerajaan Galuh memiliki seorang patih lagi. Dan kini patih itu masih muda, gagah perkasa, dan penuh wibawa. Lebin gagah dan penuh wibawa pula kedengarannya, setelah nama Ki Selang diberi tambahan nama menjadi Selang Kuning. Tapi, orang terasa lebih akrab lagi bila memanggil Ki Selang Kuning.

“Kakang, saya turut gembira atas anugerah yang Kakang terima itu,” kata istri Ki Selang Kuning, Gandawati. “Namun demikian, anugerah tadi jangan dijadikan kesombongan. Bahkan harus dijadikan cermin untuk mawas diri.”

“Terima kasih, istriku,” sahut Ki Selang Kuning.

“Ternyata tak sia-sia Kakang punya istri. Akan kuingat-ingat terus segala kata-katamu. Kau selalu mengingatkan Kakang. Baik dalam duka maupun dalam suka. Apa yang kau ucapkan itu adalah benar.”

Suami-istri itu benar-benar hahagia. Kini keduanya menempati rumah kepatihan. Dan tak lupa berita bahagia ini secepatnya disampaikan kepada kedua orang tua Ki Selang di Jonggol. Dan kedua orang tua Ki Selang Kuning pun akhirnya menetap di Kepatihan Kerajaan Galuh atas permintaan putranya tersebut.

Berkat keterampilan Ki Selang Kuning memimpin tampuk pemerintaban, kini Kerajaan Galuh semakin terkenal ke mancanegara. Tak ada hal-hal yang dikhawatirkan lagi oleh rakyat. Kini rakyat hidup tenang, tenteram, dan sentosa. Tidak pernah lagi terjadi keonaran seperti masa-masa lalu, misalnya perampokan, penjegalan di jalan, dan sebagainya.

Bersambung ke: Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 6)

One Reply to “Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 5)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *