Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 9)

Legenda Pulau Majeti dan Prabu Selang Kuning
Legenda Pulau Majeti dan Prabu Selang Kuning

Cerita rakyat mengenai Kerajaan Pulau Majeti ini merupakan edisi bahasa Indonesia dari buku Karajaan Pulo Majeti yang ditulis dalam bahasa Sunda. Meskipun buku ini merupakan hasil terjemahan Bahasa Sunda, isi cerita buku ini tidak terlalu banyak berubah. Akan tetapi, dalam penyajiannya sedikit agak dibedakan. Hal itu supaya tidak terlalu menjemukan pembaca. The Jombang Taste menyajikan untuk Anda dengan harapan dapat menambah wawasan terhadap sejarah Nusantara. Selamat membaca.

Baca cerita sebelumnya: Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 8)

Istana Galuh Bermusyawarah

Prabu Raksabuana tampak semakin menua. Bila tidak tertutup mahkota kerajaan, rambutnya yang berangsur-angsur memutih seluruhnya, akan tampak jelas. Tapi, dari kulit raut muka dan sekujur tubuhnya, membuktikan dan memberi penjelasan kepada yang melihat bahwa Raja Galuh itu benar-benar sudah semakin tua.

Tetapi, meskipun begitu, ia masih tampak sehat. Suaranya masih terdengar jelas. Gerakan tubuhnya masih terampil. Saat itu Raja Galuh sedang mengadakan pertemuan. Yang menghadiri pertemuan itu hanya beberapa orang keluarga istana raja saja. Di antaranya permaisurinya, beberapa dayang istana, dan beberapa orang menteri. Antara lain menteri dalam dan menteri luar.

Sejak kepergian Patih Selang Kuning, Kerajaan Galuh tidak  memiliki patih lagi. Prabu Raksabuana tidak mengangkat lagi patih pengganti Ki Selang Kuning. Dalam kebijakan pemerintahannya, Prabu Raksabuana dibantu oleh dua orang menteri, yaitu menteri dalam dan menteri luar.

Bila menengok ke luar istana, hari itu telah siang. Seharusnya matahari tampak di atas ubun-ubun. Tetapi, sudah beberapa hari ini, udara di buana Kerajaan Galuh, selalu mendung. Hal ini seperti memberi isyarat kebersamaan dengan hati Raja Galuh yang sedang murung. Ia selalu memikirkan keselamatan dan berita dari patih kepercayaannya, yaitu Ki Selang Kuning.

“Kakang Prabu,” kata permaisuri memulai karena kesal memperhatikan suaminya yang tampak murung. “Tentu Kakang Prabu mempunyai masalah yang akan disampaikan ke-pada kami, sehingga memanggil kami semua untuk berkumpul di istana.”

“Betul Dinda Permaisuri,” jawab Raja Raksabuana masih tenang-tenang.

“Tidak terasa lagi perpisahan dengan Patih Ki Selang Kuning sudah hampir dua puluh tahun. Suatu kurun waktu yang sebenarnya cukup lama. Tetapi, sudah tujuh tahun lebih kita tidak lagi mendengar beritanya,” ujar Raja Raksabuana.

“Benar. Dan selama itu pula kita tidak pernah menerima upeti seperti tahun-tahun sebelumnya,” sahut permaisuri.

Prabu Raksabuana melirik kepada permaisurinya. Ia menatap tajam wajah istrinya. Terpancar dari wajah Raja Galuh itu perasaan tidak setuju akan sambutan ucapan permaisurinya.

“Aku tidak begitu mempedulikan hal upeti itu. Sebab, dulu juga aku tidak pernah mengharuskan ia mengirim upeti tiap tahun. Hal ini dapat juga kujawab sendiri, mungkin beberapa tahun ini di sana sedang dalam keadaan musim paceklik,” jawab Prabu Raksabuana.

“Sehingga bahan pangan dan hasil Pulau Majeti hanya untuk mencukupi masyarakatnya sendiri. Mungkin engkau juga tahu bahwa daerah yang baru dibuka itu dapat subur hanya beberapa tahun saja. Tahun-tahun selanjutnya kesuburan sudah berkurang. Kecuali bila kita tahu dan terampil mengembalikan kesuburan tanah tersebut.”

“Maksud saya pun bukan masalah upetinya saja,” jawab permaisuri yang seakan-akan tidak mau dituduh mengharap upeti.

“Tapi, Ki Selang Kuning adalah seorang yang beradab. la tahu sopan santun. Ia seorang yang tahu tata krama dan pandai di segala bidang. Tetapi, yang memuakkan perasaan saya, ia tidak memberi kabar apa-apa. Sebaiknya ia memberi laporan. Andaikata ada sesuatu kekurangan, tentu kita pun tidak akan tinggal diam. Kita berkewajiban untuk membantu nya.” Raja Raksabuana terdiam sejenak.

Ia memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh permaisurinya. Kemudian Prabu Galuh itu mengalihkan perhatian kepada kedua orang menterinya yang hadir di situ.

“Aku baru ingat,” kata Prabu Raksabuana seolah-olah ingatannya tersentak. “Paman Menteri Luar, mungkin engkau mengetahui perihal Ki Selang Kuning. Aku percaya karena engkau sering mengontrol ke luar. Mungkin engkau mempunyai hal yang patut disampaikan kepadaku mengenai Ki Selang Kurung.”

“Ampun beribu ampun, Gusti Prabu,” kata Menteri Luar setelah dimintai keterangannya. “Mohon maaf sebesar-besarnya, hamba tidak bermaksud menyembunyikan berita ihwal Ki Selang Kuning.”

“Jadi, bagaimana maksudmu, Paman Menteri?” tanya Prabu Raksabuana.

“Memang ada berita tentang Ki Selang Kuning. Belum lama berselang, hamba menerima berita tersebut,” jawab Menteri Luar yang agak sedikit gagap. “Ketika kami mengadakan ronda ke tapal batas, di sana hamba mendengar bahwa di Pulau Majeti telah berdiri sebuah kerajaan baru.”

“Kerajaan baru?” tanya Prabu Raksabuana tiba-tiba. Ia tercengang mendengar berita itu. Tetapi, sebagai seorang raja tua yang bijaksana, keheranan itu tidak terlalu mengagetkan. Dengan tenang pula ia meneruskan pertanyaannya.

“Siapakah rajanya? Mungkinkah Patih Selang Kuning dikalahkan oleh negeri luar?” tanya Prabu Raksabuana.

“Maaf, Paduka. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja muda yang bernama Raja Selang Kuning,” jawab Menteri Luar.

“Ki Selang Kuning menjadi raja?” tanya Prabu Raksabuana.

Sekarang ia benar-benar merasa heran. Tampak sinar matanya memancarkan keheranan dan keterkejutan.

Lalu katanya lagi, “Lalu, bagaimana berita yang dapat kauterima?”

“Kerajaan itu bernama Kerajaan Pulau Majeti. Wilayahnya subur dan rakyatnya makmur. Mereka menganggap kerajaan yang baru berdiri itu hidup mandiri, tidak bergantung kepada negeri Galuh ini,” jawab Menteri Luar itu menjelaskan.

Sebelum Prabu Raksabuana mengatakan sesuatu, permaisuri langsung memotong, “Benar-benar keterlaluan, Kakang Prabu,” katanya. “Ki Selang Kuning sudah tak tahu diri. Ia berani mengangkat diri menjadi raja, tanpa mengadakan musyawarah dulu dengan Galuh. Ia benar-benar tak tahu malu. Wilayah Pulau Majeti adalah wilayah Galuh. Dan keberangkatan mereka atas dasar tugas dari Galuh.”

“Sabar dulu, Dinda Permaisuri,” tukas Prabu Raksabuana. “Kita jangan cepat menuding dengan jalan pintas. Segala sesuatu harus diuji dan diaji dulu. Kita tidak boleh berprasangka buruk. Tapi, kita harus dapat mempertimbangkan baik dan buruknya. Setelah itu mungkin kita dapat mengambil jalan tengah. Memang, wilayah Pulau Majeti adalah wilayah Galuh. Tetapi, daerah itu semula daerah liar dan tak diperhatikan. Mereka mulai mengalihkan perhatiannya.

Pembalasan Kerajaan Galuh

Mereka membuka dan membangun Pulau Majeti atas persetujuan kita. Ketika Pulau Majeti itu belum menjadi kerajaan, mungkin Ki Selang Kuning mempunyai pikiran, wajar memberikan hasilnya kepada kita. Sekarang daerah itu telah menjadi sebuah kerajaan. Pantas, tujuh atau delapan tahun terakhir ini, Ki Selang Kuning tidak mau menyerahkan hasil daerah itu. Karena hal itu mungkin untuk membiayai pembangunan di sana.”

Ketika Prabu Raksabuana berdebat, pegawai istana lainnya, termasuk menteri dalam dan menteri luar tidak berani memberi komentar. Mereka hanya mau bicara bila raja atau permaisuri bertanya. Oleh karena itu, mereka hanya berdiam diri saja. Dalam hati permaisuri terpancar perasaan tidak puas atas jawaban suaminya.

Maka ia mengajukan lagi pertanyaan. “Lalu, bagaimana pendapat Kakang Prabu mengenai pengangkatan diri Ki Selang Kuning sendiri menjadi raja?”

Sekarang Prabu Raksabuana tampak lebih tenang untuk menjawab pertanyaan istrinya. Katanya, “Dari pengalaman sebagai Patih Galuh, disertai kecerdasan yang telah ada dalam jiwanya, ia menganggap sanggup untuk memerintah sendiri. Ia seorang berjiwa besar. Layak menjadi seorang raja. Buktinya, kerajaan itu berlangsung dengan tenang dan damai. Ia sangat disegani oleh pengikutnya.”

Raja Galuh itu berhenti sejenak untuk mengambil napas. Pada saat itu tak ada orang yang berani memotong. Semua yang hadir di sana tenggelam dengan tutur kata Prabu Raksabuana. Lalu, raja itu melanjutkan lagi ucapannya.

“Pulau Majeti sudah dianggap sebagai lahan milik mereka sendiri. Hal ini dapat kita mengerti. Merekalah yang membuka, membangun, dan memeliharanya. Jika Ki Selang Kuning mengangkat dirinya sebagai raja, menurut hematku masih dianggap wajar. Tetapi, yang kuherankan ialah mengapa memutuskan hubungan langsung dengan kita,” kata Raja Raksabuana.

“Oleh karena itu, sebaiknya kita mengadakan perhitungan dengan mereka, Kakang Prabu,” seru Permaisuri Kerajaan Galuh.

“Maksud Dinda Permaisuri?” Raja Raksabuana bertanya balik.

“Berilah ajaran kepada Ki Selang Kuning!” Permaisuri menjawab dengan cepat.

“Jadi, maksud Dinda Permaisuri, Kerajaan Pulau Majeti itu kita perangi?” tanya Raja Galuh.

“Ia harus menerima segala kekurangajarannya selama ini,” kata permaisuri seakan memberi komando untuk menggempur dan menghancurkan kerajaan baru itu.

“Sabar, tenanglah, Dinda Permaisuri,” seru Prabu Raksabuana. “Jika menurut ukuran nafsu, memang begitu. Kerajaan Pulau Majeti tidak akan seluas negeri kita. Itu hanya sebagian kecil. Rakyat atau prajuritnya tidak akan sebanyak prajurit Galuh. Tetapi, ingatlah, Ki Selang Kuning beserta para pengikutnya berasal dari Kerajaan Galuh sendiri. Artinya, mereka masih rakyat Galuh. Jika pemerintah pusat, yakni kita, menggempur habis-habisan Kerajaan Pulau Majeti, berarti kita memusnahkan rakyat kita sendiri.”

“Bila demikian pikiran Kakang Prabu, lebih baik kita panggil Ki Selang Kuning menghadap kemari. Kita dakwakan. Bila ternyata salah, Ki Selang Kuning wajar menerima hukuman apa pun dari kita. Dengan begitu, dia tidak akan merugikan rakyat banyak,” kata permaisuri lagi yang belum merasa puas.

“Tak ada gunanya memanggil Ki Selang Kuning datang ke sini,” jawab Prabu Raksabuana seperti yakin. “Ia tidak akan mau dipanggil oleh kita. Ia telah menganggap seorang raja yang mandiri.”

“Lalu, akan dibiarkan saja Ki Selang Kuning bertindak sewenang-wenang? Kita harus membiarkan bawahan yang tidak patuh dan tidak mau menghormati atasannya?” tanya permaisuri yang selalu cepat menyala emosinya.

“Ia bukan lagi bawahan kita,” jawab Prabu Raksabuana kepada istrinya. “Sekarang ia telah menjadi raja. Daripada kita merencanakan peperangan, lebih baik merencanakan mengadakan persahabatan demi perdamaian. Aku bermaksud akan mengadakan kunjungan ke Pulau Majeti.”

“Mengapa harus Kakang Prabu yang datang ke sana?” tanya permaisuri yang masih tetap kurang setuju.

“Sebaiknya Ki Selang Kuning berkunjung kepada kita. Selaku bekas bawahan dan sebagai yang muda mestinya menghadap kepada yang lebih tua.”

“Seharusnya memang begitu,” jawab Prabu Raksabuana sambil tersenyum ramah. “Tetapi, dugaanku telah kuat. Ki Selang Kuning tidak mungkin mau datang ke Galuh lagi. Bila ditunggu pun tak akan ada gunanya. Lebih baik kita yang mengalah.” Prabu Raksabuana berhenti lagi sejenak.

Sekarang perhatiannya dialihkan kepada para menteri. “Nah, Paman Menteri Dalam dan Menteri Luar,” kata Prabu Raksabuana kepada mereka. “Siapkanlah kendaraan dan beberapa prajurit. Aku akan berkunjung ke Kerajaan Pulau Majeti. Aku sudah ingin berjumpa dengan Raja Selang Kuning.”

“Daulat, Gusti Prabu,” jawab menteri dalam dan menteri luar hampir bersamaan.

Kemudian menteri dalam berkata lagi. “Apakah hamba diperkenankan ikut ke sana? Dan bagaimana pula bila ada yang mau turut serta ke Pulau Majeti? Hamba pun ingin bertemu dengan Ki Patih Selang Kuning.”

“Kalian boleh mengumumkan kepada pegawai istana atau kepada rakyat Galuh, bila mau mengiring kepergianku, aku memperkenankan mereka turut serta. Bagiku, kunjungan ini hanya sebagai meronda saja. Tapi, persiapan perang hendaknya dipersiapkan. Hal itu untuk menjaga diri kalau-kalau Raja Selang Kuning mengadakan tindakan di luar dugaan kita,” jawab Prabu Raksabuana.

Kemudian ia mengatakan lagi. “Ingat, kunjungan ini merupakan kunjungan raja kepada seorang raja lainnya. Jadi, kalian tidak boleh menganggap lagi Ki Selang Kuning sebagai seorang patih. Tapi, seorang raja.” Para Menteri Galuh segera undur dari tempat itu.

Sementara itu Prabu Raksabuana kembali kepada permaisurinya, “Sebaiknya Dinda tidak turut. Lebih baik Dinda di istana menggantikan Kakang selama bepergian.”

Bersambung ke: Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 10)

2 Replies to “Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 9)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *