Cerita Dongeng Si Kancil Menipu Harimau dan Gajah

Cerita Rakyat Maluku: Dongeng Si Rusa dan Si Kulomang dari Kepulauan Aru
Cerita Rakyat Maluku: Dongeng Si Rusa dan Si Kulomang dari Kepulauan Aru

Bagaimana kabar sobat blogger Indonesia hari ini? The Jombang Taste hadir kembali ke hadapan Anda dengan inspirasi cerita-cerita rakyat dari buku Ride With The Sun. Artikel ini akan mengulas cerita dongeng si kancil yang cerdik sekaligus licik berhasil menipu harimau dan gajah. Cerita fabel si kancil berasal dari Indonesia dan dituturkan secara turun-temurun sejak dulu kepada anak-anak.

Pada suatu hari kancil berjalan melewati rumah Pak Tani. Dari pintu yang terbuka lebar ia melihat kue pisang yang dibungkus dengan daun pisang. la tidak dapat menahan air liurnya. Karena Pak Tani dan istrinya sedang tidak ada di rumah, kancil masuk lalu mengambil kue itu. Digigitnya sedikit.

Sementara itu ia sudah keluar dari rumah dan pergi ke ladang. Bungkus kue itu akhirnya ia buka lebar-lebar dan kepalanya Iebih dalam masuk ke dalam daun pembungkus kue. Karena tidak memperhatikan jalan tiba-tiba ia terpelosok ke dalam sebuah lobang. la terkejut bukan main.

Lobang itu dalam sekali. Beberapa kali ia mencoba melompat keluar, akan tetapi selalu sia-sia. Akhirnya ia duduk, lalu berpikir. Tanpa ia sadari tangannya memegang daun pisang berisi kue yang hampir habis dimakannya. Sang Kancil kemudian memiliki ide cerdik untuk membebaskan dirinya dari jebakan lubang itu. Ia lantas berdoa, “Ya Tuhan, Ya Allah.”

Kisah dongeng kancil dari Indonesia berlanjut. Pada waktu itulah lewat seekor babi hutan yang menengok ke bawah. “Siapa yang menyebut nama Tuhan di bawah itu?” serunya. Kancil menatap daun pisang di tangannya sambil menggerakkan matanya ke kanan dan ke kiri seolah-olah sedang membaca.

“Dengar, dengar!” katanya. “Tuhan telah berfirman bahwa pada hari ini dunia akan kiamat! Barang siapa ingin selamat, berlindunglah di dalam lobang ini!” Babi terkejut.

“Siapa yang mengatakan bahwa hari ini dunia akan kiamat?” tanya Babi kepada Kancil.

“Tidakkah engkau dengar bunyi kitab suci yang kubaca ini?” kata kancil dengan suara keras.  “Coba dengarkan. Pada hari anu dan tanggal sekian, jadi hari ini, dunia sudah sampai pada akhir hayatnya. Hanya mereka yang berada di dalam goa keramat ini saja yang akan selamat!”

“Apakah betul?” tanya babi itu lagi. “Tidak percayakah engkau kepada firman Tuhan?” jawab kancil. Mukanya berkerut. “Tentu aku percaya. ltulah sebabnya aku berniat masuk ke dalam lobang ini bersamamu.”

“Jangan!” larang kancil. “Sebab hanya mereka yang suci sajalah yang boleh tinggal di sini.”

“Jiwaku bersih!” jawab Babi.

“Aku tidak percaya. Bukankah engkau sering bersin? Di sini orang tidak boleh bersin.”

“Aku bersumpah tidak akan bersin,” janji babi.

“Firman Tuhan mengatakan,” kata kancil sambil membaca daun pisangnya. “Siapa saja yang bersin tidak diperbolehkan tinggal di tempat suci ini. Harus dilemparkan keluar!”

“Aku tidak akan bersin,” janji babi lagi. “Sekarang aku akan turun.”

Dan turunlah babi ke dalam lobang. Sementara itu kancil terus membaca daun pisangnya. Kelanjutan cerita fabel si kancil makin seru karena tak lama kemudian lewatlah harimau. “Siapa yang menyebut nama Tuhan di bawah itu?” tanya harimau penasaran.

“Dunia akan kiamat!” jawab babi. “Kancil yang membacanya dari kitab suci.”

“Mengapa kalian bersembunyi di situ?” tanya harimau lagi.

Kancil membaca. “Hanya mereka yang tinggal di goa keramat ini yang akan selamat!”

“Karena itulah kami di sini!” ujar babi.

“Aku ikut kalian,” kata harimau.

“Jangan, jangan,” babi melarang. “Engkau akan mencemarkan tempat suci ini. Engkau selalu bersin!”

Dan terdengar kancil membaca dari daun pisangnya. “Siapa yang bersin di tempat suci ini harus dilemparkan keluar.”

“Aku tidak akan bersin,”janji harimau. Serta merta ia melompat ke dalam. Kancil meneruskan bacaannya. Ia terus berpura-pura seolah-olah sedang membaca kitab suci yang mengabarkan datangnya hari kiamat beberapa saat lagi.

Kisah dongeng sang kancil yang cerdik berlanjut lebih menarik. Tak lama kemudian lalu datanglah pula gajah. “Siapa yang membaca ayat-ayat Tuhan di bawah itu?” tanyanya sambil menengok ke bawah.

“Dan mengapa kalian duduk di sana?”

“Hari ini dunia akan kiamat,” jawab babi dan harimau serentak.

“Siapa yang duduk di lobang suci ini akan selamat.”

“Aku ikut,” kata gajah.

“Jangan. Tubuhmu terlalu besar. Lagi pula engkau suka bersin,” jawab mereka. “Dan bersinmu selalu kuat! Bersin sedikit saja sudah mencemarkan tempat suci ini.”

“Aku tidak akan bersin,” janji gajah.

“Aku turun.” Dengan perkataan demikian ia melompat ke bawah.

Sekarang mereka berempat duduk di dalam lobang, sementara kancil sekali-sekali menatap daun pisang di depannya seolah-olah sedang membaca. Sekonyong-konyong ia menatap gajah lurus-lurus.

“Keluar!” bentaknya. “Engkau kelihatannya seperti mau bersin.”

“Tidak,” jawab gajah. “Aku tidak bersin. Coba lihat aku berdiri di atas belalaiku supaya tidak bisa bersin.” Langsung ia berdiri di atas belalainya.

Kancil meneruskan membaca. Tiba-tiba ia menoleh ke arah harimau.

“Apa yang kudengar?” tanyanya galak.

“Aku tidak bersin,” jawab harimau. “Aku hanya mendengus.”

Entah apa sebabnya sekonyong-konyong mata kancil penuh ketakutan. Dengan segera ia memegang hidungnya.

“Tidak, tidak,” teriaknya.

“Mudah-mudahan…” belum sampai ucapan itu berakhir bunyi “Hatsiiii…!” sudah keluar dari mulutnya.

“la telah mencemarkan tempat suci ini” teriak ketiga hewan yang lain dengan suara marah. “la menghina firman Tuhan.”

Langsung mereka memegang tubuh si Kancil lalu mereka lemparkan keluar. Dengan demikian kancil berhasil keluar dari lubang yang menjebaknya. Kancil tersenyum lega sambil berjalan meninggalkan ketiga binatang yang masih berada di dalam lubang. Demikianlah kecerdikan dan kelicikan sang kancil berhasil melepaskan dirinya dari jebakan lubang yang dalam.

Amanat cerita fabel si kancil ini adalah orang yang pintar selalu punya cara cerdas untuk melepaskan diri dari masalah hidup. Sebaliknya, orang yang bodoh akan mendapatkan celaka karena tingkah laku bodohnya sendiri. Semoga kisah dongeng kancil dari Indonesia ini bisa menambah wawasan Anda.

Daftar Pustaka:

Courlander, Harold. 1955. Ride With The Sun. New York: McGraw-Hill Book Company.

8 Replies to “Cerita Dongeng Si Kancil Menipu Harimau dan Gajah”

  1. cerita tradisional kancil setidaknya membuktikan bahwa orang pintar lebih baik daripada orang bejo.

  2. penipu hanya pantas untuk ditipu balik. semoga cerita ini bisa memberi inspirasi untuk dongeng berikutnya.

  3. dongeng kancil sudah menjadi cerita favorit orang indonesia sejak jaman perang kemerdekaan dulu. saya juga masih suka mendongengkan kancil untuk cucu di rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *