Cerita Legenda Pendeta Sakti dan Pedagang Kikir dari China

Ride with the sun - Creative Doodle art by Roger Duvoisin
Ride with the sun – Creative Doodle art by Roger Duvoisin

Apa kabar kawan blogger Indonesia? The Jombang Taste kembali berbagi cerita dongeng inspirasi kehidupan untuk Anda. Kali ini berupa cerita rakyat China. Cerita-cerita legenda dari negeri Tiongkok terkenal sangat beragam dan memiliki makna kehidupan yang mendalam. Cerita dongeng Tiongkok ini bersumber dari buku Ride With The Sun. Buku tersebut merupakan kumpulan cerita dongeng dari negara-negara di dunia yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Pada suatu hari di pasar sebuah desa ada seorang pedagang yang menjual buali pir. JumIahnya satu gerobag penuh. Orang mengerumuninya memperhatikan buah pir yang besar dan menarik di gerobagnya itu. Pedagang itu terkenal sebagai orang yang selalu menjual buah-buahan yang baik. Meski begitu, ia pun dikenal sebagai orang kikir yang telalu menjual buahnya dengan harga tinggi.

Sekonyong-konyong datang seorang pendeta pengembara dengan pakaian compang-camping. la pun memperhatikan tumpukan buah yang dikerumuni orang banyak itu. Dengan sopan ia mohon kepada tukang buah agar ia diberi sebiji buah pir itu. Tapi si pedagang itu lagi pula seorang pemarah, maka permintaan pendeta itu ia tolak. Meskipun demikian pendeta itu tidak pergi. Ia tetap berdiri disitu dan terus saja memperhatikan buah-buahan yang ada di depannya.

Pedagang itu menjadi marah. la memaki-maki pendeta itu dengan julukan yang buruk-buruk. Tetapi pendeta itu tetap tidak bergeser dari tempatnya. Sebaliknya ia malah berkata, “Teman, beratus-ratus buah pir berada di dalam gerobag ini. Tuan tidak akan rugi jika memberikan sebuah saja kepadaku!”

Salah seorang pembeli yang berdiri di situ menambahkan, “Mengapa engkau tidak mau memberikan sebuah kepada orang yang malang ini? Jika engkau tidak sudi, berilah yang agak kurang baik. Engkau tidak akan rugi!”

Karena didesak dari kanan dan kiri pedagang itu makin marah. “Buah itu kutanam dengan kerja keras tiap hari.” katanya. “Aku membawanya kemari bukan dengan maksud untuk memberikannya secara Cuma-cuma.”

Akhirnya banyaklah orang yang terlibat dalam percakapan itu. Ada yang membela si pedagang, akan tetapi tidak sedikit pula yang mengutuknya. Akhirnya terjadi bantah-membantah sehingga keadaan menjadi ramai.

Mungkin karena tidak tahan, maka salah seorang pembeli maju ke depan dan memberi uang kepada pedagang tersebut. “Rupa-rupanya engkau lebih suka keributan begini dari pada memberikan buahmu,” ujarnya dengan suara geram. “Berilah pendeta ini barang sebuah.”

Pedagang itu terpaksa memberikan sebuah pir kepada pendeta itu. Pendeta itu menerimanya sambil membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih. Setelah itu ia berkata kepada orang banyak itu.

“Sebetulnya aku merasa heran mengapa orang yang bernasib baik seperti pedagang ini begitu kikir sehingga tidak mau memberikan sebuah pir saja. Aku yang meminta buah ini telah menyerahkan segala-galanya ketika aku menetapkan diri menjadi pendeta. Sekarang aku tidak mempunyai uang, tidak mempunyai rumah dan tidak pula beranak saudara. Namun apa pun yang kumiliki dengan senang hati mau kubagi dengan orang lain. Umpamanya aku memiliki sebuah pohon yang lebat buahnya. Tunggulah sebentar, aku akan membagikannya kepadamu sekalian,” jelas pendeta itu panjang lebar.

“Jika Tuan Pendeta memiliki buah pir sebanyak itu, mengapa Tuan harus ke pasar untuk meminta sebuah?” tanya seorang pengunjung pasar terheran.

“Ah,” jawab pendeta itu. “Pohon itu perlu kutanam terlebih dahulu.”

Lalu ia makan buah pir yang ada di tangannya. Kemudian ia gali lobang di tanah dan ia tanam biji buah pir itu. “Aku memerlukan air sedikit.” katanya. Mendengar ucapan itu orang yang berada di sekelilingnya tertawa. Meskipun demikian seorang anak memberinya air yang langsung disiramkannya kepada tanah yang baru ditanami itu.

Pada saat itulah orang-orang melihat sebuah tunas kecil berwama hijau muncul dari tanah. Tunas itu tumbuh cepat dan tidak lama kemudian berubah menjadi pohon kecil. Keluar pula cabang-cabang dengan daun-daunnya. Makin lama pohon itu makin tinggi. Sungguh ajaib! Akhirnya muncul kembangnya.

Dan ketika kembangnya mulai berguguran, tampak putik-putik kecil yang berkembang menjadi buah. Akhirnya buah pir itu menjadi masak. Karena buahnya Iebat sekali, pohonnya jadi melengkung. Orang yang berdiri di situ bertepuk tangan kegirangan.

Dengan muka berseri pendeta tua itu memetik buah pir itu satu per satu dan membagikannya kepada orang-orang yang berdiri mengelilinginya. Si Pedagang itu tercengang saat meIihat itu semua. Akhirnya pendeta itu memetik buah yang terakhir dan memberikannya kepada orang yang belum dapat.

Setelah itu ia mengambil kapak dan pohon itu ditebangnya. la pikul pohon itu lalu pergi. Pedagang buah pir serta orang-orang yang berkerumun di situ memandangi pendeta itu sampai ia tak terlihat lagi. Akhirnya pedagang itu menoleh ke arah gerobagnya. la terperanjat gerobagnya telah kosong.

Tidak sebuah pir pun yang tertinggal di gerobaknya. Seketika itu juga ia sadari apa yang telah terjadi. Buah yang dibagi-bagikan pendeta tadi kepada orang di situ adalah buah-buah pir miliknya. Ketika ia berdiri terlolong-lolong memikirkan malapetaka yang menimpanya, sekonyong-konyong matanya tertumbuk pada bom gerobagnya yang tinggal satu.

la mendekat guna memperhatikannya lebih teliti lagi. Ternyata bom itu seolah-olah dipancung dengan kapak. Rupa-rupanya bom inilah yang dikapak oleh pendeta itu, pikirnya dengan geram. Bukan main marahnya.

Dengan segera ia lari untuk mengejar pendeta itu. Akan tetapi usahanya sia-sia. Tapi papan dan bomnya yang terpancung itu ia temukan di tepi jalan. Ketika orang-orang mengetahui apa yang terjadi, mereka tertawa terbahak-bahak. Hanya pedagang itu yang tidak ikut tertawa. Pendeta tua itu tidak pernah kelihatan lagi di tempat itu.

Daftar Pustaka:

Courlander, Harold. 1955. Ride With The Sun. New York: McGraw-Hill Book Company.

9 Replies to “Cerita Legenda Pendeta Sakti dan Pedagang Kikir dari China”

  1. Kalau baca cerita ini saya jadi ingat film Siluman UlarPutih. Pai Su Chen melawan pendeta Fa Hai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *