Cerita Legenda Tukang Pot Yang Menjadi Panglima Perang Gagah Berani dari India

Jodha Akbar Wallpaper
Jodha Akbar Wallpaper

Setiap bangsa memiliki cerita unik yang khas sesuai karakter masyarakat setempat. The Jombang Taste hari ini menyapa sobat blogger Jombang dan kawan pembaca melalui artikel cerita rakyat India. Cerita legenda dari India ini mengkisahkan seorang pembuat pot bunga yang hidupnya selalu beruntung sehingga diangkat menjadi panglima perang meski ia tidak bisa berperang dan tidak mampu mengendarai kuda.

Cerita rakyat India ini bermula pada suatu waktu terdapat seekor harimau sedang mencari mangsa di sebuah kampung. Sekonyong-konyong bertiup angin taufan yang sangat dahsyat. Halilintar sambar-menyambar disertai hujan lebat dan guruh yang menggelegar. Supaya tidak terkena air, harimau itu merapatkan dirinya pada dinding rumah tempat ia berlindung.

Di dalam rumah itu tinggal seorang perempuan tua. la pun menderita karena taufan dan hujan itu. Dinding rumahnya berlobang-lobang dan atap rumahnya banyak yang bocor sehingga air hujan menetes dimana-mana. Perempuan tua itu berlari kian-kemari untuk memindahkan alat-alatnya supaya tidak basah.

Karena telinganya merapat pada dinding, harimau itu mendengar suara gaduh di dalam rumah itu. Didengarnya benda yang diseret kian-kemari dan perempuan tua yang meratap dan mengeluh seorang diri. la dengar perempuan itu berkata. “Aduh, terlalu bocor berkepanjangan ini. Apakah tidak ada tempat yang aman. Baru saja hidup agak tenang dan damai, tiba-tiba datang bocor berkepanjangan in. Terlalu. Terlalu sekali!”

Kemudian harimau mendengar lagi suara alat-alat yang dipindahkan dan diseret kian kemari oleh perempuan tua dan sambil terus meratap, “Berhentilah bocor! Mati aku ini!”

Harimau terpukau mendengar rintihan perempuan tua itu dan ia merasa khawatir “Apakah gerangan bocor berkepanjangan itu?” pikirnya. “Tentu sesuatu yang mengerikan!”

Kisah klasik India ini berlanjut lebih seru. Lalu terdengar lagi bunyi barang berat digeser-geser di lantai di dalam rumah itu, harimau bergumam. “Astaga apakah itu? Itukah mahluk dahsyat yang disebut bocor berkepanjangan itu?”

la lebih merapatkan dirinya ke dinding dengan perasaan risau. la berharap mudah-mudahan hujan lekas berhenti, agar ia bisa pergi dari situ. Kebetulan pada waktu itu seorang tukang pot lewat di jalan gelap itu mencari keledainya. Dalam cahaya kilat tampak olehnya seekor binatang besar merapat pada dinding rumah. la mengira hewan itu keledainya. Langsung saja harimau itu dipegang, ditendang dan dipukulnya.

la marah sekali. “Binatang jahanam,” teriaknya. “Dalam seperti ini aku harus mencari engkau.”

la pukul lagi harimau itu! “Ayo, berdiri,” teriaknya lagi. “Jika tidak tulangmu akan kupatahkan satu per satu.”

Kemarahannnya semakin menjadi-jadi. Sambil berteriak dan mengumpat, ia terus saja memukul dan menendang binatang itu. Harimau itu cemas! Seumur hidup ia belum pernah diperlakukan seperti ini. Perlahan-lahan terbayang olehnya bahwa mungkin inilah yang disebut bocor berkepanjangan itu!

“Sekarang aku mengerti mengapa perempuan itu begitu menderita,” pikirnya lagi. Perlahan-lahan ia berdiri. Tukang pot itu masih saja menyangka bahwa binatang buas itu keledainya. Setelah harimau itu dipukulnya tiga kali, lalu ditungganginya dan pulang. Sepanjang jalan ia terus memaki, menendang dan memukul harimau tersebut. Ketika sampai di rumah harimau itu diikatnya pada sebuah tiang yang kuat. Lalu ia masuk rumah dan tidur.

Cerita rakyat India terus berlanjut. Pada keesokan harinya isteri si tukang pot keluar dan melihat seekor harimau yang diikat di depan rumah. Segera ia bangunkan suaminya. “Tahukah Abang hewan apa yang Abang bawa tadi malam?” tanyanya.

“Tentu saja.” jawab sang suami yang mulai marah lagi mengingat peristiwa tadi malam. “Keledai celaka itu!”

“Coba lihat.” ujar isterinya. Si Tukang Pot pun bangun lalu keluar. Apa yang dilihatnya membuat lututnya menjadi goyah. Kakinya serasa lumpuh. Dirabanya sekali lagi tubuhnya untuk mengetahui apakah ada yang luka alau apakah ada tulangnya yang patah. Ternyata tergores pun tidak ada.

Ride with the sun - creative artwork doodle art by Roger Duvoisin
Ride with the sun – creative artwork doodle art by Roger Duvoisin

Cerita Rakyat India

Perbuatan lukang pot itu segera tersebar ke seluruh kampung. Orang datang berduyun-duyun untuk melihat harimau itu serta mendengarkan kisah penaklukannya. Cerita itu menjalar ke kampung-kampung lain. Bahkan akhirnya raja pun mendengar. Karena Baginda sangat heran mendengar ada orang yang berani menunggangi harimau, maka beliau datang sendiri untuk melihat.

Ketika baginda datang bersama pengiringnya dan melihat sendiri, mau tak mau beliau harus percaya akan cerita tersebut. Dan yang lebih menakjubkan lagi harimau itu terkenal ganas dan menyebabkan banyak korban di seluruh negeri.

Baginda begitu terkesan sehingga si Tukang Pot waktu itu juga dianugrahinya sebuah gelar. Beliau memberi si rukang Pot sebuah tanah yang luas yang banyak rumahnya. Di samping itu ia pun diangkat menjadi seorang panglima yang mengepalai sepuluh ribu tentara berkuda. Mulai saat itu si Tukang Pot hidup senang dan mewah bersama isterinya.

Kemudian terpetik berita bahwa seorang raja negeri lain berusaha untuk menyerang dan menundukkan negeri tersebut. Kini mereka sedang dalam perjalanan dengan ribuan prajuritnya. Cerita legenda dari India berlanjut lebih menarik lagi.

Mendengar berita itu Sang Raja bertindak. Semua panglima tentaranya ia panggil dengan maksud memilih seorang panglima tertinggi untuk menghadapi musuh. Akan tetapi tak seorang pun berani memikul tanggung jawab. Mereka menyatakan bahwa negeri itu tidak mempunyai sistem pertahanan yang kuat sehingga percuma untuk mempertahankannya secara mati-matian.

Pada waktu itulah Raja teringat kepada si Tukang Pot yang gagah perkasa. Bukankah ia berani menunggangi harimau seorang diri? Segera si Tukang Pot dipanggil. Ketika ia menghadap, Raja bertitah, “Mulai hari ini engkau kulantik menjadi panglima tertinggiku. Usir musuh dari negeri kita!”

Si Tukang Pot terperanjat mendengar pengangkatan itu. Meskipun demikian dia menjawab, “Titah baginda hamba terima. Akan tetapi perkenankan hamba memeriksa musuh seorang diri terlebih dahulu.”

Raja setuju dan si Tukang Pot pulang. Sampai di rumah, ia menceritakan kepada isterinya, apa yang telah terjadi dengan berkata, “Sungguh tugas yang amat sulit bagi kita.” katanya dengan nada cemas.

“Apakah aku mampu memimpin sebuah pasukan sedangkan naik kuda saja aku tidak bisa? Coba berikan aku seekor kuda kecil. Supaya aku tidak takut terjatuh. Sementara aku berpikir menunda segala sesuatu sampai esok hari.”

Ride with the sun - Great doodle art drawing by Roger Duvoisin
Ride with the sun – Great doodle art drawing by Roger Duvoisin

Legenda India Kuno

Cerita legenda panglima perang India berlanjut. Beberapa pesuruh raja datang membawa kuda hitam berukuran tinggi besar untuk tukang pot. Raja ingin tukang pot mengendarai kuda itu dalam berperang melawan musuh. Tukang pot menerima pesuruh raja dengan hati berdebar. Meski demikian, ia tetap menerima kuda pemberian raja.

Maka para pesuruh raja itu disuruhnya pulang dengan pesan bahwa ia akan mematuhi perintah baginda. Lalu ia bertanya kepada istennya, “Bagaimana akan kulakukan semua ini? Seumur hidup aku belum pernah naik kuda.”

“Jangan risau” jawab isterinya. “Naik saja ke atas punggung kuda itu. Sesudah itu engkau akan kuikat erat-erat supaya tidak jatuh.”

Mulailah Tukang Pot mencoba menaiki kuda tersebut. Tetapi usahanya selalu gagal. Pelana kuda itu terlalu tinggi. “Tak mungkin aku dapat menaikinya.” gumamnya dalam kegugupan.

“Coba melompat.” sahut isterinya.

Tukang Pot mencoba melompat tapi kurang tinggi. Berkali-kali ia melompat tetapi ia selalu jatuh kembali ke tanah. “Pada waktu melompat aku lupa ke arah mana aku harus menghadap.” katanya kesal.

“Arahkan mukamu ke kepalanya.” ujar isterinya.

“Aku tahu, aku tahu!” jawab Tukang Pot sambil melompat lagi. Kali ini ia berhasil. Anehnya kepalanya mengarah ke belakang.

“Bukan begitu,” kata isterinya sambil menolong suaminya turun.

Sekali lagi Tukang Pot meloncat. Tidak berhasil. Bahkan ia jatuh lagi ke tanah. Tetapi ketika ia hampir putus asa usahanya berhasil. Pada waktu itu ia sudah bisa duduk di atas pelana denyan mukanya ke arah kepala kuda.

“Cepat.” teriaknya. “Ikat aku sebelum jatuh kembali.” Isterinya mengambil tali lalu mengikat kedua kaki suaminya di bawah perut kuda tersebut. Kemudian pinggangnya diikatkan pada pelana. Tali itu pun dililitkan pula pada bahu suaminya yang kemudian diikatkan lagi pada ekor dan leher kuda.

Karena tubuhnya terikat, kuda itu mulai gelisah dan tiba-tiba melompat dan lari kencang-kencang. Tukang Pot berteriak, “Dinda, kau lupa mengikat tanganku!”

“Rangkul saja lehernya,” teriak isterinya kembali. Si Tukang Pot mengikuti nasihat isterinya. Segera ia peluk leher kuda itu sambil dibawa lari kencang oleh kuda itu melintasi ladang dan bukit. Hati Tukang Pot kecut sekali. Sedikit pun ia tidak kuasa mengendalikan kudanya. la hanya merangkul leher kuda kuat-kuat.

Ketika ia melihat ke arah mana kuda tunggangannya membawanya, semangatnya hilang sama sekali sebab mereka langsung menuju ke arah perkemahan musuh. “Jangan! Jangan ke sana!” teriaknya keras sekali.

Dan ketika melewati sebuah pohon beringin muda. si Tukang Pot mengulurkan tangannya dan berpegang pada pucuk pohon itu. Maksudnya supaya ia dapat melepaskan diri dari kuda gila itu.

Tetapi apa yang terjadi karena lari kuda itu kencang sekali sedangkan tanah di sekitar pohon itu sangat gembur. Akhirya pohon itu tercabut dari akarnya. Maka sementara si kuda terus berlari dengan kencangnya, si Tukang Pot seperti mengayun-ayunkan sebuah pohon beringin langsung ke perkemahan musuh.

Tentara musuh pun menyaksikan dari jauh semua kejadian tersebut. Mereka melihat bagaimana tukang pot datang seorang diri memacu kudanya dan langsung menuju mereka tanpa gentar sedikit pun. Mereka melihat bagaimana ia mencabut sebuah pohon beringin dan mengayun-ayunkannya sebagai alat pemukul.

Mereka mengira bahwa ia merupakan seorang perintis perang yang segera akan diikuti oleh seluruh bala tentaranya. Mengingat ini mereka menjadi panik dan lari berpencaran sambil saling berteriak. “Lari! Lari! Selamatkan diri masing-masing. Ini bukan manusia, tapi tentara raksasa.”

Melihat pasukannya kocar-kacir melarikan diri, raja musuh segera menulis surat kepada Raja negeri si Tukang Pot bahwa ia membatalkan serangannya dan minta damai. Kemudian ia pun menunggang kudanya dan melarikan diri secepatnya.

Tepat ketika perkemahan musuh sudah kosong sama sekali, si Tukang Pot dengan kudanya menerobos masuk. Justru pada waktu itulah ikatan yang melilit pada tubuhnya putus sehingga ia terjatuh di tanah. Karena sangat lelah kuda itu pun berhenti dan tidak mau bergerak lebih jauh lagi.

Ketika si Tukang Pot berdiri, dilihatnya perkemahan musuh sudah kosong. Di dalam kemah raja musuh ia menemukan surat yang ditujukan kepada rajanya sendiri. la ambil surat itu lalu pulang sambil menuntun kuda dengan tali kekangnya. la tidak berminat lagi untuk menaikinya. Kisah klasik rakyat India ini berakhir dengan gembira.

“Wahai isteriku,” katanya ketika melihat isterinya datang menyongsongnya. “Sejak meninggalkan tempat ini aku telah pergi jauh dan banyak megalami hal-hal yang luar biasa dan mengerikan. Sampaikan surat ini kepada raja. Bawa pula kuda ini. Aku tidak mau melihatnya lagi.”

Isterinya menyampaikan surat tersebut kepada raja dan mengembalikan kuda. Setelah membaca surat tersebut raja senangnya bukan main. Isteri Tukang Pot menerangkan bahwa suaminya masih letih sekali dan lelah kembali dari pertempuran. la akan menghadap Raja pada keesokan harinya.

Keesokan harinya si Tukang Pot datang. la berjalan kaki dan menolak untuk menunggang kuda lagi. Ketika penduduk melihatnya mereka berbisik, “Lihat! Itulah orang gagah berani yang berhasil menundukkan musuh seorang diri. Meskipun demikian sikapnya tetap sederhana. Setelah musuh porak-poranda dibuatnya ia tetap saja berjalan kaki, bukan naik kuda dengan sombong seperti orang lain!”

Raja menerima si Tukang Pot dengan segala kehormatan sehingga sekarang ia tetap dikenang sebagai orang yang berani menunggang harimau dan berhasil pula menghalau musuh seorang diri.

Daftar Pustaka:

Courlander, Harold. 1955. Ride With The Sun. New York: McGraw-Hill Book Company.

6 Replies to “Cerita Legenda Tukang Pot Yang Menjadi Panglima Perang Gagah Berani dari India”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *