Cerita Pilu Pemberantasan Penyanyi Lagu Genjer-genjer di Guwo, Latsari, Mojowarno, Jombang

legenda cerita rakyat sunda - asal-usul pulau majeti
legenda cerita rakyat sunda – asal-usul pulau majeti

Malam hari ini saya berkesempatan berkumpul dengan ibu, bapak, kakak kedua, dan dua keponakan. Pembicaraan kami ngalor-ngidul membahas apa saja yang bisa diikuti oleh para anggota keluarga dari tiga generasi. Kesempatan ini saya gunakan untuk bertanya seputar sejarah Dusun Guwo dan saya suka membagikan melalui blog The Jombang Taste. Saya suka menanyakan hal apapun yang berhubungan dengan sejarah masa lalu di Kabupaten Jombang. Entah seni budaya, perkembangan agama, maupun kisah-kisah tidak masuk akal yang sulit dipahami anak muda jaman sekarang.

Pembicaraan kami tiba-tiba terdampar pada cerita pemberantasan para tokoh desa yang tersangkut dengan organisasi berlogo palu arit di masa lalu. Dusun Guwo terletak di kaki Gunung Anjasmoro. Secara administrasi, Dusun Guwo masuk dalam Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang Provinsi Jawa Timur. Disinilah dulu pernah berkembang kelompok sosialis yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Setelah keluar perintah pemberantasan PKI sampai ke antek-anteknya, hampir semua orang yang terlibat organisasi terlarang itu ditumpas habis di Guwo. Penumpasan itu dilakukan tanpa ampun dan tanpa penyelidikan terlebih dulu benar atau tidak keterlibatannya atau sekedar isu yang dilontarkan sebagian masyarakat.

Sosok yang paling suka bercerita adalah ibu. Di ruang tengah bagian rumah kami, emak bercerita dengan lantang. Pada jaman dulu terdapat sekelompok seniman yang suka menyanyikan lagu Genjer-genjer pada sore hari. Pertemuan para seniman Genjer-genjer hampir dilakukan setiap sore di rumah Bapak Randim. Mereka bernyanyi sambil membawa rinjing, sejenis alat pembawa sayur yang terbuat dari anyaman bambu. Sampai akhirnya terjadi penumpasan PKI pada tahun 1965 dan mempengaruhi ketenangan warga Guwo. Emak bercerita saat itu beliau masih sekolah kelas 1 SD. Saat ini Emak telah berusia 65 tahun. Ketika itu beliau bersekolah hanya dengan memakai celana dalam. Dalam perjalanan pulang dari sekolah, beliau bertemu dengan segerombolan pria. Wajah-wajah mereka tampak tidak bersahabat.

Para pria usia dewasa dan pemuda itu berjalan dalam kelompok sambil meneriakkan: “Hidup Ansor! Hidup Ansor!”. Emak mengaku ketakutan menyaksikan pemandangan tingkah laku liar para pria itu. Anak-anak kecil pun berlarian masuk ke dalam rumah. Sebagian orang tua mengajak anak-anak mereka masuk ke dalam bunker bawah tanah. Hampir setiap rumah saat itu memiliki lubang di bawah tanah sebagai tempat persembunyian. Namun yang lebih menakutkan dalam pandangan mata Emak saat itu adalah senjata tajam yang dibawa para pria dalam barisan yang berjalan dengan tegap. Mereka berjalan dari arah selatan ke utara sambil membawa arit, celurit, pedang, pisau, dan beragam senjata tajam khas masyarakat desa. Mereka bergerak dari Dusun Kempreng ke arah Dusun Bulakkunci melewati Dusun Guwo.

Gerombolan pria bersenjata itu menyasar rumah-rumah penduduk yang terlibat dalam aktifitas seniman Genjer-genjer. Mereka menangkap satu per satu penduduk Dusun Guwo yang ditengarai terlibat organisasi palu arit. Setelah ditangkap, para tokoh tersebut dibawa ke tuangan, wilayah perbatasan desa berupa sungai yang sepi penduduk. Tuangan yang dipilih ada dua, yaitu tuangan Kempreng dan tuangan Kayen yang jarang dilalui warga. Masih menurut cerita Emak, setelah dibawa ke tuangan, bisa dipastikan orang tersebut tidak akan kembali ke rumah dalam keadaan hidup. Mereka segera dihabisi dengan cara yang kejam. Tubuh mereka dicincang. Jari-jemari mereka tercecer di tanah. Sebagian bahkan ada yang dibiarkan tergeletak di tengah jalan.

Ada satu cerita penangkapan tokoh palu arit yang pernah bikin geger warga. Salah satunya adalah penangkapan Pak Kasani. Emak menceritakan dengan bersemangat bahwa Pak Kasani sengaja disembunyikan oleh keluarganya. Lokasi penyembunyiannya adalah di atas langit-langit rumah. Beliau dibiarkan berdiam diantara genteng dan plapon sampai menunggu barisan pemuda bersenjata melewati Dusun Guwo. Namun naas nasibnya. Ketika kelompok tersebut sampai di depan rumah, Pak Kasani panik dan berteriak ketakutan: “Tolong… tolong… tolong…!” Tak ayal lagi. Para pria bersenjata celurit segera mengetahui posisi persembunyiannya dan meringkusnya. Ia dibawa ke tuangan Kempreng dan tidak pernah kembali pulang ke rumah.

Emak menceritakan bahwa pembersihan tokoh-tokoh yang terlibat dalam pelestarian seni musik lagu Genjer-genjer tidak melalui proses hukum. Mereka menangkap orang yang disangka menjadi simpatian organisasi palu arit dan memberikan keadilan dengan cara mereka sendiri. Cerita Emak berakhir ketika malam semakin larut dan mata sudah terasa mengantuk. Saya dan kerabat pun bergegas ke kamar masing-masing. Sungguh, cerita panjang yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Lain kali saya akan menggali lebih dalam hal-hal yang menjadi pertanyaan besar dalam hati saya terkait sejarah Dusun Guwo. Nantikan terus kelanjutannya hanya di blog The Jombang Taste!

2 Replies to “Cerita Pilu Pemberantasan Penyanyi Lagu Genjer-genjer di Guwo, Latsari, Mojowarno, Jombang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *