Kisah Legenda Kesaktian Jaka Bandung Untuk Mendapatkan Cinta Putri Pandan Kuning dari Kerajaan Pengging

Asal-usul Reog Kendang Tulungagung dari Legenda Dewi Kilisuci, Mahesasura dan Jatasura
Asal-usul Reog Kendang Tulungagung dari Legenda Dewi Kilisuci, Mahesasura dan Jatasura

Pada artikel The Jombang Taste sebelumnya telah penulis bagikan asal-usul Rawa Pening dari kisah legenda Naga Baru Klinting. Artikel ini merupakan kelanjutan dari cerita rakyat Jawa Tengah tersebut. Ketika Naga Baru Klinting tumbuh menjadi remaja, ia diberi nama Jaka Bandung oleh ayahnya yang merupakan seorang resi. Jaka Bandung adalah pemuda yang sakti namun memiliki wajah yang menakutkan. Telah banyak wanita lari dari hadapannya karena mereka semua tidak tahan memandang wajah Jaka Bandung yang buruk rupa.

Diceritakan dalam kisah Babad Tanah Jawa bahwa pada waktu itu yang memerintah Kerajaan Pengging adalah seorang raja bernama Handayaningrat. Beliau mempunyai seorang putri termashur cantiknya di seluruh dunia, bernama Putri Pandankuning, yang merupakan kembang di Keraton Pengging. Bunga-bunga di taman tak berbunga karena malu kepada Sang Retna. Bidadari dari kahyangan tak ada yang seelok paras Sang Putri.

Cahayanya sebagai sinar bulan purnama, yang samar-samar bagai berhiaskan bianglala. Cahaya intanpun menjadi suram sinarnya, karena sinar Sang Putri. Madu pun menjadi tak manis dibandingkan dengan manis Sang Putri, bahkan Dewi Ratih, Ratu kecantikan dari cakrakembang, tak dapat mengimbangi cantiknya. Sungguh tak ada yang dapat mengalahkan eloknya. Sinar bintang-bintang tunduk kepada kerlingannya.

Sang Raja Handayaningrat pernah memerintahkan seorang pujangga untuk melukiskan kecantikan putrinya, tetapi tak sanggup melaksanakannya, sebab kekayaan bahasanya tak mencukupi. Pendek kata, kemolekan Sang Putri benar-benar tak ada cacat celanya. Kecantikan Sang Putri Pengging menjadi buah bibir. Di mana-mana tak ada yang dibicarakan, melainkan kecantikan Putri Pandang Kuning.

Api Asmara Jaka Bandung

Ketika itu Jaka Bandung dirundung api asmara, karena mendengar berita tersebut. Ia minta dengan sangat kepada ayahnya untuk melamar putri yang sangat cantik itu. Kalau keinginannya tidak dipenuhi, lebih baik ia mati saja. Kemudian Sang Resi minta kepada Sang Dewata, agar Sang Putri diserang penyakit yang hebat sekali. Cerita rakyat Jawa Tengah menyebutkan bahwa permohonan itu dikabulkan oleh Sang Dewata.

Sang Putri menderita sakit bisu, tak ada seorang tabib atau dukun, yang dapat menyembuhkannya. Segala obat dan penawar bisa tak berdaya, hingga sang Raja sangat prihatin. Sang Raja lalu membuat sayembara, barang siapa dapat mengobati sang Putri akan diangkat menjadi menantunya, dinikahkan dengan putrinya serta mendapat kedudukan penting.

Ketika Sang Ajar Windusana mendengar pengumuman itu, ia menyuruh anaknya, Jaka Bandung berangkat pergi ke Pengging. Setelah ia mendapat perintah dari ayahnya, berangkatlah Jaka Bandung ke Negeri tersebut. Tiba di Pengging banyak orang yang memandang iba kepadanya. Tetapi ada pula, yang mentertawakannya. Jika ia ditertawakan orang, ia menjadi sangat marah dan orang itu dihembusnya hingga jatuh bergelimpangan.

Seorang pegawai keraton menghadap kepada Sang Raja, memberitahukan, bahwa ada seorang datang dari gunung, sangat buruk wajahnya, tetapi sangat sakti. Ia ingin mengobati Sang Putri Pandang Kuning. Maka segeralah ia diantarkan menghadap Sang Raja.

Para dayang-dayang sangat tercengang melihat wajahnya yang luar biasa buruknya itu, lalu timbul gagasannya, “Andai kata Putri Pandang Kuning diberikan kepada orang semacam itu, bagaimanakah peribahasanya yang tepat? Mungkinkah dikatakan: Cobolo makan teki yang berarti: Tidak pantas makan nasi.”

Sang Raja melihat dengan ragu-ragu dan iba hati kepada putrinya. Jaka Bandung diperintahkan masuk ke dalam keraton. Jaka Bandung lalu mengucapkan puja mantranya dengan mata melotot. Beginilah bunyi mantranya: Hong tita cuma-cumi, Wada dasti widi dasta, Canti cara caremih carumah. Artinya: Yang membuat sakit telah selesai. Semoga Sang Dewata memberi kesembuhan kepada Sang Putri, hingga ia dapat bergerak dan berbicara seperti sedia kala.

Setelah ia mengucapkan mantranya, berjalanlah ia mengelilingi panggung Sang Putri, menghilangkan guna-guna ayahnya serta memasukkan usada atau obatnya. Dengan sekonyong-konyong Sang Putri telah sembuh dapat berkata lagi dan menjadikan suka cita Sang Raja, tetapi tampaknya Sang Raja menjadi sedih melihat wajah Ki Jaka Bandung, yang buruk sekali itu.

Beberapa saat ia tak dapat berbuat apa-apa. Kemudian ia mendapatkan Ilham, lalu bersabda kepada Ki Jaka, “Hai cantrik, engkau telah menyembuhkan putriku, untuk itu aku sangat berterima kasih kepadamu. Sekarang aku minta, supaya kau tangkapkan segala Margasatwa dan bawalah semua itu ke Negeri Pengging. Adapun cara membawanya harus kau masukkan ke dalam tabung buluh saja.”

Sang Jaka sangat sedih hatinya, mendengar perintah Sang Raja. Ia merasa bahwa lamarannya ditolak oleh Sang Raja. Ia mengundurkan diri dari hadapan Sang Raja dan dengan hati pedih ia pulang kembali ke rumahnya. Namun kisah legenda dari Jawa Tengah tidak berhenti sampai disini saja.

Legenda Pulau Majeti dan Prabu Selang Kuning
Legenda Pulau Majeti dan Prabu Selang Kuning

Ujian Cinta Jaka Bandung

Cerita rakyat Jawa Tengah menyebutkan bahwa dengan muka muram dan hati susah Jaka Bandung keluar dari keraton Pengging. Di perjalanan ia meratap tangis, sebentar-sebentar ia beristirahat, menyapu air mata yang menetes, tak henti-hentinya, dengan lengan bajunya. Tiba di gunung Merbabu ia menceritakan hal itu kepada ayahnya, yang juga turut bersedih hati.

Teringatlah Ajar Windusana akan kakaknya Ajar Kutawindu, yang berdiam di gunung Mahameru. Ajar Kutawindu mempunyai sahabat yang sangat sakti. Raja makhluk halus ini bernama Sang Tiron. Sang Resi lalu berangkat ke gunung Mahameru. Sang Ajar masuk ke dalam rumah, tetapi ki Jaka yang ikut serta, berhenti di pesramaan, tempat para siswa.

Ketika para siswa melihat rupa Ki Jaka mereka tak tahu sama sekali, bahwa ia putra Ajar Windusana. Dikiranya salah seorang penderita cacat budak Sang Ajar. Mereka yang mengerti, memperingatkan kawan-kawan namun tak dihiraukannya. Melihat wajah Ki Jaka itu, ada yang tertawa terpingkal-pingkal, hingga sakit perutnya.

Walaupun Ki Jaka merasa tidak senang, tetapi ia tinggal diam, sebab ia takut kepada Sang Resi. Para pembantu mendengar suara gaduh riuh, keluarlah bersama-sama hendak mengetahui, apa yang terjadi. Mereka mengintai dari kejauhan. Yang telah melihat Ki Jaka, tertawa dan berkelakar.

Tetapi yang tak mengerti sama sekali bertanya-tanya mengapa mereka itu tergelak-gelak tertawa, sebab Ki Jaka duduknya membelakangi di tengah para siswa. Setelah mereka mengamati baik-baik, sekonyong-konyong mereka tertawa keras dan bertutur, “Hidungnya seperti buah gayam karenanya kukira itu punggungnya. Andai kata dari tadi aku mengerti tentu sudah tertawa.”

Kawan-kawannya mendengar ucapan ini ikut pula tertawa. Ajar Windusana telah bertemu dengan kakaknya. Ia memberitahukan kepada kakaknya, tentang peristiwa anaknya dari awal hingga akhir. Sejak ia bertemu dengan Dyah Kasmala, menghilang pada waktu malam, kemudian mendapat anak, yang diberi nama Baru Kelinting.

Setelah meninggalnya istrinya, Baru Klinting anaknya itu, mengalami nasib yang sial, hingga terjadinya Jaka Bandung. Semuanya diceritakan kepadanya. Meskipun Ajar Kutawindu sebenarnya mengetahui keadaan kemenakannya, namun ia mengeluarkan rasa herannya dan berkata ingin melihat wajah anaknya, yang dijawab bahwa rupa anaknya buruk sekali. Meskipun demikian ia senantiasa menjadi perhatian orang.

“Adapun kedatangan kami ini hendak mohon bantuan. Anakku Jaka Bandung menangis serta merengek-rengek minta dilamarkan putri dari negeri Pengging. Ia mendengar warta, bahwa putri Pengging itu sangat elok parasnya. Telah kuperingatkan berkali-kali, tetapi ia senantiasa memaksakan dipenuhi kemauannya,” ujar Sang Ajar

“Karenanya hamba sebagai ayahnya merasa berat dimintai sesuatu oleh anaknya. Maka terpaksa kusanggupi permintaannya. Sang Putri terpaksa saya teluh hingga ia menjadi sakit. Sang Raja Pengging mengadakan sayembara: barang siapa dapat menyembuhkan Sang Putri akan dikawinkan dengan Sang Putri. Anakku lalu kusuruh mengikuti sayembara itu. Kuberi sarana untuk menghilangkan guna-guna yang diderita oleh Sang Putri. Kemudian Sang Putripun telah sembuh dari sakitnya, hingga sekarang,” lanjut Sang Ajar

Sang Ajar berkata lagi, “Kemudian ada permintaan tambahan dari Sang Raja, untuk mengumpulkan segala margasatwa yang kemudian diisikan ke dalam sebuah tabung buluh, sebagai alasan untuk menolak Ki Jaka menjadi menantunya. Hatiku sangat susah, merasa tak berdaya. Maka dari itu dengan tergopoh-gopoh kami datang kemari, karena hamba teringat, bahwa kakanda mempunyai sahabat makhluk halus, bernama Tiron yang pandai dalam hal mukjizat. Ia pasti dapat memenuhi permintaan Sang Raja. Ya kakanda, kami minta dengan sangat, agar anakku bisa melangsungkan nikahnya dengan putri Pengging itu.”

Jawab kakaknya, “Ya adinda, Permintaan Sang Raja sangat aneh. Hal itu dapat dikata mudah atau sulit. Mudah kalau disanggupi oleh sahabatku, sulit jika ia tak mau membantunya. Di mana sekarang anakmu? Aku hendak melihat wajahnya.” Ajar Windusana lalu ke luar ke pasramaan, memanggil Jaka Bandung masuk ke dalam rumah.

Ketika Resi Kutawindu melihat Jaka, berkatalah ia sambil tersenyum, “Anakku telah dewasa, tetapi aku belum pernah melihatmu. Besarmu hampir sebesar buyung, duduklah! Engkau ingin dikawinkan dengan putri cantik? Janganlah khawatir, aku akan merestuimu.”

Sang Ajar lalu berdiri, masuk ke sanggar pemujaan. Tak antara lama Sang Tiron datang, telah membawa seruas bambu, dijinjing lalu diberikan kepada Sang Ajar,” Inilah tabung berisi margasatwa yang diminta oleh adikmu. Hati-hatilah cara membawanya, jangan sampai terbalik.”

Setelah ia mengucapkan pesan itu, lenyaplah dari pandangan. Sang Ajar keluar dari sanggar pemujaan, lalu tabung diserahkan kepada adiknya, yang diterimanya dengan ucapan terima kasih. Tabung disuruh membawa anaknya, dengan pesan, supaya membawanya jangan sampai terbalik. Ki Jaka menerimanya dengan hati yang gembira.

Legenda Cinta Naga Baru Klinting

Cerita rakyat Jawa Tengah ini masih berlanjut. Ajar Windusana dengan anaknya minta diri hendak pulang ke gunung Merbabu. Jalannya ke selatan menurun. Jika sang Ajar bertemu dengan Ajar lainnya mereka mengadakan musyawarah, sebab itu perjalanannya sangat lambat. Sedang anaknya ingin cepat-cepat supaya lekas sampai di Pengging.

Terdorong oleh asmara Ki Jaka berangkat mendahului, tanpa diketahui ayahnya. Tatkala perjalanannya tiba di lereng gunung, Ki Jaka lupa pesan ayahnya. Cara membawa tabungnya terbalik, hingga hewan-hewan yang ada di dalamnya keluar berturut-turut. Ki Jaka sangat terkejut, sebab tutupnya terbuka, kijang rusanya keluar tak ada henti-hentinya.

Ki Jaka sangat menyesal, mengira bahwa semua binatang telah habis ke luar tabungnya lalu dibuang. Ia berjalan sambil menangis. Setibanya di tepi sawah lalu berhenti. Ia duduk di galangan sawah dengan menangis tersedu-sedu dan menyebut nama Sang Putri.

Sang Ajar Windusana, yang masih bermusyawarah di gunung, teringat akan anaknya, yang sudah tak ada di situ. Hatinya merasa tak tenteram, kalau anaknya mendapat kecelakaan. Segeralah ia berangkat menurutkan jejak kaki anaknya.

Tiba-tiba dilihatnya banyak binatang-binatang hutan berkeliaran. Sang Ajar mengira, bahwa anaknya menemui halangan. Lalu diturutnya, dari mana asal hewan-hewan itu. Kemudian ditemukannya tabung buluh yang dibuang oleh Ki Jaka. Hewan-hewan masih keluar terus, tabung lalu ditutupnya.

Sang Ajar lalu mencari anaknya, ditemukan sedang menangis di tepi ladang. Anaknya dihiburnya, serta diajak berjalan bersama-sama ke Pengging. Tabung buluh diberikan kepada anaknya lagi, disuruh menuangkan isinya di hadapan sang Raja. Sang Ajar terus pulang ke gunung Merbabu.

Ketika Jaka Bandung masuk ke dalam keraton, para dayang-dayang berseru, “Ah si kera datang lagi, membawa seruas bambu tempat kunang-kunang. Pantasnya hanya berisi serangga.” Semua yang mendengarnya gelak tertawa.

Ki Jaka menghadap Sang Raja dengan menyembah. Sang Raja bertanya kepadanya, “Apakah engkau berhasil dengan apa yang kuperintahkan?”

Ki Jaka menjawab,” Manusia tak boleh dihina. Inilah tabung buluh, yang berisi margasatwa. Cara menuangkannya harus di tempat yang luas, bila di sini hamba khawatir akan mendatangkan kerusakan. Hewan kecil-kecilnya banyak.”

Sang Raja tertawa di dalam hatinya, kemudian ia berkata, “Baiklah, kuizinkan permintaanmu.” Sang Raja dengan diiringkan para hulubalang dan punggawa keraton menuju ke alun-alun. Para dayang-dayang juga tak ketinggalan.

Ki Jaka lalu memperlihatkan kepandaiannya. Tutup tabung buluh dibukanya, ditiup dan dibalik, kemudian keluarlah hewan-hewan hutan berturut-turut dan berdesak-desakan. Sang Raja melihatnya dengan keheranan. Para senopati dan punggawa tidak berbeda dengan Sang Raja. Tercengang sekali, melihat hewan-hewan hutan, yang tak terterbilang banyaknya.

Sang Raja telah merasa terkalahkan. Kemudian satu syarat lagi untuk menolak Ki Jaka, sabdanya, “Aku minta dibuatkan tirtaprawita atau sumber air suci seribu banyaknya dalam waktu semalam dan terletak di dalam kota.”

Waktu Ki Jaka mendengar sabda Sang Raja, ia meratap dengan kerasnya dan mengeluh. “Ada-ada saja permintaam Sang Raja. Diberi hati, merenggut jantung. Ya daulat tuanku, izinkanlah patih pulang ke gunung Merbabu.”

Legenda Ki Ageng Sela Tokoh Sakti Sang Penangkap Petir dari Jawa Tengah
Legenda Ki Ageng Sela Tokoh Sakti Sang Penangkap Petir dari Jawa Tengah

Perjuangan Cinta Sang Putri

Tiba di gunung ia bertemu dengan ayahnya. Ia menceritakan kepada ayahnya, apa yang diperintahkan oleh Sang Raja. “Yang satu belum selesai, Sang Raja sudah minta dibuatkan sumber air jernih seribu banyaknya, yang harus selesai dalam semalam.”

Sang Resi berkata menghibur, “Hai Upi, itu gampang saja. Ini ada garam satu wadah. Taburkanlah garam ini di seluruh wilayah Pengging, kumintakan kepada Dewata Agung, supaya menjadi sumber air.”

Ketika Ki Jaka mendengar kata ayahnya, hatinya terhibur dan merasa lega. Ki Jaka lalu bertolak ke Negeri Pengging. Ia berkata di dalam hati, “Kukira yang diminta Sang Raja berada di langit biru, ternyata hanya gampang. Tiba di Negeri Pengging, Sang Surya telah terbenam. Garam lalu ditabur-taburkan di seluruh wilayah Pengging. Harapannya dikabulkan oleh Sang Dewata. Garam yang ditaburkan menjadi sumber air.

Pada keesokan harinya peristiwa ini disampaikan kepada Sang Raja. Beliau sangat keheranan. Kemudian Sang Raja membuat suatu permintaan berat, agar Ki Jaka menemui ajalnya. Diperintahkan kepadanya untuk merendam diri di dalam sumber-sumber air itu. Ia disuruh mandi dengan merendam diri di dalam semua sumber air itu semalam suntuk, tak boleh keluar dari air sebelum matahari terbit.

Ki Jaka berangkat melaksanakan perintah Sang Raja. Ia berhenti di tepi sumber air, di bawah pohon pocung. Sang Raja memerintahkan kepada empat orang punggawa keraton, untuk mengawasi Ki Jaka, yang merendam diri di dalam air semalam suntuk. Jika Ki Jaka berhenti tak merendam diri, ia harus dimasukkan ke dalam penjara serta mendapat hukuman berat dari Sang Raja.

Bagaimana cara Ki Jaka merendam diri? Ia menanggalkan pakaiannya. Baju buntung, ikat pinggang dan sarung wulun semua dilipatnya, lalu terjun ke dalam air, hanya memakai celana dalam. Sebentar menyelam, sebentar berenang, bermain dengan menyirat air, kepalanya yang gundul digosok dengan pasir.

Cara mandinya pun menggelikan. Sebuah tempurung didekatkan pada tempat pemandian, lalu diapung-apungkan di atas air, bila sudah tenggelam dicarinya, kemudian dipakainya sebagai kopiah. Ia lalu menuju ke sumber lain, dengan membawa bungkusan dari bajunya dan dijinjing, membuat para punggawa tergelak tertawa, ia tidak merasa malu, bahkan ia turut tertawa, mencibirkan bibir bawahnya hingga giginya tampak dan sebagai saitan kehujanan tujuh belas hari.

Semalam suntuk ia berpindah-pindah dari sumber ke sumber. Pada keesokan harinya semua sumber air telah direndaminya. Waktu fajar menyingsing, Ki Jaka telah berubah rupanya, menjadi serba bagus, cahayanya bersinar-sinar, hingga membuat samar-samar bagi yang memandangnya, bahkan mengalahkan sinar Sang Candra. Sang Hyang Asmara tak dapat mengembari warna Ki Jaka.

Kisah Cinta Berakhir Bahagia

Disebutkan dalam cerita rakyat Jawa Tengah bahwa para punggawa sangat terkejut melihat Ki Jaka mengenakan pakaian indah. Penghulu kepercayaan Sang Raja segera menghadap Baginda melaporkan peristiwa malam hari itu. Sang Raja sangat bergembira, dan lebih keheranan, lalu memerintahkan supaya Ki Jaka segera diantarkan ke hadapan Sang Raja.

Semuanya serba indah, tingkah lakunya menawan hati. Waktu ia menghadap Sang Raja, jalannya menunduk merendahkan diri, para putri yang sebelumnya mentertawakan, sekarang dirundung asmara, memandang Sang Jaka dengan mulut ternganga hingga mereka tak terasa mulutnya kemasukan lalat.

Sang Raja lalu bertanya, siapakah yang menurunkan dia. Ki Jaka menjawab, bahwa ibunya bernama Dyah Kasmala, putri Raja Brawijaya, tetapi sekarang sudah meninggal, serta ayahnya bernama Ajar Windusana, pertapa di gunung Merbabu.

Sang Raja sangat bersuka cita mendengar keterangan itu. “Hai anak laki-laki, kebetulan sekali, sebenarnya engkau masih kemenakan sendiri sebab Sri Ratu adalah saudara tua ibumu, jadi engkau dengan putriku saudara sepupu, dan kalau diurutkan engkau tergolong muda.”

Ki Jaka lalu diberi nama Windudaka, mengambil sebagian nama ayahnya serta mendapat kemuliaan karena air. Sang Prabu Handayaningrat lalu mengirimkan utusan ke Gunung Merbabu, mengabarkan kepada Sang Wiku Windusana, apa yang terjadi dengan anaknya. Sang Resi diharapkan kedatangannya ke Negeri Pengging.

Sang Windusana ditempatkan di Kepatihan sedangkan di keraton diadakan persiapan untuk pesta pernikahan Ki Jaka dengan putri raja. Tatkala persiapan sudah lengkap semua, sang Windudaka dinikahkati dengan sang Putri, kusuma keraton. Sang Wiku menyaksikan pernikahan anaknya dengan putri Pengging.

Sang Raja dan Sang Resi bersuka-ria bahagia. Apa yang telah diharap-harapkan sekarang terlaksana sudah. Para punggawa bergembira di alun-alun, makan dan minun dengan sepuas-puasnya. Gamelan berbunyi tak henti-hentinya, hingga suasana pesta perkawinan itu agung, dan meriah.

Sang Windudaka telah dipertemukan dengan Sang Putri. Kedua mempelai saling kasih mengasihi, tak dapat berpisah sekejap matapun. Mereka itu seimbang wajahnya. Melihat putrinya berdampingan dengan Sang Putra, Sang Raja sangat bahagia. Siang malam diadakan pesta di keraton. Mempelai berdua juga hadir.

Sang Raja menanyakan kepada Sang Resi, riwayat sang mempelai pria, dengan tersenyum manis, “Adinda Resi, apakah sebabnya, ketika Windudaka berkali-kali datang di negeri ini, adinda tak pernah menyertainya?”

Sang Resi menjawab sambil tertawa, “Ya Sri Paduka Raja, hamba sangat takut. Barangkali seperti bunyi peribahasa: Biawak tak memandang dirinya. Pertama-tama permintaannya tersebut kutolak. Berkali-kali kuperingatkan, jangan selalu minta sesuatu yang tak mungkin tercapai. Tambahan pula hamba sangat malu mengingat rupanya, yang demikian buruknya. Tidak seperti manusia lainnya. Oleh karena itu hamba ragu-ragu di dalam hati, kalau dikatakan orang bahwa hamba tak menerima anugerah dari yang Mahakuasa.”

Ramai suara gelak ketawa, juga sang mempelai laki-laki turut tertawa tetapi ditahan-tahan mengingat sopan santun. Sang mempelai putri tersenyum simpul, agak kemalu-maluan, ditutupnya dengan tangan, menundukkan muka dengan menggigit bibir.

Sang Ajar melanjutkan berkata, “Tatkala hamba mendengar sayembara yang diadakan Sang Raja, anakku kuberi mantrausada, yang bisa mengobati sakit Sang Putri. Waktu Paduka minta tabung berisikan margasatwa, Ki Jaka telah kuperingatkan, supaya membatalkan kehendaknya, tetapi ia mendesak terus, agar kemauannya dipenuhi. Karena beratnya menuruti kehendak si anak betapapun sukarnya seperti peribahasa: Bertongkat dagu, berkaki dada, hamba berusaha dengan sekuat tenaga. Oleh karena karunia Sang Dewa Agung, hamba mendapatkan jalan yang mudah. Sri Paduka, terpaksa hamba membuka rahasia hamba. Sesungguhnya sakit Sang Putri adalah perbuatan hamba sendiri, maka dari itu tak ada usaha yang manjur.”

Sang Raja berkata dengan gelaknya, “Kalau demikian, sebenarnya aku terkena tipu muslihat. Kelihatannya bebal, tetapi banyak akal.” Dengan mengucapkan kata itu Sang Raja menoleh kepada Sang mempelai.

“Untunglah ia masih harus melakukan cobaan di dalam air, andaikata tidak, aku terpaksa memancung hidungmu agar mancung, serta meraut jarimu yang bengkok menjadi lurus ramping. Hai anakku, apakah engkau tidak heran melihat wajahmu di dalam cermin? Engkau dahulu pandai menjadi dukun? Ketika engkau meminang putriku, apakah kaukira, bahwa aku tinggal diam saja?”

Kedua mempelai mendengar sabda Sang Raja tersenyum. Sang Raja lalu bersabda kepada putrinya, “Rara, dalam melayani suamimu, hendaklah kau usahakan agar senang hatinya. Aku khawatir, kalau suamimu putus asa, akan kembali ke wajah yang lama.”

Bertambah keras, suara tertawa para putri, sedang Sang mempelai putri hanya tersenyum simpul tertunduk kepala tanpa menyahut, tetapi di dalam hati menyetujuinya, Sang Resi tergelak-gelak, demikianlah juga Sang Raja tertawa keras-keras.

Setelah tenang kembali Sang Raja bersabda, “Adinda Sang Ajar, betul kalau adinda agak malu melihat warna putramu. Sampai saat ini, jika aku teringat akan rupa Ki Jaka, masih harus tertawa saja. Tatkala ia masuk ke dalam keraton, aku masih merasa ragu-ragu, tetapi akhirnya ia dapat melaksanakan tugasnya, hingga mengherankan orang, yang tak terduga. Waktu telah menjadi kenyataan, Windudaka sesungguhnya bagus warnanya, duka berubah menjadi suka.”

Raja kembali berkata, “Lebih-lebih waktu aku mengetahui, bahwa ia masih keturunan dari Raja Brawijaya. Bertambah kesukaanku lagi, bahwa aku tidak berhadapan dengan orang lain, tetapi masih ada hubungan keluarga, jadi dapat dikatakan: Mengumpulkan tulang berpisah. Ada peribahasa yang berbunyi: Batok bolu berisikan madu, yang berarti orang biasa namun mempunyai kecakapan luar biasa. Sudah layak bagi anak pendeta bijaksana dan cakap dalam ilmu guna sakti. Lebih-lebih ia menjadi menantu Raja besar, ia memiliki warna yang elok, patutlah kiranya menjadi kepala Kalawija.”

Mendengar pujian ini Sang Resi, bertambah girangnya. Sang Resi menundukkan kepala dan sikapnya sangat merendahkan diri, tetapi tak mengurangi kegembiraannya. Demikian juga sang Pengantin, sangat senang hatinya mendengar sabda Sang Raja. Tak terkatakan, betapa sukarianya, sangat meresap di dalam hati para rakyat, hingga menjadi kenang-kenangan yang tak mudah dilupakan.

Setelah habis perhelatan Sang Wiku mohon diri hendak pulang ke gunung Merbabu. Sang Raja memesan dan memberi restu, sabdanya, “Adinda Sang Resi, harap sering meninjau putranda, bukanlah dinda tidak mempunyai tugas kewajiban yang tetap, hingga tidak keberatan sering meninjau ke mari. Kalau tak dijenguknya, terasa berat bagi anak pengantin, maka dari itu baiklah sang Wiku yang mengalah. Andaikata ia harus meninjau ke gunung Merbabu, tentu banyak sekali kesukarannya. Lebih-lebih bagi pengantin putri.”

Sang Wiku tunduk dan mengucapkan, “Sandika,” berarti bersedia. Sang Pendeta diberi hadiah berupa pakaian yang indah, kemudian ia berangkat ke gunung Merbabu. Kedua Pengantin itu senantiasa berkasih-kasihan dengan bahagia.

Amanat cerita rakyat Jawa Tengah ini adalah bahwa siapa saja yang bersungguh-sunguh berusaha maka dia akan bisa mendapatkan hasil yang menyenangkan. Pesan moral yang terkandung dalam kisah legenda Naga Baru Klinting ini adalah bahwa setiap orang memiliki kasih sayang tanpa batas kepada anak-anaknya. Semoga cerita rakyat Jawa Tengah ini bisa menambah wawasan Anda. Sampai jumpa dalam artikel The Jombang Taste selanjutnya.

Daftar Pustaka:

Wiroatmodjo, S. 2008. Naga Baru Kelinting. Jakarta: Balai Pustaka.

One Reply to “Kisah Legenda Kesaktian Jaka Bandung Untuk Mendapatkan Cinta Putri Pandan Kuning dari Kerajaan Pengging”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *