Legenda Brandal Lokajaya dan Asal-usul Sunan Kalijaga Memeluk Agama Islam

legenda cerita rakyat sunda - asal-usul pulau majeti
legenda cerita rakyat sunda – asal-usul pulau majeti

Brandal Lokajaya adalah nama yang tidak asing bagi sebagian besar masyarakat Jawa, khususnya bagi mereka yang tinggal di Jawa Timur. The Jombang Taste kali ini mengajak Anda menyimak kisah legenda Brandal Lokajaya yang tersadar dari perbuatan jahatnya berkat bertemu dengan Sunan Bonang. Brandal Lokajaya kelak dikenal masyarakat sebagai Sunan Kalijaga dan turut serta menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Berikut cerita rakyat Jawa Timur ini selengkapnya.

Diceritakan dalam Babad Tanah Jawa, terdapat seorang yang bertuah bernama Sunan Bonang. Sunan Bonang adalah seorang penganjur Agama Islam di daerah Tuban dan sekitarnya. Karena kesabarannya dan ketinggian budinya banyak sekali pengikut Sunan Bonang. Dalam menyiarkan Agama Islam tidak memerlukan kekerasan, senjata atau hasutan-hasutan. Namun diperlukan kesabaran dan keterbukaan hati.

Sunan Bonang terkenal sebagai seorang pendidik dan ahli seni pula. Sunan Bonang mampu menciptakan tembang Jawa dan alat musik gamelan sebagai media berdakwah. Dalam menyiarkan agama, ia berpindah-pindah serta mengembara ke mana-mana. Diceritakan pula bahwa dalam hutan sekitar Jatiwangi tertutup dan ditakuti orang. Telah banyak pengawal Bupati dan rakyat yang binasa serta barangnya dirampok.

Begitu pula ketika para pengikut Sunan Bonang yang sedang dalam perjalanan pulang. Dalam hutan itu bermukim segerombolan perampok yang kejam dan ditakuti. Pemimpinnya bernama Brandal Lokajaya yang pada waktu kecilnya bernama Raden Mas Said. Raden Mas Said terbiasa mencuri harta orang kaya untuk dibagikan kepada masyarakat miskin. Akan tetapi, Brandal Lokajaya kelak lama-kelamaan mulai menyesali perbuatannya itu.

Pada suatu hari Brandal Lokajaya hendak pulang menemui ibunya yang menderita sakit keras. Terdesak oleh keadaan ibunya yang sedang sakit parah itu, ia ingin merampok lagi. Ia akan membahagiakan ibunya. Maka berlalulah rombongan Sunan Bonang yang akan menghadap Bupati. Seperti biasanya Sunan Bonang selalu membawa oleh-oleh untuk Bupati, sebagai tanda bersahabat antarpernimpin rakyat dengan pernimpin agama.

Melihat banyaknya barang yang dibawa rombongan Sunan Bonang, Lokajaya mulai membayangkan betapa senang hatinya. Timbullah pertarungan dalam jiwanya, antara keinginan bertobat dan keinginan memiliki barang yang bukan haknya itu. Ia sebenarnya ingin berhenti merampok, namun betapa pun keinginan tobat itu muncul masih saja ia tergoda memiliki harta melimpah.

Melihat kegelisahan Lokajaya, Sunan Bonang merasa kasihan. Akan tetapi Lokajaya tetap ingin memiliki barang Sunan Bonang dengan kekerasan. Kemudian Sunan Bonang berkata, “Buat apa harta, sebab harta ini tidak seberapa. Akan tetapi, kalau engkau menginginkan juga, lihatlah itu.”

Sunan Bonang menunjuk sebuah pohon aren dengan tongkatnya. Tiba-tiba pohon itu berubah menjadi emas berkilauan. Lokajaya heran dan gembira sekali sebab harta yang diharapkannya, kini berada di depan matanya. Dengan keserakahannya ia mengambil emas itu.

Akan tetapi, tiba-tiba emas itu kembali menjadi pohon aren. Sekarang hatinya menjadi sedih dan barulah mengetahui siapakah orang yang berada di hadapannya itu. Kemudian Lokajaya merenung menyesali hidupnya. Sunan Bonang dengan perlahan mendekatinya.

“Wahai, Anak muda yang gagah, aku telah dapat membaca isi hatimu. Buat apa harta itu bukan hasil jerih payahmu sendiri.”

Mendengar perkataan itu terhenyak hati Lokajaya seolah bangun dari tidurnya. Lokajaya sekarang menyadari perbuatannya. la berniat akan menghentikan perbuatannya yang tidak baik itu. Sunan Bonang merasa gembira dan bersedia menggembleng Lokajaya, sehingga menjadi muridnya yang baik.

Kalau dulu mengembara naik gunung turun gunung menyelusuri hutan dan sungai untuk merampok, maka sekarang Lokajaya menyelusuri hutan dan sungai untuk menyiarkan agama. Siang malam Lokajaya tidak mengenal Ietih. Karena ketekunannya, Lokajaya kemudian dikenal sebagai salah seorang penganjur agama Islam yang besar dan bergelar Sunan Kalijaga.

Amanat cerita dalam kisah legenda Brandal Lokajaya adalah setiap orang memiliki masa depan yang tidak pernah kita tahu akan menjadi seperti apa. Perbuatan jahat saat ini mungkin langkah awal bagi kita dalam mencapai pencerahan hidup. Cerita rakyat dari Jawa Timur ini juga memuat pesan moral supaya kita selalu melakukan perbuatan baik untuk tujuan yang baik pula. Semoga artikel The Jombang Taste ini bisa menambah wawasan Anda. Sampai jumpa dalam artikel cerita rakyat Nusantara berikutnya.

Daftar Pustaka:

Maryanto, Soemadji. 2008. Pelengkap IPS: Cerita Rakyat Untuk SD. Jakarta: Balai Pustaka.

2 Replies to “Legenda Brandal Lokajaya dan Asal-usul Sunan Kalijaga Memeluk Agama Islam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *