Legenda Empat Orang Pemuda Adu Kepandaian Melawan Musafir dari Burma

Ride with the sun - Creative Doodle art by Roger Duvoisin
Ride with the sun – Creative Doodle art by Roger Duvoisin

Apa kabar kawan blogger Indonesia? The Jombang Taste hadir kembali dengan artikel cerita rakyat Asia. Cerita dongeng Asia merupakan salah satu jenis kisah rakyat yang sering diceritakan orang tua kepada anaknya sebelum tidur. Aktifitas mendongeng bermanfaat melatih daya imajinasi anak sekaligus mendekatkan orang tua dengan buah hati mereka. Cerita rakyat dari Burma (Myanmar) kali ini menceritakan empat orang pemuda yang beradu kepintaran dengan seorang musafir.

Berikut ini kisah selengkapnya…

Di sebuah kampung tinggallah empat orang pemuda. Keempat pemuda itu pandai sekali menceritakan kisah-kisah aneh yang tak masuk akal. Pada suatu hari, mereka melihat seorang musafir berhenti di tempat penginapan di luar kampung.

Musafir itu memakai pakaian bagus. Keempat pemuda tersebut bermaksud mencuri pakaian musafir itu. Mereka menhampirinya dan mulai bercakap-cakap. Tidak lama kemudian salah seorang dari keempat pemuda itu mengusulkan supaya mereka mengadakan suatu pertaruhan. Pertaruhan inilah yang menjadi asal usul cerita rakyat dari Myanmar ini.

“Baiklah, kita masing-masing harus menceritakan sebuah kisah yang paling hebat yang pernah kita alami,” kala pemuda “Siapa yang meragukan kebenaran suatu cerita harus mengabdi kepada orang yang membawakan cerita itu.” Musafir itu setuju.

Keempat pemuda Burma itu tersenyum puas. “Musafir bodoh” pikir mereka. Melihat mukanya, musafir itu tak mungkin dapat bercerita yang bukan-bukan. Sekalipun ia dapat, selama percaya saja apa yang ia ceritakan, selama itu mereka takkan kalah.

Sebaliknya mereka sendiri akan menceritakan kisah-kisah yang begitu tak masuk akal, sehingga musafir itu tidak mungkin akan percaya. la tentu akan membantah, pikir keempat pemuda itu.

Sebetulnya mereka tidak bermaksud menjadikan musafir ini budak. Yang mereka inginkan sebenarnya hanyalah pakaiannya yang bagus itu. Bukankah milik seorang budak dengan sendirinya juga menjadi milik tuannya pula.

Maka mereka pulang dan kembali dengan membawa kepala kampung untuk bertindak sebagai wasit. Pemuda pertama mulai dengan kisahnya. “Sebelum aku dilahirkan, ibuku minta supaya ayah memetik buah kedondong dari sebuah pohon yang berada di depan rumah. Apa jawab ayah? Katanya pohon itu terlalu tinggi. Akhirnya ibu meminta kakak-kakak untuk memetik buah tersebut.”

Pemuda pertama melanjutkan ceritanya. “Tetapi kakak-kakakku pun menjawab seperti ayah. Saya tidak sampai hati untuk mengecewakan ibu. Maka kupanjat pohon tersebut, lalu memetik buahnya pada waktu tak seorang pun melihat. Buah tersebut kuletakkan di atas meja dapur. Tak seorang pun tahu dari mana asal buah itu, tapi ibu merasa senang sekali.”

Ride with the sun - Great doodle art drawing by Roger Duvoisin
Ride with the sun – Great doodle art drawing by Roger Duvoisin

Sesudah bercerita, pemuda pertama itu menoleh ke arah musafir untuk mendengarkan bantahannya. Akan tetapi orang itu hanya mengangguk saja. Begitu pula ketiga pemuda yang lain. Legenda rakyat Burma ini berlangsung makin seru.

Kini giliran pemuda kedua bercerita, “Ketika umurku satu minggu aku berjalan-jalan di hutan. Tampak olehku sebuah pohon kurma penuh dengan buah yang besar dan masak. Karena pada waktu itu aku sangat lapar pohon kurma itu segera kupanjat dan kupetik buahnya dan langsung kumakan. Setelah kenyang aku mengantuk, sehingga aku tidak dapat turun. Jadi aku pulang ke kampung dahulu untuk mengambil tangga. Kemudian tangga itu kusandarkan pada pohon kurma tersebut dan perlahan-lahan aku turun. Untunglah ada tangga, kalau tidak pastilah aku tidak dapat turun.”

Seperti halnya dengan pemuda pertama, pemuda kedua ini menoleh ke arah musafir mengharap ia akan membantah. Tapi orang ini hanya mengangguk saja. Demikian pula dua pemuda lainnya. Cerita klasik dari Myanmar ini masih terus berlanjut dengan seru.

Ketika giliran pemuda ketiga tiba, ceritanya betul-betul tidak masuk akal. “Ketika umurku cukup tua, yaitu satu tahun. Aku melihat seekor kelinci yang lari masuk semak-belukar. Kelinci itu ku kejar. Pada waktu aku akan menangkapnya baru aku tahu bahwa hewan itu bukan kelinci, melainkan seekor harimau. Harimau itu membuka mulutnya lebar-lebar siap menelanku.

Aku berkata kepadanya bahwa perbuatannya itu kurang baik. Bukankah aku mencari kelinci dan bukan harimau? Akan tetapi ia tidak mau mendengarkan perkataanku barang sedikit pun. Bahkan ia buka mulutnya lebih lebar lagi. Apa yang kulakukan kemudian? Aku tersinggung karena harimau itu begitu kasar, lalu aku tangkap dia dan kupatahkan menjadi dua.”

Sekali lagi keempat pemuda itu melihat ke arah musafir mengharapkan ia tentu tidak percaya akan cerita itu. Akan tetapi sekali lagi musafir itu mengangguk setuju. Kini tiba giliran pemuda keempat. Kelanjutan cerita rakyat dari Myanmar ini terus berlangsung.

“Tahun lalu aku naik perahu untuk mencari ikan. Sayang, nasibku kurang baik. Sebab tak seekor ikan pun berhasil kutangkap. Lalu aku bertanya kepada nelayan itu. Ternyata mereka pun tidak berhasil menangkap ikan. Aku bermaksud memeriksa ada apa sebetulnya di dalam sungai itu. Seketika itu juga aku terjun ke dalam air dan menyelam. Dua hari kemudian aku baru sampai di tempat tujuan. Di tempat itu tampak seekor ikan sebesar gunung. Ikan itulah yang menelan semua ikan yang ada di sungai tersebut. Aku marah atas perbuatannya. Dengan sekali tinju ikan itu berhasil kubunuh. Setelah itu aku merasa lapar maka aku makan ikan tersebut di tempat itu juga. Aku nyalakan api, lalu ikan ku kupanggang dan habis kumakan. Setelah tidak ada lagi yang dapat dimakan, aku berenang kembali ke permukaan air dan pulang.”

Keempat pemuda dari Birma itu mengharapkan musafir itu tentu akan tertawa nyaring sambil berceloteh, “Oh, itu tak mungkin terjadi.” Akan tetapi orang itu hanya menganggukkan kepalanya tanda percaya. Sekarang tibalah giliran si musafir bercerita.

“Berapa tahun yang lalu aku mempunyai sebuah ladang,” katanya. “Di ladang itu terdapat sebatang pohon yang tumbuh agak berbeda dari yang lain. Pohon itu bercabang empat. akan tetapi anehnya tidak berdaun, pada setiap ujung dahan pohon itu terdapat sebiji buah. Setelah masak keempat buah itu kupetik. Apa yang keluar dari masing-masing buah itu? Tidak lain seorang pemuda. Karena mereka berasal dari pohonku dengan sendirinya pemuda-pemuda itu menjadi milikku pula menurut hukum. Artinya mereka menjadi budakku.”

Musafir lanjut bercerita, “Mereka kusuruh bekerja di ladang. Tetapi mereka malas, mereka lebih suka duduk bercerita daripada bekerja. Beberapa minggu kemudian mereka lari. Semenjak itu aku mengembara ke seluruh negara untuk mencari mereka. Dan aku bersyukur bahwa pada hari aku berhasil menemukan mereka.”

“Hai, anak-anak muda,” katanya kemudian. “Kalian tahu benar bahwa kalian adalah budakku yang melarikan diri. Mari ikut pulang dan jangan mencoba melawan.” Keempat anak muda itu tidak berkata sepatah pun. Mereka tidak dapat menyangkal dan sebaliknya mereka pun tidak dapat menyetujui.

Mereka malu. Bukankah mereka dalam keadaan serba salah? Jika mereka mengakui kebenaran cerita itu, ini berarti suatu pengakuan bahwa mereka benar-benar budak musafir tersebut. Sebaliknya jika mereka menyangkal, mereka akan kalah dalam pertaruhan dan mereka akan menjadi budak musafir. Mereka tidak berani membuka mulut.

Akhirnya kepala kampung bertanya apakah mereka percaya atau tidak kepada cerita itu. Akan tetapi tak sepatah perkataan pun keluar dari mulut keempat pemuda itu. Kepala kampung mengulangi pertanyaannya. Dan keempat pemuda itu tetap tidak mau menjawab. Mereka membisu saja! Tidak ada jalan lain. Akhirnya kepala kampung memutuskan, si musafir sebagai pemenang pertandingan itu. “Sekarang kalian menjadi budakku. Maka pakaian kalian pun menjadi milikku pula. Tanggalkan pakaian itu. Sesudah itu kalian kubebaskan,” kata musafir.

Keempat pemuda itu lalu menanggalkan pakaiannya masing-masing, dan menyerahkannya kepada si Musafir. Si Musafir memasukkan pakaian keempat pemuda ke dalam tasnya lalu pergi. Tinggallah keempat pemuda itu di rumah penginapan dalam keadaan telanjang bulat.

Amanat cerita rakyat Myanmar ini adalah agar kita tidak berperilaku sombong kepada orang lain. Perbuatan angkuh, congkak dan sombong hanya akan merugikan diri sendiri. Selain itu, cerita legenda rakyat Birma ini juga mengajarkan agar kita tidak merasa diri sebagai orang paling pintar. Ingatlah bahwa di atas langit masih ada langit. Meskipun kita sudah pandai, jangan sampai menggunakan kepandaian kita untuk mencelakai orang lain. Semoga cerita rakyat Myanmar ini bisa menambah wawasan Anda. Sampai jumpa di artikel The Jombang Taste berikutnya.

Daftar Pustaka:

Courlander, Harold. 1955. Ride With The Sun. New York: McGraw-Hill Book Company.

5 Replies to “Legenda Empat Orang Pemuda Adu Kepandaian Melawan Musafir dari Burma”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *