Legenda Putri Hijau, Cerita Rakyat dari Kerajaan Deli Sumatera Utara

Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi
Gambar Ilustrasi Cerita Rakyat Nusantara Jawa Barat Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Cerita rakyat Nusantara menginspirasi para kaum bijak untuk mengambil amanat cerita tersebut. Bersama artikel blog The Jombang Taste kali ini Anda kami ajak untuk mengambil pesan moral legenda Putri Hijau dari Sumatera Utara. Kerajaan Deli di Sumatera Utara pada zaman dahulu diperintah oleh seorang raja bernama Suleman. Raja Suleman mempunyai tiga orang anak.

Anak pertama Raja Suleman adalah laki-laki dan bernama Mambang Yazid. Anak keduanya merupakan seorang perempuan disebut Putri Hijau. Sedangkan anak ketiganya adalah laki-laki lagi yang bernama Mambang Khayali. Putri Hijau terkenal sangat cantik. Berita mengenai kecantikannya tersebar ke seluruh penjuru. Cerita rakyat dari Sumatera Utara ini menyebutkan konon jika Putri Hijau mandi, bayangannya memantul ke segala arah, sehingga langit berubah warna menjadi hijau, indah sekali.

Raja Suleman dan permaisuri sangat mencintai Putri Hijau. Demikian pula, Mambang Yazid dan Mambang Khayali amat mengasihi saudaranya itu. Rakyat Kerajaan Deli juga sayang sekali kepada Putri Hijau. Karena kecantikannya itu, Putri Hijau dimanjakan oleh setiap orang. la tidak dibiarkan melakukan pekerjaan apa pun. Apa yang diminta, selalu dipenuhi orang. Hal ini terus berlangsung setelah Raja Suleman wafat, yang digantikan oleh Mambang Yazid.

Cerita Rakyat Deli

Pada saat itu, tak jauh dari tempat Kerajaan Deli terdapat Kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Ali Mukhayatsyah. Kerajaan Aceh terletak di sebelah utara Kerajaan Deli. Legenda rakyat Deli menyebutkan bahwa pada suatu hari, ketika Sultan Ali Mukhayatsyah sedang beristirahat di istananya, ia melihat di sebelah selatan langit berwarna kehijau-hijauan. Baginda amat terpesona menyaksikan cahaya hijaucemerlang yang indah sekali.

Baginda Raja Aceh bertanya kepada para pengawalnya, “Cahaya apakah yang terlihat di langit selatan itu? Belum pernah aku menyaksikan cahaya seindah itu.”

Para pengawal tidak ada yang dapat menjawab. Kemudian baginda memerintahkan memanggil para menteri. Mereka juga tidak ada yang mengetahui mengapa langit di sebelah selatan berwarna hijau. Raja juga memanggil para penasihat kerajaan, para cendekiawan, dan rohaniwan untuk menjawab rasa penasaran sang Raja Aceh.

Tahukah sobat pembaca The Jombang Taste bahwa seorang pun tidak ada yang dapat menjawab teka-teki itu. Semua terdiam karena keanehan yang terjadi itu. Akhirnya baginda memerintahkan serombongan cendekiawan untuk menyelidiki hal yang aneh itu. Cerita rakyat Deli mengkisahkan bahwa  para prajurit bertekad melaksanakan perintah Raja Aceh dengan baik.

Para prajurit menjelajahi setiap negeri Deli untuk mencari tahu cahaya hijau di langit. Beberapa minggu kemudian, rombongan itu kembali. Kepala rombongan itu melapor, “Warna langit yang indah itu disebabkan oleh seorang putri.”

“Engkau jangan bergurau,” kata baginda. Raja Aceh tidak langsung percaya ucapan prajuritnya.

“Hamba berkata sebenarnya,” sahut kepala rombongan itu dengan nada yakin.

“Namanya Putri Hijau. Putri Kerajaan Deli. Ia cantik sekali. Kalau sedang mandi, bayangannya akan menyebabkan langit berwarna hijau,” demikian kepala prajurit itu menjelaskan kepada Raja Aceh dengan bersemangat.

Mendengar laporan itu, Sultan Ali Mukhayatsyah menjadi gelisah. Cerita legenda dari Provinsi Sumatera Utara berlanjut lebih seru. Tiba-tiba Sultan Ali ingin memperistri Putri Hijau untuk dijadikan permaisurinya. Sultan dari Aceh itu sedang jatuh cinta kepada putri cantik yang belum pernah ditemuinya. Sultan dari Aceh ingin segera menjadikan Putri Hijau sebagai istrinya. Ketika keinginan itu dikatakan kepada para menterinya, semua  menyatakan setuju.

Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said
Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said

Legenda Kerajaan Deli

Kisah legenda dari Tanah Deli berlanjut. Beberapa hari kemudian Baginda Sultan Aceh mengirim utusan ke Kerajaan Deli untuk melamar Putri Hijau. Utusan itu dibekali dengan hadiah berupa perhiasan emas, intan, dan permata. Utusan itu diberi kuasa penuh untuk menyerahkan beberapa gerobak hadiah. Di samping itu, ia juga diberi wewenang untuk bertindak seandainya lamaran itu ditolak. Karena itu, utusan itu disertai oleh pasukan-pasukan tentara yang bersenjata lengkap.

Raja Deli mendengar permintaan tersebut dengan terkejut. Berdasarkan berbagai pertimbangan para penasihat Raja Mambang Yazid, lamaran Sultan Ali Mukhayatsyah itu ditolak. Utusan itu menjadi marah. Maka ia melaksanakan ancamannya. Terjadilah peperangan yang amat dahsyat. Pasukan dari Kerajaan Aceh ternyata tidak berhasil menaklukkan Kerajaan Deli. Ibukota Deli dikelilingi oleh pagar bambu berduri. Karena itu, pasukan Aceh mundur dan mengirim penghubung untuk meminta bala bantuan dari sultan. Cerita rakyat dari Sumatera Utara terus berlanjut.

Sultan Ali Mukhayatsyah meminta nasihat kepada para pembantunya. Sultan Ali mulai mengatur siasat cara memenangkan perang melawan Kerajaan Deli. Maka dikirimlah pasukan bantuan dengan membawa lima belas kereta penuh berisi uang emas. Ketika sampai di batas kota Deli Tua, tentara Aceh menyebar uang emas ke pagar bambu berduri itu.

Melihat begitu banyak uang emas yang gemerlapan, pasukan Deli berebutan. Semua ingin mendapat uang emas sebanyak-banyaknya. Mereka mulai menebangi pokok-pokok bambu berduri untuk memperoleh lebih banyak uang emas. Maka terbukalah benteng pertahanan pasukan Deli. Siasat perang Sultan Ali mulai membuahkan hasil. Cerita rakyat Deli ini mengkisahkan betapa cerdiknya Sultan Ali menguasai lawan.

Pasukan Aceh menghambur masuk ke kota Deli Tua melalui celah-celah pagar bambu berduri yang terbuka. Di samping itu, pasukan Aceh juga menaburkan uang emas beberapa puluh langkah di depan meriam-meriam mereka. Ketika pasukan Deli berbondong-bondong hendak mengambil uang emas itu, pasukan Aceh menembakkan meriamnya. Banyak sekali korban yang jatuh di pihak Deli. Selain ada prajurit Deli yang gugur, banyak pula tentara Kerajaan Deli yang ditawan.

Ketika pasukan Aceh sudah mendekati istana Deli, pertempuran berlangsung tambah hebat. Para pengawal istana memberikan perlawanan dengan gagah berani. Meriam berdentuman dari kedua belah pihak. Di beberapa tempat terjadi pertempuran satu lawan satu. Selain tentara, rakyat juga turut mempertahankan kota dan istana Deli.

Kisah legenda dari Kerajaan Deli menyebutkan bahwa mereka meninggalkan rumah masing-masing untuk bersama-sama melawan musuh. Ini semua mereka lakukan karena mereka mencintai Deli, mencintai tanah kelahirannya. Mereka tidak rela apabila tanah tumpah darahnya dihancurkan oleh musuh. Mereka rela mati untuk kejayaan negerinya.

Kisah Rakyat Deli

Berhari-hari istana Deli dikepung oleh pasukan Kesultanan Aceh, tetapi Kerajaan Deli tetap dapat bertahan. Sultan Mambang Yazid berunding dengan saudara-saudaranya dan dengan para menterinya. Mereka harus menemukan jalan keluar agar dapat memberikan perlawanan kepada musuh. Untuk mempertahankan Kerajaan Deli, mereka bersedia melakukan tugas apa pun.

Mambang Khayali memiliki kesaktian bisa mengubah tubuhnya menjadi wujud apapun. Maka ia menjelma menjadi sebuah meriam. Meriam ini lalu menembaki pasukan Aceh. Meriam penjelmaan Mambang Khayali sungguh tangguh. Meriam ini menembaki musuh dengan tepat sasaran. Menghadapi meriam ini, pasukan Aceh tercerai-berai. Banyak pula tentara Aceh yang menjadi korban.

Akan tetapi, lama-kelamaan meriam penjelmaan Mambang Khayali ini menjadi panas. Ia hasu dan meminta minum. Badannya terlalu panas sebab terus-menerus menembaki musuh. Putri Hijau mula-mula tidak mau memberi minum. Meriam itu terus merengek- rengek dengan suara yang memilukan.

“Tolong, Kak,” rengek meriam itu kepada Putri Hijau. “Aku amat haus. Tidakkah Kakak kasihan kepadaku? Aku sudah tidak tahan lagi!” Karena iba, Putri Hijau menuangkan seember air kepada meriam itu.

Tak ada yang menduga bahwa pemberian seember air akan menghancurkan meriam itu. Dengan mengeluarkan suara menggelegar, meriam itu terbelah menjadi dua. Bagian kepalanya terpental sampai ke Nalu, sedang badannya tetap di Deli Tua.

Sultan Mambang Yazid merasa bahwa tidak mungkin ia bertahan lebih lama lagi. Pasukan Kerajaan Deli sudah kalah telak. Maka sesuai kesepakatan mereka ia menjelma menjadi seekor naga, dan terjun ke laut. Putri Hijau kini tinggal seorang diri. Kedua orang saudaranya telah menjadi korban.

Akhirnya Putri Hijau ditawan oleh pasukan Aceh dan akan dibawa menghadap Sultan Ali Mukhayatsyah. Putri Hijau minta agar dibuatkan sebuah peti kaca. Dalam pelayaran menuju Aceh, ia duduk di dalam kaca itu. Ini sesuai dengan pesan kakaknya. Kapal yang membawa Putri Hijau itu berlabuh di Jambu Air Langsa. Putri Hijau keluar dari peti kaca, kemudian membakar kemenyan untuk meminta pertolongan kakaknya.

Di dalam hati ia menyesali nasibnya. Kecantikannya yang sangat dikagumi orang itu ternyata telah menyebabkan kehancuran negerinya. Tahukah sobat pembaca The Jombang Taste bahwa Putri Hijau berharap kelak di kemudian hari jangan ada gadis Deli yang terlalu cantik. Jadi tak usah terjadi lagi bahwa kecantikan menjadi malapetaka bagi bangsanya. Kisah legenda dari Tanah Deli ini berlanjut.

Setelah membakar kemenyan dan membaca doa, Putri Hijau masuk lagi ke dalam peti kaca. Tiba-tiba udara menjadi gelap gulita. Guruh terdengar bersahut-sahutan. Kemudian terlihat ada seekor naga yang muncul menyambar peti kaca dan membawanya menyelam ke laut. Gelombang laut yang sangat besar menghantam kapal-kapal Aceh sehingga tenggelam. Hampir semua tentara Aceh habis tenggelam.

Beberapa orang yang selamat langsung lari menghadap Sultan Ali Mukhayatsyah. Mendengar berita hancurnya pasukan Aceh, Sultan Ali Mukhayatsyah sangat sedih. Ia memang telah menang perang. Kerajaan Deli dapat dikuasai. Bahkan Putri Hijau dapat diboyong. Akan tetapi, ia gagal memperistri Putri Hijau. Padahal korban telah begitu banyak berjatuhan.

Ia juga menyesal, karena tergiur oleh kecantikan Putri Hijau. Ia telah menyerang Kerajaan Deli. Akibat perang itu sungguh mengerikan. Banyak istri menjadi janda. Banyak anak menjadi yatim. Setelah begitu banyak jatuh korban, maksudnya mendapatkan permaisuri cantik juga gagal.

Ia menyadari bahwa seharusnya ia menghormati kerajaan lain, bahkan kalau dapat menjalin kerja sama. Dengan demikian, perdamaian akan terwujud, dan kesejahteraan rakyat di kedua negeri dapat terpelihara baik. Sayang, sesal kemudian tak berguna.

Legenda Pulau Majeti dan Prabu Selang Kuning
Legenda Pulau Majeti dan Prabu Selang Kuning

Pesan Moral

Pesan moral yang terkandung dalam cerita rakyat Putri Hijau adalah peperangan tidak akan menyelesaikan masalah. Raja Aceh memberi wewenang kepada utusannya untuk menyerang Kerajaan Deli apabila lamarannya ditolak. Hal ini merupakan sikap pemerasan terhadap orang lain dan termasuk perbuatan tercela. Jangan sampai sobat The Jombang Taste menjadi buta mata karena memperjuangkan cinta.

Amanat cerita rakyat Putri Hijau yang kedua adalah pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan banga ketika negara dalam keadaan bahaya. Rakyat Deli, meninggalkan urusan masing-masing, dan bersama-sama mempertahankan kota dan istana. Hal ini memberi contoh mulia karena mereka menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Rakyat Deli mencintai tanah kelahirannya dan patut ditiru siapapun.

Selanjutnya, pesan moral ketiga cerita legenda Putri Hijau dari Kerajaan Deli adalah pentingnya bermusyawarah dalam menyelesaikan setiap masalah. Sultan Mambang Yazid berunding dengan keluarga dan para menterinya, dan sepakat untuk mempertahankan Deli, masing-masing bersedia untuk melakukan tugas apa saja. Tindakan ini patut ditiru karena musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

Sultan Ali Mukhayatsyah sebenarnya ingin hidup rukun dengan negeri-negeri tetangga. Ini sesuai dengan karakter bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain. Demikian kisah legenda Putri Hijau dari Sumatera Utara penulis bagikan untuk pembaca blog The Jombang Taste. Semoga cerita rakyat Sumatera Utara ini bisa menambah wawasan Anda.

Daftar Pustaka:

Tim Penyusun Cerita Rakyat Laboratorium Pancasila IKIP Malang. 2008. Cerita Rakyat Dalam Kaitan Butir-butir Pancasila. Malang: Balai Pustaka.

3 Replies to “Legenda Putri Hijau, Cerita Rakyat dari Kerajaan Deli Sumatera Utara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *