Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 1)

Legenda Pulau Majeti dan Prabu Selang Kuning
Legenda Pulau Majeti dan Prabu Selang Kuning

Pada jaman dahulu, di pulau Sumatera ada sebuah kerajaan yang bernama Syahiful Dasa. Negeri itu sangat tersohor, aman dan sentausa. Rakyatnya hidup dengan tenteram dan sejahtera. Raja pun memerintah secara adil dan bijaksana. Di dalam negeri itu banyak sekali alim ulama dan cerdik cendekiawan. Tata kehidupan dalam negeri itu sangat mempesonakan negara-negara tetangganya.

Usia Raja sudah lanjut. Akhirnya ia meninggal dunia. Sebagai penggantinya, anak satu-satunya yang bergelar Arief Imam menjadi raja. Raja Arif Imam mempunyai tiga orang permaisuri. Tetapi tidak seorang permaisuri pun mempunyai anak. Berbagai usaha telah dijalankan. Tetapi tidak juga bisa berhasil. Raja Arief Imam sangat sedih memikirkan hal itu. Tiap hari malam ia hanya merenung. Merenung siapa sebagai penggantinya kalau kelak meninggal dunia.

Pada saat masih dalam kejayaan ayahnya, Sri Baginda memerintah dengan arif dan bijaksana. Dengan demikian seluruh rakyat pada saat itu menjadi patuh dan cinta pada raja. Semua pejabat kerajaan, dari Patih hingga pelayannya, semuanya melakukan tugas dengan baik dan rajin. Pada suatu hari Sri Baginda mengadakan musyawarah besar di Balai Besar.

Raja duduk di atas kursi dan dihadap oleh segenap pejabat teras Istana. Kemudian Sri Baginda bertitah: “Hai para Ulama. Saya akan membicarakan kesulitan yang kuhadapi. Dapatkah kalian menolong saya?” Sementara itu para hadirin dalam sidang menunggu. Mereka pada umumnya belum mengetahui apa yang dimaksud Sri Baginda.

Kemudian salah seorang dari Alim Ulama memberanikan diri bertanya. Sambil menyembah, ulama itu berkata: “Ampun tuanku. Hamba akan selalu berusaha membantu Sri Baginda.”

Kemudian Ulama yang bernama Hasan Safei itu kembali diam. Suasana sidang nampak hening. Para Ulama masih ragu-ragu semuanya. Mereka ragu-ragu apakah bisa menolong raja atau tidak. “Maha Patih, segala usaha untuk mendapatkan keturunan sudah kulakukan. Tetapi bagaimana kesudahannya? Semuanya sia-sia dan tiada berhasil,” sabda raja.

“Padahal Maha Patih, makin hari umurku bertambah dan kematianku makin mendekat. Kalau aku belum berputera, lalu siapakah yang akan menggantiku kalau sewaktu-waktu aku meninggal? Hal inilah Maha Patih yang merisaukan hatiku.”

“Paduka tuanku. Maha Patih mohon agar persoalan ini bisa ikut dipecahkan para Alim Ulama. Mereka itulah yang mungkin bisa menolong Sri Baginda,” sahut patih Sakris.

“Coba, sekarang aku minta para ulama memecahkan persoalan ini!” seru Sri Baginda dengan putus asa. Belum ada Alim Ulama yang bisa menemukan cara untuk mengatasi persoalan raja itu. Mereka bertindak secara hati-hati dalam hal ini. Pada umumnya para Alim Ulama takut, menyinggung perasaan Sri Baginda yang sedang risau itu.

“Ampun tuanku. Berilah hamba waktu sedikit untuk berunding dengan teman-teman,” sembah Ulama Hasan Safei. Pada umumnya mereka takut memberi saran pada raja. Kemudian para Alim Ulama itu berkumpul ke aula pertemuan untuk berunding. Beberapa saat kemudian mereka sudah mendapatkan kata sepakat untuk menyampaikan pandangan kepada Sri Baginda.

“Ampun tuanku,” sembah Ulama Hasan. “Hamba sebagai wakil para Ulama mempersembahkan saran bagi Sri Baginda. Tetapi apabila tidak berkenan di hati, Sri paduka bisa menolaknya.”

“Katakanlah segala saranmu bapa Ulama. Semoga Allah memberkati,” sabda raja Arief Imam.

“Demikian Sri Baginda tuanku,” sembah Ulama Hasan. “Apakah sekiranya tidak lebih baik kalau paduka mengambil putra angkat saja?”

“Putra angkat?” sahut raja tercengang.

“Demikianlah paduka tuanku”

“Lalu …… siapakah yang pantas kuambil?” tanya raja ingin tahu. Para Ulama kemudian saling berpandangan satu sama lain.

“Hai para Ulama. Suatu saran yang bagus pula bagi saya. Tetapi atas saranmu itu, kalian harus men-carikan calon anakku,” titah Sri Baginda.

“Ampun tuanku. Hamba juga sanggup. Tetapi paduka sudi memberi waktu barang satu bulan untuk maksud itu,” sembah Ulama Hasan Safei.

“Bapa Hasan, semua itu sudah menjadi saranmu. Karena itu aku hanya berharap agar hari ini mulai berusaha sekuat tenaga. Apabila dalam tempo satu bulan belum membawa bukti, maka kamu akan di-hukum.” Ujar Sang Raja

“Daulat tuanku. Titah Sri Baginda akan hamba laksanakan hari ini pula. Semoga Tuhan tetap memberi jalan,” sembah Ulama Hasan. la meninggalkan tempat musyawarah.

Sementara itu musyawarah pun telah berakhir. Para Ulama dan pejabat Istana meninggalkan Balai Agung, menuju ke rumah masing-masing. Dari tempat musyawarah Ulama Hasan Safei langsung pulang. la bermaksud untuk berpamitan pada isteri dan anak-anaknya. Sesampai di rumah, ia tidak sempat makan dan minum. Tugas itu dianggapnya berat.

Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said
Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said

Ia langsung menemui isterinya yang kebetulan duduk di ruang tengah bersama anaknya. Setelah Ulama Hasan duduk, lalu berkata: “Bu, aku akan mengemban tugas negara. Ijinkan aku berkelana selama satu bulan untuk mencari seorang putera angkat bagi Sri Baginda Arief Imam. Doakan saja semoga aku dilindungi Tuhan.”

“Ke mana pak Hasan pergi?”

“Aku akan mendatangi seorang pertapa di sebuah bukit di seberang sungai itu!” kata Hasan sambil menunjuk ke suatu tempat.

“Kalau begitu, baiklah, Pak! Tugas itu luhur. Semoga saja usahamu berhasil dengan baik,” sahut isterinya.

“Baik, Bu. Tolonglah siapkan bekal secukupnya. Besok pagi aku akan berangkat sehabis subuh,” ujar Ulama Hasan. Kemudian isterinya mempersiapkan bekal yang perlu dibawa suaminya.

Bersambung ke: Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 2)

Referensi: Kasim, Umi dan Mar. 1977. Raja Arief Imam. Jakarta: CV. Kurnia Esa.

One Reply to “Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *