Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 5)

Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said
Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said

Baca cerita sebelumnya: Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 4)

Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya rombongan ulama Hasan Safei sampai di Istana Kerajaan Syahiful Dasa. Komala Haji itulah yang akan diangkat menjadi putra Mahkota Sri Baginda. Sungguh, sangat mengesankan usaha ulama Hasan Safei. Begitu ia memasuki pintu gerbang Istana, ia telah dijemput oleh para petugas Istana.

Kemudian bersama-sama rombongan, Ulama Hasan langsung menghadap Sri Baginda. “Paduka tuanku Sri Baginda. Hamba telah menjalankan tugas dengan baik. Kini hamba akan mempersembahkan hasil yang telah hamba peroleh,” sembah ulama Hasan.

Ia mengangkat kedua tangannya untuk menyembah. Di sampingnya duduk seorang anak kecil dan seorang pengasuh. “Lho, itu siapa?”

“Duli Paduka Tuan. Anak kecil inilah yang akan menjadi putra Mahkota. Sedang orang perempuan ini adalah pengasuhnya,” sahut ulama Hasan.

Sungguh gembira Sri Baginda melihat itu. Ia bersih, molek dan anak kecil itu periang. Oleh karenanya Sri Baginda menjadi terpesona. “Siapa namanya?” tanya Sri Baginda ingin tahu.

“Sri Baginda, anak ini bernama Komala Haji. Ia sudah tak berayah dan ibu. Dia berasal dari bukit Anai,” jawab ulama Hasan.

“Karena itu, kini si anak kecil beserta pengasuhnya ini, hamba persembahkan di hadapan Sri Paduka.”

“Baik ulama Hasan,” sahut Sri Baginda.

“Hai, para juru bicara! Umumkan di seluruh negeri kini raja mengangkat putra Mahkota dan diberi nama putra mahkota KOMALA SHAKTI”.

“Duli paduka, akan hamba jalankan semua titah Sri Baginda,” sahut semua juru bicara Istana hampir bersamaan.

Oleh raja, anak yang bernama Komala Haji itu dirubah menjadi Komala Shakti. Dengan demikian kerajaan Syahiful Dasa kini mempunyai seorang putra Mahkota. Dia akan menggantikan raja Arief Imam. Beberapa waktu telah berlalu Komala Shakti telah menjadi dewasa dan sudah saatnya untuk mempersunting seorang gadis. Sri Baginda sangat menaruh kasih sayang pada anaknya.

Pada suatu saat Komala Shakti diajak ayahnya berunding. “Hai, anak prabu. Telah lama kau hidup di dalam Istana. Telah banyak juga yang kau pelajari. Sekarang tinggal satu hal yang harus kau jalankan,” sabda Sri Baginda.

Mendengar titah itu, Komala Shakti minta penjelasan dan berkata: “Ayah prabu. Belumlah jelas apa yang telah dititahkan terhadap ananda.”

“Begini Komala Shakti. Kau belum mempunyai seorang isteri dan harus beristeri. Karena itu pilihlah satu di antara putri para bangsawan dan pembesar dalam Istana ini!”

Mendengar sabda ayahnya itu, Komala Shakti hanya diam saja. Kemudian ia berkata: “Ampun, ayah prabu. Ananda tidak akan mengambil calon isteri dari kerabat Istana atau putri para pejabat Istana.”

“Lho, mengapa begitu?”

“Ampun, ayah prabu. Menurut hemat ananda, tiada seorang gadis pun di negeri ini yang betul-betul perempuan”.

“Kenapa demikian, Komala?”

“Benar, ayah prabu. Semuanya tidak cocok dengan kehendak anak prabu,” ujar Komala Shakti.

“Apa sebabnya?” tanya Sri Baginda. Kata-katanya sangat mengherankan raja.

“Oleh karena itu ijinkanlah ananda mencari sendiri seorang isteri yang benar-benar perempuan.” Semua yang hadir heran dan terkejut mendengar kata-kata Komala Shakti.

Demikian pula ulama Hasan. Ia takut bila raja murka. Tapi ulama Hasan ingat akan kata-kata Eyang Said. Mendiang ayah Komala itu jujur dan bijaksana. Tetapi dia sering melakukan hal-hal yang aneh.

Dalam hati, ulama Hasan berkata: “Mungkinkah sifat Komala Shakti yang aneh itu merupakan warisan dari mendiang ayahnya?”

Selama beberapa saat Sri Baginda termenung. Ia memikirkan kata-kata putra Mahkota yang menggelikan itu. Akhirnya Sri Baginda terbuka hatinya dan mendapatkan akal baru untuk menghadapi Komala Shakti.

“Hai, Komala Shakti. Kalau di negeri ini tidak ada yang betul-betul wanita, maka ayah prabu ingin melihat sendiri seorang wanita yang betul-betul wanita. Pergilah Komala Shakti hari ini pula untuk mencari wanita itu. Kamu harus bisa membawa calon isterimu yang betul-betul wanita.”

“Baiklah, ayah prabu. Titah ayahanda akan hamba laksanakan,” sahut Komala Shakti sambil me-nyembah.

“Tetapi Komala, apabila kamu kembali tanpa membawa hasil apa-apa, maka kau akan kuhukum menurut ketentuan yang berlaku.”

“Baik, ayah prabu. Apabila semuanya tidak terbukti, maka semua hukuman akan hamba terima dengan senang hati. Oleh karena itu ananda mohon pamit hari ini puIa,” sahut Komala Shakti.

Kemudian ia mengundurkan diri dari tempat duduk, lalu berangkatlah Komala Shakti untuk mencari calon isterinya. Perbekalan untuk putra Mahkota, telah disiapkan oleh para pembantu raja.

“Komala, apa yang kau perlukan dalam perjalanan? Kalau uang, mintalah pada bendahara Istana. Kalau berupa barang, mintalah pada bagian perbekalan Istana. Mintalah apa saja yang kau perlukan secukupnya,” titah Sri Baginda pada Komala.

“Ampun ayahanda. Bukanlah berupa uang. Bukan Iagi berupa barang-barang yang mewah bekal ananda. Tetapi ananda hanya mohon diberi bekal yang berupa: rempah-rempah, beras, kacang, gula ikan teri dan nyiur yang sudah diparut,” kata Komala, Shakti.

Orang yang mendengar perrnintaan KomaIa Shakti menjadi heran. Sementara orang menganggap bahwa dia sinting atau gila. Tetapi Sri Baginda tidak demikian halnya. Ia hanya mengikuti apa saja yang dikehendaki oleh Komala Shakti.

“Baiklah, Komala. Segala sesuatunya supaya disediakan. Tetapi kau hanya kuberi waktu satu tahun untuk mencari calon isterimul” titah Baginda. Semua yang diminta Komala Shakti dipenuhi. Akhirnya ia pergi meninggalkan Istana Syahiful Dasa.

Bersambung ke: Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 6)

Referensi: Kasim, Umi dan Mar. 1977. Raja Arief Imam. Jakarta: CV. Kurnia Esa.

One Reply to “Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 5)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *