Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 6)

Cerita Hikayat Raja Arief Imam - Gambar Doodle karya Hidayat Said
Cerita Hikayat Raja Arief Imam – Gambar Doodle karya Hidayat Said

Baca cerita sebelumnya: Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 5)

Pada hari itu pula, berangkatlah Komala Shakti mencari calon isteri. Segala perlengkapan yang telah disiapkan dibawanya. Sebelum didukung, semua barang itu dicampur menjadi satu dan dimasukkan ke dalam sebuah kantong. Dengan demikian, beras, kacang, rempah-rempah, gula, ikan teri dan kelapa parutan telah tercampur menjadi satu menjadi ramuan yang aneh.

Telah agak lama Komala meninggalkan lstana. Ia masuk hutan ke luar hutan dengan melalui jalan yang sulit. Banyak rintangan di jalan yang dilaluinya. Tetapi dengan mudah semuanya itu dilewati. Tidak antara lama malam haripun telah tiba.

Dengan mempercepat langkah, Komala Shakti mencari tempat untuk bermalam. Kemudian dijumpai sebuah rumah yang bentuknya sederhana. Ia akan bermalam di tempat keluarga yang sederhana itu. Maka dihampirinya rumah itu.

Komala Shakti berkata: “Maaf, Bu. Bolehkah saya bermalam di sini?”

Seorang ibu heran memandang Komala. Dilihatnya orang yang datang itu. Ia segera bertanya: “Oh,” sambung ibu rumah tidak diteruskan.

“Dari mana asal anak? Lagipula, siapa nama anak?”

“Saya, Bu? Saya dari jauh dan akan melakukan perjalanan jauh pula. Oleh karena itu perkenankanlah saya bermalam di rumah ibu barang semalam.”

“Baiklah, nak. Jangankan semalam, beberapa malam pun aku tidak keberatan,” sahut ibu itu. Kemudian setelah mendengar jawaban itu Komala Shakti masuk ke dalam rumah.

Diletakkannya bekal yang dibawanya di atas balai-balai. Tidak lama kemudian ia mandi. Tidak lupa Komala Shakti mengambil air wudhu untuk bersembahyang maghrib. Selesai sembahyang, ia mengeluarkan isi kantongnya yang berupa barang ramuan tadi. Lalu diberikannya sebagian kepada yang punya rumah.

“Bu. tolonglah saya. Tanakkanlah nasi untukku. Ini saya membawa bekal dan terimalah dengan baik,” ujar Komala Shakti dengan sopan.

Suami ibu rumah bernama Bukhori. la menghampiri Komala Shakti yang duduk di atas balai. “Hai, ada tamu?” tanyanya. “Siapa namamu, nak?”

“Ya, Pak. Nama saya Komala Shakti. Saya akan bermalam di sini karena kemalaman,” sahutnya sopan.

Melihat pemuda yang tampan dan sopan itu seketika tuan rumah ada maksud. Ada maksud akan memungut jejaka tadi sebagai menantunya. la mempunyai seorang gadis yang bernama Siti Komariyah.

“Dari mana asal anak? Dan, mau ke manakah anak pergi?” tanya Pak Bukhori ingin tahu.

“Saya, Pak. Saya berasal dari negeri Syahiful Dasa. Saya akan pergi jauh,” sahut Komala Shakti.

 Sementara itu kantong yang diterima dari Komala Shakti dibukanya. Setelah diketahui bahwa isi kantong itu merupakan campuran dari bermacam barang, maka terpaksa kantong itu dikembalikan dalam keadaan utuh.

“Barangmu sudah kuterima, nak. Tetapi ibu masih mempunyai persediaan banyak beras. Maka barang dalam kantong ini ku kembalikan saja,” ujar Bu Bukhori sopan.

“Kenapa dikembalikan, Bu?”

“Benar, nak. Anak gadisku enggan untuk memasaknya. la lebih senang memasak berasnya sendiri, yang tidak bercampur baur.”

“Ooo… begitu Bu? Kalau begitu, gadis ibu tidak tabah memasak ya?”

“Betul, nak!” Mendengar tanggapan gadis Siti Komariyah yang demikian itu Komala Shakti sudah dapat memastikan, bahwa gadis itu jelas-jelas tidak mungkin akan menjadi isterinya. Kemudian kantongnya diterima kembali.

“Kalau begitu, terima kasih banyak,” sahut Komala Shakti sopan.

“Tidak apa-apa, nak. Biasa saja, nak!” Terasalah bagi Komala Shakti, bahwa ia belum menjumpai seorang wanita yang menjadi pilihannya. Oleh karenanya perlu sekali ia harus merantau lagi.

Pada keesokan harinya, Komala Shakti minta ijin pada tuan rumah dan ibu untuk meneruskan perjalanan.

“Maafkan, Pak. Saya mohon pamit untuk meneruskan perjalanan.” ujar Komala Shakti sopan.

“Lho, mengapa buru-buru, nak?” tukas Bu Bukhori ingin tahu. “Istirahatlah di sini.”

“Terima kasih, Bu. Lain kali saja. Saya akan datang lagi. Perjalanan yang saya tempuh masih jauh,” sambung Komala Shakti sambil mengulurkan tangannya. Ia mau pamitan.

Sementara itu Kornala Shakti meneruskan perjalannya. Makin hari perjalanan makin jauh dan melewati sebuah padang rumput. Ia sampai ke suatu dusun. Saat itu tibalah malam. Terpaksa Komala Shakti harus bermalam. Setiap Komala Shakti bermalam, ia selalu berbuat sama seperti peristiwa yang sudah-sudah. Setiap ia bermalam disuruhnya orang menanak berasnya. Tetapi bagaimana kelanjutannya? Beras itu selalu dikembalikan kepada Komala Shakti.

Tidak jarang pula yang ditumpangi marah-marah. Bahkan dianggapnya bahwa Komala Shakti itu gila. Dengan tabah Komala Shakti menerima segala makian dari orang. Ia tidak pernah merasa sakit hati. Segala penderitaan dan cobaan diterima Komala Shakti, selalu diterimanya dengan senang hati.

la selalu berpegang teguh pada pendiriannya bahwa seorang isteri yang baik, hemat, rajin dan bijaksana itu perlu sekali. Oleh karena itu ia tidak akan gegabah memilih jodoh. Biar anjing menggonggong, tetapi kafilah berjalan terus.

Bersambung ke: Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 7)

Referensi: Kasim, Umi dan Mar. 1977. Raja Arief Imam. Jakarta: CV. Kurnia Esa.

3 Replies to “Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 6)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *