Renungan Baidaba Dalam Menjalani Kehidupan Sebagai Pertapa

Cerita Rakyat Kalimantan Selatan: Dongeng Raja Baik Hati Memberikan Putrinya
Cerita Rakyat Kalimantan Selatan: Dongeng Raja Baik Hati Memberikan Putrinya

Ketika teringat kesusahan-kesusahan yang harus dipikul dalam pertapaan, berkatalah aku kepada diriku, alangkah kecilnya kesusahan itu kalau dibandingkan dengan bahagia yang kekal yang jadi balasannya? Kemudian waktu teringat pula keinginan nafsu yang harus kujauhi yaitu segala kesenangan dunia, berkata pula aku, alangkah pahit jadinya kesenangan itu pada hakikatnya.

Bukankah ia akan menjurumuskan kita jua ke dalam siksa yang kekal kemudian hari? Mengapakah tiada akan terasa manis pahit yang sedikit, yang akan membuahkan manis yang lama? Dan mengapa tidak akan menjadi pahit manis yang sesaat yang akan mendatangkan pahit yang kekal?

Kalau ada seseorang kataku pula dikatakan kepadanya ia akan diberi umur seratus tahun, dan selama itu pada tiap-tiap hari dirinya disayat sedikit ke sedikit, tetapi setelah lalu seratus tahun ia dianugerahi bahagia abadi, tentu patut ia menerima berapakah sakit seratus tahun itu kalau dibandingkan dengan kesenangan yang tiada terbilang tahunnya?

Apabila demikianlah yang mesti, mengapakah maka orang tiada akan sabar menanggung keberatan-keberatan hidup dalam pertapaan? Bukankah keberatan-keberatan itu yang menjadi pokok kemenangan yang tiada terhingga? Hendaklah diketahui bahwa dunia ini semuanya cobaan dan siksa jua semata-mata.

Bukankah sejak dari dalam kandungan ibu sehingga datang ajalnya, manusia berenang dalam lautan kesusahan saja? Masa kecilnya, kalau lapar tiada ia pandai mencari makan, kalau haus, tiada ia kuasa mencari minum, dan kalau sakit, tiada ia tahu apa akan obatnya.

Setelah lepas dari asuhan ibu mulai ia ditimpa keberatan belajar, kesukaran mengapal pelajaran, malas datang ke tempat mencari ilmu, dan dalam pada itu bermacam-macam pula penyakit yang menimpa dirinya.

Apabila ia telah baliq jadilah budak nafsunya, berhujan panas ia mencari harta, mengasuh dan mendidik anak. Dalam pada itu ia selalu diintai bermacam-macam musuh, halus tetapi berbahaya, hingga jika lengah sedikit saja, kena terkamlah ia, jatuh terbaring sakit. Jika ia selamat saja, sampai umur tuanya, akan dirasanya ketika itu berbagai-bagai azab dan siksa.

Itu pun jika dalam umur tuanya ia terpelihara daripada segala azab sengsara, belum juga ia patut bersuka cita, karena masih ada suatu saat yang amat ngeri harus dilaluinya, yakni saat nyawanya bercerai dari badannya dan ia berpisah dengan dunia. Patut diingat bahwa ketika itu ia bercerai dengan segala yang dikasihinya selama ini, dan siapa tahu apa yang menyambut kedatangannya.

Orang yang tiada memikirkan semua yang telah diterangkan, nyatalah ia lemah, sia-sia dan patut dicerca orang. Siapakah yang tidak akan berusaha dengan sehabis tenaga mencari jalan lepas, menghindarkan diri daripada segala kesenangan dunia yang demikian sifatnya? Istimewa masa ini, yang pada lahirnya jernih, tetapi sebenarnya keruh.

Maka ini kebenaran lenyap daripada pergaulan manusia. Barang yang berfaedah lenyap dan yang berbahaya dimana-mana tumbuh. Kebaikan layu dan kering, dan kejahatan hijau dan subur. Yang berhak kalah dan berdusta beroleh kemenangan. Yang teraniaya, tiada seorang pun yang mau membela, dan penganiaya dipuji dan dimuliakan orang.

Sifat loba mengangakan mulut lebar-lebar, dan perasaan puas dengan yang ada, tiada diketahui orang lagi. Orang jahat terbang membubung ke udara, dan orang baik terbenam dalam lumpur. Kemanusiaan dicampakkan ke dalam lurah yang dalam, dan kebinatangan dihormati dan ditegakkan. Kekuasaaan pindah dari tangan orang yang berbudi ketangan orang yang hina. Dan dunia seolah-olah girang dan berkata, “Lenyaplah segala yang baik, dan berdirilah segala kejahatan ditempat-nya” Demikian dunia saat ini.

Ketika terpikir olehku keadaan dunia demikian dan kuingat bahwa manusia tiada juga dapat melepaskan diri dari segala kehinaan dan kejahatan, padahal ia makhluk yang termulia, nyatalah kepadaku bahwa bukanlah berakal namanya orang tiada berikhtiar memeliharakan diri dari segala keadaan yang diketahuinya berbahaya itu.

2 Replies to “Renungan Baidaba Dalam Menjalani Kehidupan Sebagai Pertapa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *